Sejarah Madiun

28 04 2009

Sejarah Berdirinya Madiun ditinjau dari pemerintahan yang sah (sebelum pemisahan menjadi Kabupaten dan Kota Madiun), berawal pada abad ke 15, tepatnya Hari Jumat Legi tanggal 15 Suro 1487 Be atau Hari Kamis Kliwon 18 Juli 1568 (Hari Ulang Tahun Madiun). Pada saat itu Pangeran Timur dipercaya untuk menjadi Bupati atas Kabupaten Purabaya (sekarang Madiun). Beliau diberi gelar Panembahan Puroboyo dengan pusat pemerintahan di Desa Sogaten. Beliau adalah adik dari Sultan Pajang, Sultan Agung Hadiwijoyo atau lebih dikenal sebagai Joko Tingkir.

Sejak tanggal itu, secara yuridis Kabupaten Purabaya menjadi suatu wilayah pemerintahan di bawah pimpinan seorang Bupati dan berakhirlah pemerintahan pengawasan di Purabaya yang dipegang oleh Kyai Rekso Gati atas nama Demak sejak tahun 1518 – 1568. Sebelumnya Purabaya masuk dalam pengawasan Demak dikarenakan Raden Ayu Retno Lembah, puteri dari Pangeran Adipati Gugur yang berkuasa di Ngurawan – Dolopo; dinikahi Putra Mahkota Kasultanan Demak yaitu Pangeran Surya Pati Unus. Ketika itu pusat pemerintahan dipindahkan dari Ngurawan ke desa Sogaten dengan nama baru Purabaya dipimpin oleh Kyai Rekso Gati sebagai kepanjangan tangan dari pemerintahan Demak di wilayah itu.

Tahun 1575, pusat pemerintahan dipindahkan dari Sogaten ke Desa Wonorejo (sekarang Kuncen). Dan pada tahun 1586, pemerintahan Kabupaten Purabaya diserahkan oleh Pangeran Timur kepada putrinya, Raden Ayu Retno Dumilah. Beliau inilah yang menjadi legenda, wanita yang memimpin perang prajurit-prajurit Mancanegara Timur.

Melihat Kabupaten Purabaya dipimpin seorang wanita, maka Mataram berusaha untuk menaklukkan Purabaya. Namun Mataram menderita kekalahan besar, dikalahkan oleh Retno Dumilah. Perang ini terjadi 1586 – 1587. Tahun 1590, dengan Mataram kembali memasuki Purabaya dengan pura-pura menyatakan takluk. Pasukan Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya tidak pernah berhasil mengalahkan Retno Dumilah melalui perang tanding. Namun Purabaya berhasil takluk karena Retno Dumilah dipersunting oleh Sutawijaya dan diboyong ke Kraton Mataram di Plered – Jogja.

Dan sebagai peringatan atas penguasaan Mataram atas Purabaya tersebut, maka pada hari Jumat Legi tanggal 16 November 1590 nama Purabaya diganti menjadi Madiun. Hal ini yang menyebabkan Kebudayaan Madiun lebih memiliki nuansa Mataraman daripada nuansa Surabaya, namun keduanya menjadi satu.

Pada tahun 1831-1832 Madiun menjadi Kota Besar dan menjadi pusat pemerintahan yang meliputi Madiun,  Ngawi, Magetan, Ponorogo dan Pacitan. Pada masa penjajahan Belanda, Madiun juga dijadikan sebagai pusat industri gula. Hingga saat ini terdapat 6 pabrik gula. Pabrik gula tersebut terletak di daerah Rejo Agung, Kanigoro, Pagotan, Purwodadi, Soedono, dan Redjosari yang bertempat sekitar 30 km dari Kota Madiun.

Berdirinya Kota Madiun adalah berdasar pada Undang-undang Pemerintahan Hindia Belanda No. 326 pada tanggal 20 Juni 1918 tentang Kota Madiun. Namun hingga tahun 1928 tidak mempunyai walikota. Hanya diatur oleh Asisten Bupati. Keputusan No. 411 tahun 1928, Pemerintah Hindia Belanda menempatkan Mr. K.A. Schotman sebagai Walikota Madiun, dan menjabat hingga tahun 1932. Mulai tahun 1932 hingga 1967, Kota Madiun dipimpin oleh 18 orang Walikota yang belum pernah diketahui secara pasti lama masa jabatannya. Mereka adalah:

  1. Mr. K.A. Schotman
  2. Boestra
  3. Mr. Van Dijk dan Loco Burgemeester Ali Sastromidjojo
  4. Dr. Mr. R.M. Soebroto
  5. Mr. R. Soesanto Tirtiprojo
  6. Soedibjo
  7. R. Porbo Siswono
  8. Soepardi
  9. R. Mochamad (1948 dari Tentara Siliwangi)
  10. R.M. Sudiono
  11. R. Singgih
  12. R. Moentoro
  13. R. Moestadjab
  14. R. Roeslan
  15. R. Soepardi
  16. Soemadi
  17. Soebagyo
  18. Pd. R. Roekito, BA
  19. Drs. Imam Soenardji (13 November 1968 – 19 Januari 1974)
  20. Achmad Dawaki, BA (19 Januari 1974 – 19 Januari 1979)
  21. Drs. Marsoedi (20 Januari 1979 – 20 Januari 1984)
  22. Drs. Marsoedi (20 Januari 1984 – 20 Januari 1989)
  23. Drs. Masdra M. Jasin (20 Januari 1989 – 20 Januari 1994)
  24. Drs. Bambang Pamoedjo (20 Januari 1994 – 20 Januari 1999)
  25. Drs. H. Achmad Ali (29 April 1999 – 29 April 2004)
  26. Kokok Raya, SH, M.Hum (29 April 2004 – 29 April 2009)




Babad Cianjur (Bahasa Indonesia)

27 04 2009

Jaka Susuru Raja Di Negeri Tanjung Singuru

Perjalanan Prabu Jaka Susuru yang membuat Kerajaan di Tanjung Singuru, yang sekarang disebut Bobojong Cisuru, di desa Sukarama Kelurahan Bojong Picung Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur.

Bekas kerajaan ini sangat makmur, dari selatan dari barat dan utara dikelilingi sungai yang di beri nama sungai Cisokan, dan di sebelah selatannya berdiri gunung, yang disebut Gunung Cibulé, dan dari sebelah timurnya dihalangi oleh benteng 5 lapis, dan jauh ke timur lagi berdiri Gunung Payung. Menurut cerita penduduk kampung Ciséro yang berada di kaki gunung tersebut, Gunung Payung termasuk keramat, malah sering digunakan sebagai tempat sembahyang hewan-hewan yang ada di situ.

Bekas Tanjung Singuru ini di bawahnya digunakan jalur untuk saluran irigasi, yang sekarang airnya digunakan untuk mengairi sawah yang jumlahnya + 8.000 hektar, itu hanya yang terdapat saluran irigasinya.
Sekarang kami ceritakan Sejarah Perjalanan Prabu Jaka Susuru, putra Prabu Siliwangi Raja di Negeri Pajajaran, yang sekarang petilasannya ada di Bogor.

Awal Mula

Sang Prabu Siliwangi ke VII Raja di Pajajaran mempunyai putra bernama Munding Mintra Kasiringan Wangi. Pada suatu waktu diadakan pertemuan yang dihadiri para Bupati, Patih, Mantri para Tumenggung. Sang Prabu Siliwangi bersabda kepada Para Bopati, sabdanya: “Bagaimana menurut kalian wahai para Bupati, Patih dan Tumenggung, berhubung kami mempunyai anak laki-laki, yaitu Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi, yang belum mempunyai istri, tapi akan kami angkat dulu sebagai Bupati!”

Jawab para Bupati dan para Tumenggung kepada Sang Prabu Siliwangi: “Itu sudah sepantasnya, asalkan tidak mengganggu pemerintahan Kangjeng Gusti, dan ditetapkan akan memerintah di mana putra Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi.” Setelah sang Prabu Siliwangi menyimak pendapat para Bupati dan Tumenggung demikian, lalu sabdanya lagi: “Jika menurut keinginan kami serta menurut Peta Pakuan Pajajaran, bakal negara itu terletak di daerah Hutan Pasagi Timur, hanya nama negaranya tergantung bagaimana nanti,”

Setelah Kangjeng Raja Siliwangi bersabda seperti itu, lalu puteranya yaitu Radén Munding Mintra Kasiringan Wangi, dipanggil, serta diperintahkan harus pergi mengembara ke daerah Hutan Pasagi Timur, mencari tempat untuk dijadikan kerajaan kecil, ditemani oleh dua Tumenggung, yaitu Dipati Tumenggung Séwana Giri, dan Dipati Tumenggung Séwana Guru, dan diberi jimat Makuta Siger Kancana juga Peta Pakuan Pajajaran atau gambar Lawé Domas Kinasihan.

Setelah bersiap-siap, lalu Munding Mintra Kasiringan Wangi beserta Tumenggung Séwana Giri Séwana Guru pergi bertiga. Sesampainya di hutan ganggong si magonggong, Radén Munding Mintra beserta dua Tumenggung beristirahat di situ, menoleh ke Tumenggung Séwana Guru dan Séwana Giri, ucapnya: “Wahai, paman Tumenggung Séwana Guru dan Séwana Giri, jangan-jangan ini lah tempat yang akan kita jadikan negara!” jawab kedua Tumenggung: “Benar Gusti, menurut paman juga jangan-jangan benar tempat ini, memang pantas seandainya di dirikan sebuah negara, karena tanahnya bagus, tanah dikelilingi sungai, mengalir ke timur, ya yang seperti ini yang disebut Galudra Ngupuk.”

Lalu Radén Munding Mintra mengeluarkan jimat Makuta Siger Kancana, serta memohon kepada Déwa Batara Sanghiang Utipati. Dikabulkan permohonannya, tiba-tiba di atas tanah itu telah berdiri sebuah bangunan kerajaan, dengan benteng 5 lapis, selapis benteng besi, selapis baja, perunggu, perak, lapis yang paling dalam terbuat dari emas. Kemudian memohon lagi kepada Déwa minta 8.000 punggawa, prajurit 80.000, dan 65 dayang yang mengurusi Keraton. Setelah lengkap isi keraton juga isi negara, kemudian Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi berdiskusi dengan Tumenggung Sewana Giri, Sewana Guru, perihal menentukan nama negara tersebut. Tapi dijawab oleh Tumenggung Sewana Guru, Sewana Giri: “Raden, masalah pemberian negara ini, jangan melancangi ayahanda Prabu, Gusti Prabu Siliwangi di Pakuan Pajajaran, lebih baik saya saja yang diutus ke Pajajaran menghadap ke Gusti.” Kemudian Raden Munding Mintra menyetujuinya. Maka Tumenggung Sewana Guru segera berangkat menghadap ke Kanjeng Prabu Siliwangi.

Tidak diceritakan perjalanannya, telah sampai di negara, lalu menghadap ke Duli Prabu Siliwangi, dan menyampaikan bahwa diperintah oleh sang putera untuk memohon pemberian nama negara baru, sedangkan semuanya telah siap, belum diberi nama.

Ucap Kanjeng Prabu Siliwangi: “Nama negara itu sepantasnya adalah Tanjung Singuru.” Lalu Tumenggung Sewana Guru pamit mundur, sesampainya di negara Tanjung Singuru, lalu ditanyai oleh Munding Mintra Kasiringan Wangi: “Bagaimana perintah Gusti Prabu Siliwangi?” Lalu dilaporkan oleh Tumenggung Sewana Guru, jika diperintahkan untuk menamakan negara ini Tanjung Singuru, juga rajanya harus berganti nama, Prabu Jaka Susuru.” Jawab Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi: “Oh, begitu. Jika sekarang negara telah bernama, dan kami telah diganti nama, namun patut disesali jika belum mempunyai permaisuri. Lalu sekarang siapa lagi yang akan membantu, selain paman dipati, sekarang saya mohon bantuannya, mencari Putri untuk dijadikan permaisuri.”

Tumenggung Sewana Guru menjawab: “Silahkan, sekarang saya mendapat berita, ada wanita di Negara Bitung Wulung, putra Tumenggung Bitung Wulung, Pangeran Jungjang Buana, nama Puteri yang satu adalah Sekar Jayanti, dan satu lagi Jayanti Kembang.” Prabu Jaka Susuru menjawab: “Oh, kalau begitu kita lamar saja semuanya, persiapkan keperluan melamar seperti adat biasanya, untuk dibawa kepada Tumenggung Bitung Wulung.” Kemudian Patih pun segera berangkat.

Sesampai di Negara Bitung Wulung, kebetulan Raja sedang di singgasana, lalu Patih menghadap, ditanyai oleh Raja: “Dari mana anda, siapa yang menyuruh dan ada perlu apa?” Tumenggung Sewana Guru menjawab: “Adapun kedatangan hamba, hamba ini adalah Patih Tanjung Singuru, hendak melamar sesuai perintah Raja. Bagaimana keadaan puteri paduka, apakah masih lajang? Seandainya masih lajang sekarang juga dipersunting.” Raja menjawab: “Betul hamba mempunyai anak, tapi oleh ini dan oleh itu juga dilamar dan tidak juga kami berikan, sekarang dipersunting oleh turunan Pakuan Pajajaran, Prabu Jaka Susuru, sedangkan hamba hanya bisa mengabulkan, dan berharap jangan diperlama, sebab puteri telah cukup umur.”

Sang Patih menjawab: “Kalau begitu terima kasih, malah sekarang juga dibawa sekalian, supaya hari ini dipersembahkan ke Prabu Jaka Susuru.”

Sang Prabu Bitung Wulung menjawab: “Ah, kalau begitu hamba akan sekalian mengantarnya sekarang.” Kemudian mereka berangkat, singkat cerita telah datang di Negara Tanjung Singuru, lalu ditanya oleh Prabu Jaka Susuru berhasil tidaknya. Lalu Patih melaporkan bahwa telah berhasil, malah dibantu, serta diantar oleh ayahandanya, juga lalu oleh ayahnya dipasrahkan kepada Prabu Jaka Susuru, ucapnya: “Sekarang hamba pasrahkan, sudah tidak menjadi beban pikiran Prabu Jaka Susuru.” Kemudian ayah sang puteri pamit mundur kembali ke negaranya di Bitung Wulung.

Diceritakan Prabu Jaka Susuru, berkumpul dengan Adipati, dan semua punggawa, berembuk akan mengadakan pesta karena telah mempunyai permaisuri namun belum dirayakan. Tidak berapa lama diadakan pesta yang ramai, tujuh hari tujuh malam.

Ditunda sebentar cerita Prabu Jaka Susuru, ada satu negara, negara Gunung Gumurh, nama Rajanya Badak Tamela Sukla Panarak Jaya. Raja tersebut tidak mempunyai istri, hanya mempunyai satu saudara perempuan bernama Ratna Kembang Tan Gumilang.

Raja sedang duduk di Paseban, mendengar kabar tentang pesta di Negara Tanjung Singuru, lalu bertanya kepada adiknya Putri Ratna Kembang: “Nyai di manakah pesta itu diadakan?”

Jawab Putri: “Itu yang sedang berpesta adalah negeri Tanjung Singuru, Rajanya sedang merayakan pernikahan dengan Puteri Sekar Jayanti dan Jayanti Kembang.”

Jawab Raja: “Oh, bukankah wanita itu idaman kakanda dari dulu, yaitu Putri Sekar Jayanti incaran kakanda. Coba Nyai tunggu sebentar, sekarang kakanda akan melihatnya.”

Jawab adiknya: “Jangan kanda, sebab dia sudah menjadi permaisuri Raja, walaupun kanda rebut juga tidak akan mampu, pasti kita celaka.”

“Ah, biar saja akan kanda rebut, tidak akan bisa dihukum, kan kanda punya kawah Domas; Prabu Jaka Susuru akan kanda jebloskan, akan kanda kelabui dengan mengatakan di kawah Domas ada intan sebesar anak lembu, supaya diambil, dan jika sudah berada di dalam kawah, pintunya akan kanda tutup.”

Lalu Raja Gunung Gumuruh berangkat, setibanya di Tanjung Singuru, mohon ijin hendak menumpang istirahat. Raja Tanjung Singuru melihatnya, lalu ditanya: “Anda berasal dari mana, serta siapa nama anda, belum pernah kami lihat, seperti yang sedang payah?”

Jawabnya: “Benar, hamba ini Raja Gunung Gumuruh, keperluan datang ke sini, hendak bakti negeri, memasrahkan diri, serta menyerahkan batu intan sebesar anak lembu, yang ada di kawah Domas. Tidak ada lagi yang pantas memilikinya selain adimas Prabu, yang berhak.”

Lalu Raja Tanjung Singuru bertanya kepada istrinya: “Bagaimana Nyai, sekarang kita memperoleh bakti berupa negara dan intan yang besar?”

Jawab sang istri: “Jangan kanda, siapa tahu itu ada maksud hendak menganiaya, menggoda dan bermaksud buruk kepada kita, serta dinda mempunyai perasaan yang ganjil, seperti akan terjadi musibah.”

Tapi Patih Tumenggun Sewana Guru berkata: “Tidak baik yang berbakti tidak kita terima, sekarang sebaiknya kita berangkat.” Kemudian berangkatlah Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru, Tumenggung Sewana Giri bersama Raja Panarak Jaya. Singkat cerita, tibalah mereka di kawah Domas.

Setibanya lalu Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru dan Sewana Giri melihat ke dalam kawah. Tidak menunggu lama lagi, oleh Raja Gunung Gumuruh mereka bertiga di tendang ke dalam kawah Domas. Setelah ketiga orang itu tersungkur, kemudian pintu di tutup dengan batu hitam oleh Raja Gunung Gumuruh. Lalu ketiga orang yang berada di dalam dasar kawah Domas itu bertapa, selama 30 tahun.

Dari situ Raja Gunung Gumuruh pergi ke negara Tanjung Singuru, dengan tujuan hendak merebut kerajaan. Setelah datang lalu ditemui oleh Putri Sekar Jayanti dan Putri Jayanti Kembang: “Kakanda Raja Gunung Gumuruh, dimana Sang Prabu Tanjung Singuru?”

Jawabnya: “Nyai, sekarang janganlah menanyakan hal Prabu Jaka Susuru, sebab kanda telah memenjarakannya, sekarang suami nyai adalah kanda seorang, dan negara ini akan dikuasai.”

Jawab Putri: “Ah entahlah, sebab hamba tidak akan berpisah dengan Prabu Jaka Susuru!”

Sang Putri pun terus dipaksa, kemudian ia pun kabur menuju ke hutan dalam keadaan hamil. Setelah usia kehamilan 9 bulan, Sang Putri melahirkan di tengah hutan, putranya lelaki semua. Yang dari Sekar Jayanti dinamakan Heulang Boengbang Legantara Lungguh Tapa Jaya Perang, sedangkan yang dari Jayanti Kembang dinamakan Kebo Keremay Sakti Pangeran Giringsing Wyang. Mereka berdua dilahirkan di hutan dan dibesarkan pula di hutan. Setelah mencapai usia 10 tahun, mereka berdua dengan ibunya masing-masing mengungsi ke Negara Tanjung Sumbara. Rajanya bernama Gajah Karumasakti, mempunyai istri dua orang, yaitu Purba Dewata dan Tarna Dewata. Setelah mereka berdua bersama ibu-ibunya tiba dan menghadap Raja Gajah Karumasakti, serta disambut baik oleh raja: “Oh, sukur kalian datang dengan selamat, kalian ini dari mana dan keturunan siapa?”

Jawab Putri: “Semoga Raja percaya, anak ini, adalah turunan dari Kangjeng Prabu Siliwangi, putra dari Prabu Jaka Susuru, sedang hamba adalah ibunya. Adapun maksud kedatangan kemari adalah hendak memohon pertolongan, untuk menyelamatkan Prabu Jaka Susuru, yang ada di dalam dasar kawah Domas, dipenjara oleh Raja Gunung Gumuruh.”

Jawab Raja: “Oh nyai, pasti akan kanda tolong. Sekarang negeri Tanjung Singuru akan saya jadikan lantaran, agar bisa bertemu dengan Raja Gunung Gumuruh, negeri itu kita serbu.”

Jawab Putri: “Baik, namun kalau berkenan, hendaklah di selamatkan dahulu yang ada di dasar kawah.”

Lalu Raja Karumasakti berangkat, dan setelah datang di Tanjung Singuru langsung menyerbu. Api berkobar-kobar membuat seisi negeri mengungsi ke utara, timur, selatan, barat, negara porak poranda.

Datanglah Raja Gunung Gumuruh dan mereka beradu mulut, masing-masing mengaku bahwa negara ini adalah miliknya. Raja Karumasakti berkata: “Ini negaraku!” Kata Raja Gumuruh: “Punyaku!”  Saling mengaku-aku, akhirnya pecahlah perang tanding antara Raja Gajah Karumasakti dengan Raja Gunung Gumuruh, ramai berkelahi adu kesaktian; dan akhirnya Raja Gunung Gumuruh kalah perang, hingga menyerah takluk kepada Raja Gajah Karumasakti. Lalu Raja Gajah Karumasakti berkata: “Sekarang kamu kalah, tapi harus mau melepaskan Prabu Jaka Susuru dari dasar kawah Domas!”

Jawabnya: “Silahkan, tapi harus bersama-sama anda, kita ke kawah.”

Lalu mereka semua berangkat, setelah sampai di kawah Domas, batu penutup pintunya digeser, dan terlihatlah ketiga sosok, Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru, Tumenggung Sewana Giri, lalu dibangunkan dan dilepaskan.

Raja Gunung Gumuruh pun menyatakan bertobat dan memohon ampunan kepada ketiganya karena telah sekian lama membuat sengsara kepada Prabu Jaka Susuru, dan menyerahkan negaranya beserta seluruh isinya, juga saudara perempuannya juga di pasrahkan kepada Prabu Jaka Susuru, supaya berkenan diperistri. Selanjutnya negara Gunung Gumuruh di bawah perintah Prabu Jaka Susuru.

Sejak itu lalu Prabu Jaka Susuru berangkat beserta saudara perempuan Raja Gunung Gumuruh, menuju ke negara Tanjung Sumbara. Jadi akhirnya Raja Prabu Jaka Susuru menetap di negara Tanjung Sumbara mempunyai tiga orang istri, dua putra, dan empat patih:

  1. Tumenggung Sewana Guru
  2. Tumenggung Sewana Giri
  3. Tumenggung Gajah Karumasakti
  4. Tumenggung Badak Tamela Sakti Paranak Jaya





Uga Wangsit Siliwangi (Bahasa Sunda)

26 11 2008

Carita Pantun Ngahiangna Pajajaran
Pun, sapun kula jurungkeun
Mukakeun turub mandepun
Nyampeur nu dihandeuleumkeun
Teundeun poho nu baréto
Nu mangkuk di saung butut
Ukireun dina lalangit
Tataheun di jero iga!

Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang : “Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.”
Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!
Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho: Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!
Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!
Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia, lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga, bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!
Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.
Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.
Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.
Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!
Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.
Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.
Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.
Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan……………………….. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.
Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.
Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!
Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.
Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!
Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.
Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!
Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!





Sundapura: Tarumanagara, Sunda, Galuh, Pajajaran

26 11 2008

Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun 397M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya, Tarumanagara. Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13 ingin mengembalikan keharuman Tarumanagara yang semakin menurun di purasaba (ibukota) Sundapura. Pada tahun 670M ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (selanjutnya punya nama lain yang menunjukkan wilayah/pemerintahan yang sama seperti Galuh, Kawali, Pakuan atau Pajajaran).

Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Maharaja Tarusbawa menerima tuntutan Raja Galuh. Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batas (Cianjur ke Barat wilayah Sunda, Bandung ke Timur wilayah Galuh).
Menurut sejarah kota Ciamis pembagian wilayah Sunda-Galuh adalah sebagai berikut:
• Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan
• Galuh Pakuan beribukota di Kawali
• Galuh Sindula yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili
• Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan
• Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan
• Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan
• Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman
• Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan
• Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo
• Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan
Tarusbawa bersahabat baik dengan Raja Galuh Bratasenawa atau Sena. Purbasora –yang termasuk cucu pendiri Galuh– melancarkan perebutan tahta Galuh di tahun 716M karena merasa lebih berhak naik tahta daripada Sena. Sena melarikan diri ke Kalingga (istri Sena; Sanaha, adalah cucu Maharani Sima Ratu Kalingga).
Sanjaya, anak Sena, ingin menuntut balas kepada Purbasora. Sanjaya mendapat mandat memimpin Kerajaan Sunda karena ia adalah menantu Tarusbawa. Galuh yang dipimpin Purbasora diserang habis-habisan hingga yang selamat hanya satu senapati kerajaan, yaitu Balangantrang.
Sanjaya yang hanya berniat balas dendam terpaksa harus naik tahta juga sebagai Raja Galuh, sebagai Raja Sunda ia pun harus berada di Sundapura. Sunda-Galuh disatukan kembali hingga akhirnya Galuh diserahkan kepada tangan kanannya yaitu Premana Dikusuma yang beristri Naganingrum yang memiliki anak bernama Surotama alias Manarah.
Premana Dikusuma adalah cucu Purbasora, harus tunduk kepada Sanjaya yang membunuh kakeknya, tapi juga hormat karena Sanjaya disegani, bahkan disebut Raja Resi karena nilai keagamaannya yang kuat dan memiliki sifat seperti Purnawarman. Premana menikah dengan Dewi Pangreyep –keluarga kerajaan Sunda– sebagai ikatan politik.
Di tahun 732M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Medang dari orang tuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara putranya, Tamperan dan Resiguru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resiguru Demunawan.
Premana akhirnya lebih sering bertapa dan urusan kerajaan dipegang oleh Tamperan yang merupakan ‘mata dan telinga’ bagi Sanjaya. Tamperan terlibat skandal dengan Pangreyep hingga lahirlah Banga (dalam cerita rakyat disebut Hariangbanga). Tamperan menyuruh pembunuh bayaran membunuh Premana yang bertapa yang akhirnya pembunuh itu dibunuh juga, tapi semuanya tercium oleh Balangantrang.
Balangantrang dengan Manarah merencanakan balas dendam. Dalam cerita rakyat Manarah dikenal sebagai Ciung Wanara. Bersama pasukan Geger Sunten yang dibangun di wilayah Kuningan, Manarah menyerang Galuh dalam semalam, semua ditawan kecuali Banga dibebaskan. Namun kemudian Banga membebaskan kedua orang tuanya hingga terjadi pertempuran yang mengakibatkan Tamperan dan Pangreyep tewas serta Banga kalah menyerah.
Perang saudara tersebut terdengar oleh Sanjaya yang memimpin Medang atas titah ayahnya. Sanjaya kemudian menyerang Manarah tapi Manarah sudah bersiap-siap, perang terjadi lagi namun dilerai oleh Demunawan, dan akhirnya disepakati Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga.
Konflik terus terjadi, kehadiran orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan waktu itu belum dapat diterima secara umum, sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di Galuh. Karena konflik tersebut, tiap Raja Sunda yang baru selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun 895M sampai tahun 1311M kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat.
Dari segi budaya orang Sunda dikenal sebagai orang gunung karena banyak menetap di kaki gunung dan orang Galuh sebagai orang air. Dari faktor inilah secara turun temurun dongeng Sakadang Monyet jeung Sakadang Kuya disampaikan.
Hingga pemerintahan Ragasuci (1297M–1303M) gejala ibukota mulai bergeser ke arah timur ke Saunggalah hingga sering disebut Kawali (kuali tempat air). Ragasuci sebenarnya bukan putra mahkota. Raja sebelumnya, yaitu Jayadarma, beristrikan Dyah Singamurti dari Jawa Timur dan memiliki putra mahkota Sanggramawijaya, lebih dikenal sebagai Raden Wijaya, lahir di Pakuan. Jayadarma kemudian wafat tapi istrinya dan Raden Wijaya tidak ingin tinggal di Pakuan, kembali ke Jawa Timur.
Kelak Raden Wijaya mendirikan Majapahit yang besar, hingga jaman Hayam Wuruk dan Gajah Mada mempersatukan seluruh Nusantara, kecuali kerajaan Sunda yang saat itu dipimpin Linggabuana, yang gugur bersama anak gadisnya Dyah Pitaloka Citraresmi pada perang Bubat tahun 1357M. Sejak peristiwa Bubat, kerabat keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit.
Menurut Kidung Sundayana, inti kisah Perang Bubat adalah sebagai berikut (dikutip dari JawaPalace):
Tersebut negara Majapahit dengan Raja Hayam Wuruk, putra perkasa kesayangan seluruh rakyat, konon ceritanya penjelmaan Dewa Kama, berbudi luhur, arif bijaksana, tetapi juga bagaikan singa dalam peperangan. Inilah raja terbesar di seluruh Jawa bergelar Rajasanagara. Daerah taklukannya sampai Papua dan menjadi sanjungan Empu Prapanca dalam Negarakertagama. Makmur negaranya, kondang kemana-mana. Namun sang raja belum kawin rupanya. Mengapa demikian? Ternyata belum dijumpai seorang permaisuri. Konon ceritanya, ia menginginkan isteri yang bisa dihormati dan dicintai rakyat dan kebanggaan Raja Majapahit. Dalam pencarian seorang calon permaisuri inilah terdengar khabar Putri Sunda nan cantik jelita yang mengawali dari Kidung Sundayana.
Apakah arti kehormatan dan keharuman Sang Raja yang bertumpuk di pundaknya, seluruh Nusantara sujud di hadapannya. Tetapi engkau satu, jiwanya yang senantiasa menjerit meminta pada Yang Kuasa akan kehadiran jodohnya. Terdengarlah kabar bahwa ada Raja Sunda (Kerajaan Kahuripan) yang memiliki putri nan cantik rupawan dengan nama Diah Pitaloka Citrasemi.
Setelah selesai musyawarah Sang Raja Hayam Wuruk mengutus untuk meminang putri Sunda tersebut melalui perantara yang bernama Tuan Anepaken, utusan sang raja tiba di Kerajaan Sunda. Setelah lamaran diterima, direstuilah putrinya untuk di pinang Sang Prabu Hayam Wuruk. Ratusan rakyat menghantar sang putri beserta raja dan punggawa menuju pantai, tapi tiba-tiba dilihatnya laut berwarna merah bagaikan darah. Ini diartikan tanda-tanda buruk bahwa diperkirakan putri raja ini tidak akan kembali lagi ke tanah airnya. Tanda ini tidak dihiraukan, dengan tetap berprasangka baik kepada Raja Tanah Jawa yang akan menjadi menantunya.
Sepuluh hari telah berlalu sampailah di Desa Bubat, yaitu tempat penyambutan dari Kerajaan Majapahit bertemu. Semuanya bergembira kecuali Gajahmada, yang berkeberatan menyambut Putri Raja Kahuripan tersebut, dimana ia menganggap putri tersebut akan “dihadiahkan” kepada sang raja. Sedangkan dari pihak Kerajaan Sunda, putri tersebut akan “di pinang” oleh sang raja. Dalam dialog antara utusan dari Kerajaan Sunda dengan Patih Gajahmada, terjadi saling ketersinggungan dan berakibat terjadinya sesuatu peperangan besar antara keduanya sampai terbunuhnya Raja Sunda dan Putri Diah Pitaloka oleh karena bunuh diri. Setelah selesai pertempuran, datanglah sang Hayam Wuruk yang mendapati calon pinangannya telah meninggal, sehingga sang raja tak dapat menanggung kepedihan hatinya, yang tak lama kemudian akhirnya mangkat. Demikian inti Kidung.
Sunda-Galuh kemudian dipimpin oleh Niskala Wastukancana, turun temurun hingga beberapa puluh tahun kemudian Kerajaan Sunda mengalami keemasan pada masa Sri Baduga Maharaja, Sunda-Galuh dalam prasasti disebut sebagai Pajajaran dan Sri Baduga disebut oleh rakyat sebagai Siliwangi, dan kembali ibukota pindah ke barat.
Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah Jung (kapal laut model Cina) untuk perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun).
Selain tahun 1511 Portugis menguasai Malaka, VOC masuk Sunda Kalapa, Kerajaan Islam Banten, Cirebon dan Demak semakin tumbuh membuat kerajaan besar Sunda-Galuh Pajajaran semakin terpuruk hingga perlahan-lahan pudar, ditambah dengan hubungan dagang Pajajaran-Portugis dicurigai kerajaan di sekeliling Pajajaran.
Setelah Kerajaan Sunda-Galuh-Pajajaran memudar kerajaan-kerajaan kecil di bawah kekuasaan Pajajaran mulai bangkit dan berdiri-sendiri, salah satunya adalah Kerajaan Sumedang Larang (ibukotanya kini menjadi Kota Sumedang). Kerajaan Sumedang Larang didirikan oleh Prabu Guru Adji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan kembali ke Pakuan Pajajaran, Bogor.
Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama (terutama penyebaran Islam), militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putranya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata/Rangga Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria Suradiwangsa naik tahta. Namun, pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620M Sumedang Larang dijadikan wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai ‘kerajaan’ diubah menjadi ‘kabupaten’.
Sultan Agung memberi perintah kepada Rangga Gempol I beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede. Hingga suatu ketika, pasukan Kerajaan Banten datang menyerbu dan karena setengah kekuatan militer Kabupaten Sumedang Larang diberangkatkan ke Madura atas titah Sultan Agung, Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten dan akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggungjawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.
Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang, sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis) dibagi kepada tiga bagian; Pertama, Kabupaten Bandung, yang dipimpin oleh Tumenggung Wiraangunangun, kedua, Kabupaten Parakanmuncang oleh Tanubaya dan ketiga, Kabupaten Sukapura yang dipimpin oleh Tumenggung Wiradegdaha atau R. Wirawangsa atau dikenal dengan “Dalem Sawidak” karena memiliki anak yang sangat banyak.
Selanjutnya Sultan Agung mengutus Penembahan Galuh bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III (anak Prabu Dimuntur, keturunan Geusan Ulun) untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa, karawaan.
Sultan Agung Mataram kemudian mengangkat putra Adipati Kertabumi III, yakni Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di Karawang, pada Tahun 1656M. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Panembahan Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug. Pada masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putra Panembahan Singaperbangsa yang bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679M dan 1721M ibu kota Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang.





Majapahit

26 11 2008

Awal Berdirinya Majapahit
Raden Wijaya merupakan nama yang lazim dipakai para sejarawan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Sedangkan nama asli beliau adalah ”Nararya Sanggramawijaya. Menurut beberapa sumber baik dari prasasti maupun kitab-kitab, Raden Wijaya mempunyai hubungan erat dengan Kerajaan Pajajaran. Hal ini masih simpang-siur karena adanya perbedaan pendapat tentang Dyah Lembu Taal. Sebagian menyebutnya sebagai ibu dari Raden Wijaya, yang diperistri oleh Siliwangi, namun dalam kitab Negarakertagama disebut sebagai ayah dari Raden Wijaya. Namun demikian keduanya sepakat bahwa Raden Wijaya adalah keturunan dari Dyah Lembu Taal, putera Narasinghamurti alias Mahisa Campaka, putera Mahisa Wonga Teleng, putera Ken Arok pendiri Kerajaan Singhasari. Jadi Raden Wijaya adalah keturunan dari Kerajaan Singhasari.

Raden Wijaya dalam prasasti Balawi tahun 1305 menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa. Menurut ”Nagarakretagama”, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti. Menurut ”Pararaton”, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.

Menurut prasasti Balawi dan ”Nagarakretagama”, Raden Wijaya menikah dengan empat orang putri Kertanagara, raja terakhir Kerajaan Singhasari, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Sedangkan menurut ”Pararaton”, ia hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja, serta seorang putri dari Kerajaan Malayu bernama Dara Petak.

Menurut prasasti Sukamerta dan prasasti Balawi, Raden Wijaya memiliki seorang putra dari Tribhuwaneswari bernama Jayanagara. Sedangkan Jayanagara menurut ”Pararaton” adalah putra Dara Petak, dan menurut ”Nagarakretagama” adalah putra Indreswari. Sementara itu, dari Gayatri lahir dua orang putri bernama Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat.

Dikisahkan Menurut prasasti Kudadu, pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang Bupati Gelang-Gelang terhadap kekuasaan Kerajaan Singhasari. Raden Wijaya ditunjuk Prabu Kertanegara untuk menumpas pasukan Gelang-Gelang yang menyerang dari arah utara Singhasari. Wijaya berhasil memukul mundur musuhnya. Namun pasukan pemberontak yang lebih besar datang dari arah selatan dan berhasil menewaskan Kertanagara.

Menyadari hal itu, Raden Wijaya melarikan diri hendak berlindung ke Terung di sebelah utara Singhasari. Namun karena terus dikejar-kejar musuh ia memilih pergi ke arah timur. Dengan bantuan kepala desa Kudadu, ia berhasil menyeberangi Selat Madura untuk bertemu Arya Wiraraja penguasa Songeneb (nama lama Sumenep).

Bersama Arya Wiraraja, Raden Wijaya merencanakan siasat untuk merebut kembali takhta dari tangan Jayakatwang. Wijaya berjanji, jika ia berhasil mengalahkan Jayakatwang, maka daerah kekuasaannya akan dibagi dua untuk dirinya dan Wiraraja. Siasat pertama pun dijalankan. Mula-mula, Wiraraja menyampaikan berita kepada Jayakatwang bahwa Wijaya menyatakan menyerah kalah. Jayakatwang yang telah membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kerajaan Kadiri menerimanya dengan senang hati. Ia pun mengirim utusan untuk menjemput Wijaya di pelabuhan Jungbiru.

Siasat berikutnya, Wijaya meminta Hutan Tarik di sebelah timur Kadiri untuk dibangun sebagai kawasan wisata perburuan. Wijaya mengaku ingin bermukim di sana. Jayakatwang yang gemar berburu segera mengabulkannya tanpa curiga. Wiraraja pun mengirim orang-orang Songeneb untuk membantu Wijaya membuka hutan tersebut. Menurut ”Kidung Panji Wijayakrama”, salah seorang Madura menemukan buah maja yang rasanya pahit. Oleh karena itu, desa pemukiman yang didirikan Wijaya tersebut pun diberi nama Majapahit.

Catatan Dinasti Yuan mengisahkan pada tahun 1293 pasukan Mongol sebanyak 20.000 orang dipimpin Ike Mese mendarat di Jawa untuk menghukum Kertanagara, karena pada tahun 1289 Kertanagara telah melukai utusan yang dikirim Kubilai Khan raja Mongol.

Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol ini untuk menghancurkan Jayakatwang. Ia pun mengundang Ike Mese untuk memberi tahu bahwa dirinya adalah ahli waris Kertanagara yang sudah tewas. Wijaya meminta bantuan untuk merebut kembali kekuasaan Pulau Jawa dari tangan Jayakatwang, dan setelah itu baru ia bersedia menyatakan tunduk kepada bangsa Mongol.

Jayakatwang yang mendengar persekutuan Wijaya dan Ike Mese segera mengirim pasukan Kadiri untuk menghancurkan mereka. Namun pasukan itu justru berhasil dikalahkan oleh pihak Mongol. Selanjutnya, gabungan pasukan Mongol dan Majapahit serta Madura bergerak menyerang Daha, ibu kota Kerajaan Kadiri. Jayakatwang akhirnya menyerah dan ditawan dalam kapal Mongol.

Setelah Jayakatwang dikalahkan, Wijaya meminta izin untuk kembali ke Majapahit mempersiapkan penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Majapahit, Wijaya membunuh para prajurit Mongol yang mengawalnya. Ia kemudian memimpin serangan balik ke arah Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan. Serangan mendadak itu membuat Ike Mese kehilangan banyak prajurit dan terpaksa menarik mundur pasukannya meninggalkan Jawa.

Wijaya kemudian dinobatkan menjadi Raja Majapahit yang pertama dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana. Menurut ”Kidung Harsa Wijaya”, penobatan tersebut terjadi pada tanggal 15 Kartikamasa/bulan Karttika tahun 1215 Saka, atau bertepatan dengan 12 November 1293. Keempat anak Kertanegara dijadikan permaisuri dengan gelar Sri Prameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari, Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnyaparamita, dan Sri Rajendradewi Dyah Dewi Gayatri.

Dari Tribhuwaneswari ia memperoleh seorang anak laki bernama Jayanagara sebagai Putera Mahkota yang memerintah di Kadiri. Dari Gayatri ia memperoleh dua anak perempuan, Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwardhani yang berkedudukan di Jiwana (Kahuripan) dan Rajadewi Maharajasa di Daha. Raden Wijaya masih menikah dengan seorang isteri lagi, kali ini berasal dari Jambi di Sumatera bernama Dara Petak dan memiliki anak darinya yang diberi nama Kalagemet. Seorang perempuan lain yang juga datang bersama Dara Petak yaitu Dara Jingga, diperisteri oleh kerabat raja bergelar “Dewa” dan memiliki anak bernama Tuhan Janaka, yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai Adhityawarman, Raja kerajaan Malayu di Sumatera.

Kedatangan kedua orang perempuan dari Jambi ini adalah hasil diplomasi persahabatan yaang dilakukan oleh Kertanagara kepada raja Malayu di Jambi untuk bersama-sama membendung pengaruh Kubhilai Khan. Atas dasar rasa persahabatan inilah raja Malayu, Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa, mengirimkan dua kerabatnya untuk dinikahkan dengan raja Singhasari. Dari catatan sejarah diketahui bahwa Dara Jingga tidak betah tinggal di Majapahit dan akhirnya pulang kembali ke kampung halamannya.

Dalam memerintah Majapahit, Wijaya mengangkat para pengikutnya yang dulu setia dalam perjuangan. Nambi diangkat sebagai Mahapatih Majapahit, Lembu Sora sebagai patih Daha, Arya Wiraraja dan Ranggalawe sebagai Pasangguhan. Pada tahun 1294 Raden Wijaya juga memberikan anugerah kepada pemimpin desa Kudadu yang dulu melindunginya saat pelarian menuju Pulau Madura.

Pada tahun 1295 seorang tokoh licik bernama Mahapati menghasut Ranggalawe untuk memberontak. Pemberontakan ini dipicu oleh pengangkatan Nambi sebagai patih, dan menjadi perang saudara pertama yang melanda Majapahit. Setelah Ranggalawe tewas, Wiraraja mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pasangguhan. Ia menagih janji Wijaya tentang pembagian wilayah kerajaan. Wijaya mengabulkannya. Maka, sejak saat itu, wilayah kerajaan pun hanya tinggal setengah, di mana yang sebelah timur dipimpin oleh Wiraraja dengan ibu kota di Lamajang (nama lama Lumajang).

Pada tahun 1300 terjadi peristiwa pembunuhan Lembu Sora, paman Ranggalawe. Dalam pemberontakan Ranggalawe, Sora memihak Majapahit. Namun, ketika Ranggalawe dibunuh dengan kejam oleh Kebo Anabrang, Sora merasa tidak tahan dan berbalik membunuh Anabrang. Peristiwa ini diungkit-ungkit oleh Mahapati sehingga terjadi suasana perpecahan. Pada puncaknya, Sora dan kedua kawannya, yaitu Gajah Biru dan Jurudemung tewas dibantai kelompok Nambi di halaman istana.

Masa Pemerintahan Majapahit
Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 digantikan oleh Jayanagara. Seperti pada masa akhir pemerintahan ayahnya, masa pemerintahan raja Jayanagara banyak dirongrong oleh pemberontakan orang-orang yang sebelumnya membantu Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Perebutan pengaruh dan penghianatan menyebabkan banyak pahlawan yang berjasa besar akhirnya dicap sebagai musuh kerajaan. Pada mulanya Jayanagara juga terpengaruh oleh hasutan Mahapati yang menjadi biang keladi perselisihan tersebut, namun kemudian ia menyadari kesalahan ini dan memerintahkan pengawalnya untuk menghukum mati orang kepercayaannya itu.

Dalam situasi yang demikian muncul seorang prajurit yang cerdas dan gagah berani bernama Gajah Mada. Ia muncul sebagai tokoh yang berhasil mamadamkan pemberontakan Kuti, padahal kedudukannya pada waktu itu hanya berstatus sebagai pengawal raja (Bekel Bhayangkari). Kemahirannya mengatur siasat dan berdiplomasi dikemudian hari akan membawa Gajah Mada pada posisi yang sangat tinggi di jajaran pemerintahan Kerajaan Majapahit, yaitu sebagai Mahamantri Kerajaan.

Pada masa Jayanagara hubungan dengan Cina kembali pulih. Perdagangan antara kedua negara meningkat dan banyak orang Cina yang menetap di Majapahit. Jayanagara memerintah sekitar 11 tahun, pada tahun 1328 ia dibunuh oleh tabibnya yang bernama Tanca karena berbuat serong dengan isterinya. Tanca kemudian dihukum mati oleh Gajah Mada.

Karena tidak memiliki putera, tampuk pimpinan Majapahit akhirnya diambil alih oleh adik perempuan Jayanagara bernama Jayawisnuwarddhani, atau dikenal sebagai Bhre Kahuripan sesuai dengan wilayah yang diperintah olehnya sebelum menjadi Ratu. Namun pemberontakan di dalam negeri yang terus berlangsung menyebabkan Majapahit selalu dalam keadaan berperang. Salah satunya adalah pemberontakan Sadeng dan Keta tahun 1331 memunculkan kembali nama Gajah Mada ke permukaan. Keduanya dapat dipadamkan dengan kemenangan mutlak pada pihak Majapahit.

Setelah persitiwa ini, Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal, bahwa ia tidak akan amukti palapa sebelum menundukkan daerah-daerah di Nusantara, seperti Gurun (di Kalimantan), Seran (?), Tanjungpura (Kalimantan), Haru (Maluku?), Pahang (Malaysia), Dompo (Sumbawa), Bali, Sunda (Jawa Barat), Palembang (Sumatera), dan Tumasik (Singapura). Untuk membuktikan sumpahnya, pada tahun 1343 Bali berhasil ia ditundukan.

Masa Kejayaan Majapahit
Ratu Jayawisnuwaddhani memerintah cukup lama, 22 tahun sebelum mengundurkan diri dan digantikan oleh anaknya yang bernama Hayam wuruk dari perkawinannya dengan Cakradhara, penguasa wilayah Singhasari. Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja tahun 1350 dengan gelar Sri Rajasanagara. Gajah Mada tetap mengabdi sebagai Patih Hamangkubhumi (Mahapatih) yang sudah diperolehnya ketika mengabdi kepada Ibunda Sang Raja. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk inilah Majapahit mencapai puncak kebesarannya.

Ambisi Gajah Mada untuk menundukkan Nusantara mencapai hasilnya di masa ini sehingga pengaruh kekuasaan Majapahit dirasakan sampai ke Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Maluku, hingga Papua. Tetapi Jawa Barat baru dapat ditaklukkan pada tahun 1357 melalui sebuah peperangan yang dikenal dengan Peristiwa Bubat, yaitu ketika rencana pernikahan antara Dyah Pitaloka, puteri Raja Pajajaran, dengan Hayam Wuruk berubah menjadi peperangan terbuka di lapangan Bubat, yaitu sebuah lapangan di ibukota kerajaan yang menjadi lokasi perkemahan rombongan kerajaan tersebut. Akibat peperangan itu Dyah Pitaloka bunuh diri yang menyebabkan perkawinan politik dua kerajaan di Pulau Jawa ini gagal. Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa setelah peristiwa itu Hayam Wuruk menyelenggarakan upacara besar untuk menghormati orang-orang Sunda yang tewas dalam peristiwa tersebut. Perlu dicatat bawa pada waktu yang bersamaan sebenarnya kerajaan Majapahit juga tengah melakukan eskpedisi ke Dompo (Padompo) dipimpin oleh seorang petinggi bernama Nala.

Setelah peristiwa Bubat, Mahapatih Gajah Mada mengundurkan diri dari jabatannya karena usia lanjut, sedangkan Hayam Wuruk akhirnya menikah dengan sepupunya sendiri bernama Paduka Sori, anak dari Bhre Wengker yang masih terhitung bibinya.

Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit menjadi sebuah kerajaan besar yang kuat, baik di bidang ekonomi maupun politik. Hayam Wuruk memerintahkan pembuatan bendungan-bendungan dan saluran-saluran air untuk kepentingan irigasi dan mengendalikan banjir. Sejumlah pelabuhan sungai pun dibuat untuk memudahkan transportasi dan bongkar muat barang. Empat belas tahun setelah ia memerintah, Mahapatih Gajah Mada meninggal dunia di tahun 1364. Jabatan patih Hamangkubhumi tidak terisi selama tiga tahun sebelum akhirnya Gajah Enggon ditunjuk Hayam Wuruk mengisi jabatan itu. Sayangnya tidak banyak informasi tentang Gajah Enggon di dalam prasasti atau pun naskah-naskah masa Majapahit yang dapat mengungkap sepak terjangnya.

Runtuhnya Majapahit
Raja Hayam Wuruk wafat tahun 1389. Menantu yang sekaligus merupakan keponakannya sendiri yang bernama Wikramawarddhana naik tahta sebagai raja, justru bukan Kusumawarddhani yang merupakan garis keturunan langsung dari Hayam Wuruk. Ia memerintah selama duabelas tahun sebelum mengundurkan diri sebagai pendeta. Sebelum turun tahta ia menujuk puterinya, Suhita menjadi ratu. Hal ini tidak disetujui oleh Bhre Wirabhumi, anak Hayam Wuruk dari seorang selir yang menghendaki tahta itu dari keponakannya. Perebutan kekuasaan ini membuahkan sebuah perang saudara yang dikenal dengan Perang Paregreg. Bhre Wirabhumi yang semula memperoleh kemenanggan akhirnya harus melarikan diri setelah Bhre Tumapel ikut campur membantu pihak Suhita. Bhre Wirabhumi kalah bahkan akhirnya terbunuh oleh Raden Gajah. Perselisihan keluarga ini membawa dendam yang tidak berkesudahan. Beberapa tahun setelah terbunuhnya Bhre Wirabhumi kini giliran Raden Gajah yang dihukum mati karena dianggap bersalah membunuh bangsawan tersebut.

Suhita wafat tahun 1477, dan karena tidak mempunyai anak maka kedudukannya digantikan oleh adiknya, Bhre Tumapel Dyah Kertawijaya. Tidak lama ia memerintah digantikan oleh Bhre Pamotan bergelar Sri Rajasawardhana yang juga hanya tiga tahun memegang tampuk pemerintahan. Bahkan antara tahun 1453-1456 kerajaan Majapahit tidak memiliki seorang raja pun karena pertentangan di dalam keluarga yang semakin meruncing.

Situasi sedikit mereda ketika Dyah Suryawikrama Giri Sawardhana naik tahta. Ia pun tidak lama memegang kendali kerajaan karena setelah itu perebutan kekuasaan kembali berkecamuk. Demikianlah kekuasaan silih berganti beberapa kali dari tahun 1466 sampai menjelang tahun 1500. Berita-berita Cina, Italia, dan Portugis masih menyebutkan nama Majapahit di tahun 1499 tanpa menyebutkan nama Rajanya. Semakin meluasnya pengaruh kerajaan kecil Demak di pesisir utara Jawa yang menganut agama Islam, merupakan salah satu penyebab runtuhnya kerajaan Majapahit.

Tahun 1522 Majapahit tidak lagi disebut sebagai sebuah kerajaan melainkan hanya sebuah kota. Pemerintahan di Pulau Jawa telah beralih ke Demak di bawah kekuasaan Adipati Unus, anak Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak yang masih keturunan Bhre Kertabhumi. Ia menghancurkan Majapahit karena ingin membalas sakit hati neneknya yang pernah dikalahkan Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. Demikianlah maka pada tahun 1478 hancurlah Majapahit sebagai sebuah Kerajaan Penguasa Nusantara dan berubah satusnya sebagai daerah taklukan Raja Demak. Berakhir pula rangkaian penguasaan Raja-raja Hindu di Jawa Timur yang dimulai oleh Keng Arok saat mendirikan kerajaan Singhasari, digantikan oleh sebuah bentuk kerajaan baru bercorak agama Islam.

Dalam tradisi Jawa ada sebuah Kronogram atau Candrasangkala yang berbunyi Sirna Ilang Kretaning Bumi. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah Sirna Hilanglah Kemakmuran Bumi. Namun demikian, yang sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabhumi, Raja ke-11 Majapahit, oleh Girindrawardhana.

Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama sudah mulai memasuki nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh Nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kasultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat Nusantara.

Ironisnya, pertikaian keluarga dan dendam yang berkelanjutan menyebabkan ambruknya kerajaan ini, bukan disebabkan oleh serbuan dari bangsa lain yang menduduki Pulau Jawa.

Trowulan, Situs Kota Majapahit
”Tembok batu merah tebal lagi tinggi mengitari keraton. Itulah benteng Keraton Majapahit. Pintu besar di sebelah barat yang disebut ”Purawuktra” menghadap ke lapangan luas. Di tengah lapangan itu mengalir parit yang mengelilingi lapangan. Di tepi benteng ”Brahmastana”, berderet-deret memanjang dan berbagai-bagai bentuknya. Di situlah tempat tunggu para perwira yang sedang meronda menjaga ”Paseban”.

Itulah salah satu cuplikan dari Nagarakertagama yang menggambarkan salah satu bagian dari ibukota kerajaan Majapahit seperti yang digambarkan oleh Empu Prapanca. Di mana reruntuhannya? Pertanyaan orang awam ini tidak mudah untuk dijawab. Namun sebagian besar para pakar arkeologi mempercayai dan menempatkannya di Trowulan. Mengapa Trowulan?
Hal ini bermula dari penelitian yang dilakukan oleh Wardenaar atas perintah Raffles pada tahun 1815 untuk mengamati tinggalan arkeologi di daerah Mojokerto. Dalam laporannya ia selalu menyebutkan ”….. in het bosch van Majapahit” untuk tinggalan budaya yang ditemukan di daerah Mojokerto, khususnya Trowulan. Raffles sendiri dalam bukunya History of Java menyebutkan “remains of gateway at Majapahit called Gapura Jati Pasar” ketika ia menyebut Candi Wringinlawang dan “one of the gateway of Majapahit” ketika ia menyebut Candi Brahu. Anggapan-anggapan tersebut kemudian diyakinkan lagi oleh Maclains Pont yang menggali hampir seluruh penjuru Trowulan yang hasilnya berupa sejumlah besar fondasi bangunan, saluran air yang tertutup dan terbuka, serta waduk-waduk.
Uraian Nagarakertagama tentang Kota Majapahit telah dicari lokasinya di lapangan oleh Maclains Pont sejak tahun 1924 – 1926. Ia berhasil membuat sketsa kota Majapahit di Situs Trowulan. Benteng kota Majapahit digambarkan dalam bentuk jaringan jalan dan tembok keliling yang membentuk blok-blok empat persegi. Secara makro bentuk Kota Majapahit menyerupai bentuk mandala candi berdenah segiempat dan terdapat gapura masuk di keempat sisinya, sedangkan keraton terletak ditengah-tengah. Selain itu terdapat kediaman para prajurit dan punggawa, pejabat pemerintah pusat, para menteri, pemimpin keagamaan, para ksatria, paseban, lapangan Babat, kolam segaran, tempat pemandian, dan lain-lain.
Situs Trowulan berada dalam wilayah Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur sekitar 70 km ke arah barat daya dari Surabaya. Dalam areal seluas 9 x 11 km itu dapat dilihat bangunan-bangunan bata berupa candi, gapura, kolam, dan salurah-saluran air di muka tanah maupun di bawah tanah yang seluruhnya mengindikasikan sebuah kota yang sudah cukup maju untuk masa itu.
Mengenai seberapa luas kota Majapahit dan dimana batas-batasnya menurut penelitian terakhir berdasarkan temuan yoni adalah disebelah barat daya Trowulan, di situs Labak Jabung di sebelah tenggara Trowulan, dan Klinterejo di sebelah timur laut Trowulan, sedangkan titik ke empat mestinya di Dusun Tugu dan Bodas di Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. Dengan ditemukannya situs arkeologi pada titik keempat, dapat dihitung luas bidang dari keempat titik, sehingga diperkirakan luas bidang kota Majapahit sekitar 11 x 9 km, yang memanjang utara selatan.
Berita Cina yang ditulis oleh Ma-Huan sewaktu mengikuti perjalanan Laksamana Zheng-He ke Jawa memberi penjelasan mengenai keadaan masyarakat Majapahit pada abad XV. Antara lain bahwa kota Majapahit terletak di pedalaman Jawa. Istana Raja dikelilingi tembok tinggi lebih dari 3 zhang, pada salah satu sisinya terdapat “pintu gerbang yang berat” (mungkin terbuat dari logam). Tinggi atap bangunan antara 4-5 zhang, gentengnya terbuat dari papan kayu yang bercelah-celah (sirap). Raja Majapahit tinggal di istana, kadang-kadang tanpa mahkota, tetapi sering kali memakai mahkota yang terbuat dari emas dan berhias kembang emas. Raja memakai kain dan selendang tanpa alas kaki, dan kemanapun pergi selalu memakai satu atau dua bilah keris. Apabila raja keluar istana, biasanya menaiki gajah atau kereta yang ditarik lembu. Penduduk Majapahit berpenduduk sekitar 200-300 keluarga. Penduduk memakai kain dan baju, kaum lelaki berambut panjang dan terurai, sedangkan perempuannya bersanggul. Setiap anak laki-laki selalu membawa keris yang terbuat dari emas, cula badak atau gading.
Berita Cina juga menyatakan bahwa mereka duduk di rumahnya tapa menggunakan bangku, tidur tampa ranjang, dan makan tanpa memakai sumpit. Sepanjang hari mereka senang memakan sirih, baik laki-laki maupun perempuan. Secara umum penduduk Majapahit menurut Ma-Huan dapat digolongkan menjadi tiga (3) yaitu orang-orang Islam yang datang dari barat dan mendapat mata pencaharian di ibukota; orang-orang Cina yang beragama Islam selaku niagawan tinggal di ibukota dan kota-kota pelabuhan; dan penduduk pribumi yang masih menyembah berhala dan gemar memelihara anjing.
Dalam melakukan jual beli penduduk Majapahit menggunakan uang kepeng dari berbagai dinasti, selain uang yang dikenal di Majapahit sendiri. Bahasa penduduk pribumi itu sangat halus dan indah, dan mereka mengenal tulis menulis dengan daun kajang sebagai kertasnya dan pisau tajam sebagai pena. Ukuran timbangan disebut sekati, sama dengan 20 tahil; setahil sama dengan 16 qian; 1 qian sama dengan 4 kubana.
Udara di Jawa panas sepanjang tahun. Panen padi terjadi dua kali dalam setahun, butir berasnya amat halus. Terdapat pula wijen putih, kacang hijau, rempah-rempah dan lain-lain, kecualai gandum. Buah-buahan banyak jenisnya, antara lain pisang, kelapa, delima, pepaya, durian, manggis, langsat dan semangka. Sayur mayur berlimpah macamnya, kecuali kucai. Jenis binatang juga banyak, antara lain burung beo, ayam mutiara (kalkun), burung nilam,
merak, pipit, kelelawar dan hewan ternak seperti sapi, kambing, kuda, babi, ayam dan bebek, serta hewan langka monyet putih dan rusa putih. Penduduk Majapahit hidup dengan panduan kitab hukum dan perundang-undangan yang sangat dihormati, misalnya Kutara Manawa yang mencakup hukum pidana dan perdata.
Agama Pada Masa Majapahit
Majapahit banyak meninggalkan tempat-tempat suci, sisa-sisa sarana ritual keagamaan masa itu. Bangunan-bangunan suci ini dikenal dengan nama candi, pemandian suci (patirtan) dan gua-gua pertapaan. Bangunan-bangunan suci ini kebanyakan bersifat Agama Siwa, dan sedikit yang bersifat agama Buddha, antara lain Candi Jago, Bhayalangu, Sanggrahan dan Jabung yang dapat diketahui dari ciri-ciri arsitektural, arca-arca yang ditinggalkan, relief candi, dan data tekstual, misalnya Kakawin Nagarakretagama, Arjunawijaya, Sutasoma dan sedikit berita prasasti.
Di samping perbedaan latar belakang keagamaan, terdapat pula perbedaan status dan fungsi bangunan suci. Berdasarkan status bangunan-bangunan suci, kita dapat kelompokkan menjadi dua, yaitu bangunan yang dikelola oleh pemerintah pusat dan yang berada di luar kekuasaan pemerintah pusat.
Bangunan suci yang dikelola pemerintah pusat ada 2 macam, yaitu:
1. Dharma-Dalm disebut pula Dharma-Haji yaitu bangunan suci yang diperuntukkan bagi Raja beserta keluarganya. Jumlah Dharma-Haji ada 27 buah, di antaranya Kegenengan, Kidal, Jajaghu, Pikatan, Waleri, Sukalila, dan Kumitir.
2. Dharma-Lpas adalah bangunan suci yang dibangun di atas tanah wakaf (bhudana) pemberian raja untuk para rsi-saiwa-sogata, untuk memuja dewa-dewa dan untuk mata pencaharian mereka.
Sedangkan bangunan suci yang berada di luar pengelolaan pemerintah pusat kebanyakan adalah milik prasasti rsi, antara lain mandala, katyagan, janggan. Secara umum disebut patapan atau wanasrama karena letaknya terpencil. Mandala yang dikenal sebagai kadewaguruan adalah tempat pendidikan agama yang dipimpin oleh seorang siddharsi yang disebut pula dewaguru.
Berdasarkan fungsinya, candi-candi masa Majapahit dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu:
1. Candi-candi yang mempunyai 2 fungsi, yaitu sebagai pendharmaan Raja dan keluarganya, juga sebagai kuil pemujaan dewa dengan ciri adanya tubuh candi dan ruang utama (garbhagrha) untuk menempatkan sebuah arca pendharmaan (dewawimbha), misalnya candi Jago, Pari, Rimbi, Simping (sumberjati).
2. Candi-candi yang hanya berfungsi sebagai kuil pemujaan, dengan ciri tidak mempunyai garbhagrha dan arca pendharmaan/perwujudan, tubuh candi diganti dengan altar atau miniatur candi. Candi-candi kuil ini kebanyakan dipakai oleh para rsi dan terletak di lereng-lereng gunung, misalnya di lereng gunung Penanggungan, Lawu, Wilis, dsb.
Berdasarkan sumber tertulis, Raja-raja Majapahit pada umumnya beragama Siwa dari aliran Siwasiddhanta kecuali Tribuwanottunggadewi (ibunda Hayam Wuruk) yang beragama Buddha Mahayana. Walaupun begitu agama Siwa dan agama Buddha tetap menjadi agama resmi Kerajaan hingga akhir tahun 1447. Pejabat resmi keagamaan pada masa pemerintahan Raden Wijaya ada 2 pejabat tinggi Siwa dan Buddha, yaitu Dharmadyaksa ring Kasaiwan dan Dharmadyaksa ring Kasogatan, kemudian 5 pejabat Siwa di bawahnya yang disebut Dharmapapati atau Dharmadihikarana.
Selain itu terdapat pula para agamawan yang mempunyai peranan penting dilingkungan istana yang disebut tripaksa yaitu rsi-saiwa-sagata (berkelompok 3); dan berkelompok 4 disebut catur dwija yaitu mahabrahmana (wipra)-saiwa-sogata-rsi.
Pembaharuan/pertemuan agama Siwa dan agama Buddha pertama kali terjadi pada masa pemerintahan raja Krtanagara, Raja Singhasari terakhir. Apa maksudnya belum jelas, mungkin di samping sifat toleransinya yang sangat besar, juga terdapat alasan lain yang lebih bersifat politik, yaitu untuk memperkuat diri dalam menghadapi musuh dari Cina, Kubilai Khan. Untuk mempertemukan kedua agama itu, Krtanagara membuat candi Siwa-Buddha yaitu Candi Jawi di Prigen dan Candi Singasari di dekat kota Malang.
Pembaruan agama Siwa-Buddha pada jaman Majapahit antara lain terlihat pada cara mendharmakan raja dan keluarganya yang wafat pada 2 candi yang berbeda sifat keagamaannya. Hal ini dapat dilihat pada Raja pertama Majapahit, yaitu Kertarajasa yang didharmakan di Candi Sumberjati (Simping) sebagai wujud Siwa (Siwawimbha) dan di Antahpura sebagai Buddha; atau Raja kedua Majapahit, yaitu Raja Jayanagara yang didharmakan di Shila Ptak sebagai Wisnu dan di Sukhalila sebagai Buddha. Hal ini memperlihatkan bahwa kepercayaan di mana Kenyataan Tertinggi dalam agama Siwa maupun Buddha tidak berbeda.
Agama Siwa yang berkembang dan dipeluk oleh Raja-raja Majapahit adalah Siwasiddhanta (Siddantatapaksa) yang mulai berkembang di Jawa Timur pada masa Raja Sindok (abad X). Sumber ajarannya adalah Kitab Tutur (Smrti), dan yang tertua adalah Tutur Bhwanakosa yang disusun pada jaman Mpu Sindok, sedang yang termuda dan terpanjang adalah Tutur Jnanasiddhanta yang disusun pada jaman Majapahit. Ajaran agama ini sangat dipegaruhi oleh Saiwa Upanisad, Vedanta dan Samkhya. Kenyataan Tertinggi agama ini disebut Paramasiwa yang disamakan dengan suku Kata suci OM. Sebagai dewa tertinggi Siwa mempunyai 3 hakekat (tattwa) yaitu:
• Paramasiwa-tattwa yang bersifat tak terwujud (niskala)
• Sadasiwa-taattwa yang bersifat berwujud-tak berwujud (sanakala-niskala)
• Siwa-tattwa bersifat berwujud (sakala)
Selain agama Siwasiddhanta dikenal pula aliran Siwa Bhairawa yang muncul sejak pemerintahan Raja Jayabhaya dari Kadiri. Beberapa pejabat pemerintahan Majapahit memeluk agama ini. Agama ini adalah aliran yang memuja Siwa sebagai Bhairawa. Di India Selatan mungkin dikenal sebagai aliran Kapalika. Pemujanya melakukan tapa yang sangat keras, seperti tinggal di kuburan dan memakan daging dan darah manusia (mahavrata). Di samping agama Siwa, terdapat pula agama Waisnawa yang memuja dewa Wisnu, yang dalam agama Siwa, Wisnu hanya dipuja sebagai dewa pelindung (istadewata).
Kebudayaan
Ibu kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar dan terkenal dengan perayaan besar keagamaan yang diselenggarakan setiap tahun. Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja Dewa Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit, dan Raja dianggap sekaligus titisan Buddha, Siwa, maupun Wisnu. Nagarakertagama tidak menyebut keberadaan Islam, namun tampaknya ada anggota keluarga istana yang beragama Islam pada waktu itu.
Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada masa sebelumnya, arsitek Majapahit-lah yang paling ahli menggunakannya. Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris dengan memanfaatkan getah pohon anggur dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh candi Majapahit yang masih dapat ditemui sekarang adalah Candi Tikus dan Candi Bajangratu di Trowulan, Mojokerto.
Ekonomi
Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan. Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota Kerajaan maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa.
Menurut catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan Ordorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa Istana Raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.
Mata Uang Majapahit
Trowulan, sebagai salah satu kota kuno masa klasik yang ditemukan di Indonesia, memiliki peninggalan mata uang yang merupakan salah satu bukti adanya sistem moneter dan hubungan perdagangan dengan bangsa lain. Mata uang yang ditemukan selain dari mata uang lokal (kepeng) juga mata uang Cina. Hingga saat ini temuan mata uang Cina yang berhasil diselamatkan di Balai Pelestarian Purbakala Trowulan sebanyak 34.175 keping, baik dalam kondisi utuh maupun pecah atau telah mengalami patinasi.
Penelitian mengenai mata uang Cina di Trowulan sampai pada kesimpulan bahwa mata uang sebagai alat tukar yang beredar di Kota Majapahit ternyata berasal dari beberapa jaman. Diperkirakan hubungan antara Indonesia dan Cina telah terjadi sejak abad V dan mengalami peningkatan pada abad XIII ketika Majapahit mengalami kejayaannya.
Lajunya pertumbuhan perdagangan tersebut selain karena Majapahit mampu menyediakan bermacam-macam komoditi yang dibutuhkan, antara lain cengkeh, pala, merica, kayu cendana, gaharu, kapur barus, kapas, garam, gula, gading gajah, cula badak, dan lain-lain. Adapun barang impor untuk konsumsi di Jawa yang utama adalah sutera, kain brokat warna-warni, dan keramik.
Pedagang-pedagang asing ketika mengadakan transaksi dengan penduduk lokal menggunakan mata uang yang dibawa dari negerinya masing-masing, sehingga lambat laun mendatangkan inspirasi bagi penduduk lokal atau penguasa kerajaan di Jawa untuk membuat mata uang sendiri. Bagi kebanyakan orang, mata uang logam lokal dikenal dengan istilah uang gobog, dibuat buka hanya dari tembaga melainkan juga logam timah, kuningan, dan perunggu. Berdasarkan jenis bahan, mata uang lokal yang berkembang sejak abad IX dapat dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu: mata uang emas, perak, tembaga, dan mata uang besi.
Satuan mata uang Jawa dari bahan emas diurutkan dari satuan yang terbesar hingga terkecil, yaitu kati (disingkat ka), suwarna (su), masa (ma), kupang (ku), dan satak (sa). Semua mata uang tersebut menunjukkan ukuran berat benda (nilai intrinsik). Mata uang gobog memiliki satuan nilai yang amat rendah dibandingkan dengan uang perak atau emas, tetapi nilainya masih lebih tinggi dari pada uang timah. Perbandingan antara uang gobog dengan uang yang beredar di Jawa lainnya antara lain: 1 gobog = 5 keteg; 1 derham perak = 400 gobog; dan 1 derham emas = 4000 gobog. Pada kedua sisi mata uang gobog terdapat relief manusia yang umumnya adalah tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan.
Mata uang logam Cina disebut pisis atau kepeng, di negeri asalnya disebut qian, yang terbuat dari campuran tembaga dan timah putih, juga unsur tambahan yaitu timah hitam, seng dan besi.
Terdapat dua cara pembacaan legenda pada koin Cina, yaitu: (1) atas – kanan-bawah-kiri atau searah jarum jam; (2) atas-bawah-kanan-kiri. Sementara gaya tulisan yang telah dikenali adalah: (1) Zhuan Shu yaitu gaya tulisan melengkung; (2) Li Shu yaitu gaya tulisan persegi; (3) Kai Shu yaitu gaya tulisan baku; (4) Hsing Shu yaitu gaya tulisan sambung; dan (5) Ts ’ao Shu yaitu gaya tulisan miring.
Dari penelitian mata uang logam yang ditemukan di Trowulan sebagian besar berasal dari Song Utara (960 – 1127) dengen legenda Yuanfeng Tongbao (1078 – 1085) yang diterbitkan oleh Kaisar Shen Tsung (1067 – 1085). Selain sebagai alat pembayaran dalam jual beli barang, mata uang kepeng juga digunakan untuk membayar utang piutang, gadai tebus tanah, denda akibat pelanggaran hukum, serta digunakan sebagai benda sesaji, bekal kubur, dan amulet atau jimat.
Di dalam buku Ying-yai Sheng-lan atau ”Laporan Umum Tentang Pantai-pantai Lautan” yang diterbitkan dalam tahun 1416 oleh Ma-Huan, dikatakan bahwa orang-orang Cina yang tinggal di Majapahit berasal dari Canton, Chang-chou, dan Ch-uan-cu. Mereka kebanyakan bermukim di Tuban dan Gresik menjadi orang kaya di sana. Tetapi tidak sedikit pula penduduk pribumi yang menjadi orang kaya dan terpandang. Dalam transaksi perdagangan, penduduk pribumi menggunakan kepeng Cina dari berbagai dinasti. Artinya bahwa penduduk pribumi tidak mengerti tulisan Cina yang tertera pada kepeng itu sehingga mau menerima uang Cina dari dinasti manapun (Tang, Song, Yuan) yang mungkin sudah tidak berlaku lagi di negeri asalnya.
Struktur Pemerintahan
Majapahit memiliki struktur pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah selama perkembangan sejarahnya. Raja dianggap sebagai penjelmaan Dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik tertinggi.

Aparat Birokrasi
Raja dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan, dengan para putra dan kerabat dekat Raja memiliki kedudukan tinggi. Perintah Raja biasanya diturunkan kepada pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain yaitu:
1. Rakryan Mahamantri Katrini, biasanya dijabat Putra-putra Raja.
2. Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, Dewan Menteri yang melaksanakan pemerintahan.
3. Dharmmadhyaksa, para Pejabat Hukum keagamaan.
4. Dharmma-upapatti, para Pejabat Keagamaan.
Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai Perdana Menteri yang bersama-sama Raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, terdapat pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara Raja, yang disebut Bhattara Saptaprabhu.

Pembagian Wilayah
Di bawah Raja Majapahit terdapat pula sejumlah raja daerah, yang disebut Paduka Bhattara. Mereka biasanya merupakan saudara atau kerabat dekat Raja dan bertugas dalam mengumpulkan penghasilan Kerajaan, penyerahan upeti, dan pertahanan Kerajaan di wilayahnya masing-masing. Dalam Prasasti Wingun Pitu (1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan Majapahit dibagi menjadi 14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre. Daerah-daerah bawahan tersebut yaitu:
1. Daha, Jagaraga, Kabalan, Wengker
2. Kahuripan, Keling, Kelinggapura
3. Kembang Jenar, Matahun, Pajang
4. Singhapura, Tanjungpura, Tumapel, Wirabhumi

Bangunan Air Dari Masa Majapahit
Bangunan air yang ditemukan di masa Majapahit adalah waduk, kanal, kolam dan saluran air yang sampai sekarang masih ditemukan sisa-sisanya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa pemerintah kerajaan Majapahit membuat bangunan air tersebut untuk kepentingan irigasi pertanian dan sarana mengalirkan air sungai ke waduk: penampungan dan penyimpanan air, serta pengendali banjir.
Hasil penelitian membuktikan terdapat sekitar 20 waduk kuno yang tersebar di dataran sebelah utara daerah Gunung Anjasmoro, Welirang, dan Arjuno. Waduk Baureno, Kumitir, Domas, Temon, Kraton dan Kedung Wulan adalah waduk-waduk yang berhubungan dengan Kota Majapahit yang letaknya diantara Kali Gunting di sebelah barat dan kali Brangkal di sebelah timur. Hanya waduk Kedung Wulan yang tidak ditemukan lagi sisa-sisa bangunannya, baik dari foto udara maupun di lapangan.
Waduk Baureo adalah waduk terbesar yang terletak 0,5 km dari pertemuan Kali Boro dengan Kali Landean. Bendungannya dikenal dengan sebutan Candi Lima. Tidak jauh dari Candi Lima, gabungan sungai tersebut bersatu dengan Kali Pikatan membentuk Kali Brangkal. Bekas waduk ini sekarang merupakan cekungan alamiah yang ukurannya besar dan dialiri oleh beberapa sungai. Seperti halnya Waduk Baureno, waduk-waduk lainnya sekarang telah rusak dan yang terlihat hanya berupa cekungan alamiah, misalnya Waduk Domas yang terletak di utara Waduk Baureno; Waduk Kumitir (Rawa Kumitir) yang terletak di sebelah barat Waduk Baureno; Waduk Kraton yang terletak di utara Gapura Bajangratu; dan Waduk Temon yang terletak di selatan Waduk Kraton dan di barat daya Waduk Kumitir.
Disamping waduk-waduk tersebut, di Trowulan terdapat tiga kolam buatan yang letaknya berdekatan, yaitu Segaran, Balong Bunder dan Balong Dowo. Kolam Segaran memperoleh air dari saluran yang berasal dari Waduk Kraton. Balong Bunder sekarang merupakan rawa yang terletak 250 meter di sebelah selatan Kolam Segaran. Balong Dowo juga merupakan rawa yang terletak 125 meter di sebelah barat daya Kolam Segaran. Hanya Kolam Segaran yang diperkuat dengan dinding-dinding tebal di keempat sisinya, sehingga terlihat merupakan bangunan air paling monumental di Kota Majapahit.
Kolam Segaran pertama kali ditemukan oleh Maclaine Pont pada tahun 1926. Kolam ini berukuran panjang 375 meter dan lebar 175 meter dan dalamnya sekitar 3 meter, membujur arah timurlaut – baratdaya. Dindingnya dibuat dari bata yang direkatkan tanpa bahan perekat. Ketebalan dinding 1,60 meter. Di sisi tenggara terdapat saluran masuk sedangkan di sisi barat laut terdapat saluran keluar menuju ke Balong Dowo dan Balong Bunder.
Foto udara yang dibuat pada tahun 1970an di wilayah Trowulan dan sekitarnya memperlihatkan dengan jelas adanya kanal-kanal berupa jalur-jalur yang bersilangan saling tegak lurus dengan orientasi utara-selatan dan barat-timur. Juga terdapat jalur-jalur yang agak menyerong dengan lebar bervariasi, antara 35-45 m atau hanya 12 m, dan bahkan 94 m yang kemungkinan disebabkan oleh aktivitas penduduk masa kini.
Kanal-kanal di daerah pemukiman, berdasarkan pengeboran yang pernah dilakukan memperlihatkan adanya lapisan sedimentasi sedalam empat meter dan pernah ditemukan susunan bata setinggi 2,5 meter yang memberi kesan bahwa dahulu kanal-kanal tersebut diberi tanggul, seperti di tepi kanal yang terletak di daerah Kedaton yang lebarnya 26 meter diberi tanggul. Kanal-kanal itu ada yang ujungnya berakhir di Waduk Temon dan Kali Gunting, dan sekurang-kurangnya tiga kanal berakhir di Kali Kepiting, di selatan Kota Majapahit. Kanal-kanal yang cukup lebar menimbulkan dugaan bahwa fungsinya bukan sekedar untuk mengairi sawah (irigasi), tetapi mungkin juga untuk sarana transportasi yang dapat dilalui oleh perahu kecil.
Kanal, waduk dan kolam buatan ini didukung pula oleh saluran-saluran air yang lebih kecil yang merupakan bagian dari sistem jaringan air di Majapahit. Di wilayah Trowulan gorong-gorong yang dibangun dari bata sering ditemukan ukurannya cukup besar, memungkinkan orang dewasa untuk masuk ke dalamnya. Candi Tikus yang merupakan pemandian (petirtaan) misalnya, mempunyai gorong-gorong yang besar untuk menyalurkan airnya ke dalam dan ke luar candi. Selain gorong-gorong atau saluran bawah tanah, banyak pula ditemukan saluran terbuka untuk mengairi sawah-sawah, serta temuan pipa-pipa terakota yang kemungkinan besar digunakan untuk menyalurkan air ke rumah-rumah, serta selokan-selokan dari susunan bata di antara sisa-sisa rumah-rumah kuno. Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat Majapahit telah mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap sanitasi dan pengendalian air.
Melihat banyak dan besarnya bangunan-bangunan air dapat diperkirakan bahwa pembangunan dan pemeliharaannya membutuhkan suatu sistem organisasi yang teratur. Hal ini terbukti dari pengetahuan dana teknologi yang mereka miliki yang memungkinkan mereka mampu mengendalikan banjir dan menjadikan pusat kota terlindungi serta aman dihuni.
Sampai sekarang, baik dari prasasti maupun naskah kuno, tidak diperoleh keterangan mengenai kapan waduk dan kanal-kanal tersebut dibangun serta berapa lama berfungsinya. Rusaknya bangunan-bangunan air tersebut mungkin diawali oleh letusan Gunung Anjasmoro pada tahun 1451 yang membawa lapisan lahar tebal yang membobol Waduk Baureno dan merusak sistem jaringan air yang ada. Candi Tikus yang letaknya diantara Waduk Kumitir dan Waduk Kraton bahkan seluruhnya pernah tertutup oleh lahar.
Keadaan kerajaan yang kacau karena perebutan kekuasaan ditambah dengana munculnya kekuasaan baru di daerah pesisir menyebabkan kerusakan bangunan air tidak dapat diperbaiki seperti sediakala. Erosi dan banjir yang terus menerus terjadi mengakibatkan daerah ini tidak layak huni dan perlahan-lahan ditinggalkan oleh penghuninya.
Warisan sejarah
Majapahit telah menjadi sumber inspirasi kejayaan masa lalu bagi bangsa Indonesia pada abad-abad berikutnya. Kesultanan-kesultanan Islam Demak, Pajang, dan Mataram berusaha mendapatkan legitimasi atas kekuasaan mereka melalui hubungan ke Majapahit. Demak menyatakan legitimasi keturunannya melalui Kertabhumi; pendirinya, Raden Patah, menurut babad-babad Keraton Demak dinyatakan sebagai anak Kertabhumi dan seorang Putri Cina, yang dikirim ke luar istana sebelum ia melahirkan. Penaklukan Mataram atas Wirasaba tahun 1615 yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung sendiri memiliki arti penting karena merupakan lokasi ibukota Majapahit. Keraton-keraton Jawa Tengah memiliki tradisi dan silsilah yang berusaha membuktikan hubungan para Rajanya dengan keluarga Kerajaan Majapahit sering kali dalam bentuk makam leluhur, yang di Jawa merupakan bukti penting dan legitimasi dianggap meningkat melalui hubungan tersebut. Bali secara khusus mendapat pengaruh besar dari Majapahit, dan masyarakat Bali menganggap diri mereka penerus sejati kebudayaan Majapahit.

Para penggerak Nasionalisme Indonesia modern, termasuk mereka yang terlibat Gerakan Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20, telah merujuk pada Majapahit sebagai contoh gemilang masa lalu Indonesia. Majapahit kadang dijadikan acuan batas politik Negara Republik Indonesia saat ini. Dalam propaganda yang dijalankan tahun 1920-an, Partai Komunis Indonesia menyampaikan visinya tentang masyarakat tanpa kelas sebagai penjelmaan kembali dari Majapahit yang diromantiskan. Sukarno juga mengangkat Majapahit untuk kepentingan persatuan bangsa, sedangkan Orde Baru menggunakannya untuk kepentingan perluasan dan konsolidasi kekuasaan negara. Sebagaimana Majapahit, negara Indonesia modern meliputi wilayah yang luas dan secara politik berpusat di pulau Jawa.

Majapahit memiliki pengaruh yang nyata dan berkelanjutan dalam bidang arsitektur di Indonesia. Penggambaran bentuk paviliun (pendopo) berbagai bangunan di ibukota Majapahit dalam kitab Negarakretagama telah menjadi inspirasi bagi arsitektur berbagai bangunan keraton di Jawa serta Pura dan kompleks perumahan masyarakat di Bali masa kini.
Prasasti Majapahit
Prasasti adalah bukti sumber tertulis yang sangat penting dari masa lalu yang isinya antara lain mengenai kehidupan masyarakat misalnya tentang administrasi dan birokrasi pemerintahan, kehidupan ekonomi, pelaksanaan hukum dan keadilan, sistem pembagian bekerja, perdagangan, agama, kesenian, maupun adat istiadat (Noerhadi 1977: 22). Seperti juga isi prasasti pada umumnya, prasasti dari masa Majapahit lebih banyak berisi tentang ketentuan suatu daerah menjadi daerah perdikan atau Sima. Meskipun demikian, banyak hal yang menarik untuk diungkapkan di sini, antara lain:

Prasasti Kudadu (1294 M)
Mengenai pengalaman Raden Wijaya sebelum menjadi Raja Majapahit yang telah ditolong oleh Rama Kudadu dari kejaran balatentara Jayakatwang setelah Raden Wijaya menjadi Raja dan bergelar Kertarajasa Jayawardhana Anantawikramottunggadewa, penduduk desa Kudadu dan Kepala desanya (Rama) diberi hadiah tanah Sima.

Prasasti Sukamerta (1296 M) & Prasasti Balawi (1305 M)
Mengenai Raden Wijaya yang telah memperisteri keempat putri Kertanegara yaitu Sri Paduka Parameswari Dyah Sri Tribhuwaneswari, Sri Paduka Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita, Sri Paduka Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, dan Sri Paduka Rajapadmi Dyah Dewi Gayatri, serta menyebutkan anaknya dari permaisuri bernama Sri Jayanegara yang dijadikan raja muda di Daha.

Prasasti Wingun Pitu (1447 M)
Mengungkapkan bentuk pemerintahan dan sistem birokrasi Kerajaan Majapahit yang terdiri dari 14 kerajaan bawahan yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre, yaitu Bhre Daha, Kahuripan, Pajang, Werngker, Wirabumi, Matahun, Tumapel, Jagaraga, Tanjungpura, Kembang Jenar, Kabalan, Singhapura, Keling, dan Kelinggapura.

Prasasti Canggu (1358 M)
Mengenai pengaturan tempat-tempat penyeberangan di Bengawan Solo. Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M). Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan garam dan ketentuan pajaknya. Prasasti Karang Bogem (1387 M) Menyebutkan tentang pembukaan daerah perikanan di Karang Bogem. Prasasti Marahi Manuk (tt) dan Prasasti Parung (tt) Mengenai sengketa tanah. Persengketaan ini diputuskan oleh pejabat kehakiman yang menguasai kitab-kitab hukum adata setempat.

Prasasti Katiden I (1392 M)
Menyebutkan tentang pembebasan daerah bagi penduduk desa Katiden yang meliputi 11 wilayah desa. Pembebasan pajak ini karena mereka mempunyai tugas berat, yaitu menjaga dan memelihara hutan alang-alang di daerah Gunung Lejar.

Prasasti Alasantan (939 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 6 September 939 M, Sri Maharaja Rakai Halu Dyah Sindok Sri Isanawikrama memerintahkan agar tanah di Alasantan dijadikan sima milik Rakryan Kabayan.

Prasasti Kamban (941 M)
Meyebutkan bahwa apada tanggal 19 Maret 941 M, Sri Maharaja Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Matanggadewa meresmikan desa Kamban menjadi daerah perdikan.

Prasasti Hara-hara (Trowulan VI) (966 M).
Menyebutkan bahwa pada tanggal 12 Agustus 966 M, Mpu Mano menyerahkan tanah yang menjadi haknya secara turun temurun kepada Mpungku Susuk Pager dan Mpungku Nairanjana untuk dipergunakan membiayai sebuah rumah doa (Kuti).

Prasasti Wurare (1289 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 21 September 1289 Sri Jnamasiwabajra, raja yang berhasil mempersatukan Janggala dan Panjalu, menahbiskan arca Mahaksobhya di Wurane. Gelar raja itu ialah Krtanagara setelah ditahbiskan sebagai Jina (dhyani Buddha).

Prasasti Maribong (Trowulan II) (1264 M)
Menyebutkan bahwa pada tanggal 28 Agustus 1264 M Wisnuwardhana memberi tanda pemberian hak perdikan bagi desa Maribong.

Prasasti Canggu (Trowulan I)
Mengenai aturan dan ketentuan kedudukan hukum desa-desa di tepi sungai Brantas dan Solo yang menjadi tempat penyeberangan. Desa-desa itu diberi kedudukan perdikan dan bebas dari kewajiban membayar pajak, tetapi diwajibkan memberi semacam sumbangan untuk kepentingan upacara keagamaan dan diatur oleh Panji Margabhaya Ki Ajaran Rata, penguasa tempat penyeberangan di Canggu, dan Panji Angrak saji Ki Ajaran Ragi, penguasa tempat penyeberangan di Terung.
Raja-raja Majapahit
Berikut adalah daftar penguasa Majapahit. Perhatikan bahwa terdapat periode kekosongan antara pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan Girishawardhana yang mungkin diakibatkan oleh krisis suksesi yang memecahkan keluarga kerajaan Majapahit menjadi dua kelompok.
1. Raden Wijaya, bergelar Kertarajasa Jayawardhana (1293 – 1309)
2. Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara (1309 – 1328)
3. Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328 – 1350)
4. Hayam Wuruk, bergelar Sri Rajasanagara (1350 – 1389)
5. Wikramawardhana (1389 – 1429)
6. Suhita (1429 – 1447)
7. Kertawijaya, bergelar Brawijaya I (1447 – 1451)
8. Rajasawardhana, bergelar Brawijaya II (1451 – 1453)
9. Purwawisesa atau Girishawardhana, bergelar Brawijaya III (1456 – 1466)
10. Pandanalas, atau Suraprabhawa, bergelar Brawijaya IV (1466 – 1468)
11. Kertabumi, bergelar Brawijaya V (1468 – 1478)
12. Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (1478 – 1498)
13. Hudhara, bergelar Brawijaya VII (1498-1518)





Kadiri

26 11 2008

Nama besar Jayabhaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabhaya. Contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabhaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.

Dikisahkan Jayabhaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudhayana. Permaisuri Jayabhaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jaya Amijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jaya Amijaya menurunkan Raja-raja Tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma Raja Yawastina, melahirkan Anglingdharma Raja Malawapati.

Jayabhaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kadiri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.

Prabu Jayabhaya adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyobhoyo”, antara lain Serat Jayabhaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.

Berdirinya Panjalu
Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kadiri berdiri. Daha merupakan singkatan dari ”Dahanapura”, yang berarti ”kota api”. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam ”Serat Calon Arang” bahwa, saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat Kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Daha.

Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah Kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan Kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan Kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan.

Menurut ”Nagarakretagama”, sebelum dibelah menjadi dua, nama Kerajaan yang dipimpin Airlangga sudah bernama Panjalu, yang berpusat di Daha. Jadi, Kerajaan Janggala lahir sebagai pecahan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala.

Pada mulanya, nama Panjalu atau Pangjalu memang lebih sering dipakai daripada nama Kadiri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh Raja-raja Kadiri. Bahkan, nama Panjalu juga dikenal sebagai ”’Pu-chia-lung”’ dalam kronik Cina berjudul ”Ling wai tai ta” (1178).

Perkembangan Panjalu
Masa-masa awal Kerajaan Panjalu atau Kadiri tidak banyak diketahui. Prasasti Turun Hyang II (1044) yang diterbitkan Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua Kerajaan sepeninggal Airlangga.

Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dengan adanya prasasti Sirah Keting tahun 1104 atas nama Sri Jayawarsa. Raja-raja sebelum Sri Jayawarsa hanya Sri Samarawijaya yang sudah diketahui, sedangkan urutan Raja-raja sesudah Sri Jayawarsa sudah dapat diketahui dengan jelas berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan.

Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135), yaitu ”Panjalu Jayati”, atau ”Panjalu Menang”.

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaannya. Wilayah Kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.

Hal ini diperkuat kronik Cina berjudul ”Ling wai tai ta” karya Chou Ku-fei tahun 1178, bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Cina secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatra. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah, di Jawa ada Kerajaan Panjalu, sedangkan Sumatra dikuasai Kerajaan Sriwijaya.

Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007, yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang Kerajaan tersebut.

Karya Sastra Zaman Kadiri
Seni sastra mendapat banyak perhatian pada zaman Kerajaan Panjalu – Kadiri. Pada tahun 1157 ”Kakawin Bharatayuddha” ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan Mpu Panuluh. Kitab ini bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa atas Korawa, sebagai kiasan kemenangan Sri Jayabhaya atas Janggala.

Selain itu, Mpu Panuluh juga menulis ”Kakawin Hariwangsa” dan ”Ghatotkachasraya”. Terdapat pula pujangga zaman pemerintahan Sri Kameswara bernama Mpu Dharmaja yang menulis ”Kakawin Smaradahana”. Kemudian pada zaman pemerintahan Kertajaya terdapat pujangga bernama Mpu Monaguna yang menulis ”Sumanasantaka” dan Mpu Triguna yang menulis ”Kresnayana”.

Runtuhnya Kadiri
Kerajaan Panjalu – Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya, dan dikisahkan dalam ”Pararaton” dan ”Nagarakretagama”.

Pada tahun 1222 Kertajaya sedang berselisih melawan kaum brahmana yang kemudian meminta perlindungan Ken Arok akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga bercita-cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri.

Perang antara Kadiri dan Tumapel terjadi dekat desa Ganter. Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Dengan demikian berakhirlah masa Kerajaan Kadiri, yang sejak saat itu kemudian menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari.

Raja-raja yang Pernah Memerintah Daha
Berikut adalah nama-nama Raja yang pernah memerintah di Daha, ibu kota Kadiri:

1. Pada saat Daha menjadi ibu kota Kerajaan yang masih utuh
Airlangga, merupakan pendiri kota Daha sebagai pindahan kota Kahuripan. Ketika ia turun takhta tahun 1042, wilayah Kerajaan dibelah menjadi dua. Daha kemudian menjadi ibu kota Kerajaan bagian barat, yaitu Panjalu.
Menurut ”Nagarakretagama”, Kerajaan yang dipimpin Airlangga tersebut sebelum dibelah sudah bernama Panjalu.

2. Pada saat Daha menjadi ibu kota Panjalu
 Sri Samarawijaya, merupakan putra Airlangga yang namanya ditemukan dalam prasasti Pamwatan (1042).
 Sri Jayawarsa, berdasarkan prasasti Sirah Keting (1104). Tidak diketahui dengan pasti apakah ia adalah pengganti langsung Sri Samarawijaya atau bukan.
 Sri Bameswara, berdasarkan prasasti Padelegan I (1117), prasasti Panumbangan (1120), dan prasasti Tangkilan (1130).
 Sri Jayabhaya, merupakan Raja terbesar Panjalu, berdasarkan prasasti Ngantang (1135), prasasti Talan (1136), dan Kakawin Bharatayuddha (1157).
 Sri Sarweswara, berdasarkan prasasti Padelegan II (1159) dan prasasti Kahyunan (1161).
 Sri Aryeswara, berdasarkan prasasti Angin (1171).
 Sri Gandra, berdasarkan prasasti Jaring (1181).
 Sri Kameswara, berdasarkan prasasti Ceker (1182) dan ”Kakawin Smaradahana”.
 Kertajaya, berdasarkan prasasti Galunggung (1194), Prasasti Kamulan (1194), prasasti Palah (1197), prasasti Wates Kulon (1205), ”Nagarakretagama”, dan ”Pararaton”.

3. Pada saat Daha menjadi bawahan Singhasari
Kerajaan Panjalu runtuh tahun 1222 dan menjadi bawahan Singhasari. Berdasarkan prasasti Mula Malurung, diketahui Raja-raja Daha zaman Singhasari, yaitu:
 Mahisa Wunga Teleng putra Ken Arok
 Guningbhaya adik Mahisa Wunga Teleng
 Tohjaya kakak Guningbhaya
 Kertanagara cucu Mahisa Wunga Teleng (dari pihak ibu), yang kemudian menjadi Raja Singhasari

4. Pada saat Daha menjadi ibu kota Kadiri
Jayakatwang, adalah keturunan Kertajaya yang menjadi bupati Gelang-Gelang. Tahun 1292 ia memberontak hingga menyebabkan runtuhnya Kerajaan Singhasari. Jayakatwang kemudian membangun kembali Kerajaan Kadiri. Tapi pada tahun 1293 ia dikalahkan Raden Wijaya pendiri Majapahit.

5. Pada saat Daha menjadi bawahan Majapahit
Sejak tahun 1293 Daha menjadi negeri bawahan Majapahit yang paling utama. Raja yang memimpin bergelar Bhre Daha tapi hanya bersifat simbol, karena pemerintahan harian dilaksanakan oleh Patih Daha. Para pemimpin Daha zaman Majapahit antara lain:
 Jayanagara, tahun 1295-1309, didampingi Patih Lembu Sora.
 Rajadewi, tahun 1309-1370-an, didampingi Patih Arya Tilam, kemudian Gajah Mada.
Setelah itu, nama-nama pejabat Bhre Daha tidak diketahui dengan pasti.

6. Pada saat Daha menjadi ibu kota Majapahit
Menurut ”Suma Oriental” tulisan Tome Pires, pada tahun 1513 Daha menjadi ibu kota Majapahit yang dipimpin oleh Bhatara Wijaya. Nama Raja ini identik dengan Dyah Ranawijaya yang dikalahkan oleh Sultan Trenggana Raja Demak tahun 1527.

Sejak saat itu nama Kadiri lebih terkenal dari pada Daha.

Sistem Tata Negara Kerajaan Kadiri
Kerajaan Kadiri mengalami masa keemasan ketika diperintah oleh Prabu Jayabhaya. Sukses gemilang Kerajaan Kadiri didukung oleh tampilnya cendekiawan terkemuka Empu Sedah, Empu Panuluh, Empu Darmaja, Empu Triguna dan Empu Manoguna. Mereka adalah jalma sulaksana, manusia paripurna yang telah memperoleh derajat oboring jagad raya. Di bawah kepemimpinan Prabu Jayabhaya, Kerajaan Kadiri mencapai puncak peradaban, terbukti dengan lahirnya kitab-kitab hukum dan kenegaraan sebagaimana terhimpun dalam kakawin Bharatayuda, Gathutkacasraya, dan Hariwangsa yang hingga kini merupakan warisan ruhani bermutu tinggi.

Strategi kepemimpinan Prabu Jayabhaya dalam memakmurkan rakyatnya memang sangat mengagumkan (Gonda, 1925 : 111). Kerajaan yang beribukota di Dahanapura bawah kaki Gunung Kelud ini tanahnya amat subur, sehingga segala macam tanaman tumbuh menghijau. Pertanian dan perkebunan hasilnya berlimpah ruah. Di tengah kota membelah aliran sungai Brantas. Airnya bening dan banyak hidup aneka ragam ikan, sehingga makanan berprotein dan bergizi selalu tercukupi. Hasil bumi itu kemudian diangkut ke Kota Jenggala, dekat Surabaya, dengan naik perahu menelusuri sungai. Roda perekonomian berjalan lancar sehingga Kerajaan Kadiri benar-benar dapat disebut sebagai negara yang Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Karta Raharja.

Dalam bidang spiritual di Kerajaan Kadiri juga sangat maju (Pigeaud, 1924:67). Tempat ibadah dibangun di mana-mana. Para guru kebatinan mendapat tempat yang terhormat. Bahkan Sang Prabu sendiri kerap melakukan tirakat, tapa brata dan semedi. Beliau suka bermeditasi di tengah hutan yang sepi. Laku prihatin dengan cegah dhahar lawan guling, mengurangi makan tidur. Hal ini menjadi aktifitas ritual sehari-hari. Tidak mengherankan apabila Prabu Jayabhaya ngerti sadurunge winarah (Tahu sebelum terjadi) yang bisa meramal owah gingsire jaman. Ramalan itu sungguh relevan untuk membaca tanda-tanda jaman saat ini.

Prabu Jayabhaya memerintah antara 1130 – 1157 M. Dukungan spi¬ritual dan material dari Prabu Jayabhaya dalam hal hukum dan pemerintah¬an tidak tanggung-tanggung. Sikap merakyat dan visinya yang jauh ke depan menjadikan Prabu Jayabhaya layak dikenang sepanjang masa. Kalau rakyat kecil hingga saat ini ingat pada beliau, hal itu menunjukkan bahwa pada masanya berkuasa tindakannya selalu bijaksana dan adil terhadap rakyatnya.

Kitab Perundang-undangan
Sistem Perundang-undangan Kerajaan Kadiri disusun oleh para ahli hukum yang tergabung dalam Dewan Kapujanggan Istana. Sebelum menjalankan tugasnya para pakar hukum tadi senantiasa melakukan studi banding dalam hal penyusunan hukum serta konstitusi dari negeri lain. Produk hukum yang telah dihasilkan oleh dewan tersebut yaitu Kitab Darmapraja. Kitab ini merupakan karya pustaka yang berisi Tata Tertib Penyelenggaraan Pemerintahan dan Kenegaraan. Dalam soal pengadilan, Raja selalu mengikuti Undang-undang ini, sehingga adil segala keputusan yang diambilnya, membuat puas semua pihak (Brandes, 1896:88).

Pada pasal-pasal kitab tersebut, kata “agama” dapat ditafsirkan sebagai Undang-undang atau Kitab Perundang-undangan. Kadang yang berbeda ini perumusannya saja, yang satu lebih panjang daripada yang lain dan merupakan kelengkapan atau penjelasan dari pasal sejenis yang pendek. Kitab Perundang-undangan Agama adalah terutama Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Namun di samping Kitab Undang-undang Hukum Pidana terdapat juga Undang-undang Hukum Perdata.

Tata cara jual-beli, pembagian warisan, pernikahan dan perceraian masuk dalam Undang-undang Hukum Perdata (Hazeu, 1987:87). Memang pada zaman Kadiri belum ada perincian tegas antara Undang-undang Hukum Pidana dan Hukum Perdata. Menurut sejarah per Undang-undangan Hukum Perdata tumbuh dari Hukum Pidana, jadi percampuran Hukum Perdata dan Hukum Pidana dalam Kitab Perundang-undangan Agama di atas bukan suatu keganjilan ditinjau dari segi sejarah hukum.

Kehidupan beragama sudah diatur juga dalam Undang-undang. Tiap bab memuat pasal-pasal yang sejenis, sehingga ada sistematika dalam penyusunan. Sudah pasti bahwa susunannya semula menganut suatu sistem. Kitab hukum per Undang-undangan itu disusun sebagai berikut :
Bab I : Sama Beda Dana Denda, berisi ketentuan diplomasi, aliansi, konstribusi dan sanksi.
Bab II : Astadusta, berisi tentang sanksi delapan kejahatan (penipuan, pemerasan, pencurian, pemerkosaan, penganiayaan, pem¬balakan, penindasan dan pembunuhan)
Bab III : Kawula, berisi tentang hak-hak dan kewajiban masyarakat sipil.
Bab IV : Astacorah, berisi tentang delapan macam penyimpangan adminis¬trasi kenegaraan.
Bab V : Sahasa, berisi tentang sistem pelaksanaan transaksi yang berkaitan pengadaan barang dan jasa.
Bab VI : Adol-atuku, berisi tentang hukum perdagangan.
Bab VII : Gadai atau Sanda, berisi tentang tata cara pengelolaan lembaga pegadaian.
Bab VIII : Utang-apihutang, berisi aturan pinjam-meminjam
Bab IX : Titipan, berisi tentang sistem lumbung dan penyimpanan barang.
Bab X : Pasok Tukon, berisi tentang hukum perhelatan.
Bab XI : Kawarangan, berisi tentang hukum perkawinan.
Bab XII : Paradara, berisi hukum dan sanksi tindak asusila.
Bab XIII : Drewe kaliliran, berisi tentang sistem pembagian warisan.
Bab XIV : Wakparusya, berisi tentang sanksi penghinaan dan pencemaran nama baik.
Bab XV : Dendaparusya, berisi tentang sanksi pelanggaran administrasi
Bab XVI : Kagelehan, berisi tentang sanksi kelalaian yang menyebabkan kerugian publik.
Bab XVII : Atukaran, berisi tentang sanksi karena menyebarkan per¬musuhan.
Bab XVIII : Bumi, berisi tentang tata cara pungutan pajak
Bab XX : Dwilatek, berisi tentang sanksi karena melakukan kebohongan publik.

Pada zaman Kadiri pengaruh kebudayaan India meresap dalam banyak bidang kehidupan. Pengaruh kebudayaan India itu juga terasa sekali dalam bidang Perundang-undangan. Agama Hindu-Buda jelas menunjukkan adanya pengaruh India dalam masyarakat Kadiri. Kitab Perundang-undangan India Manawa Darma Sastra dijadikan pola Perundang-undangan Kadiri yang disebut Darma Praja yang telah disesuaikan dengan suasana setempat (Yoedoprawiro, 2000:123).

Demikianlah kitab Perundang-undangan itu bukan terjemahan tepat dari kitab Perundang-undangan India. Bahwa isi kitab Perundang-undangan agama diambil dari sari kitab Perundang-undangan India. Dalam kitab Perundang-undangan agama banyak kedapatan pasal-pasal yang dikatakan berasal dari ajaran Bagawan Bregu, jadi berasal dari Darma Praja. Adanya pengaruh dari luar tadi memang sebuah keniscayaan, karena banyak cendekiawan Kadiri yang ditugaskan belajar ke mancanegara, terutama negeri Asia Tengah, Asia Selatan dan Asia Barat.

Sistem Peradilan Kerajaan
Sistem peradilan Kerajaan Kadiri bertujuan untuk mencapai kepastian hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kerajaan (Stutterheim, 1930:254). Dengan adanya kepastian hukum, maka hak dan kewajiban semua warga kerajaan dapat dijamin. Keseimbangan antara hak dan kewajiban warga kerajaan telah membuktikan serta membuahkan ketentraman lahir dan batin. Aparat dan rakyat meng¬hormati hukum atau darma semata-mata demi terjaganya kepentingan bersama.

Semua keputusan dalam pengadilan diambil atas nama Raja yang disebut Sang Amawabhumi artinya orang yang mempunyai atau menguasai negara. Dalam Mukadimah Darmapraja ditegaskan demikian:

Semoga Sang Amawabhumi teguh hatinya dalam menerapkan besar kecilnya denda, jangan sampai salah trap. Jangan sampai orang yang bertingkah salah, luput dari tindakan. Itulah kewajiban Sang Amawabhumi, jika beliau mengharapkan kerahayuan negaranya (Moedjanto, 1994:56).

Dalam soal pengadilan, Raja dibantu oleh dua orang Adidarma Dyaksa. Seorang Adidarma Dyaksa Kasiwan dan seorang Adidarma Dyaksa Kabudan, yakni kepala agama Siwa dan kepala agama Buda dengan sebutan Sang Maharsi, karena kedua agama itu merupakan agama utama dalam Kerajaan Kadiri dan segala Perundang-undangan didasarkan agama.
Kedudukan Adidarma Dyaksa boleh disamakan dengan kedudukan Hakim Tinggi. Mereka itu dibantu oleh lima Upapati artinya : pembantu dalam pengadilan adalah pembantu Adidarma Dyaksa. Mereka itu biasa disebut Pamegat atau Sang Pamegat artinya : Sang Pemutus alias Hakim. Baik Adidarma Dyaksa maupun Upapati bergelar Sang Maharsi. Mula-mula jumlahnya hanya lima yakni : Sang Pamegat Tirwan, Sang Pamegat Kandamuhi, Sang Pamegat Manghuri, Sang Pamegat Jambi, Sang Pamegat Pamotan. Mereka itu semuanya termasuk golongan Kasiwan, karena agama Siwa adalah agama resmi negara Kadiri dan mempunyai pengikut paling banyak. Pada zaman pemerintahan Prabu Jayabhaya jumlah Upapati ditambah dua menjadi tujuh. Keduanya termasuk golongan Kabudan, sehingga ada lima Upapati Kasiwan dan dua Upapati Kabudan. Per¬bandingan itu sudah layak mengingat jumlah pemeluk agama Buda kalah banyak dengan jumlah pemeluk agama Siwa. Dua Upapati Kabudan itu ialah Sang Pamegat Kandangan Tuha dan Sang Pamegat Kandangan Rare.

Ketika Prabu Jayabhaya bertahta di Mamenang, beliau dihadap oleh pelbagai pembesar, di antaranya Dyaksa, Upapati dan Para Panji yang paham tentang Undang-undang (Rassers, 1959:243). Dari uraian itu nyata bahwa Para Panji adalah pembantu para Upapati dalam melakukan pengadilan di daerah-daerah. Pangkat Panji masih dikenal di kesultanan Yogyakarta sampai tahun 1940. Para Panji di Kesultanan Yogya diserahi tugas pengadilan. Jadi tidak berbeda dengan Para Panji pada zaman Kadiri.

Lembaga peradilan kerajaan ini bertanggung jawab kepada Raja secara langsung. Akan tetapi silang sengketa yang menyangkut kepenting¬an Raja dan keluarganya, menggunakan peradilan khusus, sehingga kontaminasi dan intervensi terhadap hasil putusan dapat dihindari. Dalam hal ini Raja mempunyai staf hukum yang mumpuni, profesional dan tidak diragukan lagi integritas serta kredibilitasnya.

Karya di Bidang Hukum Tata Negara
Empu Triguna hidup pada masa pemerintahan Prabu Jayawarsa di Panjalu pada tahun 1026 Saka atau 1104 Masehi (Poerbatjaraka, 1957: 18). Prabu Jayawarsa ini juga menjadi patron bagi para pujangga dalam mengembangkan dinamika ilmu hukum dan tata praja. Para cendekiawan yang berbakat diberi fasi¬litas untuk mengaktualisasikan idealismenya.

Pernyataan ini didukung, sebenarnya sudah digarisbawahi oleh pujangga kita dahulu. Karya hukum dan tata praja yang telah diciptakan oleh Empu Triguna adalah Kakawin Kresnayana. Kakawin Kresnayana berisi tentang ilmu hukum dan pemerintahan. Prabu Jayawarsa juga amat peduli dengan kehidupan ilmu pengetahuan, sebagai tanda bahwa beliau juga seorang humanis. Empu Manoguna adalah rekan seangkatan Empu Triguna. Keduanya merupakan pujangga istana jaman Prabu Jayawarsa di Kerajaan Kadiri. Menilik nama Empu Manoguna dan Triguna ada bagian yang sama, kemungkinan besar dapat diduga keduanya masih ada hubungan kerabat atau seperguruan. Yang jelas kedua Empu ini adalah konsultan dan penasehat utama Prabu Jayawarsa.

Karya hukum dan tata praja ciptaan Empu Manoguna adalah Kakawin Sumanasantaka, cerita yang bersumber dari Kitab Raguwangsa karya pujangga besar dari India, Sang Kalisada. Pengaruh India ke dalam kehidupan masyarakat Jawa Kuno memang besar, baik yang bersifat Hindu maupun Buda. Hal ini tampak dengan ungkapan bahasa Sansekerta yang masuk dalam kosakata ilmu pengetahuan Jawa Kuno. Sumanasan¬taka berasal dari kata sumanasa = kembang dan antaka = mati. Artinya adalah mati oleh kembang. Serat Sumanasantaka menceritakan kebijaksanaan seorang raja dalam memimpin rakyatnya.

Karya hukum dan tata praja Empu Dharmaja yang terkenal adalah Kakawin Smaradahana dan Kakawin Bomakawya. Kitab Smaradahana menceritakan Batara Kamajaya yang punya sifat keagungan. Kitab Bomakawya menurut Teeuw (1946:97) menceritakan cara memimpin yang berdasarkan pada nilai keadilan dan perdamaian.

Hukum Positif dan Budaya Simbolik
Dalam masa pemerintahan Prabu Jayabhaya, prinsip pelaksanaan kenegaraan terbagi menjadi dua yakni hukum positif dan budaya simbolik. Hukum positif merupakan hukum yang berlaku berdasar peratur¬an tertulis yang disepakati bersama. Biasanya hukum ini bersifat praktis, teknis dan mikro. Semua transaksi dan lika-liku kehidupan yang me¬nyang¬kut jual beli, dagang, ekonomi, politik, karier, birokrasi, organi¬sasi dan perkawinan diatur secara rinci. Pelanggaran hukum dan dendanya pun diatur secara detail.
Di samping hukum positif, dalam menata masyarakatnya Prabu Jayabhaya menggunakan pendekatan budaya simbolik. Untuk menunjang keberhasilan program ini, maka diperintahkanlah para pujangga untuk menulis karya cipta. Tujuannya agar aparat dan rakyat patuh pada norma susila. Hanya saja apabila terjadi pelanggaran maka hukuman dan sangsinya bersifat ghaib spiritual. Pujangga yang diberi tugas menulis kitab spiritual itu di antaranya adalah Empu Sedah dan Empu Panuluh.
Empu Sedah adalah penyusun Kakawin Baratayudha pada tahun 1079 Saka atau 1157 Masehi, dengan sengkalan berbunyi Sangha Kuda Suddha Candrama. Hanya saja, Empu Sedah keburu meninggal sebelum karyanya selesai. Kakawin Baratayudha dipersembahkan kepada Prabu Jayabhaya, Mapanji Jayabhaya, Jayabhaya Laksana atau Sri Warmeswara.

Tingkat kecerdasan rakyat memang berbeda-beda. Hukum positif yang disusun oleh elit negara, kadang kala kurang bisa dipahami oleh rakyat awam. Keadaan ini disadari oleh para Raja Kadiri. Oleh karena itu demi terciptanya susasana yang harmonis, lantas diciptakan nasehat-nasehat simbolis berbau mistis. Kenyataannya pesan-pesan spitirual Prabu Jayabhaya yang dibungkus dengan ramalan ghaib tadi dipercaya oleh sebagian besar masyarakat. Sebagai pelengkap dan pengiring hukum positif, maka budaya simbolik tersebut dapat digunakan untuk mencapai ketertiban sosial.

Prabu Jayabhaya adalah raja besar laksana Dewa Keadilan yang angejawantah ing madyapada. Sikap hidupnya benar-benar bijaksana. Kewibawaannya telah membuat ketentraman dan kemuliaan jagat raya, yang membuat Kerajaan Kadiri mencapai masa kejayaan dan keemasan.

Selama Prabu Jayabhaya memegang kendali pemerintahan dan tata praja, Nusantara sungguh-sungguh diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara, Asia Tengah dan Asia Selatan. Beliau berhasil mewujudkan negara yang Gedhe Obore, Padhang Jagade, Dhuwur Kukuse, Adoh Kuncarane, Ampuh Kawibawane. Masyarakat merasakan negara yang Gemah Ripah Loh Jinawi, Tata Tentrem Karta Raharja. Konsep Saptawa, dijadikan sebagai program utama yaitu :

1. Wastra (sandang),
2. Wareg (pangan),
3. Wisma (papan),
4. Wasis (pendidikan),
5. Waras (kesehatan),
6. Waskita (keruhanian), dan
7. Wicaksana (kebijaksanaan).

Masyarakat Jawa percaya bahwa Prabu Jayabhaya selalu bersikap arif dan bijaksana serta menjunjung hukum yang berlaku. Semua golongan masyarakat bersatu padu mendukung pemerintahannya. Refleksi kearifan warisan para leluhur raja Jawa dijadikan referensi untuk membawa kebesaran Nusantara.

Kebesaran dan kejayaan Kerajaan Kadiri, di samping faktor kepemimpinan rajanya yang selalu mengutamakan kepentingan umum, juga didukung oleh kejeliannya dalam menyusun Undang-undang dasar yang mengikat sekalian warganya. Kepatuhan pada konstitusi telah membuat ketertiban di seluruh kawasan Kerajaan Kadiri. Aparat kerajaan yang terdiri dari pejabat sipil dan militer bekerja sesuai dengan amanat konstitusi, sehingga segala kebijakan kerajaan membuahkan kemakmur¬an dan ketentraman rakyat.





Brawijaya

26 11 2008

Prabu Brawijaya (lahir: ? – wafat: 1478) atau kadang disebut Brawijaya V adalah Raja terakhir Kerajaan Majapahit versi naskah-naskah babad dan serat, yang memerintah sampai tahun 1478. Tokoh ini diperkirakan sebagai tokoh fiksi namun sangat legendaris. Ia sering dianggap sama dengan Bhre Kertabhumi, yaitu nama yang ditemukan dalam penutupan naskah Pararaton. Namun pendapat lain mengatakan bahwa Brawijaya cenderung identik dengan Dyah Ranawijaya, yaitu tokoh yang pada tahun 1486 mengaku sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri.

1. Kisah hidup
Babad Tanah Jawi menyebut nama asli Brawijaya adalah Raden Alit. Ia naik tahta menggantikan ayahnya yang bernama Prabu Bratanjung, dan kemudian memerintah dalam waktu yang sangat lama, yaitu sejak putra sulungnya yang bernama Arya Damar belum lahir, sampai akhirnya turun takhta karena dikalahkan oleh putranya yang lain, yaitu Raden Patah yang juga anak tiri Arya Damar.

Brawijaya memiliki permaisuri bernama Ratu Dwarawati, seorang muslim dari Campa. Patihnya bernama Gajah Mada. Jumlah selirnya banyak sekali. Dari mereka, antara lain, lahir Arya Damar Bupati Palembang, Raden Patah Bupati Demak, Batara Katong Bupati Ponorogo, serta Bondan Kejawan leluhur Raja-Raja Kesultanan Mataram.

Sementara itu Serat Kanda menyebut nama asli Brawijaya adalah Angkawijaya, putra Prabu Mertawijaya dan Ratu Kencanawungu. Mertawijaya adalah nama gelar Damarwulan yang menjadi Raja Majapahit setelah mengalahkan Menak Jingga Bupati Blambangan.

Sementara itu pendiri Kerajaan Majapahit versi naskah babad dan serat bernama Jaka Sesuruh, bukan Raden Wijaya sebagaimana fakta yang sebenarnya terjadi. Menurut Serat Pranitiradya, yang bernama Brawijaya bukan hanya Raja terakhir saja, tetapi juga beberapa Raja sebelumnya. Naskah serat ini menyebut urutan Raja-Raja Majapahit ialah:
* Jaka Sesuruh bergelar Prabu Bratana
* Prabu Brakumara
* Prabu Brawijaya I
* Ratu Ayu Kencanawungu
* Prabu Brawijaya II
* Prabu Brawijaya III
* Prabu Brawijaya IV
* dan terakhir, Prabu Brawijaya V

Baik itu pemerintahan Brawijaya ataupun Brawijaya V sama-sama dikisahkan berakhir akibat serangan putranya sendiri yang bernama Raden Patah pada tahun 1478. Raden Patah kemudian menjadi Raja pertama Kesultanan Demak, bergelar Panembahan Jimbun.

2. Asal usul nama
Meskipun sangat populer, nama Brawijaya ternyata tidak pernah dijumpai dalam naskah Pararaton ataupun prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, perlu diselidiki dari mana para pengarang naskah babad dan serat memperoleh nama tersebut.

Nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna “baginda”. Sedangkan gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang bermakna “baginda di”. Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara Wijaya.

Menurut catatan Tome Pires yang berjudul Suma Oriental, pada tahun 1513 di Pulau Jawa ada seorang Raja bernama Batara Vigiaya. Ibu kota Kerajaannya terletak di Dayo. Pemerintahannya hanya bersifat simbol, karena yang berkuasa penuh adalah mertuanya yang bernama Pate Amdura.

Batara Vigiaya, Dayo, dan Pate Amdura adalah ejaan Portugis untuk Bhatara Wijaya, Daha, dan Patih Mahodara. Tokoh Bhatara Wijaya ini kemungkinan identik dengan Dyah Ranawijaya yang mengeluarkan prasasti Jiyu tahun 1486, di mana ia mengaku sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri. Pusat pemerintahan Dyah Ranawijaya terletak di Daha. Dengan kata lain, saat itu Daha adalah ibu kota Majapahit.

Babad Sengkala mengisahkan pada tahun 1527 Kadiri atau Daha runtuh akibat serangan Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak. Tidak diketahui dengan pasti apakah saat itu penguasa Daha masih dijabat oleh Bhatara Ranawijaya atau tidak. Namun apabila benar demikian, berarti Ranawijaya merupakan Raja Daha yang terakhir.

Mungkin Bhatara Ranawijaya inilah yang namanya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa sebagai Raja Majapahit yang terakhir, yang namanya kemudian disingkat sebagai Brawijaya. Namun, karena istilah Majapahit identik dengan daerah Trowulan, Mojokerto, maka Brawijaya pun “ditempatkan” sebagai Raja yang memerintah di sana, bukan di Daha.

Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan menurut ingatan masyarakat Jawa[rujukan?] berakhir pada tahun 1478. Oleh karena itu, Brawijaya pun dikisahkan meninggal pada tahun tersebut. Padahal Bhatara Ranawijaya diketahui masih mengeluarkan prasasti Jiyu tahun 1486. Rupanya para pujangga penulis naskah babad dan serat tidak mengetahui kalau setelah tahun 1478 pusat Kerajaan Majapahit berpindah dari Trowulan menuju Daha.

3. Bhre Kertabhumi dalam Pararaton
Pararaton hanya menceritakan sejarah Kerajaan Majapahit yang berakhir pada tahun 1478 Masehi (atau tahun 1400 Saka). Pada bagian penutupan naskah tersebut tertulis:
Bhre Pandansalas menjadi Bhre Tumapel kemudian menjadi Raja pada tahun Saka 1388, baru menjadi Raja dua tahun lamanya kemudian pergi dari istana anak-anak Sang Sinagara yaitu Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, dan yang bungsu Bhre Kertabhumi terhitung paman Raja yang meninggal dalam istana tahun Saka 1400.

Kalimat penutupan Pararaton tersebut terkesan ambigu. Tidak jelas siapa yang pergi dari istana pada tahun Saka 1390, apakah Bhre Pandansalas ataukah anak-anak Sang Sinagara. Tidak jelas pula siapa yang meninggal dalam istana pada tahun Saka 1400, apakah Bhre Kertabhumi, ataukah Raja sebelumnya.

Teori yang cukup populer menyebut Bhre Kertabhumi sebagai tokoh yang meninggal tahun 1400 Saka (1478 Masehi). Teori ini mendapat dukungan dengan ditemukannya naskah kronik Cina dari kuil Sam Po Kong Semarang yang menyebut nama Kung-ta-bu-mi sebagai Raja Majapahit terakhir. Nama Kung-ta-bu-mi ini diperkirakan sebagai ejaan Cina untuk Bhre Kertabhumi.

Sementara itu dalam Serat Kanda disebutkan bahwa, Brawijaya adalah Raja terakhir Majapahit yang dikalahkan oleh Raden Patah pada tahun Sirna ilang KERTA-ning BUMI, atau 1400 Saka. Atas dasar berita tersebut, tokoh Brawijaya pun dianggap identik dengan Bhre Kertabhumi atau Kung-ta-bu-mi. Perbedaannya ialah, Brawijaya memerintah dalam waktu yang sangat lama sedangkan pemerintahan Bhre Kertabhumi relatif singkat.

4. Kung-ta-bu-mi dalam Kronik Cina
Naskah kronik Cina yang ditemukan dalam kuil Sam Po Kong di Semarang antara lain mengisahkan akhir Kerajaan Majapahit sampai berdirinya Kerajaan Pajang.

Dikisahkan, Raja terakhir Majapahit bernama Kung-ta-bu-mi. Salah satu putranya bernama Jin Bun yang dibesarkan oleh Swan Liong, putra Yang-wi-si-sa dari seorang selir Cina. Pada tahun 1478 Jin Bun menyerang Majapahit dan membawa Kung-ta-bu-mi secara hormat ke Bing-to-lo.

Kung-ta-bu-mi merupakan ejaan Cina untuk Bhre Kertabhumi. Jin Bun dari Bing-to-lo adalah Panembahan Jimbun alias Raden Patah dari Demak Bintara. Swan Liong identik dengan Arya Damar. Sedangkan Yang-wi-si-sa bisa berarti Hyang Wisesa alias Wikramawardhana, atau bisa pula Hyang Purwawisesa. Keduanya sama-sama pernah menjadi Raja di Majapahit.

Menurut Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, tokoh Arya Damar adalah anak Brawijaya dari seorang raksasa perempuan bernama Endang Sasmintapura. Jadi, Arya Damar adalah kakak tiri sekaligus ayah angkat Raden Patah.

Menurut kronik Cina di atas, Raden Patah adalah putra Bhre Kertabhumi, sedangkan Swan Liong adalah putra Hyang Wisesa dari seorang selir berdarah Cina. Kisah ini terkesan lebih masuk akal daripada uraian versi babad dan serat.

Selanjutnya dikisahkan pula, setelah kekalahan Kung-ta-bu-mi, Majapahit pun menjadi bawahan Demak. Bekas Kerajaan besar ini kemudian diperintah oleh Nyoo Lay Wa, seorang Cina muslim sebagai Bupati. Pada tahun 1486 Nyoo Lay Wa tewas karena unjuk rasa penduduk pribumi. Maka, Jin Bun pun mengangkat iparnya, yaitu Pa-bu-ta-la, menantu Kung-ta-bu-mi, sebagai Bupati baru.

Tokoh Pa-bu-ta-la identik dengan Prabhu Natha Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya dalam prasasti Jiyu 1486. Jadi, menurut berita Cina tersebut, Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya adalah saudara ipar sekaligus Bupati bawahan Raden Patah. Dengan kata lain, Bhra Wijaya adalah menantu Bhre Kertabhumi menurut kronik Cina.

5. Teori keruntuhan Majapahit
Peristiwa runtuhnya Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto diyakini terjadi pada tahun 1478, namun sering diceritakan dalam berbagai versi, antara lain:
 Raja terakhir adalah Brawijaya. Ia dikalahkan oleh Raden Patah dari Demak Bintara. Konon Brawijaya kemudian masuk Islam melalui Sunan Kalijaga. Ada pula yang mengisahkan Brawijaya melarikan diri ke Pulau Bali. Meskipun teori yang bersumber dari naskah-naskah babad dan serat ini uraiannya terkesan khayal dan tidak masuk akal, namun sangat populer dalam masyarakat Jawa.
* Raja terakhir adalah Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Raden Patah. Setelah itu Majapahit menjadi bawahan Kesultanan Demak. Teori ini muncul berdasarkan ditemukannya kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong Semarang.
* Raja terakhir adalah Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya. Teori ini muncul berdasarkan penemuan prasasti Petak yang mengisahkan pernah terjadi peperangan antara keluarga Girindrawardhana melawan Majapahit.
* Raja terakhir adalah Bhre Pandansalas yang dikalahkan oleh anak-anak Sang Sinagara. Teori ini muncul karena Pararaton tidak menyebutkan secara jelas apakah Bhre Kertabhumi merupakan Raja terakhir Majapahit atau bukan. Selain itu kalimat sebelumnya juga terkesan ambigu, apakah yang meninggalkan istana pada tahun 1390 Saka (1468 Masehi) adalah Bhre Pandansalas, ataukah anak-anak Sang Sinagara. Teori yang menyebut Bhre Pandansalas sebagai Raja terakhir mengatakan kalau pada tahun 1478, anak-anak Sang Sinagara kembali untuk menyerang Majapahit. Jadi, menurut teori ini, Bhre Pandansalas mati dibunuh oleh Bhre Kertabhumi dan saudara-saudaranya pada tahun 1478.

6. Pemakaian nama Brawijaya
Meskipun kisah hidupnya dalam naskah babad dan serat terkesan khayal dan tidak masuk akal, namun nama Brawijaya sangat populer, terutama di daerah Jawa Timur.

Hampir setiap kota di Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur menggunakan Brawijaya sebagai nama jalan. Nama Brawijaya juga diabadikan menjadi nama suatu perguruan tinggi negeri di Kota Malang, yaitu Universitas Brawijaya. Juga terdapat Stadion Brawijaya dan Museum Brawijaya di kota yang sama. Di samping itu kesatuan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat yang meliputi daerah Jawa Timur dikenal dengan nama Kodam V/Brawijaya.





Babad Cianjur (Bahasa Sunda)

26 11 2008

Jaka Susuru Raja Di Nagri Tanjung Singuru
Lalampahan Prabu Jaka Susuru nu ngadamel Karaton di Tanjung Singuru, anu ayeuna kasebut Bobojong Cisuru, di désa Sukarama onderdistrict Bojong Picung district Ciranjang afdeeling Cianjur.
Ieu urut nagara tempatna santosa pisan, ti kidul ti kulon jeung kalér dikurilingan ku cai ngaranna walungan Cisokan, sarta ti kidulna ngadingding gunung, disebutna gunung Cibulé, ari ti wétanna dihalangan ku bénténg 5 lapis, sarta ka wétanna pisan ngadingding Gunung Payung. Nurutkeun caritaan urang kampung Ciséro nu ayana dina suku éta gunung, éta Gunung Payung téh sanget, malah sok dipaké pamujaan sato héwan nu aya di dinya.
Ieu urut Tanjung Singuru di handapna dipaké torowongan solokan irrigatie, nu ayeuna caina dipaké nyaian sawah sajumblahna aya + 8.000 bau, éta téh nu kakurung ku solokan irrigatie wungkul.
Ayeuna urang nyairoskeun bab galurna lalampahan Prabu Jaka Susuru, putra Prabu Siliwangi Raja di Nagri Pajajaran, nu ayeuna patilasanana aya di Bogor.

Bubukana
Sang Prabu Siliwangi ka VII Raja di Pajajaran kagungan putra jenenganana Munding Mintra Kasiringan Wangi. Dina hiji mangsa magelaran di panca niti dideuheusan para Bopati, Patih, Mantri para Tumenggung. Sang Prabu Siliwangi ngadawuh ka sadayana Para Bopati, dawuhanana: “Kumaha hé para Bopati, Patih jeung Tumenggung, sa réh na kami kagungan putra pameget, nya ieu si ujang Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi, tacan kagungan garwa, tapi ku kami hayang dijenengkeun Bopati heula!” Piunjukna para Bopati sareng para Tumenggung ka Sang Prabu Siliwangi: “Éta mah sadaya-daya, henteu ngalalangkungan Kangjeng Gusti baé, menggah pijenengeunana putra Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi.” Sanggeusna sang Prabu Siliwangi ngadangu piunjukna para Bopati jeung Tumenggung kitu, lajeng ngadawuh deui: “Ari mungguh kahajang kami sarta nurutkeun Gambar Pakuan Pajadajaran, pinagaraeunana teh ayana di tatar Alasan Pasagi Wétan, ngan pingaraneunana nagara kumaha engké baé buktina,”
Sanggeusna Kangjeng Raja Siliwangi ngadawuh kitu, terus putrana Radén Munding Mintra Kasiringan Wangi, disaur, sarta didawuhan kudu ngamplang ngumbara ka tatar Alasan Pasagi Wétan, néangan pinagaraeun, sarta diréncangan ku dua Tumenggung, nja éta Dipati Tumenggung Séwana Giri, jeung Dipati Tumenggung Séwana Guru, sarta dipasihan jimat Makuta Siger Kancana jeung Gambar Pakuan Pajajaran atawa gambar Lawé Domas Kinasihan. Saparantosna sadia lajeng Munding Mintra Kasiringan Wangi jeung Tumenggung Séwana Giri Séwana Guru angkat tiluan. Barang nepi kana Leuweung ganggong si magonggong, Radén Munding Mintra sarta dua Tumenggung lirén di dinya, pok mariksa ka Tumenggung Séwana Guru jeung Séwana Giri, kieu lahirna: “Hé, mang Tumenggung Séwana Guru jeung Séwana Giri, boa-boa nya ieu pinagaraeun téh!” jawabna dua Tumenggung: “Sumuhun dawuh, émutan pun paman ogé kawas-kawas yaktos pisan ieu, pantes upami didamel nagara téh, margi palemahanana saé, tanah kalingkung ku gunung, bahé ngétan, nya nu kieu nu disebut Galudra Ngupuk téh,”
Tuluy Radén Munding Mintra neneda ka jimatna Makuta Siger Kancana, sarta neneda ka Déwa Batara Sanghiang Utipati. Dimakbul panedana, tuluy éta tanah dicipta, jleg jadi nagara, sarta maké bénténg 5 lapis, salapis bénténg beusi, salapis waja, parunggu, pérak, lapis nu pangjerona beusi purasani. Ti dinya neneda deui ka Déwa mundut pamuk 8.000, baladna 80.000, badégan 65 nu purah ngurus di Karaton. Sanggeusna lengkep eusi karaton rawuh eusi nagara, tuluy Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi barempug jeung Tumenggung Séwana Giri, Séwana Guru, baris nangtukeun pingaraneunana éta nagara. Tapi dijawab ku Tumenggung Séwana Guru, Séwana Giri: “O, Radén, perkawis pingaraneunana ieu nagara, ulah ngaborongkeun rama baé, Gusti Prabu Siliwangi di Pakuan Pajajaran, langkung saé abdi baé utus ka Pajajaran ngadeuheus ka Gusti”. Nya tuluy Radén Munding Mintra ngarempugan. Ti dinya lajeng Tumenggung Séwana Guru angkat séja ngadeuheus ka kangjeng Prabu Siliwangi. Teu kacarios di jalanna, parantos sumping ka nagara, lajeng marek ka Kangjeng Prabu Siliwangi, sarta terus unjukan yén dipiwarang ku putrana nyuhunkeun pingaraneunana éta nagara, wiréh saniskanten parantos sayagi, henteu acan dingaranan.
Dawuhan Kangjeng Prabu Siliwangi: “Ari pingaraneunana éta nagara kudu Tanjung Singuru”. Ti dinya Tumenggung Séwana Guru amit mulang, parantos dongkap ka nagara Tanjung Singuru, tuluy dipariksa ku Munding Mintra Kasiringan Wangi: “Kumaha dawuhanana Gusti Prabu Siliwangi?” Tuluy diunjukkeun ku Tumenggung Séwana Guru, yén dawuhanana pingaraneun éta nagara téh kudu Tanjung Singuru, sarta raja kudu gentos jeneng, Prabu Jaka Susuru”. Saur Radén Munding Mintra Kasiringan Wangi: “O, atuh nuhun, yén ayeuna nagara geus aya angaranna, sarta kami digentos jenengan, ngan hanjakal baé acan boga pawarang. Ari ayeuna saha deui nu baris pibelaeun, kajabi ti mamang dipati, ayeuna diperih pati, kudu neangan Putri keur baris pawarang”. Saur Tumenggung Séwana Guru: “Mangga abdi ayeuna mendak wartos, aya mojang di nagara Bitung Wulung, putra Tumenggung Bitung wulung, Pangeran Jungjang Buana, jenenganana eta Putri nu hiji Sekar Jayanti, hiji deui Jayanti Kembang”. Saur Prabu Jaka Susuru: “O, atuh lamun kitu mah urang sakalian baé lamar, nyandak sakumaha adat biasa panglamar, keur ka Tumenggung Bitung wulung”. Ti dinya lajeng Patih angkat.
Geus dongkap ka nagara Bitung wulung, kasondong Raja keur lenggah, tuluy Patih ngadeuheus, dipariksa ku Raja: “Ti mana sampéan, saha tuang kakasih jeung rék naon?” jawab Tumenggung Séwana Guru; “Numawi marek, ieu kuring téh Patih Tanjung Singuru, badé ngalamar, jadi utusan Ratu. Kumaha putra sampéan yaktos lagas kénéh? Upami lagas ayeuna disuhunkeun”. Saur Raja: “Bener kaula boga anak, tapi ku ieu ku ieu ogé dilamar teu dibikeun baé, ayeuna dipundut ku turunan Pakuan Pajajaran, Prabu Jaka Susuru, ari cara kaula mah ngan sambung dunga, sarta ulah dilila-lila, sabab Putri geus sawawa”. Saur Patih; “Upami kitu nuhun, malah ayeuna oge bade dibantun sakalian, supaya dinten ieu kasanggakeun ka Prabu Jaka Susuru”. Saur Raja Bitung wulung Jungjang Buwana: “Ih atuh ayeuna mah urang sakalian baé dianteurkeun ku kaula”. Ti dinya terus ararangkat, kocap geus sumping ka nagara Tanjung Singuru, tuluy dipariksa ku Prabu Jaka Susuru hasil henteuna. Patih lajeng unjukan yén hasil, malah kabantun, sarta disarengan ku ramana, sarta tuluy ku ramana dipasrahkeun ka Prabu Jaka Susuru, saurna: “Ayeuna mangga nyérénkeun, geus teu ngalalangkungan Prabu Jaka Susuru”. Tidinya ramana Putri mah amit mulih ka nagarana di Bitung wulung.
Kacarios Prabu Jaka Susuru, mundut kempelan sareng Dipati, para ponggawa sakabéh, badanten baris pésta réh parantos kagungan pawarang tacan dipéstakeun. Teu lami geus ger pésta ramé 7 poé 7 peuting.
Tunda sakedap lalakon Prabu Jaka Susuru, kocapkeun aya hiji nagara, nagara Gunung Gumuruh, jenengan Rajana Badak Tamela Sukla Panarak Jaya. Éta Raja teu kagungan garwa, ngan kagungan sadérék istri hiji jenengan Ratna Kembang Tan Gumilang.
Raja keur linggih di Paseban, ngadangu anu pésta di nagri Tanjung Singuru, tuluy nyaur raina nyai Putri Ratna Kembang: “Nyai di mana éta nu pésta téh?”
Jawab Putri: “Éta nu pésta téh, di nagri Tanjung Singuru, Rajana keur oléng-pangantén jeung Putri Sekar Jayanti, Jayanti Kembang”.
Saur Raja: “ O, atuh éta mah mojang kantanan akang ti baheula, éta Putri Sekar Jayanti téh bébéné akang. Coba nyai dagoan heula, ayeuna ku akang rék diiwat”.
Jawab raina: “Akang ulah, sabab éta mah pawarang Raja, najan akang weduk ogé moal mampuh, tangtu urang cilaka”.
“Ah keun baé ku akang rék direbut, moal beunang dicaram, kapan akang boga kawah Domas; éta Prabu Jaka Susuru ku akang dék dilejokeun, ré dibobodo disebutkeun di kawah Domas aya inten gedéna sagedé énéng, sina dicarokot, sarta mun geus di jero kawah, pantona ku akang rék ditutup”.
Lajeng Raja Gunung Gumuruh angkat, geus sumping ka Tanjung Singuru, terus pamit neda eureun.
Katingali ku Raja Tanjung Singuru lajeng dipariksa: “Sampéan ti mana asal, sarta saha jenengan tara-tara ti sasari, kawas anu aja béja?”
Jawabna: “Leres akang téh Raja Gunung Gumuruh, nu mawi dongkap ka dieu, seja bakti nagri, nyanggakeun jelema, sareng inten buntet sagedé énéng, nu aya di kawah Domas: teu aya deui nu baris piiasaeun nyandak ngan rai, nu kagungan milik”.
Lajeng Raja Tanjung Singuru nyaur ka raina: “Kumaha Nyai éta urang ayeuna dibaktian nagri jeung intan, kumaha hadé
Jawab raina: “Entong raka, biheung teuing éta anu rék nganiaya ngagoda ngarancana ka urang, sareng ieu rai séjén raraosan, asa rék ngandeg”.
Tapi Patih Tumenggung Sewana Guru unjukan: “Moal saé nu bakti teu ditampi, ayeuna mah mangga baé urang angkat.” Ti dinya lajeng arangkat Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Séwana Guru, Séwana Giri sareng Raja Panarak Jaya. Teu kocap di jalanna, geus sumping ka kawah Domas.
Barang sumping lajeng Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru sarenga Sewana Giri narempo kana éta kawah. Teu tata pasini deui ku Raja Gunung Gumuruh, éta nu tiluan téh ngan dijejekan baé digebruskeun kana kawah Domas. Barang geus tigubrag tiluanana, tuluy pantona ditutup ku batu wulung ku éta Raja Gunung Gumuruh. Éta ménak nu tiluan di jero dasar kawah Domas, terus tatapa, lamina kénging 30 taun.
Ti dinya Raja Gunung Gumuruh teras angkat ka nagara Tanjung Singguru, maksudna rék ngandih nagri. Barang sumping lajeng dipariksa ku Putri Sekar Jayanti, Jayanti Kembang: “Raka, Raja Gunung Gumuruh, naha di mana kénéh ari Prabu Tanjung Singuru?”
Jawabna: “Nyai ayeuna entong nanyakeun Prabu Jaka Susuru, sabab ku akang enggeus di jerum, ayeuna mah carogé nyai téh nya akang pisan, sarta ieu nagara ku akan rék diandih.”
Jawab Putri: “Ah duka, sabab kuring mah moal pegat tuhu ka Prabu Jaka Susuru!” Keukeuh Putri dipaksa, teras éta Putri mabur, barang dongkap ka pileuweungan, bobotna geus jejeg 9 sasih, éta putri ngowo di tengah leuweung, putrana pameget sadaya, sarta dijenenganan éta murangkalih nu ti Sekar Jayanti: Heulang Boengbang Legantara Lungguh Tapa Jaya Perang, ari nu ti Jayanti Kembang jenenganana Kebo Keremay Sakti Pangéran Giringsing Wayang. Éta murangkalih duwanana dirorok di pileuweungan, ageung di pileuweungan. Barang geus yuswa 10 taun éta marurangkalih sareng ibuna teras ngungsi ka nagara Tanjung Sumbara. Anu kagungan nagara éta Gajah Karumasakti; ari garwana dua, jenengan Purba Déwata, Tarna Déwata. Barang sumping éta marurangkalih sareng ibu-ibuna ka payuneun Raja Gajah Karumasakti, dibagéakeun: “Oh sukur nuhun bagéa sumping, ieu téh nu ti mana, sarta turunan saha?”
Jawab Putri; “Upami Raja percanten, ieu pun anak, turunan Kangjeng Prabu Siliwangi, putra Prabu Jaka Susuru; ari kuring ibuna, nu mawi ka dieu seja nyuhunkeun tulung panggugahkeun Prabu Jaka Susuru, nu aya di jero dasar kawah Domas, dijerum ku Raja Gunung Gumuruh”.
Dawuhan Raja: “O nyai, hadé ku akang ditulungan. Ayeuna éta nagri Tanjung Singuru urang jieun lantaran, supaya kauninga ku Raja Gunung Gumuruh, éta nagri urang huru”. Jawab Putri: “Saé, nanging muga énggal digugahkeun heula nu aya di dasar kawah”. Lajeng Raja Karumasakti angkat, barang sumping ka Tanjung Singuru, teras éta nagri dihuru, seuneu muntab-muntab saeusi nagri budal ngalér ngétan ngidul ngulon, nagara burak-barik.
Jawabna: “Ieu nagara kula” Ceuk Raja Gunung Gumuruh; “Nu kula”.
Paaku-aku, tungtungna ger perang éta Raja Gajah Karumasakti jeung Gunung Gumuruh, ramé gelut ngadu kasaktén; tungtungna Raja Gunung Gumuruh kadéséh perangna, nepi ka taluk ka Raja Gajah Karumasakti. Ti dinya Raja Gajah Karumasakti nyaur: “Ayeuna manéh taluk, tapi kudu geuwat ngagugahkeun Prabu Jaka Susuru ti dasar kawah Domas”
Jawabna: “Mangga, tapi kedah sareng, sareng sampéan, urang ka kawah”. Ti dinya lajeng arangkat, barang sumping kana kawah Domas, batu tutupna téa tuluy dijungkatkeun, béh kapendak éta nu tiluan téh, Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Séwana Guru, Séwana Giri, lajeng digugahkeun dihanjatkeun.
Éta Raja Gunung Gumuruh nyanggakeun pertobat ka éta 3 ménak tina urut waktu tadi sakitu ngaya-ngayana ka éta Prabu Jaka Susuru, sarta nagarana katut eusina dipasrahkeun rawuh sadérékna nu istri disanggakeun ka Prabu Jaka Susuru, supaya didamel pawarang. Satuluyna nagara Gunung Gumuruh kaparéntah ku Prabu Jaka Susuru.
Ti dinya lajeng Prabu Jaka Susuru angkat sareng putri sadérékna Raja Gunung Gumuruh ngabujeng ka nagara Tanjung Sumbara. Jadi tetepna Raja Prabu Jaka Susuru di nagara Tanjung Sumbara kagungan pawarang 3 putra 2 papatih 4 nya éta:
1. Tumenggung Séwana Guru
2. Tumenggung Séwana Giri
3. Tumenggung Gajah Karumasakti
4. Tumenggung Badak Tamela Sakti Panarak Jaya





Awal Kerajaan di Tanah Jawa

26 11 2008

Kerajaan Salakanagara

Salakanagara, berdasarkan Naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (yang disusun sebuah panitia dengan Pangeran Wangsakerta sebagai Ketua-nya) diperkirakan merupakan Kerajaan paling awal yang ada di Nusantara.
Tokoh awal yang berkuasa di sini adalah Aki Tirem. Konon, kota inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150, terletak di daerah Teluk Lada Pandeglang.
Raja pertama Salakanagara bernama Dewawarman yang berasal dari India. Ia mula-mula menjadi duta negaranya (India) di Pulau Jawa. Kemudian Dewawarman menjadi menantu Aki Tirem atau Sang Aki Luhurmulya. Istrinya atau anak Aki Tirem bernama Pohaci Larasati. Saat menjadi Raja Salakanagara, Dewawarman I ini dinobatkan dengan nama Prabhu Dharmalokapala Dewawarman Haji Raksagapurasagara. Rajatapura adalah ibukota Salakanagara yang hingga tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-Raja Dewawarman (dari Dewawarman I – VIII).
Sementara Jayasinghawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Maurya.
Di kemudian hari setelah Jayasinghawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumangara. Salakanagara kemudian berubah menjadi Kerajaan Daerah.
Cat : bukti fisik berupa prasasti mengenai Salakanagara belum ditemukan. Sumbernya hanya merupakan hipotesa dari pernyataan Ptolemeus tentang Argyre dan Naskah Wangsakerta.

Kerajaan Tarumanagara
Bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara diketahui melalui sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam negeri berupa 7 buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa Kerajaan Tarumanegara dibangun oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman tahun 358 M dan beliau memerintah sampai yahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomatri (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.
Cat :Prasasti yang berkaitan dengan kerajaan Tarumanagara sebagian besar ditulis dengan Huruf Pallawa dengan bahasa Sansekerta. Dan sebagian ditulis dengan menggunakan aksara ikal yang sampai sekarang belum bisa dibaca (diketahui artinya).
Kerajaan Kalingga
Kalingga adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Tengah, yang pusatnya berada di daerah Kabupaten Jepara sekarang. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Kerajaan ini pernah diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal memiliki peraturan barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya.
Parwati (Putri Maharani Shima) menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandi Minyak, yang kemudian menjadi Raja ke-2 dari Kerajaan Galuh.
Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan Raja ke-3 dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732M).
Setelah Maharani Shima mangkat di tahun 732M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bhumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti / Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.
Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban.
Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasingha, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.
Cat : bukti tentang Kalingga hanya diketahui dari sumber-sumber China yang menyebut Holing untuk Keling yang dikemudian hari dikenal sebagai Kalingga dan Naskah Wangsakerta. Bukti fisik berupa prasasti sampai sekarang belum ditemukan.

Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram kita kenal dari sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Canggal (barat daya Magelang). Prasasti ini berangka tahun 732 M, ditulis dengan huruf Pallawa dan digubah dalam bahasa Sanskerta yang indah sekali. Isinya terutama adalah memperingati didirikannya sebuah lingga (lambang Çiwa) di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya. Daerah ini letaknya di sebuah pulau yang mulia, Yawadwîpa, yang kaya raya akan hasil bumi, terutama padi dan emas.
Raja Sanjaya berdasarkan Prasasti Canggal (732 M), merupakan pendiri dari Wangsa Sanjaya yang bertahta di Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Menurut Prasasti Canggal (732 M), ia adalah kemenakan dari Sanaha, penguasa sebelumnya. Raja Sanjaya mendirikan candi-candi untuk memuja Dewa Siwa. Sanjaya juga belajar agama Hindu Siwa dari para pendeta yang ia panggil.
Sanjaya meninggal pada pertengahan abad ke-8 dan kedudukannya di Mataram Kuno digantikan oleh Rakai Panangkaran (760-780), dan terus berlanjut sampai masa Dyah Wawa (924-928), sebelum digantikan oleh Mpu Sindok (929) dari Wangsa Isyana.
Pengganti Rakai Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang (tahun 886-898), lalu Raja Balitung/Rakai Watukura yang bergelar Sri Iswarakesawotsawatungga (tahun 898-910), merupakan Raja Pertama yang memerintah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam hal ini ada kemungkinan bahwa Kanjuruhan (Prasasti Dinoyo) ditaklukkan.
Istilah Rakai pada zaman ini identik dengan Bhre pada zaman Majapahit, yang bermakna “penguasa di”. Jadi, gelar Rakai Panangkaran sama artinya dengan “Penguasa di Panangkaran”. Nama aslinya ditemukan dalam prasasti Kalasan, yaitu Dyah Pancapana.
Cat : Kerajaan Mataram Kuno diperintah secara bergantian oleh Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Prasasti yang ditinggalkan ditulis dalam huruf Pallawa berbahasa Sanksekerta.

Kerajaan Kanjuruhan
Prasasti Dinoyo merupakan peninggalan yang unik karena ditulis dalam huruf Jawa Kuno dan bukan huruf Pallawa sebagaimana prasasti sebelumnya. Keistimewaan lain adalah cara penulisan tahun berbentuk Condro Sangkala berbunyi Nayana Vasurasa (tahun 682 Saka) atau tahun 760 Masehi. Dalam Prasasti Dinoyo diceritakan masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan.
Di desa Dinoyo (barat laut Malang) diketemukan sebuah prasasti berangka tahun 760, berhuruf Kawi dan berbahasa Sanskerta, yang menceritakan bahwa dalam abad VIII ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan (sekarang desa Kejuron) dengan raja bernama Dewasimha dan berputra Liswa (saat menjadi pengganti ayahnya bernama Gajayana), yang mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk Dewa Agastya dan diresmikan tahun 760. Upacara peresmian dilakukan oleh para pendeta ahli Weda (agama Siwa). Bangunan kuno yang saat ini masih ada di Desa Kejuron adalah Candi Badut, berlanggam Jawa Tengah, sebagian masih tegak dan terdapat lingga (mungkin lambang Agastya).
Dalam Prasasti Dinoyo diceritakan masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan sebagaimana berikut :
• Ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja yang sakti dan bijaksana dengan nama Dewasimha
• Setelah Raja meninggal digantikan oleh puteranya yang bernama Sang Liswa
• Sang Liswa terkenal dengan gelar Gajayana dan menjaga Istana besar bernama Kanjuruhan
• Sang Liswa memiliki puteri yang disebut sebagai Sang Uttiyana
• Raja Gajayana dicintai para brahmana dan rakyatnya karena membawa ketentraman di seluruh negeri
• Raja dan rakyatnya menyembah kepada yang mulia Sang Agastya
• Bersama Raja dan para pembesar negeri Sang Agastya (disebut Maharesi) menghilangkan penyakit
• Raja melihat Arca Agastya dari kayu Cendana milik nenek moyangnya
• Maka raja memerintahkan membuat Arca Agastya dari batu hitam yang elok
Prasasti Sangguran (Batu Minto) asal daerah Ngandat, Malang (Jawa Timur), yang pernah dibawa ke luar negeri oleh Stamford Raffles pada 1814, yang berasal dari abad ke-10. Prasasti Sangguran (Prasasti Minto), dikenal dengan ‘Lord Minto’ atau ‘Minto Stone’ untuk versi Skotlandia (Inggris) merupakan prasasti beraksara dan bahasa Jawa Kuno.
Prasasti itu merupakan reruntuhan candi di desa Ngandat, Malang, dan dinilai sangat penting dari sisi historis, karena menjadi bagian sejarah peralihan dari kerajaan Mataram ke Jawa Timur.
Prasasti Sangguran ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa kuno. Isi pokoknya adalah tentang peresmian Desa Sangguran menjadi Sima (tanah yang dicagarkan) oleh Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayaloka Namestungga pada 14 Suklapaksa bulan Srawana tahun 850 Saka. Jika dikonversi ke dalam tahun Masehi, maka identik dengan 2 Agustus 928. Prasasti tersebut menyebutkan pula nama Rakryan Mapatih I Hino Pu Sindok Sri Isanawikrama dan istilah Sima Kajurugusalyan di Mananjung. Yang menarik, Sima tersebut ditujukan khusus bagi para juru gusali, yaitu para pandai (besi, perunggu, tembaga, dan emas). Isi prasasti seperti itu boleh dikatakan amat langka, jarang terdapat pada prasasti-prasasti lain yang pernah ditemukan di Indonesia.
Ahli epigrafi Boechari menafsirkan bahwa mungkin pada masa pemerintahan Raja Wawa ada sekelompok pandai atau seorang pemuka pandai, yang berjasa kepada raja. Pendapatnya didasarkan atas analogi dari Kitab Kuno Pararaton yang menyebutkan Mpu Gandring, tokoh yang dianggap pembuat keris legendaris, bersama keturunannya mendapat hak istimewa dari Sri Rajasa (Ken Arok) berupa anugerah Sima Kajurugusalyan (Sejarah Nasional Indonesia II, 1984).
Di mata para epigraf, Prasasti Sangguran juga dianggap unik karena menyebutkan istilah Rakryan Kanuruhan. Menurut J.G. de Casparis, Kanuruhan berasal dari nama kerajaan Kanjuruhan yang disebut dalam Prasasti Dinoyo (760 Masehi). Kerajaan itu pernah berpusat di sekitar Malang sekarang. Rupa-rupanya kerajaan Kanjuruhan itu pada suatu ketika ditaklukkan oleh raja Mataram. Namun keturunan raja-rajanya tetap berkuasa sebagai penguasa daerah dengan gelar Rakryan Kanuruhan. Oleh karena gelar Kanuruhan ditemukan di antara tulisan-tulisan singkat pada salah satu gugusan Candi Loro Jonggrang (Prambanan), diperkirakan sebagai penguasa daerah, dia menyumbangkan Candi Perwara pada candi kerajaan itu. Sayangnya hubungan antara Prasasti Sangguran dengan Candi Prambanan, belum diteliti secara mendalam oleh para pakar.
Cat : Prasasti Dinoyo unik, karena ditulis menggunakan huruf Jawa Kuno (Kawi) dan berbahasa Sanksekerta. Kerajaan Kanjuruhan, jika merujuk kepada tahun yang terdapat pada prasasti Dinoyo (760 M), berarti sejaman dengan Mataram Kuno pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran yang naik tahta pada tahun 760 menggantikan Sanjaya.

Kerajaan Medang
Mpu Sindok, adalah raja terakhir dari Wangsa Sanjaya, yang berkuasa Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 928-929. Diduga karena letusan Gunung Merapi, pada tahun 929 Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Istana yang baru dibangun di Tamwlang (Tembelang) sekitar tahun 929, di tepi Sungai Brantas, sekarang kira-kira adalah wilayah Kabupaten Jombang (Jawa Timur). Kerajaan baru ini tidak lagi disebut Mataram, melainkan disebut Medang (meski beberapa literatur masih menyebut Mataram). Mpu Sindok juga merupakan pendiri Wangsa Isyana, sehingga kerajaan baru tersebut kadang juga disebut Isyana.

Peristiwa Mahapralaya
Kerajaan Medang runtuh tahun 1006 pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh (cicit Mpu Sindok). Peristiwa hancurnya istana Watan terkenal dengan sebutan Mahapralaya atau “kematian besar”.
Kronik Cina dari Dinasti Sung mencatat telah beberapa kali Dharmawangsa Teguh mengirim pasukan untuk menggempur ibu kota Sriwijaya sejak ia naik takhta tahun 991. Permusuhan antara Jawa dan Sumatra semakin memanas saat itu.
Pada tahun 1006 Dharmawangsa Teguh lengah. Ketika ia mengadakan pesta perkawinan putrinya, istana Medang di Watan diserbu oleh Aji Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut, Dharmawangsa Teguh tewas.
Tiga tahun kemudian, seorang pangeran berdarah campuran Jawa – Bali yang lolos dari Mahapralaya tampil untuk membangun kerajaan baru sebagai kelanjutan Kerajaan Medang. Pangeran itu bernama Airlangga yang mengaku bahwa ibunya adalah keturunan Mpu Sindok. Kerajaan yang ia dirikan kemudian lazim disebut dengan nama Kerajaan Kahuripan.

Renungan :
Prasasti Dinoyo (760 M) dan Prasasti Sangguran (928 M) ditulis dengan aksara Jawa Kuno (Kawi) . Berbeda dengan prasasti-prasasti yang lainnya, yang berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanksekerta. Jika memang benar pendiri kerajaan-kerajaan kuno tersebut masih ada hubungannya dengan India, penggunaan huruf Pallawa tidaklah mengherankan. Namun tahun dibuatnya prasasti Dinoyo sejaman dengan masa pemerintahan Rakai Panangkaran, yang mana Mataram Kuno banyak meninggalkan prasasti berhuruf Pallawa. Sama halnya juga Prasasti Sangguran, yang disitu malah disebutkan Raja yang berkuasa adalah Dyah Wawa, salah satu Raja Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya.
Dengan demikian wilayah Kanjuruhan, mulai dari berbentuk kerajaan yang berdaulat sampai dengan menjadi bagian dari kerajaan Mataram Kuno, penduduknya sudah mengenal tulisan, yaitu huruf Jawa Kuno (Kawi), bahkan Prasasti Sangguran dituturkan dengan Bahasa Jawa Kuno.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.