Babad Cianjur (Bahasa Indonesia)

27 04 2009

Jaka Susuru Raja Di Negeri Tanjung Singuru

Perjalanan Prabu Jaka Susuru yang membuat Kerajaan di Tanjung Singuru, yang sekarang disebut Bobojong Cisuru, di desa Sukarama Kelurahan Bojong Picung Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur.

Bekas kerajaan ini sangat makmur, dari selatan dari barat dan utara dikelilingi sungai yang di beri nama sungai Cisokan, dan di sebelah selatannya berdiri gunung, yang disebut Gunung Cibulé, dan dari sebelah timurnya dihalangi oleh benteng 5 lapis, dan jauh ke timur lagi berdiri Gunung Payung. Menurut cerita penduduk kampung Ciséro yang berada di kaki gunung tersebut, Gunung Payung termasuk keramat, malah sering digunakan sebagai tempat sembahyang hewan-hewan yang ada di situ.

Bekas Tanjung Singuru ini di bawahnya digunakan jalur untuk saluran irigasi, yang sekarang airnya digunakan untuk mengairi sawah yang jumlahnya + 8.000 hektar, itu hanya yang terdapat saluran irigasinya.
Sekarang kami ceritakan Sejarah Perjalanan Prabu Jaka Susuru, putra Prabu Siliwangi Raja di Negeri Pajajaran, yang sekarang petilasannya ada di Bogor.

Awal Mula

Sang Prabu Siliwangi ke VII Raja di Pajajaran mempunyai putra bernama Munding Mintra Kasiringan Wangi. Pada suatu waktu diadakan pertemuan yang dihadiri para Bupati, Patih, Mantri para Tumenggung. Sang Prabu Siliwangi bersabda kepada Para Bopati, sabdanya: “Bagaimana menurut kalian wahai para Bupati, Patih dan Tumenggung, berhubung kami mempunyai anak laki-laki, yaitu Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi, yang belum mempunyai istri, tapi akan kami angkat dulu sebagai Bupati!”

Jawab para Bupati dan para Tumenggung kepada Sang Prabu Siliwangi: “Itu sudah sepantasnya, asalkan tidak mengganggu pemerintahan Kangjeng Gusti, dan ditetapkan akan memerintah di mana putra Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi.” Setelah sang Prabu Siliwangi menyimak pendapat para Bupati dan Tumenggung demikian, lalu sabdanya lagi: “Jika menurut keinginan kami serta menurut Peta Pakuan Pajajaran, bakal negara itu terletak di daerah Hutan Pasagi Timur, hanya nama negaranya tergantung bagaimana nanti,”

Setelah Kangjeng Raja Siliwangi bersabda seperti itu, lalu puteranya yaitu Radén Munding Mintra Kasiringan Wangi, dipanggil, serta diperintahkan harus pergi mengembara ke daerah Hutan Pasagi Timur, mencari tempat untuk dijadikan kerajaan kecil, ditemani oleh dua Tumenggung, yaitu Dipati Tumenggung Séwana Giri, dan Dipati Tumenggung Séwana Guru, dan diberi jimat Makuta Siger Kancana juga Peta Pakuan Pajajaran atau gambar Lawé Domas Kinasihan.

Setelah bersiap-siap, lalu Munding Mintra Kasiringan Wangi beserta Tumenggung Séwana Giri Séwana Guru pergi bertiga. Sesampainya di hutan ganggong si magonggong, Radén Munding Mintra beserta dua Tumenggung beristirahat di situ, menoleh ke Tumenggung Séwana Guru dan Séwana Giri, ucapnya: “Wahai, paman Tumenggung Séwana Guru dan Séwana Giri, jangan-jangan ini lah tempat yang akan kita jadikan negara!” jawab kedua Tumenggung: “Benar Gusti, menurut paman juga jangan-jangan benar tempat ini, memang pantas seandainya di dirikan sebuah negara, karena tanahnya bagus, tanah dikelilingi sungai, mengalir ke timur, ya yang seperti ini yang disebut Galudra Ngupuk.”

Lalu Radén Munding Mintra mengeluarkan jimat Makuta Siger Kancana, serta memohon kepada Déwa Batara Sanghiang Utipati. Dikabulkan permohonannya, tiba-tiba di atas tanah itu telah berdiri sebuah bangunan kerajaan, dengan benteng 5 lapis, selapis benteng besi, selapis baja, perunggu, perak, lapis yang paling dalam terbuat dari emas. Kemudian memohon lagi kepada Déwa minta 8.000 punggawa, prajurit 80.000, dan 65 dayang yang mengurusi Keraton. Setelah lengkap isi keraton juga isi negara, kemudian Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi berdiskusi dengan Tumenggung Sewana Giri, Sewana Guru, perihal menentukan nama negara tersebut. Tapi dijawab oleh Tumenggung Sewana Guru, Sewana Giri: “Raden, masalah pemberian negara ini, jangan melancangi ayahanda Prabu, Gusti Prabu Siliwangi di Pakuan Pajajaran, lebih baik saya saja yang diutus ke Pajajaran menghadap ke Gusti.” Kemudian Raden Munding Mintra menyetujuinya. Maka Tumenggung Sewana Guru segera berangkat menghadap ke Kanjeng Prabu Siliwangi.

Tidak diceritakan perjalanannya, telah sampai di negara, lalu menghadap ke Duli Prabu Siliwangi, dan menyampaikan bahwa diperintah oleh sang putera untuk memohon pemberian nama negara baru, sedangkan semuanya telah siap, belum diberi nama.

Ucap Kanjeng Prabu Siliwangi: “Nama negara itu sepantasnya adalah Tanjung Singuru.” Lalu Tumenggung Sewana Guru pamit mundur, sesampainya di negara Tanjung Singuru, lalu ditanyai oleh Munding Mintra Kasiringan Wangi: “Bagaimana perintah Gusti Prabu Siliwangi?” Lalu dilaporkan oleh Tumenggung Sewana Guru, jika diperintahkan untuk menamakan negara ini Tanjung Singuru, juga rajanya harus berganti nama, Prabu Jaka Susuru.” Jawab Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi: “Oh, begitu. Jika sekarang negara telah bernama, dan kami telah diganti nama, namun patut disesali jika belum mempunyai permaisuri. Lalu sekarang siapa lagi yang akan membantu, selain paman dipati, sekarang saya mohon bantuannya, mencari Putri untuk dijadikan permaisuri.”

Tumenggung Sewana Guru menjawab: “Silahkan, sekarang saya mendapat berita, ada wanita di Negara Bitung Wulung, putra Tumenggung Bitung Wulung, Pangeran Jungjang Buana, nama Puteri yang satu adalah Sekar Jayanti, dan satu lagi Jayanti Kembang.” Prabu Jaka Susuru menjawab: “Oh, kalau begitu kita lamar saja semuanya, persiapkan keperluan melamar seperti adat biasanya, untuk dibawa kepada Tumenggung Bitung Wulung.” Kemudian Patih pun segera berangkat.

Sesampai di Negara Bitung Wulung, kebetulan Raja sedang di singgasana, lalu Patih menghadap, ditanyai oleh Raja: “Dari mana anda, siapa yang menyuruh dan ada perlu apa?” Tumenggung Sewana Guru menjawab: “Adapun kedatangan hamba, hamba ini adalah Patih Tanjung Singuru, hendak melamar sesuai perintah Raja. Bagaimana keadaan puteri paduka, apakah masih lajang? Seandainya masih lajang sekarang juga dipersunting.” Raja menjawab: “Betul hamba mempunyai anak, tapi oleh ini dan oleh itu juga dilamar dan tidak juga kami berikan, sekarang dipersunting oleh turunan Pakuan Pajajaran, Prabu Jaka Susuru, sedangkan hamba hanya bisa mengabulkan, dan berharap jangan diperlama, sebab puteri telah cukup umur.”

Sang Patih menjawab: “Kalau begitu terima kasih, malah sekarang juga dibawa sekalian, supaya hari ini dipersembahkan ke Prabu Jaka Susuru.”

Sang Prabu Bitung Wulung menjawab: “Ah, kalau begitu hamba akan sekalian mengantarnya sekarang.” Kemudian mereka berangkat, singkat cerita telah datang di Negara Tanjung Singuru, lalu ditanya oleh Prabu Jaka Susuru berhasil tidaknya. Lalu Patih melaporkan bahwa telah berhasil, malah dibantu, serta diantar oleh ayahandanya, juga lalu oleh ayahnya dipasrahkan kepada Prabu Jaka Susuru, ucapnya: “Sekarang hamba pasrahkan, sudah tidak menjadi beban pikiran Prabu Jaka Susuru.” Kemudian ayah sang puteri pamit mundur kembali ke negaranya di Bitung Wulung.

Diceritakan Prabu Jaka Susuru, berkumpul dengan Adipati, dan semua punggawa, berembuk akan mengadakan pesta karena telah mempunyai permaisuri namun belum dirayakan. Tidak berapa lama diadakan pesta yang ramai, tujuh hari tujuh malam.

Ditunda sebentar cerita Prabu Jaka Susuru, ada satu negara, negara Gunung Gumurh, nama Rajanya Badak Tamela Sukla Panarak Jaya. Raja tersebut tidak mempunyai istri, hanya mempunyai satu saudara perempuan bernama Ratna Kembang Tan Gumilang.

Raja sedang duduk di Paseban, mendengar kabar tentang pesta di Negara Tanjung Singuru, lalu bertanya kepada adiknya Putri Ratna Kembang: “Nyai di manakah pesta itu diadakan?”

Jawab Putri: “Itu yang sedang berpesta adalah negeri Tanjung Singuru, Rajanya sedang merayakan pernikahan dengan Puteri Sekar Jayanti dan Jayanti Kembang.”

Jawab Raja: “Oh, bukankah wanita itu idaman kakanda dari dulu, yaitu Putri Sekar Jayanti incaran kakanda. Coba Nyai tunggu sebentar, sekarang kakanda akan melihatnya.”

Jawab adiknya: “Jangan kanda, sebab dia sudah menjadi permaisuri Raja, walaupun kanda rebut juga tidak akan mampu, pasti kita celaka.”

“Ah, biar saja akan kanda rebut, tidak akan bisa dihukum, kan kanda punya kawah Domas; Prabu Jaka Susuru akan kanda jebloskan, akan kanda kelabui dengan mengatakan di kawah Domas ada intan sebesar anak lembu, supaya diambil, dan jika sudah berada di dalam kawah, pintunya akan kanda tutup.”

Lalu Raja Gunung Gumuruh berangkat, setibanya di Tanjung Singuru, mohon ijin hendak menumpang istirahat. Raja Tanjung Singuru melihatnya, lalu ditanya: “Anda berasal dari mana, serta siapa nama anda, belum pernah kami lihat, seperti yang sedang payah?”

Jawabnya: “Benar, hamba ini Raja Gunung Gumuruh, keperluan datang ke sini, hendak bakti negeri, memasrahkan diri, serta menyerahkan batu intan sebesar anak lembu, yang ada di kawah Domas. Tidak ada lagi yang pantas memilikinya selain adimas Prabu, yang berhak.”

Lalu Raja Tanjung Singuru bertanya kepada istrinya: “Bagaimana Nyai, sekarang kita memperoleh bakti berupa negara dan intan yang besar?”

Jawab sang istri: “Jangan kanda, siapa tahu itu ada maksud hendak menganiaya, menggoda dan bermaksud buruk kepada kita, serta dinda mempunyai perasaan yang ganjil, seperti akan terjadi musibah.”

Tapi Patih Tumenggun Sewana Guru berkata: “Tidak baik yang berbakti tidak kita terima, sekarang sebaiknya kita berangkat.” Kemudian berangkatlah Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru, Tumenggung Sewana Giri bersama Raja Panarak Jaya. Singkat cerita, tibalah mereka di kawah Domas.

Setibanya lalu Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru dan Sewana Giri melihat ke dalam kawah. Tidak menunggu lama lagi, oleh Raja Gunung Gumuruh mereka bertiga di tendang ke dalam kawah Domas. Setelah ketiga orang itu tersungkur, kemudian pintu di tutup dengan batu hitam oleh Raja Gunung Gumuruh. Lalu ketiga orang yang berada di dalam dasar kawah Domas itu bertapa, selama 30 tahun.

Dari situ Raja Gunung Gumuruh pergi ke negara Tanjung Singuru, dengan tujuan hendak merebut kerajaan. Setelah datang lalu ditemui oleh Putri Sekar Jayanti dan Putri Jayanti Kembang: “Kakanda Raja Gunung Gumuruh, dimana Sang Prabu Tanjung Singuru?”

Jawabnya: “Nyai, sekarang janganlah menanyakan hal Prabu Jaka Susuru, sebab kanda telah memenjarakannya, sekarang suami nyai adalah kanda seorang, dan negara ini akan dikuasai.”

Jawab Putri: “Ah entahlah, sebab hamba tidak akan berpisah dengan Prabu Jaka Susuru!”

Sang Putri pun terus dipaksa, kemudian ia pun kabur menuju ke hutan dalam keadaan hamil. Setelah usia kehamilan 9 bulan, Sang Putri melahirkan di tengah hutan, putranya lelaki semua. Yang dari Sekar Jayanti dinamakan Heulang Boengbang Legantara Lungguh Tapa Jaya Perang, sedangkan yang dari Jayanti Kembang dinamakan Kebo Keremay Sakti Pangeran Giringsing Wyang. Mereka berdua dilahirkan di hutan dan dibesarkan pula di hutan. Setelah mencapai usia 10 tahun, mereka berdua dengan ibunya masing-masing mengungsi ke Negara Tanjung Sumbara. Rajanya bernama Gajah Karumasakti, mempunyai istri dua orang, yaitu Purba Dewata dan Tarna Dewata. Setelah mereka berdua bersama ibu-ibunya tiba dan menghadap Raja Gajah Karumasakti, serta disambut baik oleh raja: “Oh, sukur kalian datang dengan selamat, kalian ini dari mana dan keturunan siapa?”

Jawab Putri: “Semoga Raja percaya, anak ini, adalah turunan dari Kangjeng Prabu Siliwangi, putra dari Prabu Jaka Susuru, sedang hamba adalah ibunya. Adapun maksud kedatangan kemari adalah hendak memohon pertolongan, untuk menyelamatkan Prabu Jaka Susuru, yang ada di dalam dasar kawah Domas, dipenjara oleh Raja Gunung Gumuruh.”

Jawab Raja: “Oh nyai, pasti akan kanda tolong. Sekarang negeri Tanjung Singuru akan saya jadikan lantaran, agar bisa bertemu dengan Raja Gunung Gumuruh, negeri itu kita serbu.”

Jawab Putri: “Baik, namun kalau berkenan, hendaklah di selamatkan dahulu yang ada di dasar kawah.”

Lalu Raja Karumasakti berangkat, dan setelah datang di Tanjung Singuru langsung menyerbu. Api berkobar-kobar membuat seisi negeri mengungsi ke utara, timur, selatan, barat, negara porak poranda.

Datanglah Raja Gunung Gumuruh dan mereka beradu mulut, masing-masing mengaku bahwa negara ini adalah miliknya. Raja Karumasakti berkata: “Ini negaraku!” Kata Raja Gumuruh: “Punyaku!”  Saling mengaku-aku, akhirnya pecahlah perang tanding antara Raja Gajah Karumasakti dengan Raja Gunung Gumuruh, ramai berkelahi adu kesaktian; dan akhirnya Raja Gunung Gumuruh kalah perang, hingga menyerah takluk kepada Raja Gajah Karumasakti. Lalu Raja Gajah Karumasakti berkata: “Sekarang kamu kalah, tapi harus mau melepaskan Prabu Jaka Susuru dari dasar kawah Domas!”

Jawabnya: “Silahkan, tapi harus bersama-sama anda, kita ke kawah.”

Lalu mereka semua berangkat, setelah sampai di kawah Domas, batu penutup pintunya digeser, dan terlihatlah ketiga sosok, Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru, Tumenggung Sewana Giri, lalu dibangunkan dan dilepaskan.

Raja Gunung Gumuruh pun menyatakan bertobat dan memohon ampunan kepada ketiganya karena telah sekian lama membuat sengsara kepada Prabu Jaka Susuru, dan menyerahkan negaranya beserta seluruh isinya, juga saudara perempuannya juga di pasrahkan kepada Prabu Jaka Susuru, supaya berkenan diperistri. Selanjutnya negara Gunung Gumuruh di bawah perintah Prabu Jaka Susuru.

Sejak itu lalu Prabu Jaka Susuru berangkat beserta saudara perempuan Raja Gunung Gumuruh, menuju ke negara Tanjung Sumbara. Jadi akhirnya Raja Prabu Jaka Susuru menetap di negara Tanjung Sumbara mempunyai tiga orang istri, dua putra, dan empat patih:

  1. Tumenggung Sewana Guru
  2. Tumenggung Sewana Giri
  3. Tumenggung Gajah Karumasakti
  4. Tumenggung Badak Tamela Sakti Paranak Jaya





Sasmita Jangka Jayabaya (Bahasa Jawa)

27 04 2009

Ing ngisor iki kita pacak anane jaman-jaman kang dadi sasmita kang kasebut ing layang Jangka Jayabaya.

  1. Yen wong wis wani supata lan sumpah.
  2. Manungsa padha sungkan, doyanan lan saen.
  3. Adoh mring agama lan piwulang becik.
  4. Kereta mlaku tanpa kuda.
  5. Senyari bumi dipajegi, tanah Jawa kalung wesi.
  6. Ilange kabecikan, ilange sanak kadhang.
  7. Kang mlincur pada mujur, kang dora ura-ura.
  8. Akeh karya sorak-sinorak.
  9. Wong wadon mangro tingal, ora setya marang laki.
  10. Wong lanang padha lanang dhemenan.
  11. Akeh wong wadon dijamah, akeh liron bojo singa seneng.
  12. Manungsa ora betah tapa.
  13. Bocah cilik wis mangerti duwit.
  14. Lemah angker dadi tawar.
  15. Antarane bumi lan langit wis katon mingkuh.
  16. Bumi suda pemetune.
  17. Wong anggaota saya sengkut, nanging ora dadi abahan.
  18. Ratu Nangkodasalah saya rosa, wong Jawa saya rekasa.
  19. Ana udan salah mangsa.
  20. Ratu Nangkoda salah janji, apes dayane.
  21. Wong dagang keplanggrang.
  22. Manungsa padha lali, akeh barang karam.
  23. Akeh jalma adol kawruh gethok tular.
  24. Negara ora adil ukumane.
  25. Nuli ana perang gempuran, saka kidul, wetan lan kulon.
  26. Nangkoda ngantepi jurit, tapis gempur.
  27. Ana raja jinunjung wong rucah, bupatine pedharakan, patihe botoh gedhe.
  28. Pepati tanpa aji, saka kobongan lan mati kabingungan.
  29. Ana perang ing jero kurungan.
  30. Era-eru wong Jawa kari separo, Cina Landa kari sajodho.
  31. Bupati dadi wong cilik, wong cilik dadi priyayi.
  32. Akeh omah dhuwur kuda, wong padha mangan wong.
  33. Padha bingung adheping wong.
  34. Begjane sing eling, cilakaning sing lali.
  35. Wong nganggur jinagur, wong ladhak kecandhak, wong wani pada mati, wong kendel kecekel, wong kekel dipetel, kang temen padha lumuh, kang balilu, diulu, wong pinter diinger-inger, wong bodho dikono-kono, kang ngalah ngrayah, dene wong tani nemu mangsan, wong sugih dadi nista, donya dadi memala, wong buruh angluh, kang pasrah kalumah-lumah, kang setiyar bubar, kang nrima nemu sengsara, kang dora muksa, sapa kang ngrasa kawula antuk arta lan pangapura.
  36. Pitik angrem ing pikulan.
  37. Mas picis padha larut, ora weruh parane.
  38. Akeh wong mendem donya, rebut unggul angangsa-angsa.
  39. Nuli ana ratu sikep bala, negara sigar semangka, sibeg kemaronan, akeh wong nanjung suwita, wong dora tinarima, mlincur, timah ngakune selaka, mas dianggep busuk, wong cilik atur bekti ratune dinar tembaga semune.
  40. Wong sugih dadi jirih, wong wedi dadi priyayi, wong dosa ura-ura wareg kadonyan, wong bingungan padha liwung, wong lara ora oleh tamba, wong medhit kejepit, kang aburuh angluh, nulung kepenthung, kathah wong sasar lan samar, ora pracaya mring ukuman kodrat, wong becik kathithik, wong ala ketara.
  41. Ana ratu loro ngrerepa, negara dadi siji, dipilih endi kang isih utama.
  42. Lanang kumpul lanang, wadon kumpul wadon, rebut ijir luru sandang pangan.
  43. Kathah lumuh bebojoan, wong jejodhoan anjaluk pisah.
  44. Katon donya padha muspra, lara mulya tambel jiwa.
  45. Wong kaya gabah den interi, agama ora kacarita, tatakrama dadi ubra, kabeh padha ngawula hardaning napsu.
  46. Katon wong tutuh tinutuh, medar ngelmu gethok tular. Kang panas kabrangas, kang kemlungkung merkungkung, kang wanter kesander, kang cilik di-itik-itik, kang gedhe di ece, adol gawe lumuh gewe, kang sedih saya perih, kang numpuk kejupuk, kang kesrakat, luru butuh padha angluh, kang sregep kerungkep, kang mincul kepacul, kang edan dadi bandhan, kang ngece kerante, kang nyorok, kang ngangsa-angsa keprawasa, kang pasrah kacegah, kang kumaki ciri, kang ngemut mumet.
  47. Ratu Nangkoda ngambali jurit, muksa sirna gempur tanoa abahan.
  48. Tumuli Allah nitahake Ratu Adil.





Sabdopalon

27 04 2009

Welinge Sabdo Palon, ing tahun Lawang Sapto Ngesthi Aji (1879) perjuangan kita lagi teka ing tengah-tengahe. Saiki durung paja-paja pundat. Cecobaning Pangeran warna-warna, bangsa kita kudu kuat nglakoni, Jer Basuki Mawa Bea.
Sabdotomo kang ngemot jangkane Sabdo Palon mau mangkene:

SINOM

  1. Sanget-sangeting sangsara, kang tumuwuh tanah Jawi, sinengkalan taunira, Lawang Sapto Ngesthi Aji, upami nabrang kali, prapteng tengah-tengahipun, kaline banjir bandang, jerone nyilepake jalmi, kathah sirna manungsa kathah pralaya.
  2. Bebaya ingkang tumeka, watara satanah Jawi, ginawe kang paring kodrat, tan kena dipun singgahi, awit ing donya iki, ana angger-anggeripun, karsanireng Jawata kinarya, amratandani, jagad iku yekti ana kang akarya.
  3. Warna-warna kang bebaya, kang ngrusakken tanah Jawi, sagung tiyang nambutkarya, pamedal mboten nyekapi, priyayi keh kang brenti, sudagar tuna sedarum, wong glidhig ora mingsra, wong tani ora nyukupi, pametune akeh sirna aneng wana.
  4. Bumi ilang berkatira, ama kathah kang ndhatengi, dalu kathah ingkang ilang, cinolongan dening jalmi, resahnya anglangkungi, karana rebut rinebut, risak tataning jalma yen dalu grimis keh maling, lamun rina kathah tiyang ambebegal.
  5. Heru hara sakeh jalma, rebutan ngupaya bukti, tan ngetang anggering praja, tan tahan perihing ati, katungka praptaneki, pageblug ingkan linankung, wradin satanah Jawi, enjing sakit sore mati, sonten sakit enjangnya sampun pralaya.
  6. Kesandhung bae pralaya, kaselak banjur ngemasi, udan barat salah mangsa, angin geng anggegirisi, kayu gung gung brasta sami katempuh ing angin agung, kathah rebah belasah, lepen-lepen sami banjir, lamun tinon pan kadya samodra bena.
  7. Alun minggah ing daratan, karya risak tepis wiring, geter manahe pra jalma, kang dumunung kanan kering, kajeng-kajeng keh kenthir, kang tumuwuh pinggir laut, sela geng sami brasta, kabelabag katut keli, gumulundung-gumulundung suwaranira.
  8. Hardi agung-agung samya, hurubaya nggegirisi, gumleger suwaranira, lahar wutah kanan kering, amblabar angelebi, nrajang wana lan desa gung, manungsanya keh brasta kebo sapi samya gusis, sirna gempang tan wonten mangga puliha.
  9. Lindhu ping pitu sedina, karya rusaking sujalmi, sitinya samya anela, brekasakan sami ngeksi, anyarat sagung jalmi, manungsa pating galuruh, kathah kang nandang roga, warna-warna ingkang sakit, awis saras kathah kang prapteng pralaya.
  10. Miturut carita kuna, wecane jalma linuwih, kang wus kocap angeng jangka, manungsa sirna sepalih, dene kang bisa urip, yekti ana syaratipun, karya nulak bebaya, kalise bebaya yekti, netepana kang wineca para kuna.
  11. Kang kocap ning Jayabaya, manungsa urip puniki, kadya rumput aneng wana, yen wus tekan jaman akhir, kluku ginaru sami, yekti kathah ingkang lebur, lamun nedya yuwana, luput ing sakalir kalir, garu luku bisa nlesep selanira.
  12. Padha sira ngupoyoha, sarana ingkang sejati, sahadat ingkang sampurna, sampurna jatining urip, yen ora bisa oleh, nyatakna ingkang satuhu, kang nganti prapteng laya, laya sajroning ngahurip, hya iku mergane kalis bebaya.
  13. Yen sira durung uninga, takokna guru kang yekti, kang wus putus kawruh mring kasidan jati, budha budine yekti, kang kok anut rinten dalu, ing ngendi dunungira, lawan asalira nguni, yen wus laya ing ngendi iku dunungana.
  14. Padha sira ngelingana, carita ing nguni-nguni, kang wus kocap serat babad, babad nagri Majapahit, nalika duk ing nguni Brawijaya Sangaprabu, prasamya pepanggihan, kalawan jeng Sunan Kali, katiganya Sabdo Palon rencangira.
  15. Sangaprabu Brawijaya, sabdanira arum manis, nantun dhateng punakawan, Sabdo Palon paran karsi, jenengingsun puniki, wus angrasuk agama rasul, heh kakang pekenira, miluwa agama suci, luwih becik iku agama kang mulya.
  16. Sabdo Palon matur sugal, yen kawula mboten arsi, angrasuk agama Islam wit kula punika yekti, ratuning danyang Jawi, momong marang anak putu, sagunging pri prayangan, kang dumunung tanah Jawi, wus pinasthi sayekti kula pisahan.
  17. Kalawan Paduka Nata, wangsul mring kajiman mami, mung kula matur pitungkas, benjing ing sapungkur mami, yen wus prapta kang wanci, jangkep gangsal atus taun, awit dinten punika, kula gentos ing agami, agami Budi kula sebar tanah Jawa.
  18. Sinten tan purun nganggeya, yekti kula risak sami, sun ajakan putu kula, brekasakan rupi-rupi, dereng lega kang ati, yen durung alebur tumpur, kula damel pratanda, praptane tembayan mami, hardi Mrapi yen wus jeblug mili lahar.
  19. Ngidul ngilen purugira, nggandha banger ingkang warih, nggih punika wedal kula, wiwit nyebar agama Budi, netepi janji mami, anggere kodrat satuhu, karsanireng Jawata, sadaya gilir gumanti, mboten kenging alamun hingga wahana.
  20. Sabdo Palon nulya muksa, sakedap mboten kaeksi, wangsul mring jaman kajiman, langsung ngungun Sribupati, jenger tan bisa angling, kang manah langkung gegetun, kaduwung solahira, mupus karsaning Dewadi, kodrat iku sayekti tan kena owah.




Kebahagiaan Manusia

27 04 2009

Kebahagiaan bagi manusia itu ada tujuh jenis, yaitu:
Kasuran, artinya kesaktian. Tujuannya agar dihargai. Asal mula kesaktian karena mengurangi makan.maka ia akan menjadi kuat dan sentausa. Namun kelemahannya adalah jika berbuat sewenang-wenang dan aniaya.

Kagunan, artinya kepandaian. Tujuannya agar terpandang. Asal mula kepandaian adalah dari pengabdian dan ketekunan. Namun kelemahannya jika ia mengeluh dan malas.

Kabegjan, artinya kekayaan. Tujuannya agar disayang. Asal mulanya dari banyaknya karib kerabat. Terlaksana bila sabar, menerima, bersahaja dan hati-hati. Namun kelemahannya apabila dia boros dan royal.

Kabrayan, artinya banyak anak cucu. Tujuannya agar dimuliakan. Pangkalnya dari belas kasih. Terlaksananya dari perkataan yang manis dan terjadi dari nasehat dan petuah-petuah. Akan tetapi yang menjadi halangannya adalah suka marah dan iri dengki.

Kasinggihan, artinya keluhuran. Tujuannya supaya dihormati. Berpangkal dari derita dan nestapa, terlaksana dari sikap berbakti, dan terjadinya karena tingkah sopan santun. Akan tetapi yang menjadi penghalangnya adalah sikap angkara murka.

Kayuswan, artinya panjang umur. Tujuannya supaya terpercaya. Pangkalnya dari budi luhur, terlaksana dengan manunggalnya rasa, terlaksana karena kesetiaan. Akan tetapi penghalangnya adalah dusta dan bohong.

Kawidagdan, artinya keselamatan. Tujuanya supaya selamat sejahtera. Berpangkal dari kesucian, terlaksananya dari mengurangi minum. Terjadinya dari sikap rendah hati. Tapi penghalangnya adalah jika berperilaku jahat.





Bhumi Jawa (Bagian 1)

4 01 2009

Diolah dari Serat Mahaparwa tulisan Empu Satya (Mamenang – Kadiri; 851 S atau 879 C)

Pada waktu tanah Arab sedang mengalami Jaman Nabi Isa, Pulau Jawa belum bernama Jawa dan masih menjadi satu dengan Pulau Sumatera, Madura dan Bali. Sunyi sepi belum ada manusia.
Maka para dewa yang berkahyangan di puncak Gunung Tengguru (Himalaya) di tanah Hindi, datang ke Pulau Jawa. Pimpinan mereka adalah Sang Hyang Manikmaya, atau Sang Hyang Guru. Beliau menjadi raja para dewa. Maka pulau tadi dinamakan Pulau Jawa oleh Sang Hyang Manikmaya, berasal dari kata dawa. Namun waktu itu yang menyebut demikian hanyalah para dewa. Setelah 15 tahun para dewa di Pulau Jawa muksa dan kembali ke kahyangan di puncak Gunung Tengguru tanah Hindi. Pulau Jawa menjadi sepi seperti semula.
Tersebutlah ada seorang raja brahmana Hindustan bernama Prabu Isaka atau yang disebut dengan Prabu Aji Saka. Beliau adalah putra Prabu Iwasaka atau Bhatara Anggajali, putra Ramadi atau Bhatara Ramayadi, putra Sang Hyang Ramaprawa, putra Sang Hyang Hning yang bersaudara dengan Sang Hyang Tunggal.

Setelah 46 tahun Prabu Isaka memerintah, negerinya diserang dan dihancurkan musuh. Beliau turun tahta dan bersembunyi di hutan yang akhirnya bertemu dengan ayahandanya yang telah menjadi dewa yaitu Bhatara Anggajali.
Prabu Isaka diajari berbagai laku oleh ayahnya sehingga mendapat banyak kesaktian seperti para dewa. Setelah itu beliau diperintahkan untuk bertapa di sebuah pulau panjang (dawa) yang sepi dan telah diberi nama Pulau Jawa. Beliau bergegas mencarinya dan setelah sekian lama, beliau menemukan pulau yang masih sunyi, kira-kira di sebelah tenggara tanah Hindustan. Pertama kali beliau menginjakkan kaki di pesisir utara Pulau Jawa, bertepatan hari Hindu menjelang hari Buda, menjelang masa Kartika tahun Sambrama. Jaman Pancamakala mencapai 768 tahun.

Beliau mengelilingi seluruh pulau dari ujung barat laut hingga ujung tenggara, dan sangat kagum melihat panjangnya pulau, karena waktu itu Aceh hingga Bali masih utuh menjadi satu. Dalam pulau tersebut banyak tanaman jawawut, beliau berpikir memang cocok dengan nama pemberian Sang Hyang Guru. Maka Prabu Isaka juga memberi nama pulau itu Pulau Jawa, artinya pulau yang banyak jawawutnya dan juga dawa (panjang). Semua gunung, sungai dan hutan-hutan yang dilalui diberi nama oleh beliau. Sedangkan tanah yang pertama kali diinjak diberi nama Purwa Pada.

Karena mendapat bantuan dari Sang Hyang Suksma, beliau selesai mengelilingi pulau hanya dalam waktu 103 hari dan merata semuanya. Beliau memutuskan untuk bertempat di Gunung Hyang (Gunung Kendeng) di daerah Probolinggo dan Besuki. Hutannya dibabat dan didirikan rumah. Pada waktu itu hari Soma tanggal 14, masa Sitra masih tahun Sambrama. Beliau mengganti nama menjadi Empu Sangkala, dan bertapa untuk menentukan hitungan tahun. Maka pembabatan hutan Gunung Hyang dijadikan angka permulaan tahun yang dinamakan Sangkala. Bertepatan dengan masa Kartika dalam tahun Sambrama hitungan tahun matahari dan rembulan. Adapun bunyi sengkalannya sama dengan tahun kepala satu, yaitu Jebug Sawuk (Tahun 1), sebagai pedoman di kemudian hari, serta awal mula Pulau Jawa ditempati manusia.
Setiap hari beliau mengheningkan cipta, menghayati kehendak Yang Maha Kuasa. Dan pada suatu hari Empu Sangkala didatangi cahaya putih. Dalam cahaya itu terdapat putri cantik rupawan bernama Dewi Sri, memberi ajaran segala macam pengasihan olah asmaragama, asmaranala, asmaratura, asmaraturida, dan asmarandana. Empu Sangkala paham, Bhatari Sri muksa. Hari itu Empu Sangkala beri nama hari Sri.

Hari berikutnya beliau didatangi cahaya kuning, terlihat seorang raksasa di dalamnya dan mengaku bernama Sang Hyang Kala. Beliau mengajarkan olah sandi upaya panduking karti sampeka, dan meggunakan pangedepan, penglerepan serta segala sesuatunya. Setelah Empu Sangkala paham, Sang Hyang Kala muksa. Hari itu dinamakan hari Kala.
Hari berikutnya, Empu Sangkala didatangi cahaya merah. Di dalamnya adalah seorang brahmana yang ternyata Sang Hyang Brahma. Beliau mengajari Empu Sangkala segala pengetahuan, termasuk mengetahui sebelum terjadi, waspada kepada yang gaib atau yang samar. Setelah paham, Sang Hyang Brahma muksa. Hari itu dinamakan oleh Empu Sangkala menjadi hari Brahma.

Hari berikutnya, Empu Sangkala didatangi cahaya hitam yang di dalamnya seorang lelaki satria bernama Sang Hyang Wisnu. Diajarkan segala olah keperwiraan, kesaktian, dan segala ilmu jaya kawijayan. Setelah paham, lalu Sang Hyang Wisnu muksa. Hari itu dinamai hari Wisnu.
Dan hari berikutnya, Empu Sangkala didatangi cahaya hijau berwarna-warni. Tampak di dalamnya seseorang yang sedang mengawasi, ternyata Sang Hyang Guru. Beliau mengajarkan berbagai rupa olah kepandaian memanah, ilmu kesempurnaan, penitisan mati dalam hidup, dan kemuliaan asal mula semua hal. Setelah paham, Sang Hyang Guru muksa. Hari itu dinamakan oleh Empu Sangkala sebagai hari Guru.

Pada hari berikutnya, beliau melakukan sembah lima kali, satu kali sehari. Mulai pada hari Sri, beliau memuji Dewi Sri dengan menghadap ke timur. Pada hari Kala, beliau menghadap ke selatan dan memuji Bhatara Kala. Pada hari Brahma memuji Sang Hyang Brahma dengan menghadap ke barat. Hari Wisnu beliau memuji Sang Hyang Wisnu dengan menghadap ke utara, dan pada hari Guru, pemujian kepada Sang Hyang Guru dilakukan dengan menunduk ke bhumi dan mendongak ke angkasa. Demikian selamanya.

Pada suatu hari, Raja Rum di Turki yang bernama Sultan Galbah, berniat mengirimkan orang untuk mengisi pulau-pulau yang kosong. Ia mendengar kabar bahwa ada pulau bernama Jawa, yang masih sunyi. Lalu ia mengutus 20.000 keluarga lengkap dengan segala perlengkapan, untuk berangkat dengan perahu menuju Pulau Jawa.

Orang-orang ini menuju Gunung Kanda di daerah Surakarta mendekati Surabaya. Setelah sampai, mereka membabat hutan untuk pemukiman. Kedatangan orang Rum ini bertepatan tahun 437 Rum. Dua tahun kemudian, datanglah malapetaka menimpa mereka, banyak yang sakit karena tidak tahan panas, kerasukan setan, dimangsa binatang buas hingga banyak yang tewas. Jumlah mereka tinggal kurang lebih 2000 keluarga. Lama kelamaan jumlah mereka hanya tinggal 200 keluarga, lalu berkumpul di sebuah padang yang disebut Tegal Purama.

Tumpas lagi hingga tersisa 20 keluarga, akhirnya mereka memutuskan kembali mengarungi samudera menuju Rum, untuk melaporkan hal ini kepada Rajanya. Ini terjadi pada tahun 4.
Raja Rum sangat sedih mendengar laporan ini dan mengutus raja pendeta dari Israel bernama Usman Aji untuk memberi tumbal di Pulau Jawa yang sunyi. Pendeta ini berangkat membawa jimat untuk tumbal, diiringi oleh para pertapa dan orang-orang sakti menuju Jawa. Setibanya di Jawa pada tahun 5, mereka menjelajahi gunung-gunung dan hutan-hutan mencari tempat untuk menaruh tumbal. Berkat kesaktiannya, Usman Aji mengetahui bahwa di pulau itu ada orang yang sedang bertapa, ialah Empu Sangkala. Didatanginya dan setelah bertemu ia menanyai Empu Sangkala. Sang Empu menceritakan kisahnya dari awal hingga akhir, membuat Usman Aji terharu. Ia berniat untuk mengajari Sang Empu hal kesaktian yang dimilikinya dan Empu Sangkala pun menurut dan ikut mengiringi pendeta itu. Waktu itu (bersambung)





Filosofi Aksara Jawa

14 12 2008

Diakui atau tidak, aksara Jawa merupakan alfabet paling unik di dunia ini. Ditinjau dari jumlah, aksara ini terdiri dari 20 jenis huruf yang melambangkan 20 jari manusia. Jari merupakan alat hitung manusia yang paling sederhana. Hal ini melambangkan bahwa dalam menjalani kehidupannya, orang Jawa selalu menggunakan perhitungan yang matang sebelum melangkah.

Deretan kedua puluh aksara Jawa tersebut yaitu:

Ha Na Ca Ra Ka

Da Ta Sa Wa La

Pa Dha Ja Ya Nya

Ma Ga Ba Tha Nga

Entah kebetulan atau disengaja, deretan huruf di atas ternyata bukan deretan huruf tanpa makna, tetapi membentuk empat kalimat yang mengandung filosofi luar biasa, yaitu melambangkan perjalanan hidup manusia.

Ha-na-ca-ra-ka, jika dibaca Hana Caraka akan bermakna ”ada utusan”. Siapa yang dimaksud dengan utusan tersebut? Tidak lain adalah manusia. Berbeda dengan pendapat umum bahwa utusan Tuhan hanya terbatas para rasul saja, bagi orang Jawa setiap manusia adalah utusan Tuhan. Setiap manusia berkewajiban hamemayu hayuning bawana, atau menjaga kelestarian alam, memakmurkan bumi, menciptakan kedamaian dan keselamatan di alam dunia.

Da-ta-sa-wa-la, jika dibaca Dat-a-suwala akan bermakna ”Dzat yang tidak boleh dibantah”. Siapa yang dimaksud? Tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan adalah Dzat yang tidak boleh dibantah oleh manusia yang menjadi utusan-Nya. Sehebat apa pun manusia di bumi ini tidak ada yang mampu menandingi kekuasaan Tuhan. Sekali lagi, manusia hanya bersifat sebagai utusan, bukan penguasa. Oleh karena itu wajib untuk tunduk terhadap aturan yang sudah ditetapkan oleh Sang Pengutus, yang sering disebut dengan istilah ”kodrat” atau ”hukum karma”.

Pa-dha-ja-ya-nya, jika dibaca Padha Jayane akan bermakna ”sama-sama unggulnya”. Siapa yang sama unggulnya? Yaitu jasmani dan rohani. Dalam menjalankan perannya sebagai utusan Tuhan, manusia wajib menjaga keseimbangan antara urusan jasmani dan rohani. Seorang manusia tidak dibenarkan berkarya tanpa dilandasi niat ibadah, karena bekerja dengan cara tersebut hanya melahirkan keserakahan yang membuatnya keluar dari tujuan hidup yang sebenarnya. Sebaliknya, manusia juga tidak dibenarkan melakukan sembahyang saja tanpa disertai bekerja. Orang yang melakukan sembahyang tanpa kerja sesungguhnya termasuk golongan egois. Dia hanya mementingkan diri sendiri dengan harapan ingin masuk surga tetapi tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya, termasuk keberadaan tubuhnya. Seorang manusia sempurna (insan kamil) adalah dia yang bisa bekerja dengan dilandasi semangat ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang lebih menarik, orang Jawa dalam beribadah tidak mengharapkan pahala, karena semboyan hidup mereka adalah narima ing pandum. Menerima pemberian-Nya. Sekali lagi, ”menerima” bukan ”mengharapkan”.

Ma-ga-ba-tha-nga, merupakan singkatan dari Sukma-Raga-Bathang yang bermakna ”Ruh-Tubuh-Bangkai”. Maksudnya ialah kalimat ini merupakan akhir dari perjalanan manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi. Jika ruh meninggalkan tubuh, maka yang tersisa hanya tinggal bangkainya saja. Dalam keadaan ini manusia sudah tidak lagi disebut manusia, karena eksistensinya telah berakhir. Kalimat terakhir ini mengingatkan manusia agar tidak terlalu membanggakan dirinya, karena jika Sang Ruh pergi meninggalkan tubuhnya, maka yang tersisa hanya tinggal bangkai saja. Kalimat ini mengingatkan manusia bahwa tubuh hanyalah kendaraan bagi Sang Ruh dalam menjalankan perannya sebagai utusan Tuhan. Tanpa ruh, raga hanyalah bangkai yang tidak berarti.





Simbolisasi Ilmu Sadulur Papat Ka Lima Pancer

26 11 2008

Simbolisasi ksatria dan ke empat abdinya, serupa dengan Ilmu Sadulur Papat Ka Lima Pancer. Di mana Sedulur Papatnya adalah Punakawan dan yang menjadi ka Lima Pancer adalah Sang Satria. Pancer adalah Poros/tengah yang dihapit oleh dua saudara tua (Kakang Mbarep dan Kakang Kawah) dan dua saudara muda (Adi Ari-Ari dan Adi Wuragil). Ilmu Sadulur Papat Ka Lima Pancer, lahir dari konsep penyadaran akan awal mula manusia (Sangkan Paraning Dumadi). Diawali dari saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi ( dalam konteks ini adalah pancer) lahir dari rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas itu dinamakan kakang mbarep. Kemudian pada saat menjelang bayi itu lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin untuk melindungi si bayi agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itulah yang lalu disebut Kakang kawah. Setelah bayi lahir akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah. Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil.

Ilmu Sadulur Papat Ka Lima Pancer memberi penekanan bahwa, manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Pancer adalah sukma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati. Bersatunya sukma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan wujud.

Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan wujud digambarkan dengan seorang sais mengendalikan sebuah kereta, ditarik oleh empat ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Sais kereta melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu. Kuda merah melambangkan energi (semangat), kuda hitam melambangkan kebutuhan rohani, kuda kuning melambangkan kebutuhan biologis, dan kuda putih melambangkan keheningan (kesucian). Sebagai sais tentunya tidak mudah untuk mengendalikan empat kuda yang berbeda sifat dan kebutuhannya. Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerja sama dengan ke empat ekor kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar sampai ke tujuan akhir, ke- SANGKAN PARANING DUMADI

Coba cocokkan ajaran ini dengan ajaran yang ada dalam Tassawuf tentang nafsu. Jika Anda sudah menemukannya dan memahaminya, apakah Anda masih berkata bahwa budaya kita sama sekali melenceng dari apa yang telah diperintahkan oleh Sang Maha Pencipta? Suatu ajaran, tuntunan, atau agama; bukanlah sesuatu yang harus kalian paksakan ke orang lain. Karena Rasa Sadar akan adanya Sang Pencipta merupakan hal mutlak yang telah ada di diri tiap-tiap makhluk. Ingat, kita semua adalah SAUDARA. Banyak hal penting yang harus di kerjakan BERSAMA, namun selama ini tidak terselesaikan hanya karena ATRIBUT.

Eling!





Semar (Bagian 2)

26 11 2008

Ciri-ciri sosok Semar

Adapun ciri-ciri Semar menurut fisiknya, berkuncung seperti anak-anak namun berwajah tua, Semar tertawanya selalu diakhiri nada tangisan. Matanya menangis namun mulutnya tertawa. Semar selalu digambarkan berdiri namun seperti jongkok. Semar tidak pernah memberi perintah, namun selalu memberikan konskuensi atas nasehatnya.

Dalam kebudayaan Jawa, Semar adalah kepala Punakawan yang setia mengasuh keluarga Pandawa. Sosok yang selalu dimintai nasihat dan memang nasihatnya adalah cerminan dari kebenaran, keadilan dan kebijaksanaan. Dikenal sebagai pribadi yang sangat sederhana, penuh misteri namun dipuja. Mengapa? Karena Ia merupakan pengasuh yang sepi ing pamrih rame ing gawe, artinya dalam menolong orang lain, baik itu berupa pertolongan fisik ataupun sekedar nasihat, ia tidak pernah meminta imbalan atas jasanya. Namun, jika ia melihat ada yang kesusahan, tidak diminta pun ia akan memberikan pertolongan dan memberikan apapun yang ia punya. Karena sebenarnya ia adalah seorang Dewa yang dihormati oleh semua Dewa, menitis ke bhumi untuk memayu hayuning bawono, memelihara kedamaian di bhumi.

Sosok Punokawan

Dalam perkembangan selanjutnya, hadirnya Semar sebagai pamomong keturunan Sapta Arga tidak sendirian. Ia ditemani oleh ketiga anaknya, yaitu : Gareng, Petruk, Bagong. Keempat abdi tersebut dinamakan Punakawan. Dapat disaksikan hampir pada setiap pagelaran wayang kulit purwa, akan muncul seorang Satria keturunan Sapta Arga diikuti oleh Semar., Gareng, Petruk, dan Bagong. Cerita apapun yang dipagelarkan, keempat tokoh tersebut menduduki posisi penting. Kisah mereka selalu diawali dari pertapaan Sapta Arga atau pertapaan lainya. Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasehat-nasehat dari Sang Begawan, mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan melakukan topo ngrame (tidak memperlihatkan kelebihannya, hanya semata-mata dipergunakan untuk menolong tanpa mengharap imbalan).

Dikisahkan perjalanan Sang Satria dan keempat abdinya memasuki hutan. Ini menggambarkan bahwa sang ksatria mulai memasuki medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar, banyak binatang buas dan makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika lengah dapat mengancam jiwanya. Namun pada akhirnya Sang Satria, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong dapat memetik kemenangan dengan mengalahkan para raksasa, sehingga dapat keluar dari hutan dengan selamat. Berkat Semar dan anak-anaknya Sang Satria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil menyelesaikan tugas hidupnya, dengan selamat.

Semar dan putera-puteranya merupakan refleksi atau penjabaran akan sifat-sifat Ilahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia. Agar lebih jelas peranan Semar, maka dilengkapi dengan tiga tokoh lainnya. Ke empat tokoh tersebut merupakan lambang dari Cipta, Rasa, Karsa dan Karya manusia.

Semar mempunyai ciri menonjol pada kuncung putih di kepalanya, sebagai simbol dari pikiran yang bersih, gagasan yang jernih atau cipta. Gareng mempunyai ciri menonjol yaitu bermata kero yang berarti rasa kewaspadaan, tangan cekot melambangkan ketelitian dan kaki pincang yang melambangkan kehati-hatian. Petruk adalah lambang dari kehendak, keinginan atau karsa yang digambarkan dengan kedua tangannya. Jika digerakkan tangan depan menunjuk memilih apa yang akan dikehendaki, tangan belakang menggenggam apa yang telah dipilihnya. Sedangkan karya disimbolkan bagong dengan kedua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar. Artinya selalu bersedia bekerja keras. Cipta, Rasa, Karsa dan Karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cipta, Rasa, Karsa dan Karya manusia berada dalam diri pribadi manusia atau jati diri manusia, disimbolkan oleh tokoh Satria.

Gambaran manusia ideal adalah gambaran pribadi manusia yang utuh, manusia paripurna, dimana Cipta, Rasa, Karsa dan Karya dapat menempati posisinya masing-masing dengan harmonis. Untuk kemudian berjalan seiring menuju cita-cita yang luhur. Dengan demikian Satria dan Punakawan mempuyai hubungan yang signifikan. Tokoh Satria akan berhasil dalam hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus dan waspada (rasa), tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya).

Kesamaran dalam sosok Semar merupakan simbol dari apa yang di kehendaki oleh Gusti Kang Murbeng Dumadi / Allah Al Khaliq / Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Pencipta, atas seluruh makhluk yang diciptakanNya. Dan dengan mengenal sosok Semar yang sangat mudah dicerna oleh kita yang tinggal di Nusantara, diharapkan kita dapat mempelajari, memahami, menghayati dan mengamalkan apa yang tersirat di dalamnya. Kenapa kita semua ada di dunia ini, apa yang seharusnya kita lakukan, dan nanti mau ke mana setelah meninggalkan dunia ini.

Ingat, janganlah sekali-kali menganggap agama kalian masing-masing sebagai yang paling benar dan terbaik, karena hal itu akan membutakan hati. Agama ada, hanya sebagai penata kehidupan individu per individu. Jika Anda memaksakan orang lain harus sama dengan agama Anda, atau tingkat pemahaman orang lain harus sama dengan yang Anda pahami, maka Anda belum memahami apa arti Tuhan itu Maha Mengetahui.

Sadarlah saudaraku sebangsa dan se Tanah Air, mari kita tinggalkan kebutaan kita, ke-egoisan kita. Karena hanya dengan keadaan hati bersih seperti bayi dan mengetahui jati diri, kita bisa saling menghormati. Yang pada akhirnya kita benar-benar bisa mempunyai bangsa yang besar, yang menjadi Mercusuar Dunia.





Serat Darmagandhul (Bahasa Jawa)

26 11 2008

Bêbuka
Sinarkara sarjunireng galih, myat carita dipangikêtira, kiyai Kalamwadine, ing nguni anggêguru, puruhita mring Raden Budi, mangesthi amiluta, duta rehing guru, sru sêtya nglampahi dhawah, panggusthine tan mamang ing lair batin, pinindha lir Jawata.
Satuduhe Raden Budi êning, pan ingêmbun pinusthi ing cipta,sumungkêm lair batine, tan etung lêbur luluh, pangesthine ing awal akhir, tinarimeng Bathara, sasêdyanya kabul, agung nugraheng Hyang Suksma, sinung ilham ing alam sahir myang kabir, dumadya auliya.
Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi, pan biyasa mituhu susêtya, mring dhawuh wêling gurune, kêdah mêdharkên kawruh, karya suka pirêneng jalmi, mring sagung ahli sastra, tuladhaning kawruh, kyai Kalamwadi ngarang, sinung aran srat Darmagandhul jinilid, sinung têmbang macapat.
Pan katêmben amaos kinteki, têmbang raras rum sêya prasaja, trêwaca wijang raose, mring tyas gung kumacêlu, yun darbeya miwah nimpêni, pinirit tinuladha, lêlêpiyanipun, sawusnya winaos tamat, linaksanan tinêdhak tinurun sungging, kinarya nglipur manah.
Pan sinambi-sambi jagi panti, sasêlanira ngupaya têdha, kinarya cagak lênggahe, nggennya dama cinubluk, mung kinarya ngarêm-arêmi, tarimanireng badan, anganggur ngêthêkur, ngêbun-bun pasihaning Hyang, suprandene tan kalirên wayah siwi, sagotra minulyarja.Wus pinupus sumendhe ing takdir, pan sumarah kumambang karseng Hyang, ing lokhilmakful tulise, panitranira nuju, ping trilikur ri Tumpak manis, Ruwah Je warsanira, Sancaya kang windu, masa Nêm ringkêlnya Aryang, wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata (taun Jawa 1830).

Darmagandhul
Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha salin agama Islam?”
Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti, nanging aku wis tau dikandhani guruku, ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya, nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin agama Rasul”.
Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?”
Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu dikandhakake, supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”.
Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka, dene ênggone jênêng Majapahit iku, mung kanggo pasêmon, nanging kang durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku wis jênêng sakawit. (1) Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu Brawijaya.Ing wêktu iku, Sang Prabu lagi kalimput panggalihe, Sang Prabu krama oleh Putri Cêmpa(2), ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam, sajrone lagi sih-sinihan, Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata, bab luruhe agama Islam, sabên marak, ora ana maneh kang diaturake, kajaba mung mulyakake agama Islam, nganti njalari katariking panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau.
Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat tinjo mênyang Majalêngka, sarta nyuwun idi marang Sang Nata, kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul. Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau. Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing Surabaya (3) anggêlarake agama Rasul. Ing kono banjur akeh para ngulama saka sabrang kang padha têka, para ngulama lan para maulana iku padha marêk sang Prabu ing Majalêngka, sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing pasisir. Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Suwe-suwe pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda, wong Jawa banjur akeh bangêt kang padha agama Islam.Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam kabeh, dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban.
Sayid Kramat iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah, mula bisa dadi gurune wong Islam. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru marang Sayid Kramat. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan padha ninggal agamane Buddha, banjur ngrasuk agama Rasul. Ing Balambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên, wonge uga padha kelu rêmbuge Sayid Kramat.
Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti sewu taun, dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. Budi iku Dzate Hyang Widdhi, Hawa iku karêping hati, manusa ora bisa apa- apa, bisane mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake.
Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri Bangsa Cina, miyose putra mau ana ing Palembang, diparingi têtêngêr Raden Patah.
Barêng Raden Patah wis diwasa, sowan ingkang rama, nganti sadhereke seje rama tunggal ibu, arane Raden Kusen. Satêkane Majalêngka Sang Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutanmarang putrane, awit yen miturut lêluri saka ingkang rama, Jawa Buddha agamane, yen nglêluri lêluhur kuna, putraning Nata kang pambabare ana ing gunung, sêsêbutane Bambang. Yen miturut ibu, sêsêbutane: Kaotiang, dene yen wong ‘Arab sêsêbutane Sayid utawa Sarib. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka, padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang putra mau. Saka ature Patih, yen miturut lêluhur kuna putrane Sang Prabu mau disêbut Bambang, nanging sarehne ibune bangsa Cina, prayoga disêbut Babah, têgêse pambabare ana nagara liya. Ature Patih kang mangkono mau, para nayaka uga padha mupakat, mula Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya, yen putra Nata kang miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah. Katêlah nganti tumêka saprene, yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane Babah. Ing nalika samana, Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang rama, mulane katone iya sênêng, sênênge mau amung kanggo samudana bae, mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan Babah iku.
Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak, madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon, sarta Babah Patah dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing, kabênêr wayahe kiyai Agêng Ngampel. Barêng wis sawatara masa, banjur boyong marang Dêmak, ana ing desa Bintara, sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane wis Islam, anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane, dene Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5), pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha.
Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda, para ngulama padha nyuwun pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan, Sunan iku têgêse budi, uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala, yen wohe budi ngrêti marang kaelingan bêcik, iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair batin.
Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik, durung padha duwe karêp kang cidra, isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare. sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih, para ngulama sarake Buddha, kok nganggo sêsêbutan Sunan, lakune isih padha cêgah mangan, cêgah turu. Yen sarak rasul, sirik cêgah mangan turu, mung nuruti rasaning lesan lan awak. Yen cêgah mangan rusak, Prabu Brawijaya uga banjur paring idi. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar. Ing wêktu iku ana nalar kang aneh, ora kêna dikawruhi sarana netra karna sarta lesan, wêtune saka engêtan, jroning utêk iku yen diwarahi budi nyambut gawe, kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora, iya kudu ditimbang ing sabênêre, saiki isih ana wujuding patilasane, isih kêna dinyatakake, mula saka pangiraku iya nyata.
Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri, kang ndherekake mung sakabat loro. Satêkane lor Kadhiri, iya iku ing tanah Kêrtasana, kêpalangan banyu, kali Brantas pinuju banjir. Sunan Benang sarta sakabate loro padha nyabrang, satêkane wetan kali banjur niti-niti agamane wong kono apa wis Islam, apa isih agama Budi. Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang, sarak Buddha mung sawatara, dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik, wong ing kono akeh padha agama Kalang, mulyakake Bandung Bandawasa. Bandung dianggêp Nabine, yen pinuji dina Riyadi, wong-wong padha bêbarêngan mangan enak, padha sênêng-sênêng ana ing omah. Sunan Benang ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah, Gêdhah iku ora irêng ora putih, tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”.
Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan, kula ingkang nêkseni”.Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah, nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah, nanging kang mangkono mau arang kang padha ngrêti mula-bukane.
Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon mênyang padesan, kali iki isih banjir, banyune isih buthêk, yen diombe nglarani wêtêng, lan maneh iki wancine luhur, aku arêp wudhu,arêp salat”.
Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu,têkan ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang, ang ana mung bocah prawan siji, wajah lagi arêp mêpêg birahi, ing wêktu iku lagi nênun. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten, kula nêdha toya imbon bêning rêsik”.mBok Prawan kaget krungu swarane wong lanang, barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri, MBok Prawan salah cipta, pangrasane wong lanang arêp njêjawat, mêjanani marang dheweke, mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon, ngriki botên entên carane wong ngimbu banyu, kajaba uyuh kula niki imbon bêning, yen sampeyan ajêng ngombe”.
Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune dirikatake sarta garundêlan turut dalan, satêkane ngarsane Sunan Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu.Sunan Benang mirêng ature sakabate, bangêt dukane, nganti kawêtu pangandikane nyupatani, ing panggonan kono disabdakake larang banyu, prawane aja laki yen durung tuwa, sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka tuwa, barêng kêna dayaning pangandika mau, ing sanalika kali Brantas iline dadi cilik, iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas sawah lan patêgalan, akeh desa kang padha rusak, awit katrajang ilining banyu kali kang ngalih iline, kali kang maune iline gêdhe sanalika dadi asat. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang banyu, jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. Sunan Benang têrus tindak mênyang Kadhiri.
Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing, iya iku dhêmit ing sumur Tanjungtani, tansah digubêl anak putune, padha wadul yen ana wong arane Sunan Benang, gawene nyikara marang para lêlêmbut, ngêndêl-êndêlake kaprawirane, kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat sanalika, iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine, mula akeh desa, alas, sawah sarta patêgalan, kang padha rusak, iya iku saka panggawene Sunan Benang, kang uga ngêsotake wong ing kono, lanang wadon ngantiya kasep ênggone omah-omah, sarta kono disotake larang banyu sarta diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah, Sunan Benang dhêmêne salah gawe. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang, bisaa tumêka ing pati, dadi ora tansah ganggu gawe. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune mangkono mau, enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang, nanging dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang, amarga rasane awake padha panas bangêt kaya diobong. Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri, satêkane ing Kadhiri, matur marang ratune, ngaturake kahanane kabeh. ratune manggon ing Selabale(6). Jênênge Buta Locaya, dene Selabale iku dununge ana sukune gunung Wilis. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya, maune jênênge kiyai Daha, duwe adhi jênênge kiyai Daka. Kiyai daha iki cikal-bakal ing Kadhiri, barêng Sri Jayabaya rawuh, jênênge kiyai Daha dipundhut kanggo jênênge nagara, dheweke diparingi Buta Locaya, sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya.
Buta iku têgêse: butêng utawa bodho, Lo têgêse kowe, caya têgêse: kêna dipracaya, kiyai Buta Locaya iku bodho, nanging têmên mantêp sêtya ing Gusti, mulane didadekake patih.Wiwite ana sêbutan kiyai, iya iku kiyai daha lan kiyai Daka, kiyai têgêse: ngayahi anak putune sarta wong-wong ing kanan keringe.Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka, ana ing kono Sang Prabu sawadya-balane disugata, mula sang Prabu asih bangêt marang kiyai Daka, jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa, dene kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung, sarta dadi senapatining pêrang.
Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu Pagêdhongan, Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa; Ni Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa, kuthane ana sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. Sakabehe lêlêmbut kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa, kabeh padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin.Buta Locaya panggonane ana ing Selabale, dene kiyai Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut, rumêksa kawah sarta lahar, yen lahar mêtu supaya ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane.
Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana kang dilemeki kasur babut isi sari, sarta kinêbutan êlaring mêrak, diadhêp patihe aran Megamêndhung, lan putrane kakung loro uga padha ngadhêp, kang tuwa arane Panji Sêktidiguna, kang anom aran panji Sarilaut.
Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp, kaget kasaru têkane Nyai Plêncing, ngrungkêbi pangkone, matur bab rusake tanah lor Kadhiri, sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku, wong saka Tuban kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri, arane Sunan Benang. Nyai Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa.
Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane, sarirane nganti kaya gêni, sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta para jin pêri parajangan, didhawuhi nglawan Sunan Benang. Para lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang, sarta lakune barêng karo angin, ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring desa Kukum, ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai Sumbre, dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora ngaton, kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring wit sambi, ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor.
Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor, Sunan Benang wis ora kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning dhêmit, sumêdya ganggu gawe, katitik saka awake panas kaya mawa. Dene lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh, ora bêtah kêna prabawane Sunan Benang. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah cêdhak karo kiyai Sumbre, amarga kaya dene cêdhak mawa, kiyai Sumbre mangkono uga.
Sakabat loro kang maune padha sumaput, banjur padha katisên, amarga kêna daya prabawane kiyai Sumbre.
Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! kowe kok mêthukake lakuku, sarta nganggo jênêng Sumbre, kowe apa padha slamêt?”.
Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke, dadi dheweke kawanguran karêpe, wusana banjur matur marang Sunan Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika Buta Locaya?”.
Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran, aku ngrêti yen kowe ratuning dhêmit Kadhiri, jênêngmu Buta Locaya.”.
Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa, dene mangangge pating gêdhabyah, dede pangagêm Jawi. Kados wangun walang kadung?”.
Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab, jênêngku Sayid Kramat, dene omahku ing Benang tanah Tuban, mungguh kang dadi sêdyaku arêp mênyang Kadhiri, pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu Jayabaya, iku prênahe ana ing ngêndi?”.
Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9), sadaya patilasan sampun sami sirna, kraton sarta pasanggrahanipun inggih sampun botên wontên, kraton utawi patamanan Bagendhawati ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna, pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna, namung kantun namaning dhusun, sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking rêdi Kêlut. Kula badhe pitaken, paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam, nyabdakakên ingkang botên patut, prawan tuwa jaka tuwa, sarta ngêlih nami Kutha Gêdhah, ngêlih lepen, lajêng nyabdakakên ing ngriki awis toya, punika namanipun siya-siya botên surup, sikara tanpa dosa, saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse, lajêng botên gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa, makatên wau saking sabda paduka, sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan, lepen Kadhiri ngalih panggenan mili nrajang dhusun, wana, sabin, pintên-pintên sami risak, ngriki paduka-sotakên, sêlaminipun awis toya, lepenipun asat, paduka sikara botên surup, nyikara tanpa prakara”.
Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah, amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih, têtêpe agama biru, sabab agama Kalang, mula tak-sotake larang banyu, aku njaluk banyu ora oleh, mula kaline banjur tak-êlih iline, kene kabeh tak sotake larang banyu, dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa, amarga kang tak jaluki banyu ora oleh iku, prawan baleg.”.
Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot panjênêngan, botên sapintên lêpatipun, tur namung tiyang satunggal ingkang lêpat, nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt, botên timbang kaliyan kukumipun, paduka punika namanipun damêl mlaratipun tiyang kathah, saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari, paduka inggih dipunukum mlarat ingkang langkung awrat, amargi ngrisakakên tanah, lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih, ing ngriki sagêda mirah toya malih, sagêd dados asil panggêsangan laki rabi taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. Panjênêngan sanes Narendra têka ngarubiru agami, punika namanipun tiyang dahwen”.
Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora wêdi”.
Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka banjur mêtu nêpsune, calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede rêmbage wong ahli praja, patute rêmbage tiyang entên ing bambon, ngêndêlake dumeh tiyang digdaya, mbok sampun sumakehan dumeh dipunkasihi Hyang Widdhi, sugih sanak malaekat, lajêng tumindak sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan, siya dahwen sikara botên ngangge prakara, sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang nglangkungi kaprawiran paduka, nanging sami ahli budi sarta ajrih sêsikuning Dewa, têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng sêsami nyikara tanpa prakara, punapa paduka punika tiyang tunggilipun Aji Saka, muride Ijajil. Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat saking tanah Jawi, sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta minggat sadaya, Aji Saka tiyang saka Hindhu, paduka tiyang saking ‘Arab, mila sami siya-siya dhatêng sêsami, sami damêl awising toya, paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur, damêl wilujêng dhatêng tiyang kathah, nanging kok jêbul botên makatên, wujud paduka niki jajil bêlis katingal, botên tahan digodha lare, lajêng mubal nêpsune gêlis duka, niku Sunan napa? Yen pancen Sunaning jalma yêktos, mêsthi simpên budi luhur. Paduka niksa wong tanpa dosa, nggih niki margi paduka cilaka, tandhane paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam, yen sampun dados, lajêng paduka-ênggeni piyambak, siram salêbêting kawah wedang ingkang umob mumpal-mumpal. Kula niki bangsaning lêlêmbut, sanes alam kaliyan manusa, ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. Inggih sampun ta, sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên malih, lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun, manawi panjênêngan botên karsa mangsulakên, sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-têluh kajêngipun pêjah sadaya, kula tamtu nyuwun bantu wadya bala dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”.
Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute, dene gawe kasusahan warna-warna, nyikara wong kang ora dosa, mula banjur ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan, ora kêna mbaleni caturku kang wus kawêtu, besuk yen wus limang atus taun, kali iki bisa bali kaya mau-maune”.
Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang, banjur nêpsu maneh, nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka-wangsulna sapunika, yen botên sagêd, paduka kula-banda”.
Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna mangsuli, aku pamit nyimpang mangetan, woh sambi iki tak-jênêngake cacil, dene kok kaya bocah cilik padha tukaran, dhêmit lan wong pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah, sarta susahe jalma lan dhêmit, dak-suwun marang Rabbana, woh sambi dadi warna loro kanggone, daginge dadiya asêm, wijine mêtuwa lêngane, asêm dadi pasêmoning ulat kêcut, dene dhêmit padu lan manusa, lênga têgêse dhêmit mlêlêng jalma lunga. Ing besuk dadiya pasêksen, yen aku padu karo kowe, lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki, kang lor jênênge desa Singkal, ing kene desa ing Sumbre, dene panggonane balamu kang ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”.
Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan kali, katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa aran Kawanguran, Sumbre sarta Singkal, Kawanguran têgêse kawruhan, Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal.
Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. Sunan Benang tindake têkan ing desa Bogêm, ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran, rêca mau awak siji êndhase loro, dene prênahe ana sangisoring wit trênggulun, wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti amblasah, Sunan Benang ngasta kudhi, rêca jaran êndhase digêmpal.
Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing rêca jaran, saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse: “Punika yasanipun sang Prabu Jayabaya, kangge pralambang ing tekadipun wanita Jawi, benjing jaman Nusa Srênggi, sintên ingkang sumêrêp rêca punika, lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”.
Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo manusa, jênênge dhêmit kêmênthus”.
Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa, ngriku Sunan, kula Ratu”.
Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos, dadiya pangeling-eling ing besuk, yen aku kêrêngan karo dhêmit kumênthus, prakara rusaking rêca”.
Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene, woh trênggulun jênênge kênthos, awit saka sabdane Sunan Benang, iku pituture Raden Budi Sukardi, guruku”.
Sunan Benang banjur tindak mangalor, barêng wis wanci asar, kêrsane arêp salat, sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane, sumure banjur digolingake, dene Sunan Benang sawise, nuli sagêd mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat.
Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur Gumuling, Sunan Benang kang anggolingake, iku pituture Raden Budi guruku, êmbuh bênêr lupute”.
Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake, satêkane desa Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon, prênahe ana sangisoring wit dhadhap, wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange, sarta akeh kang tiba kanan keringe rêca buta mau, nganti katon abang mbêranang, saka akehe kêmbange kang tiba, Sunan Benang priksa rêca mau gumun bangêt, dene ana madhêp mangulon, dhuwure ana 16 kaki, ubênge bangkekane 10 kaki, saupama diêlih saka panggonane, yen dijunjung wong wolung atus ora kangkat, kajaba yen nganggo piranti, baune têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang, bathuke dikrowak.
Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca, dheweke nêpsu maneh, calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen, rêca buta bêcik-bêcik dirusak tanpa prakara, sa-niki awon warnine, ing mangka punika yasanipun Sang Prabu Jayabaya, lah asilipun punapa panjênêngan ngrisak rêca?”
Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak, supaya aja dipundhi-pundhi dening wong akeh, aja tansah disajeni dikutugi, yen wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar.”
Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos, yen punika rêca sela, botên gadhah daya, botên kuwasa, sanes Hyang Labawalhujwa, mila sami dipunladosi, dipunkutugi, dipunsajeni, supados para lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng, amargi siti utawi kajêng punika wontên asilipun, dados têdhanipun manusa, mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca, panjênêngan-tundhung dhatêng pundi? Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa, wontên ing rêca, sarta nêdha ganda wangi, dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos sumyah, langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang agêng, sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan alamipun manusa, manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara, dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya dhatêng sasamining tumitah, makluking Pangeran. Aluwung manusa Jawa ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa, wangsul tiyang bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah, wujude nggih tugu sela, punika inggih langkung sasar”.
Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng
Nabi Ibrahim, ing kono pusêring bumi, didelehi tugu watu disujudi
wong akeh, sing sapa sujud marang Ka’batu’llah, Gusti Allah paring
pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”.

Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe
Pangeran, angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun, punapa sampun
angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit?

Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku, besuk
yen mati oleh kamulyan”.

Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa,
kamulyan sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup, sasar
nyêmbah tugu sela, manawi sampun nrimah nêmbah curi, prayogi
dhatêng rêdi Kêlut kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran, sami
maujud piyambak saking sabda kun, punika wajib dipunsujudi. Saking
dhawuhipun Ingkang Maha Kuwaos, manusa sadaya kêdah sumêrêp ing
Batu’llahipun, badanipun manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos,
sayêktos yen yasanipun Ingkang Maha Kuwaos, punika kêdah
dipunrêksa, sintên sumêrêp asalipun badanipun, sumêrêp budi
hawanipun, inggih punika ingkang kenging kangge tuladha. Sanadyan
rintên dalu nglampahi salat, manawi panggenanipun raga pêtêng,
kawruhipun sasar-susur, sasar nêmbah tugu sela, tugu damêlan Nabi,
Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah, ta, pinaringan
wahyu nyata pintêr sugih engêtan, sidik paningalipun têrus, sumêrêp
cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. Dene ingkang yasa rêca
punika Prabu Jayabaya, inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos,
pinaringan wahyu mulya, inggih pintêr sugih engêtan sidik
paningalipun têrus, sumêrêp saderengipun kalampahan, paduka
pathokan tulis, tiyang Jawi pathokan sastra, bêtuwah saking
lêluhuripun. sami-sami nyungkêmi kabar, aluwung nyungkêmi kabar
sastra saking lêluhuripun piyambak, ingkang patilasanipun taksih
kenging dipuntingali. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab, dereng ngrêtos
kawontênanipun ngrika, punapa dora punapa yêktos, anggêga ujaripun
tiyang nglêmpara. Mila panjênêngan anganjawi, nyade umuk, nyade
mulyaning nagari Mêkah, kula sumêrêp nagari Mêkah, sitinipun panas,
awis toya, tanêm-tanêm tuwuh botên sagêd mêdal, bênteripun bantêr
awis jawah, manawi tiyang ingkang ahli nalar, mastani Mêkah punika
nagari cilaka, malah kathah tiyang sade tinumbas tiyang, kangge
rencang tumbasan. Panjênêngan tiyang duraka, kula-aturi kesah saking
ngriki, nagari Jawi ngriki nagari suci lan mulya, asrêp lan bênteripun
cêkapan, tanah pasir mirah toya, punapa ingkang dipuntanêm sagêd
tuwuh, tiyangipun jalêr bagus, wanitanipun ayu, madya luwês
wicaranipun. Rêmbag panjênêngan badhe priksa pusêring jagad, inggih
ing ngriki ingkang kula-linggihi punika, sapunika panjênêngan ukur,
manawi kula lêpat panjênêngan jotos.
Rêmbag panjênêngan punika mblasar, tandha kirang nalar, kirang
nêdha kawruh budi, rêmên niksa ing sanes. Ingkang yasa rêca punika
Maha Prabu Jayabaya, digdayanipun ngungkuli panjênêngan,
panjênêngan punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta, kula-
aturi kesah kemawon saking ngriki, manawi botên purun kesah
sapunika, badhe kula-undhangakên adhi-kula ingkang wontên ing rêdi
Kêlut, panjênêngan kula-kroyok punapa sagêd mênang, lajêng kula-
bêkta mlêbêt dhatêng kawahipun rêdi Kêlut, panjênêngan punapa botên
badhe susah, punapa panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados
kula? Mangga dhatêng Selabale, dados murid kula!”.

Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu, kowe setan
brêkasakan”.

Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit, nanging dhêmit raja,
mulya langgêng salamine, panjênêngan dereng tampu mulya kados kula,
tekad panjênêngan rusuh, rêmên nyikara niaya, mila panjênêngan
dhatêng tanah Jawi, wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon, yen
panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab, mila minggat,
saking lêpat, tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban, maoni
adating uwong, maoni agama, damêl risak barang sae, ngarubiru
agamane lêluhur kina, Ratu wajib niksa, mbucal dhatêng Mênadhu”.

Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake
celung, uwohe kledhung, sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung
rêmbag, dadiya pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit, kalah kawruh
kalah nalar”.

Mula katêlah nganti tumêka saprene, woh dhadhap jênênge
kledhung, kêmbange aran celung.

Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang
Benang”.

Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun, panjênêngan
enggala kesah, wontên ing ngriki mindhak damêl sangar, manawi
kadangon wontên ing ngriki mindhak damêl susah, murugakên awis
wos, nambahi bênter, nyudakakên toya”.

Sunan Benang banjur tindak, dene Buta Locaya sawadya-balane uga
banjur mulih. Gênti kang cinarita, nagari ing Majalêngka, anuju
sawijining dina, Sang Prabu Brawijaya miyos sinewaka, diadhêp Patih
sarta para wadya bala, Patih matur, yen mêntas nampani layang saka
Tumênggung ing Kêrtasana, dene surasane layang ngaturi uninga yen
nagara Kêrtasana kaline asat, kali kang saka Kadhiri miline nyimpang
mangetan, saperanganing layang mau unine mangkene: “Wontên ler-
kilen Kadhiri, pintên-pintên dhusun sami karisakan, anggenipun
makatên wau, saking kenging sabdanipun ngulama saking ‘Arab,
namanipun Sunan Benang.

Sang Prabu mirêng ature Patih bangêt dukane, Patih banjur diutus
mênyang Kêrtasana, niti-priksa ing kono kabeh, kahanane wonge sarta
asile bumi kang katrajang banyu kapriye? Sarta didhawuhi nimbali
Sunan Benang.

Gêlising carita, Patih sawise niti-priksa, banjur ngaturake kahanane
kabeh, dene duta kang diutus mênyang Tuban uga wis têka, matur yen
ora oleh gawe, amarga Sunan Benang lunga ora karuhan parane.

Sang Prabu midhangêt ature para wadya banjur duka, paring
pangandika yen ngulama saka ‘Arab pada ora lamba atine. Sang Prabu
banjur dhawuh marang Patih, wong ‘Arab kang ana ing tanah Jawa
padha didhawuhi lunga, amarga gawe ribêding nagara, mung ing Dêmak
lang Ngampelgadhing kang kêparêng ana ing tanah Jawa, nglêstarekake
agamane, liyane loro iku didhawuhi ngulihake mênyang asale, dene yen
padha ora gêlêm lunga didhawuhi ngrampungi bae.
Ature Patih: “Gusti! lêrês dhawuh paduka punika, amargi ngulama
Giripura sampun tigang taun botên sowan utawi botên ngaturakên
bulubêkti, mênggah sêdyanipun badhe rêraton piyambak, botên
ngrumaosi nêdha ngombe wontên tanah Jawi, dene namanipun santri
Giri anglangkungi asma paduka, pêparabipun Sunan ‘Aênalyakin,
punika nama ing têmbung ‘Arab, mênggah têgêsipun Sunan punika
budi, têgêsipun Aenal punika ma’rifat, têgêsipun Yakin punika wikan,
sumêrêp piyambak, dados nama tingal ingkang têrus, suraosipun ing
têmbung Jawi nama Prabu Satmata, punika asma luhur ingkang makatên
punika ngirib-irib tingalipun Kang Maha Kuwasa, mariksa botên
kasamaran, ing alam donya botên wontên kalih ingkang asma Sang
Prabu Satmata, kajawi namung Bathara Wisnu nalika jumênêng Nata
wontên ing nagari Mêdhang-Kasapta.
Sang Prabu midhangêt ature Patih, banjur dhawuh nglurugi
pêrang mênyang Giri, Patih budhal ngirid wadya-bala prajurit, nglurug
mênyang Giri. Patih sawadya-balane satêkane ing Giri banjur campuh
pêrang. Wong ing Giri geger, ora kuwat nanggulangi pangamuke wadya
Majapahit. Sunan Giri mlayu mênyang Benang, golek kêkuwatan, sawise
oleh bêbantu, banjur pêrang maneh mungsuh wong Majalêngka,
pêrange rame bangêt, ing wêktu iku tanah jawa wis meh saparo kang
padha ngrasuk agama Islam, wong-wong ing Pasisir lor wis padha
agama Islam, dene kang kidul isih têtêp nganggo agama Buddha.
Sunan Benang wis ngrumasani kaluputane, ênggone ora sowan
mênyang Majalêngka, mula banjur lunga karo Sunan Giri mênyang
Dêmak, satêkane ing Dêmak, banjur ngêbang marang Adipati Dêmak,
diajak nglurug mênyang Majalêngka, pangandikane Sunan Benang
marang Adipati Dêmak: “Wêruha yen saiki wis têkan masa rusake
Kraton Majalêngka, umure wis satus têlu taun, saka panawangku, kang
kuwat dadi Ratu tanah Jawa, sumilih Kaprabon Nata, mung kowe,
rêmbugku rusakên Kraton Majalêngka, nanging kang sarana alus, aja
nganti ngêtarani, sowana besuk Garêbêg Mulud, nanging rumantiya
sikêping pêrang: 1. gaweya samudana, 2. dhawuhana balamu para
Sunan kabeh lan para Bupati kang wis padha Islam kumpulna ana ing
Dêmak, yen kumpule iku arêp gawe masjid, mêngko yen wis kumpul,
para Sunan sarta Bupati sawadya-balane kang wis padha Islam, kabeh
mêsthi nurut marang kowe”.

Ature Adipati Dêmak: “Kula ajrih ngrisak Nagari Majalêngka,
amêngsah bapa tur raja, kaping tiganipun damêl sae paring kamukten
ing dunya, lajêng punapa ingkang kula-walêsakên, kajawi namung
sêtya tuhu. Dhawuhipun eyang Sunan Ngampelgadhing, botên kaparêng
yen kula mêngsah bapa, sanadyan Buddha nanging margi-kula sagêd
dumados gêsang wontên ing dunya. Inggih sanadyan Buddha punapa
kapir, tiyang punika bapa inggih kêdah dipunhurmati, punapa malih
dereng wontên lêpatipun dhatêng kula”.

Sunan Benang ngandika mêneh: “Sanadyan mungsuh bapa lan ratu,
ora ana alane, amarga iku wong kapir, ngrusak kapir Buddha kawak:
kang kok-têmu ganjaran swarga. Eyangmu kuwi santri mêri, gundhul
bêntul butêng tanpa nalar, patute mung dadi godhogan, sapira
kawruhe Ngampelgadhing, bocah kalairan Cêmpa, masa padhaa karo aku
Sayid Kramat, Sunan Benang kang wis dipuji wong sabumi ‘alam,
têdhak Rasul panutaning wong Islam kabeh. Kowe mungsuh bapakmu
Nata, sanadyan dosa pisan, mung karo wong siji, tur ratu kapir,
nanging yen bapakmu kalah, wong satanah Jawa padha Islam kabeh.
Kang mangkono iku, sapira mungguh kauntunganmu nugrahaning
Pangeran tikêl kaping êmbuh, sihing Hyang Kang Maha Kuwasa kang
dhawuh marang kowe. Satêmêne ramanira iku siya-siya marang sira,
tandhane sira diparingi jênêng Babah, iku ora prayoga, têgêse Babah
iku saru bangêt, iya iku: bae mati bae urip, wiji jawa digawa Putri
Cina, mula ibumu diparingake Arya Damar, Bupati ing Palembang, wong
pranakan buta; iku mêgat sih arane. Ramanira panggalihe têtêp ora
bêcik, mulane rêmbugku, walêsên kalawan alus, lire aja katara, ing
batin sêsêpên gêtihe, mamahên balunge”.

Sunan Giri nyambungi rêmbug: Aku iki ora dosa dilurugi ramamu,
didakwa rêraton, amarga aku ora seba marang Majalêngka. Sumbare
Patih, yen aku kacandhak arêp dikuciri lan dikon ngêdusi asu, akeh
bangsa Cina kang padha têka ana ing tanah Jawa, ana ing Giri padha
tak-Islamake awit kang muni ing kitabku, yen ngislamake wong kapir,
besuk ganjarane swarga, mula akeh bangsa Cina kang padha tak-
Islamake, tak-anggêp kulawarga. Dene têkaku mrene ini ngungsi urip
mênyang kowe, aku wêdi marang Patih Majalêngka, lan ramanira sêngit
bangêt marang santri kang muji dhikir, ênggone ngarani jare lara
ayan esuk lan sore, yen kowe ora ngukuhi, mêsthi rusak agama
Mukhammad Nabi”.

Wangsulane Sang Adipati Dêmak: “Anggenipun nglurugi punika lêrês,
tiyang rêraton, botên ngrumaosi yen kêdah manut prentahing Ratu
ingkang mbawahakên, sampun wajibipun dipunlurugi, dipunukum pêjah,
awit panjênêngan botên ngrumaosi dhahar ngunjuk wontên in tanah
Jawi”.

Sunan Benang ngandika maneh: “Yen ora kok-rêbut dina iki, kowe
ngênteni surude bapakmu, kaprabone bapakmu wis mêsthi ora bakal
tiba kowe, mêsthi dipasrahake marang Adipati Pranaraga, amarga iku
putrane kang tuwa, utawa dipasrahake marang putra mantu, iya iku Ki
Andayaningrat ing Pêngging, kowe anak nom, ora wajib jumênêng Nata,
mumpung iki ana lawang mênga, Giri kang dadi jalarane ngrusak
Majalêngka, nadyan mati, mungsuh wong kapir, mati sabilu’llah, patine
slamêt nampani swarga mulya, wis wajibe wong Islam mati dening wong
kapir, saka ênggone nyungkêmi agamane, karo wis wajibe wong urip
golek kamuktening dunya, golek darajat kang unggul dhewe, yen wong
urip ora wêruh marang uripe, iku durung gênêp uripe, lamun sipat
manusa mêsthi melik mêngku praja angreh wadya bala, awit Ratu iku
Khalifa wakile Hyang Widdhi, apa bae kang dikarêpake bisa kêlakon,
satêmêne kowe wis pinasthi bakal jumênêng Ratu ana ing tanah Jawa,
sumilih kaprabone ramamu, ananging ing laire iya kudu nganggo sarat
dirêbut sarana pêrang, yen kowe ora gêlêm nglakoni, mêsthine sihe
Gusti Allah kang mênyang kowe bakal dipundhut bali, dadi kowe
jênênge nampik sihe Allah, aku mung sadarma njurungi, amarga aku
wis wêruh sadurunge winarah, wis tak-sêmprong nganggo sangkal
bolong katon nêrawang ora samar sajroning gaib, kowe kang katiban
wahyu sihe Pangeran, bisa dadi Ratu ana ing tanah Jawa, murwani
agama suci, ambirat ênggonmu madêg Narendra, bisa ngideni adêgmu
Nata mêngku tanah Jawa, bisa lêstari satêruse”.
Akeh-akeh dhawuhe Sunan Benang, pambujuke marang adipati Dêmak
supaya mêtu nêpsune, gêlêm ngrusak Majalêngka, malah diwenehi
lêpiyan carita Nabi, kang gêlêm ngrusak bapa kapir, iku padha nêmu
rahayu.

Adipati Dêmak matur: “Manawi karsa panjênêngan makatên, kula
namung sadarmi nglampahi dhawuh, panjênêngan ingkang mbotohi”.

Sunan Benang ngandika maneh: “Iya mangkono iku kang tak-
karêpake, saiki kowe wis gêlêm tak-botohi, lah saiki uga kowe kirima
layang marang adhimu Adipati Têrung, ananging têmbungmu kang rêmit
sarta alus, adhimu antêpên, apa abot Sang Nata, apa abot sadulur tuwa
kang tunggal agama. Yen adhimu wis rujuk adêgmu Nata, gampang
bangêt rusaking Majalêngka. Majapahit sapa kang diêndêlake yen
Kusen wis mbalik, Si gugur isih cilik, masa ndadak waniya, Patihe wis
tuwa, dithothok bae mati, mêsthi ora bisa nadhahi yudamu”.
Adipati Dêmak banjur kirim layang marang Têrung, ora suwe
utusan bali, wis tinampan wangsulane Sang Adipati Têrung, saguh
ambiyantu pêrang, layang banjur katur Sunan Benang, ndadekake
sukaning panggalih, Sunan Benang banjur ngandika marang Adipati
Dêmak, supaya Sang Adipati ngaturi para Sunan lan para Bupati kabeh,
samudana yen arêp ngêdêgake masjid, lan diwenehana sumurup yen
Sunan Benang wis ana ing Dêmak. Gêlising carita, ora suwe para Sunan
lan para Bupati padha têka kabeh, banjur pakumpulan ngêdêgake
masjid, sawise mêsjid dadi, banjur padha salat ana ing masjid,
sabakdane salat, banjur tutup lawang, wong kabeh dipangandikani
dening Sunan Benang, yen Adipati Dêmak arêp dijumênêngake Nata,
sarta banjur arêp ngrusak Majapahit, yen wis padha rujuk, banjur
arêp kêpyakan tumuli. Para Sunan lan para Bupati wis padha rujuk
kabeh, mung siji kang ora rujuk, iya iku Syekh Sitijênar. Sunan
Benang duka, Syekh Sitijênar dipateni, dene kang kadhawuhan mateni
iya iku Sunan Giri, Syekh Sitijênar dilawe gulune mati.
Sadurunge Syekh Sitijênar tumêka ing pati, ninggal swara: “Eling-
eling ngulama ing Giri, kowe ora tak-walês ing akhirat, nanging tak-
walês ana ing dunya kene bae, besuk yen ana Ratu Jawa kanthi wong
tuwa, ing kono gulumu bakal tak-lawe gênti”.
Sunan Giri mangsuli: “Iya besuk wani, saiki wani, aku ora bakal
mundur”.
Sawise golong karêpe, nglêstarekake apa kang wis dirêmbug.
Sang Adipati Dêmak banjur ingidenan jumênêng Nata, amêngku tanah
Jawa, jêjuluk Senapati Jimbuningrat, patihe wong saka Atasaning aran
Patih Mangkurat. Esuke Senapati Jimbuningrat wis miranti sapraboting
pêrang, banjur budhal mênyang Majapahit, diiringake para Sunan lan
para Bupati, lakune kaya dene Garêbêg Maulud, para wadya bala ora
ana kang ngrêti wadining laku, kajaba mung para Tumênggung lan
para Sunan apa dene para ngulama, Sunan Benang lan Sunan Giri ora
melu mênyang Majapahit, pawadane sarehne wis sêpuh, mung arêp salat
ana ing masjid bae, lan paring idi rahayuning laku, dadi mung para
Sunan lan para Bupati bae kang ngiringake Sultan Bintara, ora
kacarita lakune ana ing dalan.

Gênti kocapa nagara in Majapahit, Patih saulihe saka ing Giri
banjur matur sang Praba, bab ênggone mukul pêrang ing Giri,
mungguh kang dadi senapati ing Giri iya iku sawijining bangsa Cina
kang wis ngrasuk agama Islam, arane Sêcasena, mangsah mêncak
nganggo gêgêman abir, sawadya-balane watara wong têlung atus, padha
bisa mêncak kabeh, brêngose capang sirahe gundhul, padha manganggo
srêban cara kaji, mangsah pêrang paculat kaya walang kadung, wadya
Majapahit ambêdhili, dene wadya-bala ing Giri pating jênkelang ora
kêlar nadhahi tibaning mimis. Senapati Sêcasena wis mati, dene bala
Cina liyane lang kari padha mlayu salang tunjang, bala ing Giri
ngungsi mênyang alas ing gunung, sawêneh ngambang ing sagara,
mlayu mênyang Benang têrus diburu dening wadya-bala Majapahit,
Sunan Giri lan Sunan Benang banjur nunggal saprau-layar ngambang
ing sagara, kinira banjur minggat marang Arab ora bali ngajawa. Sang
Prabu banjur dhawuh marang Patih, supaya utusan mênyang Dêmak,
andhawuhake yen ngulama ing Giri lan ing Benang padha têka ing
Dêmak, didhawuhi nyêkêl, kaaturna bêbandan ing ngarsa Nata, awit
dosane santri Benang ngrusak bumi ing Kêrtasana, dene dosane santri
Giri ora gêlêm seba marang ngarsa Prabu, tekade sumêdya nglawan
pêrang.

Patih samêtune ing paseban jaba, banjur nimbali duta kang arêp
diutus mênyang Dêmak, sajrone ana ing paseban jaba, kêsaru têkane
utusane Bupati ing Pathi, ngaturake layang marang Patih, layang
banjur diwaos kiyai Patih, mungguh surasaning layang. Menak
Tunjungpura ing Pathi ngaturi uninga, yen Adipati ing Dêmak, iya iku
Babah Patah, wis madêg Ratu ana ing Dêmak, dene kang ngêbang-
êbang adêging Nata, iya iku Sunan Benang lan Sunan Giri, para Bupati
pasisir lor sawadyane kang wis padha Islam uga padha njurungi, dene
jêjuluking Ratu, Senapati Jimbuningrat, utawa Sultan Syah ‘Alam
Akbar Siru’llah Kalifatu’rrasul Amiri’lmukminin Tajudi’l’Abdu’lhamid
Kak, iya Sultan Adi Surya ‘Alam, ing Bintara.
Ing samêngko Babah Patah sawadya-balane wis budhal nglurug
marang Majapahit, sêdya mungsuh ingkang rama, Babah Patah abot
mênyang gurune, ngenthengake ingkang rama, para Sunan lan para
Bupati padha ambiyantu anggone arêp mbêdhah Majapahit. Babah Patah
anggone nggawa bala têlung lêksa miranti sapraboting pêrang,
mungguh kature Sang Prabu amborongake kiyai Patih. Layang kang
saka Pathi mau katitimasan tanggal kaping 3 sasi Mulud taun Jimakir
1303, masa Kasanga Wuku Prangbakat. Kiyai Patih sawise maos layang,
njêtung atine, sarta kêrot, gêrêng-gêrêng, gedheg-gedheg, bangêt
pangungune, banjur tumênga ing tawang karo nyêbut marang Dewa
kang Linuwih, bangêt gumune mênyang wong Islam, dene ora padha
ngrêti mênyang kabêcikane Sang Prabu, malah padha gawe ala. Kyai
Patih banjur matur Sang Prabu, ngaturake surasane layang mau.

Sang Prabu Brawijaya midhangêt ature Patih kaget bangêt
panggalihe, njêgrêg kaya tugu, nganti suwe ora ngandika, jroning
panggalih ngungun bangêt marang putrane sarta para Sunan, dene
padha duwe sêdya kang mangkono, padha diparingi pangkat, wêkasane
malah padha gawe buwana balik, kolu ngrusak Majapahit. Sang Prabu
nganti ora bisa manggalih apa mungguh kang dadi sababe, dene
putrane lan para ngulama têka arêp ngrusak karaton, digoleki nalar-
nalare tansah wudhar, lair batin ora tinêmu ing nalar, dene kok padha
duwe pikir ala.
Ing wêktu iku panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt, sungkawane
ratu Gêdhe kang linuwih, sinêmonan dening Dewa, kaya dene atining
kêbo êntek dimangsa ing tumaning kinjir. Sang Prabu banjur andangu
marang Patih, apa ta mungguh kang dadi sababe, dene putrane lan
para ngulama apa dene para Bupati kolu ngrusak Majapahit, ora padha
ngelingi marang kabêcikan.

Ature Patih, mratelakake yen uga ora mangêrti, amarga adoh karo
nalare, wong dibêciki kok padha malês ala, lumrahe mêsthi, padha malês
bêcik. Ki Patih uga mung gumun, dene wong Islam pikire kok padha
ora bêcik, dibêciki walêse kok padha ala.

Sang Prabu banjur ngandika marang patih, bab anane lêlakon kaya
mangkono iku amarga saka lêpate sang nata piyambak, dene
nggêgampang marang agama kang wis kanggo turun-tumurun, sarta
ênggone kêgiwang marang ature Putri Cêmpa, ngideni para ngulama
mêncarake agama Islam. Sang Nata saka putêking panggalihe nganti
kawêdhar pangandikane ngêsotake marang wong Islam: Sun-suwung
marang Dewa Gung, muga winalêsna susah-ingsun, wong Islam iku
besuk kuwalika agamanira, manjalma dadi wong kucir, dene tan wruh
kabêcikan, sun-bêciki walêse angalani”. “Sabdaning Ratu Agung
sajroning kasusahan, katarima dening Bathara, sinêksen ing jagad,
katandhan ana swara jumêgur gêtêr patêr sabuwana, iya iku kawitane
manuk kuntul ana kang kucir. Sunan, ngulama kabeh ngrangkêp
jênêng walikan, katêlah tumêka saprene, ngulama jênênge walian,
kuntul kucir githoke.
Sang Prabu banjur mundhut pamrayoga marang Patih, prakara
têkane mungsuh, santri kang ngrêbut nagara, iku dilawan apa ora?
Sang Nata rumaos gêtun lan ngungun, dene Adipati Dêmak kapengin
mêngkoni Majapahit bae kok dirêbut sarana pêrang, saupama disuwun
kalayan aris bae mêsthi diparingake, amarga Sang Nata wis sêpuh.
Ature Patih prayoga nglawan têkaning mungsuh. Sang Prabu ngandika,
yen nganti nglawan rumaos lingsêm bangêt, dene mungsuh karo putra,
mula dhawuhe Sang Prabu, yen mapag pêrang kang sawatara bae, aja
nganti ngrusakake bala.
Patih didhawuhi nimbali Adipati Pêngging sarta Adipati Pranaraga,
amarga putra kang ana ing Majapahit durung wanci yen mapagake
pêrang, sawise paring pangandika mangkono. Sang Prabu banjur lolos
arsa têdhak marang Bali, kadherekake abdi kêkasih, Sabdapalon lan
Nayagenggong. Sajrone Sang Prabu paring pangandika, wadya-bala
Dêmak wis pacak baris ngêpung nagara, mula kasêsa tindake. Wadya
Dêmak banjur campuh karo wadya Majapahit, para Sunan banjur
ngawaki pêrang, Patih Majapahit ngamuk ana samadyaning papêrangan.
Para Bupati Nayaka wolu uga banjur melu ngamuk. Pêrange rame
bangêt, bala Dêmak têlung lêksa, balang Majapahit mung têlung ewu,
sarehne Majapahit karoban mungsuh, prajurite akeh kang padha mati,
mung Patih sarta Bupati Nayaka pangamuke saya nêsêg. Bala Dêmak
kang katrajang mêsthi mati. Putrane Sang Prabu aran Raden
Lêmbupangarsa ngamuk ana satêngahing papêrangan, tandhing karo
Sunan Kudus, lagi rame-ramene têtandhingan pêrang, Patih Mangkurat
ing Dêmak nglambung, Putra Nata tiwas, saya bangêt nêpsune,
pangamuke kaya bantheng kataton, ora ana kang diwêdeni, Patih ora
pasah sakehing gêgaman, kaya dene tugu waja, ora ana braja kang
tumama marang sarirane, ing ngêndi kang katrajang bubar ngisis,
kang tadhah mati nggêlasah, bangkening wong tumpang tindhih, Patih
binendrongan saka kadohan, tibaning mimis kaya udan tiba ing watu.
Sunan Ngudhung mapagake banjur mrajaya, nanging ora pasah, Sunan
Ngudhung disuduk kêna, barêng Sunan Ngudhung tiwas, Patih dibyuki
wadya ing Dêmak, dene wadya Majapahit wis êntek, sapira kuwate wong
siji, wêkasan Patih ing Majapahit ngêmasi, nanging kuwandane sirna,
tinggal swara: “Eling-eling wong Islam, dibêciki gustiku walêse ngalani,
kolu ngrusak nagara Majapahit, ngrêbut nagara gawe pêpati, besuk
tak-walês, tak-ajar wêruh nalar bênêr luput, tak-damoni sirahmu,
rambutmu tak-cukur rêsik”.

Sapatine Patih, para Sunan banjur mlêbu mênyang kadhaton.
nanging sang Prabu wis ora ana, kang ana mung Ratu Mas, iya iku
Putri Cêmpa, sang Putri diaturi sumingkir mênyang Benang uga karsa.

Para prajurit Dêmak banjur padha mlêbu mênyang kadhaton, ana
ing kono pada njarah rayah nganti rêsik, wong kampung ora ana kang
wani nglawan. Raden Gugur isih timur lolos piyambak. Adipati Têrung
banjur mlêbu mênyang jêro pura, ngobongi buku-buku bêtuwah
Buddha padha diobongi kabeh, wadya sajroning pura padha bubar,
beteng ing Bangsal wis dijaga wong Têrung. Wong Majapahit kang ora
gêlêm têluk banjur ngungsi mênyang gunung lan alas-alas, dene kang
padha gêlêm têluk, banjur dikumpulake karo wong Islam, padha dikon
nyêbut asmaning Allah. Layone para putra santana lan nayaka padha
kinumpulake, pinêtak ana sakidul-wetan pura. Kuburan mau banjur
dijênêngake Bratalaya, jarene iku kubure Raden Lêmbupangarsa.

Barêng wis têlung dina, Sultan Dêmak budhal mênyang Ngampel,
dene kang dipatah tunggu ana ing Majapahit, iya iku Patih Mangkurat
sarta Adipati Têrung, njaga kaslamêtan mbokmanawa isih ana pakewuh
ing wuri, Sunan Kudus njaga ana ing kraton dadi sulihe Sang Prabu,
Têrung uga dijaga ngulama têlung atus, sabên bêngi padha salat kajat
sarta andêrês Kur’an, wadya-bala kang saparo lan para Sunan padha
ndherek Sang Prabu mênyang Ngampelgadhing, Sunan Ngampel wis
seda, mung kari garwane kang isih ana ing Ngampel, garwane mau asli
saking Tuban, putrane Arya Teja, sasedane Sunan Ngampel, Nyai Agêng
kanggo têtuwa wong Ngampel. Sang Prabu Jambuningrat satêkane ing
Ngampel, banjur ngabekti Nyai Agung, para Sunan sarta para Bupati
gênti-gênti padha ngaturake sêmbah mênyang Nyai Agêng. Prabu
Jimbuningrat matur yen mêntas mbêdhah Majapahit, ngaturake lolose
ingkang rama sarta Raden Gugur, ngaturake patine Patih ing Majapahit
lan matur yen panjênêngane wis madêg Nata mêngku tanah Jawa, dene
jêjuluke: Senapati Jimbun, sarta Panêmbahan Palembang, ênggone
sowan mênyang Ngampel iku, prêlu nyuwun idi, têtêpa jumênêng Nata
nganti run-tumurun aja ana kang nyêlani.

Nyai Agêng Ngampel sawise mirêng ature Prabu Jimbun, banjur
muwun sarta ngrangkul Sang Prabu, Nyai Agêng ing batos karaos-raos,
mangkene pangudaraosing panggalih: “Putuku, kowe dosa têlung
prakara, mungsuh Ratu tur sudarmane, sarta kang aweh kamukten ing
dunya, têka dirusak kang tanpa prakara, yen ngelingi kasaeane uwa
Prabu Brawijaya, para ngulama padha diparingi panggonan kang wis
anggawa pamêtu minangka dadi pangane, sarta padha diuja sakarêpe,
wong pancene rak sêmbah nuwun bangêt, wusana banjur diwalês ala,
seda utawa sugênge ora ana kang wêruh”.

Nyai Agêng banjur ndangu Sang Prabu, pangandikane: “Êngger!
aku arêp takon mênyang kowe, kandhaa satêmêne, bapakmu tênan kuwi
sapa? Sapa kang ngangkat kowe dadi Ratu tanah Jawa lan sapa kang
ngideni kowe? Apa sababe dene kowe syikara kang tanpa dosa?”

Sang Prabu banjur matur, yen Prabu Brawijaya iku jarene
ramane têmênan. Kang ngangkat sarirane dadi Ratu mêngku tanah Jawa
iku para Bupati pasisir kabeh. Kang ngideni para Sunan. Mulane
nagara Majapahit dirusak, amarga Sang Prabu Brawijaya ora karsa
salin agama Islam, isih ngagêm agama kapir kupur, Buddha kawak
dhawuk kaya kuwuk.

Nyai Agêng barêng mirêng ature Prabu Jimbun, banjur njêrit
ngrangkul Sang Prabu karo ngandika: “Êngger! kowe wêruha, kowe iku
dosa têlung prakara, mêsthi kêsiku ing Gusti Allah. Kowe wani
mungsuh Ratu tur wong tuwamu dhewe, sarta sing aweh nugraha
marang kowe, dene kowe kok wani ngrusak kang tanpa dosa. Anane
Islam lan kapir sapa kang gawe, kajaba mung siji Gusti Allah
piyambak. Wong ganti agama iku ora kêna dipêksa yen durung mêtu
saka karêpe dhewe. Wong kang nyungkêmi agamane nganti mati isih
nggoceki tekade iku utama. Yen Gusti Allah wis marêngake, ora susah
ngango dikon, wis mêsthi salin dhewe ngrasuk agama Islam. Gusti Allah
kang sipat rahman, ora dhawuh lan ora malangi marang wong kang
salin agama. Kabeh iki sasênênge dhewe-dhewe. Gusti Allah ora niksa
wong kapir kang ora luput, sarta ora paring ganjaran marang wong
Islam kang tumindak ora bênêr, mung bênêr karo lupute sing diadili
nganggo têtêping adil, lalar-lulurên asalmu, ibumu Putri Cêmpa
nyêmbah pikkong, wujud dluwang utawa rêja watu. Kowe ora kêna
sêngit mênyang wong kang agama Buddha, tandha mripatmu iku
lapisan, mula blero pandêlêngmu, ora ngrêti marang kang bênêr lan
kang luput, jarene anake Sang Prabu, têka kolu marang bapa, kêduga
ngrusak ora nganggo prakara, beda matane wong Jawa, Jawa Jawi
ngrêti matane mung siji, dadi wêruh ing bênêr lan luput, wêruh kang
bêcik lan kang ala, mêsthi wêdi mênyang bapa, kapindhone Ratu lan
kang aweh nugraha, iku wajib dibêkteni.
Eklasing ati bêkti bapa, ora bêkti wong kapir, amarga wis wajibe
manusa bêkti marang wong tuwane. Kowe tak-dongengi, wong Agung
Kuparman, iku agamane Islam, duwe maratuwa kapir, maratuwane
gêthing marang wong Agung amarga seje agama, maratuwane tansah
golek sraya bisane mantune mati, ewadene Wong Agung tansah wêdi-
asih lang ngaji-aji, amarga iku wong tuwane, dadi ora dielingi kapire,
nanging kang dielingi wong tuwane, mula Wong Agung iya ngaji-aji
marang maratuwane. Iya iku êngger, kang diarani wong linuwih, ora
kaya tekadmu, bapa disiya-siya, dupeh kapir Budha ora gêlêm ganti
agama, iku dudu padon. Lan aku arêp takon, apa kowe wis matur
marang wong tuwamu, kok-aturi salin agama? nagarane kok nganti
kok-rusak iku kapriye?

Prabu Jimbun matur, yen durung ngaturi salin agama, têkane
Majapahit banjur ngêpung nagara bae.

Nyai Agêng Ngampel gumujêng karo ngandika: “Tindakmu iku saya
luput bangêt, sanadyan para Nadi dhek jaman kuna, ênggone padha
wani mungsuh wong tuwane, iku amarga sabên dinane wis ngaturi
santun agama, nanging ora karsa, mangka sabên dinane wis diaturi
mujijade, kang nandhakake yen kudu wis santun agama Islam,
ananging atur mau ora dipanggalih, isih nglêstarekake agamane lawas,
mula iya banjur dimungsuh. Lamun mangkono tumindake, sanadyan
mungsuh wong tuwa, lair batine ora luput. Barêng wong kang kaya
kowe, mujijadmu apa? Yen nyata Khalifatu’llah wênang nyalini agama
lah coba wêtokna mujijadmu tak-tontone”.

Prabu Jimbun matur yen ora kagungan mujijad apa-apa, mung manut
unine buku, jare yen ngislamake wong kapir iku ing besuk oleh
ganjaran swarga.

Nyai Agêng Ngampel gumujêng nanging wêwah dukane. Ujar-jare bae
kok disungkêmi, tur dudu bukuning lêluhur, wong ngumbara kok
diturut rêmbuge, sing nglakoni rusak ya kowe dhewe, iku tandha yen
isih mêntah kawruhmu, durung wani marang wong tuwa, saka
kêpenginmu jumênêng Nata, kasusuhane ora dipikir. Kowe kuwi dudu
santri ahli budi, mung ngêndêlake ikêt putih, nanging putihe kuntul,
sing putih mung ing jaba, ing jêro abang, nalika eyangmu isih sugêng,
kowe tau matur yen arêp ngrusak Majapahit, eyangmu ora parêng,
malah manti-manti aja nganti mungsuh wong tuwa, saiki eyangmu wis
seda, wêwalêre kok-trajang, kowe ora wêdi papacuhe. Yen kowe njaluk
idi marang aku, prakara têtêpmu dadi Ratu tanah Jawa, aku ora
wênang ngideni, aku bangsa cilik tur wong wadon, mêngko rak buwana
balik arane, awit kowe sing mêsthine paring idi marang aku, amarga
kowe Khalifatu’llah sajroning tanah Jawa, mung kowe dhewe sing tuwa,
saucapmu idu gêni, yen aku tuwa tiwas, yen kowe têtêp tuwa Ratu”.

Banjure pangandikane Nyai Agêng Ngampel: “Putu! kowe tak-
dongengi kupiya patang prakara, ing kitab hikayat wis muni, carita
tanah Mêsir, panjênêngane Kanjêng Nabi Dhawud, putrane anggege
kapraboning rama, Nabi Dhawud nganti kengsêr saka nagara, putrane
banjur sumilih jumênêng Nata, ora lawas Nabi Dhawud sagêd wangsul
ngrêbut nagarane. Putrane nunggang jaran mlayu mênyang alas, jarane
ambandhang kêcanthol-canthol kayu, nganthi pothol gumantung ana ing
kayu, iya iku kang diarani kukuming Allah. Ana maneh caritane Sang
Prabu Dewata-cêngkar, iku iya anggege kapraboning rama, nanging
banjur disotake dening ingkang rama banjur dadi buta, sabên dina
mangsa jalma, ora suwe antarane, ana Brahmana saka tanah sabrang
angajawa, aran Aji Saka, anggêlarake panguwasa sulap ana ing tanah
Jawa. Wong Jawa akeh kang padha asih marang Aji Saka, gêthing
marang Dewatacêngkar, Ajisaka diangkat dadi Raja, Dewatacêngkar
dipêrangi nganti kêplayu, ambyur ing sagara, dadi bajul, ora antara
suwe banjur mati. Ana maneh caritane nagara Lokapala uga mangkono,
Sang Prabu Danaraja wani karo ingkang rama, kukume iya isih
tumindak kaya kang tak-caritakake mau, kabeh padha nêmu sangsara.
Apa maneh kaya kowe, mungsuh bapa kang tanpa prakara, kowe mêsthi
cilaka, patimu iya mlêbu mênyang yomani, kang mangkono iku kukume
Allah”.

Sang Prabu Jimbun mirêng pangandikane ingkang eyang,
panggalihe rumasa kêduwung bangêt, nanging wis ora kêna dibalekake.

Nyai Agêng Ngampel isih nêrusake pangandikane: “Kowe kuwi
dilêbokake ing loropan dening para ngulama lan para Bupati, mung
kowe kok gêlêm nglakoni, sing nglakoni cilaka rak iya mung kowe
dhewe, tur kelangan bapa, salawase urip jênêngmu ala, bisa mênang
pêrang nanging mungsuh bapa Aji, iku kowe mrêtobata marang Kang
Maha Kuwasa, kiraku ora bakal oleh pangapura, sapisan mungsuh bapa,
kapindho murtat ing Ratu, kaping têlune ngrusak kabêcikan apa dene
ngrusak prajane tanpa prakara. Adipati Pranaraga lan Adipati
Pêngging masa trimaa rusaking Majapahit, mêsthine labuh marang bapa,
iku bae wis abot sanggane”.
Nyai Agêng akeh-akeh pangandikane marang Prabu Jimbun.
Sawise Sang Prabu dipangandikani, banjur didhawuhi kondur mênyang
Dêmak, sarta didhawuhi nglari lolose ingkang rama, yen wis kêtêmu
diaturana kondur mênyang Majapahit, lan aturana mampir ing
Ngampelgadhing, nanging yen ora kêrsa, aja dipêksa, amarga yen
nganti duka mangka banjur nyupatani, mêsthi mandi.

Sang Prabu Jimbun sarawuhe ing Dêmak, para wadya padha
sênêng-sênêng lan suka-suka nutug, para santri padha trêbangan lan
dhêdhikiran, padha angucap sukur lan bungah bangêt dene Sang
Prabu wis kondur sarta bisa mênang pêrange.

Sunan Benang mêthukake kondure Sang Prabu Jimbun, Sang Nata
banjur matur marang Sunan Benang yen Majapahit wis kêlakon bêdhah,
layang-layang Buddha iya wis diobongi kabeh, sarta ngaturake yen
ingkang rama lan Raden Gugur lolos, Patih Majapahit mati ana
samadyaning papêrangan, Putri Cêmpa wis diaturi ngungsi mênyang
Benang, wadya Majapahit sing wis têluk banjur padha dikon Islam.

Sunan Benang mirêngake ature Sang Prabu Jimbun, gumujêng
karo manthuk-manthuk, sarta ngandika yen wis cocog karo panawange.

Sang Prabu matur, yen kondure uga mampir ing Ngampeldênta,
sowan ingkang eyang Nyai Agêng Ngampel, ngaturake yen mêntas saka
Majapahit, sarta nyuwun idi ênggone jumênêng Nata, nanging ana ing
Ngampel malah didukani sarta diuman-uman, ênggone ora ngrêti marang
kabêcikane Sang Prabu Brawijaya, nanging sawise, banjur didhawuhi
ngupaya ingkang rama, apa sapangandikane Nyai Agêng Ngampel
diaturake kabeh marang Sunan Benang.

Sunan Benang sawise mirêngake ature Sang Nata ing batos iya
kêduwung, rumaos lupute, dene ora ngelingi marang kabêcikane Sang
Prabu Brawijaya. Nanging rasa kang mangkono mau banjur dislamur
ing pangandika, samudanane nyalahake Sang Prabu Brawijaya lan
Patih, ênggone ora karsa salin agama Islam.

Sunan Benang banjur ngandika, yen dhawuhe Nyai Agêng
Ngampel ora pêrlu dipanggalih, amarga panimbange wanita iku mêsthi
kurang sampurna, luwih bêcik ênggone ngrusak Majapahit dibanjurake,
yen Prabu Jimbun mituhu dhawuhe Nyai Ngampeldênta, Sunan Benang
arêp kondur mênyang ‘Arab, wusana Prabu Jimbun banjur matur
marang Sunan Benang, yen ora nglakoni dhawuhe Nyai Ngampel,
mêsthine bakal oleh sabda kang ora bêcik, mula iya wêdi.

Sunan Benang paring dhawuh marang Sang Prabu, yen ingkang
rama mêksa kondur mênyang Majapahit, Sang Prabu didhawuhi sowan
nyuwun pangapura kabeh kaluputane, dene yen arêp ngaturi jumênêng
Nata maneh, aja ana ing tanah Jawa, amarga mêsthi bakal ngribêdi
lakune wong kang padha arêp salin agama Islam, supaya dijumênêngake
ana seje nagara ing sajabaning tanah Jawa.

Sunan Giri banjur nyambungi pangandika, mungguh prayoganing
laku supaya ora ngrusakake bala, Sang Prabu Brawijaya sarta putrane
bêcik ditênung bae, awit yen mateni wong kapir ora ana dosane.

Sunan Benang sarta Prabu Jimbun wis nayogyani panêmune
Sunan Giri kang mangkono mau.

Gênti kang cinarita, tindake Sunan kalijaga ênggone ngupaya Sang
Prabu Brawijaya, mung didherekake sakabat loro lakune kêlunta-lunta,
sabên desa diampiri, saka ênggone ngupaya warta. Lampahe Sunan
Kalijaga turut pasisir wetan, sing kalangkungan tindake Sang Prabu
Brawijaya.

Lampahe Sang Prabu Brawijaya wis têkan ing Blambangan, sarehne
wis kraos sayah banjur kendêl ana sapinggiring beji. Ing wêktu iku
panggalihe Sang Prabu pêtêng bangêt, dene sing marak ana ngarsane
mung kêkasih loro, iya iku Nayagenggong lan Sabdapalon, abdi loro
mau tansah gêguyon, lan padha mikir kahaning lêlakon kang mêntas
dilakoni, ora antara suwe kêsaru sowanne Sunan Kalijaga, banjur
ngabêkti sumungkêm padane Sang Prabu.

Sang Prabu banjur ndangu marang Sunan Kalijaga: “Sahid! kowe
têka ana apa? Apa prêlune nututi aku?”

Sunan Kalijaga matur: “Sowan kula punika kautus putra paduka,
madosi panjênêngan paduka, kapanggiha wontên ing pundi-pundi,
sêmbah sungkêmipun konjuka ing pada paduka Aji, nuwun pangaksama
sadaya kasisipanipun, dene ngantos kamipurun ngrêbat kaprabon
paduka Nata, awit saking kalimputing manah mudha punggung, botên
sumêrêp tata krami, sangêt kapenginipun mêngku praja angreh
wadyabala, sineba ing para bupati. Samangke putra paduka rumaos ing
kalêpatanipun, dene darbe bapa Ratu Agung ingkang anyêngkakakên
saking ngandhap aparing darajat Adipati ing Dêmak, tangeh malêsa ing
sih paduka Nata, ing mangke putra paduka emut, bilih panjênêngan
paduka linggar saking praja botên kantênan dunungipun, punika putra
paduka rumaos yen mêsthi manggih dêdukaning Pangeran. Mila kawula
dinuta madosi panjênêngan paduka, kapanggiha wontên ing pundi-
pundi ingaturan kondur rawuh ing Majapahit, têtêpa kados ingkang
wau-wau, mêngku wadya sineba para punggawa, aweta dados jêjimat
pinundhi-pundhi para putra wayah buyut miwah para santana,
kinurmatan sinuwunan idi wilujêngipun wontên ing bumi. Manawi
paduka kondur, putra paduka pasrah kaprabon paduka Nata, putra
paduka nyaosakên pêjah gêsang, yen kaparêng saking karsa paduka,
namung nyuwun pangaksama paduka, sadayaning kalêpatanipun, lan
nyuwun pangkatipun lami dados Adipati ing Dêmak, têtêpa kados
ingkang sampun.
Dene yen panjênêngan paduka botên karsa ngasta kaprabon Nata,
sinaosan kadhaton wontên ing rêdi, ing pundi sasênênging panggalih
paduka, ing rêdi ingkang karsakakên badhe dipundhêpoki, putra
paduka nyaosi busana lan dhahar paduka, nanging nyuwun pusaka
Karaton ing tanah Jawa, dipunsuwun ingkang rila têrusing panggalih”.

Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Ingsun-rungu aturira, Sahid!
nanging ora ingsun-gatekake, karana ingsun wis kapok rêmbugan karo
santri padha nganggo mata pitu, padha mata lapisan kabeh, mula blero
pandulune, mawas ing ngarêp nanging jêbul anjênggung ing buri,
rêmbuge mung manis ana ing lambe, batine angandhut pasir
kinapyukake ing mata, murih picêka mataku siji. Sakawit ingsun bêciki,
walêse kaya kênyung buntut, apa ta salah-ingsun, têka rinusak tanpa
prakara, tinggal tata adat caraning manusa, mukul pêrang tanpa
panantang, iku apa nganggo tataning babi, dadi dudu tataning manusa
kang utama”.

Sunan Kalijaga barêng ngrungu pangandikane Sang Prabu rumasa
ing kaluputane ênggone melu mbêdhah karaton Majapahit, ing batin
bangêt panalangsane, dene kadudon kang wis kêbanjur, mula banjur
ngrêrêpa, ature: “Inggih saduka-duka paduka ingkang dhumawa
dhatêng putra wayah, mugi dadosa jimat paripih, kacancang pucuking
rema, kapêtêk wontên ing êmbun, mandar amêwahana cahya nurbuwat
ingkang wêning, rahayunipun para putra wayah sadaya. Sarehning
sampun kalêpatan, punapa malih ingkang sinuwun malih, kajawi namung
pangapuntên paduka. wangsul karsa paduka karsa tindak dhatêng
pundi?”

Sang Prabu Brawijaya ngandika: “Saiki karsaningsun arsa tindak
mênyang Bali, kêtêmu karo yayi Prabu Dewa agung ing Kêlungkung,
arsa ingsun-wartani pratingkahe si Patah, sikara wong tuwa kang
tanpa dosa, lan arsa ingsun-kon nimbali para Raja kanan kering tanah
jawa, samêkta sakapraboning pêrang, lan Adipati Palembang sun-wehi
wêruh, yen anake karo pisan satêkane tanah Jawa sun-angkat dadi
Bupati, nanging ora wêruh ing dalan, banjur wani mungsuh bapa Ratu,
sun-jaluk lilane anake arêp ingsun pateni, sabab murtat wani ing bapa
kapindhone Ratu, lan ingsun arsa angsung wikan marang Hongte ing
Cina, yen putrane wis patutan karo ingsun mêtu lanang siji, ananging
ora wêruh ing dalan, wani mungsuh bapa ratu, iya ingsun-jaluk lilane,
yen putune arsa ingsun-pateni, ingsun njaluk biyantu prajurit Cina,
samêkta sakapraboning pêrang, njujuga nagari Bali. Yen wis samêkta
sawadya prajurit, sarta padha eling marang lêlabêtan kabêcikaningsun,
lan duwe wêlas marang wong wungkuk kaki-kaki, yêkti padha têka ing
Bali sagêgamaning pêrang, sun-jak marang tanah Jawa angrêbut
kapraboningsun, iya sanadyan pêrang gêdhe gêgêmpuran amungsuh
anak, ingsun ora isin, awit ingsun ora ngawiti ala, aninggal carane
wong agung.”

Sunan Kalijaga ngrungu dhawuhe Sang Prabu kang mangkono iku
ing sanalika mung dhêlêg-dhêlêg, ngandika sajroning ati: “Tan cidra
karo dhawuhe Nyai Agêng Ngampelgadhing, yen eyang wungkuk isih
mbrêgagah nggagahi nagara, ora nyawang wujuding dhiri, kulit kisut
gêgêr wungkuk. Lamun iki ngantiya nyabrang marang Bali, ora wurung
bakal ana pêrang gêdhe tur wadya ing Dêmak masa mênanga, amarga
katindhihan luput, mungsuh ratu pindho bapa, kaping têlune kang
mbêciki, wis mêsthi bae wong Jawa kang durung Islam yêkti asih
marang Ratu tuwa, angantêp tangkêping jurit, mêsthi asor wong Islam
tumpês ing pêpêrangan.”

Wusana Sunan Kalijaga matur alon: “Dhuh pukulun Jêng Sang
Prabu! saupami paduka lajêngna rawuh ing bali, nimbali para Raja,
saestu badhe pêrang gêgêmpuran, punapa botên ngeman risakipun
nagari Jawi, sampun tamtu putra paduka ingkang badhe nêmahi
kasoran, panjênêngan paduka jumênêng Nata botên lami lajêng surud,
kaprabon Jawi kaliya ing sanes darah paduka Nata, saupami kados
dene sêgawon rêbatan bathang, ingkang kêrah tulus kêrah têtumpêsan
sami pêjah sadaya daging lan manah kathêda ing sêgawon sanesipun”.

Sang prabu Brawijaya ngandika: “Mungguh kang mangkono iki
luwih-luwih karsane Dewa Kang Linuwih, ingsun iki Ratu Binathara,
nêtêpi mripat siji, ora nganggo mata loro, mung siji marang bênêr
paningalku, kang miturut adat pranatane para lêluhur. Saupama si
Patah ngrasa duwe bapa ingsun, kêpengin dadi Ratu, disuwun
krananing bêcik, karaton ing tanah Jawa, iya sun-paringake krana
bêcik, ingsun wis kaki-kaki, wis warêg jumênêng Ratu, nrima dadi
pandhita, pitêkur ana ing gunung. Balik samêngko si Patah siya mring
sun, mêsthine-ingsun iya ora lila ing tanah Jawa diratoni, luwih
karsaning Jawata Gung, pamintane marang para titah ing wuri.”

Sunan Kalijaga barêng mirêng pangandikane Sang Prabu, rumasa
ora kaconggah ngaturi, mula banjur nyungkêmi pada, sarta banjur
nyaosake cundrike karo matur, yen Sang Prabu ora karsa nglampahi
kaya ature Sunan Kalijaga, Sunan Kalijaga nyuwun supaya dipateni
bae, amarga lingsêm manawa mêruhi lêlakon kang saru.

Sang Prabu nguningani patrape Sunan kalijaga kang mangkono
mau, panggalihe kanggêg, mula nganti suwe ora ngandika tansah têbah
jaja karo nênggak waspa, sêrêt pangandikane: “Sahid! linggiha dhisik,
tak-pikire sing bêcik, tak-timbange aturmu, bênêr lan lupute, têmên
lan gorohe, amarga aku kuwatir yen aturmu iku goroh kabeh.
Sumurupa Sahid! saupama aku kondur marang Majapahit, si Patah seba
mênyang aku, gêthinge ora bisa mari, amarga duwe bapa Buddha kawak
kapir kupur, liya dina lali, aku banjur dicêkêl dibiri, dikon tunggu
lawang pungkuran, esuk sore diprêdi sêmbahyang, yen ora ngrêti
banjur diguyang ana ing blumbang dikosoki alang-alang garing.”

Sang Prabu mbanjurake pangandikane marang Sunan Kalijaga:
“Mara pikirên, Sahid! saiba susahing atiku, wong wis tuwa, nyêkrukuk,
kok dikum ing banyu”.

Sunan Kalijaga gumujêng karo matur: “Mokal manawi makatên,
benjing kula ingkang tanggêl, botên-botênipun manawi putra paduka
badhe siya-siya dhatêng panjênêngan paduka, dene bab agami namung
kasarah sakarsa paduka, namung langkung utami manawi panjênêngan
paduka karsa gantos sarak rasul, lajêng nyêbut asmaning Allah,
manawi botên karsa punika botên dados punapa, tiyang namung bab
agami, pikêkahipun tiyang Islam punika sahadat, sanadyan salat
dhingklak-dhingkluk manawi dereng mangrêtos sahadat punika inggih
têtêp nama kapir”.

Sang Prabu ngandika: “Sahadat iku kaya apa, aku kok durung
ngrêti, coba ucapna tak-rungokne”.

Sunan kalijaga banjur ngucapake sahadat: ashadu ala ilaha
ila’llah, wa ashadu anna Mukhammadar-Rasulu’llah, têgêsipun: Ingsung
anêkseni, ora ana Pangeran kang sajati, amung Allah, lan anêkseni,
Kangjêng Nabi Mukhammad iku utusane Allah”.

Ature Sunan Kalijaga marang Sang Prabu: “Tiyang nêmbah
dhatêng arah kemawon, botên sumêrêp wujud têgêsipun, punika têtêp
kapiripun, lan malih sintên tiyang ingkang nêmbah puji ingkang sipat
wujud warni, punika nêmbah brahala namanipun, mila tiyang punika
prêlu mangrêtos dhatêng lair lan batosipun. Tiyang ngucap punika
kêdah sumêrêp dhatêng ingkang dipunucapakên, dene têgêsipun Nabi
Mukhammad Rasula’llah: Mukhammad punika makam kuburan, dados
badanipun tiyang punika kuburipun rasa sakalir, muji badanipun
piyambak, botên muji Mukhammad ing ‘Arab, raganipun manusa punika
wêwayanganing Dzating Pangeran, wujud makam kubur rasa, Rasul rasa
kang nusuli, rasa pangan manjing lesan, Rasule minggah swarga,
lu’llah, luluh dados êndhut, kasêbut Rasulu’llah punika rasa ala ganda
salah, riningkês dados satunggal Mukhammad Rasula’llah, kang dhingin
wêruh badan, kaping kalih wêruh ing têdhi, wajibipun manusa
mangeran rasa, rasa lan têdhi dados nyêbut Mukhammad rasulu’llah,
mila sêmbahyang mungêl “uzali” punika têgêsipun nyumêrêpi asalipun.
Dene raganipun manusa punika asalipun saking roh idlafi, rohipun
Mukhammad Rasul, têgêsipun Rasul rasa, wijile rasaning urip, mêdal
saking badan kang mênga, lantaran ashadualla, manawi botên mêngrêtos
têgêsipun sahadat, botên sumêrêp rukun Islam, botên mangrêtos
purwaning dumados”.

Sunan kalijaga ature akeh-akeh, nganti Prabu Brawijaya karsa
santun agama Islam, sawise banjur mundhut paras marang Sunan
Kalijaga nanging remane ora têdhas digunting, mulane Sunan Kalijaga
banjur matur, Sang Prabu diaturi Islam lair batos, amarga yen mung
lair bae, remane ora têdhas digunting. Sang Prabu banjur ngandika
yen wis lair batos, mulane kêna diparasi.

Sang Prabu sawise paras banjur ngandika marang Sabdapalon lan
Nayagenggong: “Kowe karo pisan tak-tuturi, wiwit dina iki aku ninggal
agama Buddha, ngrasuk agama Islam, banjur nyêbut asmaning Allah
Kang Sajati. Saka karsaku, kowe sakarone tak-ajak salin agama Rasul
tinggal agama Buddha.”

Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing
rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan
kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa,
Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki,
kula momong pikukuh lajêr Jawi, kula manawi tilêm ngantos 200 taun,
sadangunipun kula tilêm tamtu wontên pêpêrangan sadherek mêngsah
sami sadherek, ingkang nakal sami nêdha jalma, sami nêdha
bangsanipun piyambak, dumugi sapriki umur-kula sampun 2000
langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah
agamanipun, nêtêpi wiwit sapisan ngestokakên agami Buddha. Sawêg
paduka ingkang karsa nilar pikukuh luhur Jawi. Jawi têgêsipun ngrêti,
têka narimah nama Jawan, rêmên manut nunut-nunut, pamrihipun damêl
kapiran muksa paduka mbenjing.”

Sabdane Wiku tama sinauran gêtêr-patêr.

Sang Prabu Brawijaya sinêmonan dening Jawata, ênggone karsa
mlêbêt agama Rasul, iya iku rêrupan kahanan ing dunya ditambahi
warna têlu: 1: aran sukêt Jawan, 2: pari Randanunut, lan 3: pari Mriyi.

Sang Prabu andangu maneh: “Kapriye kang padha dadi
kêkêncênganmu, apa gêlêm apa ora ninggal agama Buddha, salin agama
Rasul, nyêbut Nabi Mukhammad Rasula’llah panutaning para Nabi, lan
nyêbut asmaning Allah Kang Sajati?”

Sabdapalon ature sêndhu: “Paduka mlêbêt piyambak, kula botên
têgêl ningali watak siya, kados tiyang ‘Arab. Siya punika têgêsipun
ngukum, tur siya dhatêng raga, manawi kula santun agami, saestu
damêl kapiran kamuksan-kula, ing benjing, dene ingkang mastani mulya
punika rak tiyang ‘Arab sarta tiyang Islam sadaya, anggenipun ngalêm
badanipun piyambak. Manawi kula, mastani botên urus, ngalêm saening
tangga, ngapêsakên badanipun piyambak, kula rêmên agami lami,
nyêbut Dewa Ingkang Linangkung.

Jagad punika raganipun Dewa ingkang asipat budi lan hawa, sampun
dados wajibipun manusa punika manut dhatêng eling budi karêpan,
dados botên ngapirani, manawi nyêbut Nabi Mukhammad Rasulu’llah,
têgêse Mukhammad niku makaman kubur, kubure rasa kang salah,
namung mangeran rasa wadhag wadhahing êndhut, namung tansah
nêdha eca, botên ngengêti bilahinipun ing wingking, mila nami
Mukhammad inggih makaman kuburan sakalir, roh idlafi têgêsipun
lapisan, manawi sampun risak wangsul dhatêng asalipun malih. Wangsul
Prabu Brawijaya lajêng manggen wontên pundi. Adam punika muntêl
kaliyan Hyang Brahim, têgêsipun kêbrahen nalika gêsangipun, botên
manggih raos ingkang saestu, nanging tangining raos wujud badan,
dipunwastani Mukhammadun, makaman kuburing rasa, jasanipun budi,
dados sipatipun tiyang lan raos. Manawi dipunpundhut ingkang
Mahakuwasa, sarira paduka sipate tiyang wujud dados, punika
dadosipun piyambak, lantaranipun ngabên awon, bapa biyung botên
damêl, mila dipunwastani anak, wontênipun wujud piyambak, dadosipun
saking gaib samar, saking karsaning Latawalhujwa, ingkang nglimputi
wujud, wujudipun piyambak, risak-risakipun piyambak, manawi
dipunpundhut dening Ingkang Maha Kuwasa, namung kantun rumaos
lan pangraos ingkang paduka-bêkta dhatêng pundi kemawon, manawi
dados dhêmit ingkang têngga siti, makatên punika ingkang nistha,
namung prêlu nênggani daging bacin ingkang sampun luluh dados siti,
makatên wau têtêp botên wontên prêlunipun. Ingkang makatên punika
amargi namung saking kirang budi kawruhipun, kala gêsangipun
dereng nêdha woh wit kawruh lan woh wit budi, nrimah pêjah dados
setan, nêdha siti ngajêng-ajêng tiyang ngirim sajen tuwin
slamêtanipun, ing têmbe tilar mujijat rakhmat nyukani kiyamat dhatêng
anak putunipun ingkang kantun. Tiyang pêjah botên kêbawah
pranataning Ratu ing lair, sampun mêsthi sukma pisah kaliyan budi,
manawi tekadipun sae inggih nampeni kamulyan, nanging manawi
tekadipun awon inggih nampeni siksanipun. Cobi paduka-jawab atur-
kula punika”.

Sang Prabu ngandika: “Mulih marang asale, asal Nur bali marang
Nur”.

Sabdapalon matur maneh: “Inggih punika kawruhipun tiyang
bingung gêsangipun rugi, botên gadhah kawruh kaengêtan, dereng
nêdha woh kawruh lan budi, asal siji mantuk satunggal, punika sanes
pêjah ingkang utami, dene pêjah ingkang utami punika sewu satus
têlung puluh. Têgêsipun satus punika putus, têlu punika tilas, puluh
punika pulih, wujud malih, wujudipun risak, nanging ingkang risak
namung ingkang asal saking roh idlafi. Uripipun langgêng namung
raga pisah kaliyan sukma, inggih punika sahadat ingkang botên mawi
ashadu, gantos roh idlafi lapisan: sasi surup mêsthi saking pundi
asalipun wiwit dados jalmi. Surup têgêsipun: sumurup purwa madya
wasananipun, nêtêpana namane tiyang lumampah, sampun ebah saking
prênahipun mlêbêt mbêkta sir cipta lami”.

Sang Prabu ngandika: “Ciptaku nempel wong kang luwih”.
Sabdapalon matur: “Punika tiyang kêsasar, kados dene kêmladeyan
tumemplek wit-witan agêng, botên bawa piyambak, kamuktenipun
namung nêmpil. Punika botên pêjah utami, pêjahipun tiyang nistha,
rêmênipun namung nempel, nunut-nunut, botên bawa piyambak, manawi
dipuntundhung, lajêng klambrangan, dados brêkasakan, lajêng nempel
dhatêng sanesipun malih”.

Sang Prabu ngandika maneh: “Asal suwung aku bali, mênyang
suwung, nalika aku durung maujud iya durung ana apa-apa, dadi
patiku iya mangkono”.

Sabdapalon: “Punika pêjahipun tiyang kalap nglawong, botên iman
‘ilmi, nalika gêsangipun kados kewan, namung nêdha ngombe lan tilêm,
makatên punika namung sagêd lêma sugih daging, dados nama sampun
narimah ngombe uyuh kemawon, ical gêsangipun salêbêtipun pêjah”.

Sang Prabu: “Aku nunggoni makaman kubur, yen wis luluh dadi
lêbu”.

Sabdapalon: “Inggih punika pêjahipun tiyang cubluk, dados setan
kuburan, nênggani daging wontên kuburan, daging ingkang sampun
luluh dados siti, botên mangrêtos santun roh hidlafi enggal. Inggih
punika tiyang bodho mangrêtosa. Nun!”

Sang Prabu ngandika: “Aku arêp muksa saragaku”.

Sabdapalon gumuyu: “Yen tiyang agami Rasul têrang botên sagêd
muksa, botên kuwawi ngringkês nguntal raganipun, lêma kakathahên
daging. Tiyang pêjah muksa punika cêlaka, amargi nami pêjah, nanging
botên tilar jisim, namanipun botên sahadat, botên pêjah, botên gêsang,
botên sagêd dados roh idlafi enggal, namung dados gunungan dhêmit”.

Pangandikane Sang Prabu: “Aku ora duwe cipta apa-apa, ora ikhtiar
nampik milih, sakarsane Kang Maha Kuwasa”.

Sabdapalon: “Paduka nilar sipat, botên ngrumaosi yen tinitah
linangkung, nilar wajibing manusa, manusa dipunwênangakên nampik
milih, manawi sampun narimah dados sela, sampun botên prêlu pados
‘ilmi kamulyaning seda”.

Sang Prabu: “Ciptaku arêp mulih mênyang akhirat, munggah swarga
seba Kang maha Kuwasa”.

Sabdapalon matur: “Akhirat, swarga, sampun paduka-bêkta ngaler
ngidul, jagadipun manusa punika sampun mêngku ‘alam sahir kabir,
nalika tapêl Adam, sampun pêpak: akhirat, swarga, naraka ‘arasy
kursi. Paduka badhe tindak dhatêng akhirat pundi, mangke manawi
kêsasar lo, mangka ênggene akhirat punika têgêse mlarat, saênggen-
ênggen wontên akhirat, manawi kenging kula-singkiri, sampun ngantos
kula mantuk dhatêng kamlaratan sarta minggah dhatêng akhirat adil
nagari, manawi lêpat jawabipun tamtu dipunukum, dipunbanda,
dipunpaksa nyambut damêl awrat tur botên tampa arta. Klêbêt akhirat
nusa Srênggi, nusa têgêsipun manusa, Srêng têgêsipun padamêlan
ingkang awrat sangêt. Ênggi têgêsipun gawe. Dados têgêsipun jalma
pinêksa nyambut damêl dhatêng Ratu Nusa Srênggi namanipun, punapa
botên cilaka, tiyang gêsang wontên ing dunya kados makatên wau,
sakulawargane mung nadhah bêras sapithi, tanpa ulam, sambêl, jangan
punika akhirat ingkang katingal tata lair, manawi akhiratipun tiyang
pêjah malah langkung saking punika, paduka sampun ngantos kondur
dhatêng akhirat, sampun ngantos minggah dhatêng swarga, mindhak
kêsasar, kathah rajakaya ingkang wontên ing ngriku, sadaya sami
trima tilêm kêmul siti, gêsangipun nyambut damêl kanthi paksan, botên
salah dipunpragat, paduka sampun ngantos sowan Gusti Allah, amargi
Gusti Allah punika botên kantha botên warna, wujudipun amung asma,
nglimputi wontên ing dunya tuwin ing akhirat, paduka dereng têpang,
têpangipun amung têpang kados cahyanipun lintang lan rêmbulan,
kapanggihe cahya murub dados satunggal, botên pisah botên kumpul,
têbihipun botên mawi wangênan, cêlak botên panggihan, kula botên
kuwawi cêlak, punapa malih paduka, Kangjêng Nabi Musa toh botên
kuwawi mandêng dhatêng Gusti Allah, mila Allah botên katingal, namung
Dzatipun ingkang nglimputi sadaya wujud, paduka wiji rohani, sanes
bangsanipun malaekat, manusa raganipun asal saking nutfah, sowan
Hyang Latawalhujwa, manawi panggenanipun sampun sêpuh, nyuwun
ingkang enggal, dados botên wongsal-wangsul, ingkang dipunwastani
pêjah gêsang, ingkang gêsang napasipun taksih lumampah, têgêsipun
urip, ingkang têtêp langgêng, botên ewah botên gingsir, ingkang pêjah
namung raganipun, botên ngraosakên kanikmatan, pramila tumrap
tiyang agami Buddha, manawi raganipun sampun sêpuh, suksmanipun
mêdal nyuwun gantos ingkang sae, nglangkungi ingkang sampun
sêpuh, nutfah sampun ngantos ebah saking jagadipun, jagadipun
manusa punika langgêng, botên ewah gingsir, ingkang ewah punika
makaming raos, raga wadhag ingkang asal roh idlafi.

Prabu Brawijaya botên anem botên sêpuh, nanging langgêng
manggen wontên satêngahipun jagadipun, lumampah botên ebah saking
panggenanipun, wontên salêbêting guwa sir cipta kang êning. Gawanên
gêgawanmu, ngGêgawa nêdha raga. Tulis ical, etangan gunggunge:
kumpul, plêsatipun wêtaha. Ningali jantung kêtêg kiwa: surut marga
sire cipta, jujugipun ingkang cêtha cêthik cêthak. Punika
pungkasanipun kawruh, kawruhipun tiyang Buddha. Lêbêtipun roh
saking cêthak marginipun, kendêl malih wontên cêthik, mêdal wontên
kalamwadi, kentir sagara rahmat lajêng lumêbêt ing guwa indra-
kilaning estri, tibaning nikmat ing dhasaring bumi rahmat, wontên ing
ngriku ki budi jasa kadhaton baitu’llah ingkang mulya, dadosipun
saking sabda kun, dados wontên têngahing jagad swarganing tiyang
sêpuh estri, mila jalma keblatipun wontên têngahing jagad, jagading
tiyang punika guwa sir cipta namanipun, dipunbêkta dhatêng pundi-
pundi botên ewah, umuripun sampun dipunpasthekakên, botên sagêd
ewah gingsir, sampun dipunsêrat wontên lokhil-makful, bêgja
cilakanipun gumantung wontên ing budi nalar lan kawruhipun, ingkang
ical utawi kirang ikhtiaripun inggih badhe ical utawi kirang
bêgjanipun. Wiwitanipun keblat sakawan, inggih punika wetan kilen
kidul ler : têgêsipun wetan : wiwitan manusa maujud; têgêsipun kulon :
bapa kêlonan; têgêsipun kidul : estri didudul wêtênge ing têngah;
têgêsipun lor : laire jabang bayi, tanggal sapisan kapurnaman, sênteg
sapisan tênunan sampun nigasi. Têgêsipun pur: jumbuh, na; ana wujud,
ma; madhêp dhatêng wujud; jumbuh punika têgêsipun pêpak, sarwa
wontên, mêngku alam sahir kabir, tanggalipun manusa, lairipun saking
tiyang sêpuhipun estri, sarêng tanggalipun kaliyan sadherekipun
kakang mbarêp adhi ragil, kakang mbarêp punika kawah, adhi punika
ari-ari, sadherek ingkang sarêng tanggal gaibipun, rumêksa
gêsangipun elingipun panjanmaning surya, lênggah rupa cahya,
kontêning eling sadayanipun, siyang dalu sampun sumêlang dhatêng
sadaya rêrupen, ingkang engêt sadayanipun, surup lan tanggalipun
sampun samar : kala rumiyin, sapunika lan benjing, punika kawruhipun
tiyang Jawi ingkang agami Buddha. Raga punika dipunibaratakên baita,
dene suksmanipun inggih punika tiyang ingkang wontên ing baita wau,
ingkang nêdahakên pandomipun, manawi baitanipun lumampah mangka
salah pandomipun, tamtu manggih cilaka, baita pêcah, tiyangipun rêbah.
Pramila kêdah ingkang mapan, mumpung baitanipun taksih lumampah,
manawi botên mapan gêsangipun, pêjah malih sagêda mapan, nêtêpi
kamanusanipun, manawi baitanipun bibrah, inggih pisah kaliyan
tiyangipun; têgêsipun suksma ugi pisah kaliyan budi, punika
namanipun sahadat, pisahipun kawula kaliyan Gusti, sah têgêsipun
pisah, dat punika Dzating Gusti, manawi sampun pisah raga suksma,
budinipun lajêng santun baitu’llah, napas tali, muji dhatêng Gusti,
manawi pisaha raga suksma lan budi, mrêtitis ingkang botên-botên, yen
tunggal, kabêsaran, tanggalipun botên surup salaminipun, punika
kêdah ingkang waspada, ngengêtana dhatêng asaling kawula, kawula
ugi wajib utawi wênang matur dhatêng Gusti, nyuwun baitu’llah
ingkang enggal, ngungkulana ingkang lami. Raganing manusa punika
namanipun baitu’llah, inggih prau gaweyaning Allah, dadosipun saking
sabda kun, manawi baitanipun tiyang Jawi sagêd mapan santun
baitu’llah malih ingkang sae, baitanipun tiyang Islam gêsangipun
kantun pangrasa, praunipun sampun rêmuk, manawi suksma punika
pêjah ing ‘alam dunya suwung, botên wontên tiyang, manawi tiyang
punika têrus gêsang, ing dunya kêbak manusa, lampahipun saking
ênem urut sêpuh, ngantos roh lapisan, sanadyan suksmanipun tiyang,
nanging manawi tekadipun nasar, pêjahipun manjalma dados kuwuk,
sanadyan suksmanipun kewan, nanging sagêd manjalma dados tiyang
(kajêngipun, adiling Kawasa tiyang punika pinasthi ngundhuh wohing
panggawene piyambak-piyambak). Nalika panjênênganipun Bathara
Wisnu jumênêng Nata wontên ing Mêndhang Kasapta, sato wana tuwin
lêlêmbut dipuncipta dados manusa, dados wadya-balanipun Sang Nata.
Nalika eyang paduka Prabu Palasara iyasa kadhaton wontên ing
Gajahoya, sato wana tuwin lêlêmbut inggih dipuncipta dados tiyang,
pramila gandanipun tiyang satunggal-satunggalipun beda-beda,
gandanipun kadosdene nalika taksih dados sato kewan. Sêrat tapak
Hyang, ingkang dipunwastani Sastrajendrayuningrat, dados saking
sabda kun, ingkang dipunwastani jithok têgêsipun namung puji thok.
Dewa ingkang damêl cahya murub nyrambahi badan, têgêsipun incêngên
aneng cêngêlmu. Jiling punika puji eling marang Gusti. Punuk
têgêsipun panakna. Timbangan têgêsipun salang.
Pundhak punika panduk, urip wontên ing ‘alam dunya pados
kawruh kaliyan woh kuldi, manawi angsal woh kuldi kathah,
untungipun sugih daging, yen angsal woh kawruh kathah, kenging
kangge sangu gêsang, gêsang langgêng ingkang botên sagêd pêjah.
Têpak têgêsipun têpa-tapanira. Walikat: walikane gêsang. Ula-ula:
ulatana, lalarên gêgêrmu sing nggligir. Sungsum têgêsipun
sungsungên. Lambung: waktu Dewa nyambung umur, alamipun jalma
sambungan, lali eling urip mati. Lêmpeng kiwa têngên têgêsipun
tekadmu sing lêmpêng lair batin, purwa bênêr lawan luput, bêcik lawan
ala. Mata têgêsipun tingalana batin siji, sing bênêr keblatira, keblat lor
bênêr siji. Têngên têgêsipun têngênên ingkang têrang, wontên ing
dunya amung sadarmi ngangge raga, botên damêl botên tumbas.
Kiwa têgêsipun: raga iki isi hawa kêkajêngan, botên wênang ngêkahi
pêjah. Makatên punika ungêling sêrat. Manawi paduka maibên, sintên
ingkang damêl raga? Sintên ingkang paring nama?
inggih namung Latawalhujwa, manawi paduka maibên, paduka têtêp
kapir, kapiran seda paduka, botên pitados dhatêng sêratipun Gusti,
sarta murtat dhatêng lêluhur Jawi sadaya, nempel tosan, kajêng sela,
dados dhêmit têngga siti, manawi paduka botên sagêd maos sastra
ingkang wontên ing badanipun manusa, saseda paduka manjalma
dhatêng kuwuk, dene manawi sagêd sagêd maos sastra ingkang wontên
ing raga wau, saking tiyang inggih dados tiyang, kasêbut ing sêrat
Anbiya, Kanjêng Nabi Musa kala rumiyin tiyang ingkang pêjah wontên
ing kubur, lajêng tangi malih, gêsangipun gantos roh lapis enggal,
gantos makam enggal. Manawi paduka ngrasuk agami Islam, tiyang Jawi
tamtu lajêng Islam sadaya. Manawi kula, wadhag alus-kula sampun
kula-cakup lan kula-carub, sampun jumbuh dados satunggal, inggih
nglêbêt inggih jawi, dados kantun sasêdya-kula kemawon, ngadam
utawi wujud sagêd sami sanalika, manawi kula kêpengin badhe wujud,
inggih punika wujud-kula, sêdya ngadam, inggih sagêd ical sami
sanalika, yen sêdya maujud sagêd katingal sanalika. Raga-kawula
punika sipating Dewa, badan-kawula sakojur gadhah nama piyambak-
piyambak. Cobi paduka-dumuk: pundi wujudipun Sabdapalon, sampun
kalingan pajar, saking pajaripun ngantos sampun botên katingal
wujudipun Sabdapalon, kantun asma nglimputi badan, botên ênem botên
sêpuh, botên pêjah botên gêsang, gêsangipun nglimputi salêbêting
pêjahipun, dene pêjahipun nglimputi salêbêting gêsangipun, langgêng
salaminipun”.

Sang Prabu ndangu: “Ana ing ngêndi Pangeran Kang Sajati?”

Sabdapalon matur: “Botên têbih botên cêlak, paduka wayangipun
wujud sipating suksma, dipunanggêp sarira tunggal, budi hawa badan,
tiga-tiga punika tumindakipun; botên pisah, nanging inggih botên
kumpul. Paduka punika sampun Ratu linuhung tamtu botên badhe
kêkilapan dhatêng atur-kula punika”.

Sang Prabu ngandika maneh: “Apa kowe ora manut agama?”

Sabdapalon ature sêndhu: “Manut agami lami, dhatêng agami enggal
botên manut! Kenging punapa paduka gantos agami têka botên nantun
kula, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda
têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat,
Genggong: langgêng botên ewah.
Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat
pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”

Sang Prabu ngandika: “Kapriye iki, aku wis kêbacut mlêbu agama
Islam, wis disêkseni Sahid, aku ora kêna bali agama Buddha maneh,
aku wirang yen digêguyu bumi langit.”
Sabdapalon matur maneh: “Inggih sampun, lakar paduka-lampahi
piyambak, kula botên tumut-tumut.”
Sunan Kalijaga banjur matur marang Sang Prabu, kang surasane ora
prêlu manggalih kang akeh-akeh, amarga agama Islam iku mulya
bangêt, sarta matur yen arêp nyipta banyu kang ana ing beji, prêlu
kanggo tandha yêkti, kapriye mungguh ing gandane. Yen banyu dicipta
bisa ngganda wangi, iku tandha yen Sang Prabu wis mantêp marang
agama Rasul, nanging yen gandane ora wangi, iku anandhakake: yen
Sang Prabu isih panggalih Buddha. Sunan Kalijaga banjur nyipta,
padha sanalika banyu sêndhang banjur dadi wangi gandane, ing kono
Sunan kalijaga matur marang Sang Prabu, kaya kang wis kathandha,
yen Sang Prabu nyata wis mantêp marang agama Rasul, amarga banyu
sêndhang gandane wangi. (11)

Ature Sabdapalon marang Sang Prabu: Punika kasêkten punapa?
kasêktening uyuh-kula wingi sontên, dipunpamerakên dhatêng kula.
Manawi kula timbangana nama kapilare, mêngsah uyuh-kula piyambak,
ingkang kula rêbat punika? Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa
dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula-
êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk,
kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên
momong paduka. Manawi kula sumêdya ngêdalakên kaprawiran, toya
kula-êntut sêpisan kemawon, sampun dados wangi. Manawi paduka
botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya,
punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi
Mahmeru punika sadaya kula, adi Guru namung ngideni kemawon, ing
wêkdal samantên tanah Jawi sitinipun gonjang-ganjing, saking
agênging latu ingkang wontên ing ngandhap siti, rêdi-rêdi sami kula
êntuti, pucakipun lajêng anjêmblong, latunipun kathah ingkang mêdal,
mila tanah Jawi lajêng botên goyang, mila rêdi-rêdi ingkang inggil
pucakipun, sami mêdal latunipun sarta lajêng wontên kawahipun, isi
wedang lan toya tawa, punika inggih kula ingkang damêl, sadaya wau
atas karsanipun Latawalhujwa, ingkang damêl bumi lan langit. Punapa
cacadipun agami Buddha, tiyang sagêd matur piyambak dhatêng
Ingkang Maha Kuwasa. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami
Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun
jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu
dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.

Cobi paduka-yêktosi, benjing: sasi murub botên tanggal, wiji
bungkêr botên thukul, dipuntampik dening Dewa, tinanêma thukul
mriyi, namung kangge têdha pêksi, mriyi punika pantun kados kêtos,
amargi paduka ingkang lêpat, rêmên nêmbah sela. Paduka-yêktosi,
benjing tanah Jawa ewah hawanipun, wêwah bênter awis jawah, suda
asilipun siti, kathah tiyang rêmên dora, kêndêl tindak nistha tuwin
rêmên supata, jawah salah masa, damêl bingungipun kanca tani. Wiwit
dintên punika jawahipun sampun suda, amargi kukuminipun manusa
anggenipun sami gantos agami. Benjing yen sampun mrêtobat, sami
engêt dhatêng agami Buddha malih, lan sami purun nêdha woh kawruh,
Dewa lajêng paring pangapura, sagêd wangsul kados jaman Buddha
jawahipun”.

Sang Prabu mirêng ature Sabdapalon, ing batos rumaos kaduwung
bangêt dene ngrasuk agama Islam, nilar agama Buddha. Nganti suwe
ora ngandika, wasana banjur ngandika, amratelakake yen ênggone
mlêbêt agama Islam iku, amarga kêpencut ature putri Cêmpa, kang
ngaturake yen wong agama Islam iku, jarene besuk yen mati, antuk
swarga kang ngungkuli swargane wong kapir.

Sabdapalon matur, angaturake lêpiyan, yen wiwit jaman kuna mula,
yen wong lanang manut wong wadon, mêsthi nêmu sangsara, amarga
wong wadon iku utamane kanggo wadhah, ora wênang miwiti karêp,
Sabdapalon akeh-akeh ênggone nutuh marang Sang Prabu.

Sang Prabu ngandika: “Kok-tutuha iya tanpa gawe, amarga barang
wis kêbacut, saiki mung kowe kang tak-tari, kapriye kang dadi
kêkêncênganing tekadmu? Yen aku mono ênggonku mlêbu agama Islam,
wis disêkseni dening si Sahid, wis ora bisa bali mênyang Buddha
mêneh”.

Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang
ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi
jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. Sang
Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa,
agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp
diwulang wêruha marang bênêr luput.

Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong,
nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta
nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing
besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya
têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa
momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah
sabrang”.
Sunan Kalijaga banjur didhawuhi nêngêri banyu sêndhang, yen
gandane mari wangi, besuk wong Jawa padha ninggal agama Islam ganti
agama Kawruh.

Sunan Kalijaga banjur jasa bumbung loro kang siji diiseni banyu
tawa, sijine diiseni banyu sêndhang. Banyu sêndhang mau kanggo
tandha, yen gandane mari wangi, wong tanah Jawa padha salin agama
kawruh. Bumbung sawise diiseni banyu, banjur disumpêli godhong
pandan-sili, sabanjure digawa sakabate loro.

Sang Prabu Brawijaya banjur tindak didherekake Sunan Kalijaga lan
sakabate loro, tindake kawêngen ana ing dalan, nyare ana ing
Sumbêrwaru, esuke bumbunge dibukak, banyune diambu isih wangi,
nuli mbanjurake tindake, wayah surup srêngenge, wis têkan ing
Panarukan. Sang Prabu nyare ana ing kono, ing wayah esuk, banyu
ing bumbu diganda isih wangi, Sang Prabu mbanjurake tindake.

Barêng wis wayah surup srêngenge, têkan ing Bêsuki, Sang Prabu
uga nyare ana ing kono, esuke banyu ing bumbung diganda mundhak
wangine, Sang Prabu banjur nêrusake tindake nganti wayah surup
srêngenge, têkan ing Prabalingga, ana ing kono uga nyare sawêngi,
esuke banyune ditiliki, banyune tawa isih enak, nanging munthuk,
unthuke gandane arum, nanging mung kari sathithik, amarga kêrêp
diunjuk ana ing dalan, dene banyune sêndhang barêng ditiliki gandane
dadi bangêr, tumuli dibuwang. Sang Prabu banjur ngandika marang
Sunan Kalijaga: “Prabalingga ing besuk jênênge loro, Prabalingga karo
Bangêrwarih 12 ing kene besuk dadi panggonan kanggo pakumpulane
wong-wong kang padha ngudi kawruh kapintêran lan kabatinan,
Prabalingga têgêse prabawane wong Jawa kalingan prabawane tangga”.
Sang Prabu mbanjurake tindake, ing pitung dinane, wis têkan ing
Ampelgadhing. Nyai Agêng Ampelgadhing tumuli mêthukake banjur
ngabêkti marang Sang Prabu karo muwun, sarta akeh-akeh sêsambate.

Sang Prabu banjur ngandika: “Wis aja nangis êngger, mupusa yen
kabeh mau wis dadi karsane Kang Maha Kuwasa, kudu mangkene. Aku
lan kowe mung sadarma nglakoni, kabeh lêlakon wis ditulis aneng
lokhilmakful. Bêgja cilaka ora kêna disinggahi, nanging wajibe wong
urip kudu kêpengin mênyang ilmu”.

Nyai Agêng Ampel banjur matur marang Sang Prabu, ngaturake
patrape ingkang wayah Prabu Jimbun, kaya kang wis kasêbut ing
ngarêp. Sang Prabu banjur dhawuh nimbali Prabu Jimbun. Nyai Ampel
nuli utusan mênyang Dêmak nggawa layang, satêkane ing Dêmak,
layang wis katur marang Sang Prabu Jimbun, ora antara suwe Prabu
Jimbun budhal sowan mênyang Ampel.

Kacarita putra Nata ing Majapahit, kang aran Raden Bondhankajawan
ing Tarub, mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati
Dêmak, malah Sang Prabu lolos saka jroning pura, ora karuhan
mênyang ngêndi tindake, rumasa ora kapenak panggalihe, banjur
tindak marang Majapahit, tindake Raden Bondhankajawan namur kula,
nungsung warta ing ngêndi dununge ingkang rama, satêkane Surabaya,
mirêng warta yen ingkang rama Sang Prabu têdhak ing Ampel, nanging
banjur gêrah, Raden Bondhankajawan nuli sowan ngabêkti.

Sang Prabu ndangu: “Sing ngabêkti iki sapa?”

Raden Bondhankajawan matur yen panjênêngane kang ngabêkti.

Sang Prabu banjur ngrangkul ingkang putra, gêrahe Sang Prabu
sangsaya mbatêk, ngrumaosi yen wis arêp kondur marang jaman
kalanggêngan, pangandikane marang Sunan Kalijaga mangkene: Sahid,
nyêdhaka mrene, aku wis arêp mulih marang jaman kalanggêngan, kowe
gaweya layang mênyang Pêngging lan Pranaraga, mêngko tak-wenehane
tandha asta, wis padha narima rusake Majalêngka, aja padha ngrêbut
kapraboningsun, kabeh mau wis karsane Kang Maha Suci, aja padha
pêrang, mundhak gawe rudahing jagad, balik padha ngemana rusaking
wadya-bala, sebaa marang Dêmak, sapungkurku sing padha rukun, sapa
sing miwiti ala, tak-suwun marang Kang maha Kuwasa, yudane apêsa.”

Sunan Kalijaga banjur nyêrat, sawise rampung banjur ditapak-astani
dening sang Prabu, sabanjure diparingake marang Pêngging lan
Pranaraga.

Sang Prabu banjur ngandika: “Sahid, sapungkurku kowe sing bisa
momong marang anak putuku, aku titip bocah iki, saturun-turune
êmongên, manawa ana bêgjane, besuk bocah iki kang bisa nurunake
lajêre tanah Jawa, lan maneh wêkasku marang kowe, yen aku wis
kondur marang jaman kalanggêngan, sarekna ing Majapahit sa-lor-
wetane sagaran, dene pasareyaningsun bakal sun-paringi jênêng
Sastrawulan, lan suwurna kang sumare ana ing kono yayi Raja Putri
Cêmpa, lan maneh wêlingku, besuk anak-putuku aja nganti entuk liya
bangsa, aja gawe senapati pêrang wong kang seje bangsa.”

Sunan Kalijaga sawise dipangandikani banjur matur: “Punapa Sang
Prabu botên paring idi dhatêng ingkang putra Prabu Jimbun
jumênêngipun Nata wontên ing tanah Jawi?”

Sang Prabu ngandika: “Sun-paringi idi, nanging mung mandhêg
têlung turunan.”

Sunan kalijaga nyuwun sumurup mungguh têgêse araning bakal
pasareyane Sang Prabu.

Sang Prabu ngandika: “Sastra têgêse tulis, Wulan têgêse damaring
jagad, tulise kuburku mung kaya gêbyaring wulan, yen isih ana
gêbyaring wulan, ing têmbe buri, wong Jawa padha wêruh yen sedaku
wis ngrasuk agama Islam, mula tak-suwurake Putri Cêmpa, amarga aku
wis diwadonake si Patah, sarta wis ora dianggêp priya, nganti kaya
mangkene siya-siyane marang aku, mulane ênggonku mangêni madêge
Ratu mung têlung turunan, amarga si Patah iku wiji têlu, Jawa, Cina
lan raksasa, mula kolu marang bapa sarta rusuh tindake, mula
wêkasku, anak-putuku aja entuk seje bangsa, amarga sajroning
sihsinihan di seje bangsa mau nganggo ngobahake agamane, bisaa
ngapêsake urip, mula aku paring piwêling aja gawe senapati pêrang
wong kang seje jinis, mundhak ngenthengake Gustine, ing sajroning
mangun yuda, banjur mangro tingal, wis Sahid, kabeh pitungkasku,
tulisên.”

Sang Prabu sawise paring pangandika mangkono, astane banjur
sidhakêp, têrus seda, layone banjur disarekake ana ing astana
Sastrawulan ing Majapahit, katêlah nganti saprene kocape kang sumare
ana ing kono iku Sang Putri Cêmpa, dene mungguh satêmêne Putri
Cêmpa iku sedane ana ing Tuban, dununing pasareyan ana ing Karang
Kumuning.

Barêng wis têlung dina saka sedane Sang Prabu Brawijaya, kacarita
Sultan Bintara lagi rawuh ing Ampelgadhing sarta kapanggih Nyai
Agêng.

Nyai Agêng ngandika: “Wis bêgjane Prabu Jimbun ora nungkuli
sedane ingkang rama, dadi ora bisa ngabêkti sarta nyuwun idi ênggone
jumênêng Nata, sarta nyuwun pangapura kabeh kaluputane kang wis
kêlakon”.

Prabu Jimbun ature marang Nyai Agêng, iya mung mupus pêpêsthen,
barang wis kêbacut iya mung kudu dilakoni.

Sultan Dêmak ana ing Ampel têlung dina lagi kondur.

Kacarita Adipati Pêngging lan Pranaraga, iya iku Adipati
Andayaningrat ing Pêngging lan Bathara katong ing Pranaraga, wis
padha mirêng pawarta yen nagara Majapahit dibêdhah Adipati Dêmak,
nanging ênggone mbêdhah sinamun sowan riyaya, dene ingkang rama
Sang Prabu lan putra Raden Gugur lolos saka praja, ora karuhan
jujuge ana ing ngêndi, Adipati Pêngging lan Adipati Pranaraga bangêt
dukane, mula banjur dhawuh ngundhangi para wadya sumêdya nglurug
pêrang marang Dêmak, labuh bapa ngrêbut praja, para wadya-bala wis
rumanti gêgamaning pêrang pupuh, mung kari budhale bae, kasaru
têkane utusane Sang Prabu maringake layang. Adipati Pêngging lan
Adipati Pranaraga sawise tampa layang lan diwaos, layang banjur
disungkêmi kanthi bangêt ing pamuwune lan bangêt anjêntung
panggalihe, tansah gedheg-gedheg lan gêrêng-gêrêng, wajane kêrot-
kêrot, surya katon abang kaya gêni, lan kawiyos pangandikane sêru,
kang surasane nyupatani marang panjênêngane dhewe, muga aja awet
urip, mundhak ndêdawa wirang.

Adipati sakarone padha puguh ora karsa sowan marang Dêmak,
amarga saka putêking panggalihe banjur padha gêrah, ora antara lawas
padha nêmahi seda, dene kaol kang gaib, sedane Adipati Pêngging lan
Adipati Pranaraga padha ditênung dening Sunan Giri, pamrihe supaya
aja ngribêdi ing têmbe buri. Mula carita bêdhahe Majapahit iku mung
dicêkak, ora satimbang karo gêdhene nagara sarta ambane jajahane,
amarga aran ambuka wêwadining ratu, putra mungsuh bapa, yen dirasa
satêmêne saru bangêt. Mula carita bêdhahe Majapahit sinêmonan dening
para pujangga wicaksana, mangkene pasêmone:
1. Amarga saka kramate para Wali, kêrise Sunan Giri ditarik mêtu
tawone ngêntupi wong Majapahit.
2. Sunan Cirêbon badhonge mêtu tikuse maewu-ewu, padha mangani
sangu lan bêkakas jaran, wong Majapahit bubar, amarga wêruh akehing
tikus.
3. Pêthi saka Palembang ana satêngahing paprangan dibukak mêtu
dhêmite, wong Majapahit padha kagegeran amarga ditêluh ing dhêmit.
4. Sang Prabu Brawijaya sedane mekrad.

Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi marang muride kang aran
Darmagandhul, kaya kang kapratelakake ing ngisor iki:
Kabeh mau mung pasêmon, mungguh sanyatane, carita bêdhahing
Majapahit iku kaya kang tak-caritakake ing ngarêp. Nagara Majapahit
iku rak dudu barang kang gampang rusake, ewadene bisa rusak mung
amarga dikritiki tikus. Lumrahe tawon iku bubar amarga saka dipangan
ing wong. Alas angkêr akeh dhêmite, bubaring dhêmit yen alase
dirusak dening wong, arêp ditanduri. Nanging yen Majapahit rusake
amarga saking tikus, tawon lan dhêmit, sapa kang ngandêl yen rusake
Majapahit amarga tikus, tawon lan dhêmit, iku pratandha yen wong mau
ora landhêp pikire, amarga carita kang mangkono mau kalêbu aneh lan
ora mulih ing nalar, ora cocog lair lan batine, mula mung kanggo
pasêmon, yen dilugokake jênênge ambukak wadine Majapahit, mula
mung dipralambangi pasêmon kang orang mulih karo nalare. Dene
têgêse pasêmon mau mangkene:

Tikus iku watake ikras-ikris, suwe-suwe yen diumbar banjur
ngrêbda, têgêse: para ‘ulama dhek samana, nalika lagi têkane nyuwun
panguripan marang sang Prabu ing Majapahit, barêng wis diparingi,
piwalêse ngrusak.
Tawon iku nggawa madu kang rasane manis, gêgamane ana ing silit,
dene panggonane ana ing gowok utawa tala, têgêse: maune têkane
nganggo têmbung manis, wusana ngêntup saka ing buri, dene tala
têgêse mêntala ngrusak Majapahit, sapa kang ngrungu padha gawok.

Dene dhêmit diwadhahi pêthi saka Palembang, barêng dibukak muni
jumêglug, têgêse: Palembang iku mlembang, iya iku ganti agama, pêthi
têgêse wadhah kang brukut kanggo madhahi barang kang samar,
dhêmit têgêse samar, rêmit, rungsid, dhêmit iku uga tukang nêluh.
Mungguh gênahe mangkene: bêdhahe nagara Majapahit sarana ditêluh
kalayan primpên lan samar, nalika arêp pambêdhahe ora ana rêmbag
apa-apa, samudanane mung sowan garêbêgan, dadi dikagetake, mula
wong Majapahit ora sikêp gêgaman pêrang, wêruh-wêruh Adipati
Têrung wis ambantu Adipati Dêmak.

Kuna-kunane ora ana praja gêdhe kaya Majapahit bêdhahe mung
saka diêntup ing tawon sarta dikritiki ing tikus bae, apa dene bubare
wong sapraja mung saka ditêluh ing dhêmit.

Bêdhahe Majapahit swarane jumêgur, kêprungu saka ing ngêndi-êndi
nagara, yen bêdhahe saka binêdhah dening putra, iya iku Wali wolu
utawa Sunan wolu kang padha dimêmule wong Jawa, sangane Adipati
Dêmak, kabeh mau padha mbalela mbalik.

Banjure maneh pangandikane kiyai Kalamwadi:
Kandhane guruku Rahaden Budi Sukardi, sadurunge Majapahit
bêdhah, manuk kuntul iku durung ana kang nganggo kucir, barêng
nagara wis ngalih marang Dêmak, kahanan ing dunya nuli malih, banjur
ana manuk kuntul nganggo kucir.

Prabu Brawijaya sinêmonan ing gaib: kêbo kombang atine êntek
dimangsa tuma kinjir, kêbo têgêse ratu sugih, kombang têgêse mênêng
swarane kang mbrêngêngêng, iya iku Prabu Brawijaya panggalihe têlas
nalika bêdhahe Majapahit, kajaba mung kendêl gêrêng-gêrêng bae, ora
karsa nglawan pêrang, dene tuma kijir iku tumane celeng, tuma têgêse
tuman, celeng iku iya aran andhapan, iya iku Raden Patah nalika
têkane ana ing Majapahit sumungkêm marang ingkang rama Sang
Prabu, ing wêktu iku banjur diparingi pangkat, têgêse oleh ati saka
Sang Prabu, wusana banjur mukul pêrang ngrêbut nagara, ora
ngetung bênêr utawa luput, nganti ngêntekake panggalihe Sang Prabu.

Dene kuntul nganggo kucir iku pasêmone Sultan Dêmak, ênggone
nyêri-nyêri marang ingkang rama Sang Prabu, dumeh agamane Buddha
kawak kapir kupur, mulane Gusti Allah paring pasêmon, githok kuntul
kinuciran, têgêse: tolehên githokmu, ibumu Putri Cina, ora kêna nyêri-
nyêri marang wong seje bangsa, Sang Prabu Jimbun iku wiji têlu,
purwane Jawa, iya iku Sang Prabu Brawijaya, mula Sang Prabu Jimbun
gêdhe panggalihe melik jumênêng Nata, mulane melik ênggal sugih,
amarga katarik saka ibune, dene ênggone kêndêl nanging tanpa duga
iku saka wijine Sang Arja Damar, amarga Arja Damar iku ibune putri
raksasa, sênêng yen ngokop gêtih, pambêkane siya, mula ana kuntul
nganggo kucir iku wis karsaning Allah, ora mung Sunan Dêmak dhewe
bae kang didhawuhi ngrumasani kaluputane, nanging sanadyan para
Wali liyane uga didhawuhi ngrumasani, yen ora padha gêlêm
ngrumasani kaluputane, dosane lair batin, mula jênênge Wali ditêgêsi
Walikan: dibêciki malês ngalani.

Dene anane bangsa Cina padha nênêka ana ing tanah Jawa iku
dêdongengane mangkene: Jare, dhek jaman kuna, nalika santri Jawa
durung akeh kawruhe, sawise padha mati, suksmane akeh kang katut
angin banjur thukul ana ing tanah China, mula saiki banjur padha bali
mulih marang tanah Jawa, dadi suksmane bangsa mau, iku mau-maune
iya akeh kang suksma Jawa.

Darmagandhul matur: “kiyai! Kang diarani agama Srani iku kang
kaya apa?”

Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake: “Kang diarani agama Srani iku
têgêse sranane ngabêkti: têmên-têmên ngabêkti marang Pangeran, ora
nganggo nêmbah brahala, mung nêmbah marang Allah, mula sêbutane
Gusti Kanjêng Nabi ‘Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake,
mangkono kang kasêbut ing kitab Anbiya”.

Banjure pangandikane kiyai Kalamwadi.

Sultan Dêmak waskitha ing gaib, rumaos kadukan dening Kang Maha
Kuwasa, mula banjur ngrumaosi kabeh kaluputane, nuli sowan
andêdagan ana ing pasareyane ingkang rama, barêng wis antara têlung
dina lawase, kaprênah pusêring kuburan tanpa sangkan thukul wit-
witan warna papat, siji warnane irêng sêmu abang dalah godhong sarta
kêmbange, loro wit sarta kêmbange putih godhonge sêdhêngan, têlu wit
kang godhonge ngrêmbuyut mubêng kaya payung, papat wit kang
godhonge lêmbut sarta mawa êri, lan wêktu iku sajroning pasareyane
Sang Prabu kêprungu ana swara dumêling, mangkene ujaring swara:
“Êntek katrêsnanku marang anak. Den enak mangan turu. Ana gajah
digêtak kaya kucing, sanajan matiya ing tata-kalairane, nanging lah
eling-elingên ing besuk, yen wis agama kawruh, ing têmbe bakal tak-
walês, tak-ajar wêruh ing nalar bênêr lan luput, pranatane mêngku
praja, mangan babi kaya dhek jaman Majapahit.”

Sultan Dêmak mirêng swara dumêling kang surasane mangkono iku,
ing batos bangêt kaduwung marang apa kang wis dilampahi, mula
nganti suwe njêgrêg ora bisa ngandika, ngrumaosi klirune dene nuruti
rêmbuge para Sunan kabeh, nganti wani mungsuh ingkang rama sarta
ngrusak Majapahit. Iya wiwit titi masa iku anane wit-witan warna papat
kang padha thukul ana ing kuburan, dadi pasêmon kabeh, iya iku
Tlasih, Sêmboja, Turugajah lan Gêtakkucing. Mula nganti tumêka
saprene wit Sêmboja panggonane ana ing kuburan, kêmbang Tlasih
kanggo ngirim para lêluhur, godonge Gêtakkucing yen kasenggol
banjur obah, godhonge uga banjur mingkup kaya dene godhong
Gêtakkucing.

Sawise mangkono, Sultan Dêmak banjur kondur, sakondure saka
pasareyane ingkang rama, bangêt panalangsane ing dalêm batos, tansah
ngrumaosi ing kalêpatane.

Sunan Kalijaga uga waskitha ing gaib yen sinêmonan dening Kang
Maha Kuwasa, mula uga bangêt panalangsane sarta ngrumaosi
kaluputane, mula banjur mangagêm sarwa wulung, beda karo para Wali
liyane isih padha manganggo sarwa putih. Kabeh mau ora padha
ngrumasani kaluputane, mung Sunan Kalijaga piyambak rumaos yen
kadukan dening Kang Maha Kuwasa, mula bangêt mrêtobate, wasana
banjur pinaringan pangapura dening Allah, sinêmonan wiwit anane
orong-orong githoke tumêka ing punuk disêsêli tataling kayu jati,
mungguh karêpe: punukmu panakna, sajatining ‘ilmu iku ora susah
maguru marang wong ‘Arab, ‘ilmuning Gusti Allah wis ana ing
githokmu dhewe-dhewe,wujude puji thok, nanging dudu puji jatining
kawruh, kang ngawruhi sajatining urip, urip dadi wayangan Dzating
Pangeran, manusa bisa apa, mobah mosik mung sadarma nglakoni, budi
kang ngobahake, sabda iku mêtu saka ing karêp, karêp mêtu saka ing
budi, budi iku Dzate Kang Maha Agung, agung iku wis samêkta, tanpa
kurang tan wuwuh, tanpa luwih sarta ora arah ora ênggon.

Kiyai kalamwadi nutugake caritane: “Kandhane guruku Rahaden Budi
Sukardi mangkene: mungguh kang katarima, muji marang Allah iku, iku
sindhenan Dharudhêmble. Têmbung dhar iku têgêse wudhar, ru iku
têgêse ruwêt sulit lan rungsit, dene dhêmble têgêse dhêmbel dadi siji,
yen wis sumurup têpunge sarat sari’at tarekat hakekat lan ma’rifat,
iku mau wis muji tanpa ngucap, sarak iku sarate ngaurip, iya iku
nampik milih iktiyar lan manggaota, sari’at iku saringane kawruh agal
alus, tarekat iku kang nimbang lan nandhing bênêr lan luput, hakekat
iku wujud, wujud karsaning Allah, kang ngobahake sarta ngosikake
rasane budi, wêruh ora kasamaran ing sawiji-wiji. Yen kowe wis ngrêti
marang têgêse Dharudhêmble, mêsthi wis marêm marang kawruhmu
dhewe. Mangan woh kawruh lan budi, sêmbahe kaya wêsi kang dilabuh
ana ing gêni ilang abange mung rupa siji, kang muji lan kang dipuji
wis nunggal dadi sawiji, dhêmble wujud siji. Yen kowe wis bisa
ngawruhi surasane kang tak-kandhakake iki, jênênge munajad.
Saupama wong nulup manuk, yen ra wêruh prênahe manuke, masa
kênaa, ênggone nulup mung ngawur. Yen kawruhe wong pintêr ora
angel yen disawang, mêtune saka ing utêk”.

Darmagandhul matur, nyuwun ditêrangake bab ênggone Nabi Adam
lan Babu Kawa padha kêsiku dening Pangeran, sabab saka ênggone
padha dhahar wohe kayu Kawruh kang ditandur ana satêngahing taman
Pirdus. Ana maneh kitab kang nêrangake, kang didhahar Nabi Adam lan
Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur ana ing swarga. Mula nyuwun
têrange, yen ing kitab Jawa caritane kapriye, kang nyêbutake kok
mung kitab ‘Arab lan kitabe wong Srani.

Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake, yen kitabe wong Jawa ora
nyêbutake bab mangkono iku, dene Sajarah Jawa iya ana kang
nyêbutake turun Adam, iya kitab Manik Maya.

Kiyai Kalamwadi banjur ngandhakake: “Sawise buku-buku pathokan
agama Buddha diobongi, amarga mundhak ngrêribêdi agama Rasul,
sanadyan buku kang padha disimpêni dening para wadya, iya
dipundhut banjur diobongi, nalika sabêdhahe Majapahit, sapa kang
durung gêlêm nganggo agama Islam banjur dijarah rajah, mula wong-
wong ing kono padha wêdi marang wisesaning Ratu. Dene wong-wong
kang wis padha gêlêm salin agama Rasul, banjur padha diganjar
pangkat utawa bumi sarta ora padha nyangga pajêg, mulane wong-
wong ing Majapahit banjur padha ngrasuk agama Islam, amarga padha
melik ganjaran. Ing wêktu iku Sunan Kalijaga, kagungan panggalih,
caritane lêluhure supaya aja nganti pêdhot, banjur iyasa wayang,
kanggo gantine kitab-kitab kuna kang wis padha diobongi. Ratu
Mataram uga mangun carita sajarahe para lêluhur Jawa, buku-buku
sakarine, kang isih padha disimpên uga padha dipundhut kabeh,
nanging wis padha amoh, Sang Nata ing Mataram andangu para wadya,
nanging wis padha ora mênangi, wiwit Kraton Gilingwêsi nganti tumêka
Mataram wis ora kasumurupan caritane, buku-buku asli saka ing Dêmak
lan Pajang padha dipriksa, nanging tinêmu tulisan ‘Arab, kitab Pêkih
lan Taju-salatina apa dene Surya-Alam kang kanggo pikukuh, mula
Sang Prabu ing Mataram kewran panggalihe ênggone kagungan karsa
iyasa babad carita tanah Jawa. Sang Prabu banjur dhawuh marang
para pujangga, andikakake padha gawe layang Babad Tanah Jawa,
ananging sarehne kang gawe Babad mau ora ngêmungake wong siji
bae, mula ora bisa padha gaweyane, kang diênggo pathokan layang
Lokapala, mungguh caritane kaya kang kasêbut ing ngisor iki”.

Wayahe Nabi Adam iya iku putrane Nabi Sis, arane Sayid Anwar.
Sayid Anwar didukani ingkang rama lan ingkang eyang, amarga wani-
wani mangan wohe wit kayu Budi sêngkêrane Pangeran kang tinandur
ana ing swarga. Ciptane Sayid Anwar supaya kuwasane bisa ngiribi
kaya dene kuwasane Pangeran, ora narima yen mung mangan woh
Kawruh lan woh Kuldi bae, nanging wohe kayu Budi kang disuwun.
Sayid Anwar miwiti yasa sarengat dhewe, ora karsa ngagêm agamane
ingkang rama lan ingkang eyang, dadi murtat sarta nampik agamane
lêluhure, mangkono uga karsa ngakoni yen turune Adam sarta Sis,
pangraose Sayid Anwar iku dadi saka dadine piyambak, mung waranane
bae saka Adam lan Sis, dadine saka budi hawaning Pangeran. Ênggone
Kagungan pamanggih mangkono mau diantêpi bangêt, jalaran mangkene:
asal suwung mulih marang sêpi, bali marang asale maneh. Sarehne
Sayid Anwar banjur lunga nuruti karêping atine, lakune mangetan
nganti tumêka ing tanah Dewani, ana ing kono banjur kêtêmu karo
ratuning jin arane Prabu Nuradi, Sayid Anwar ditakoni iya banjur
ngandharake lêlakone kabeh, wusanane Sayid Anwar diêpek mantu
sarta dipasrahi kaprabon, ngratoni para jin, jêjuluk Prabu Nurcahya,
wiwit jumênênge Prabu Nurcahya, jênênge nagara banjur diêlih dadi
aran nagara Jawa. Misuwure, kang jumênêng Nata, Jawa jawi ngrêti
kawruh agal alus. Sawise iku Sang Prabu banjur nganggit sastra mung
salikur aksara, saucaping wong Jawa bisa kaucap, dijênêngake Sastra
Endra Prawata. Têmbung Jawa, ditêgêsi: nguja hawa, karsane Sang
Prabu: bisaa rowa, saturun-turune bisaa jumênêng Nata mêngkoni
tanah Jawa. Sang Prabu putrane siji pêparab Sang Hyang Nurrasa, uga
dhaup karo putri jin putrane mung siji iya iku Sang Hyang Wênang.
Sang Hyang Wênang uga dhaup karo putri jin, dene putrane uga mung
siji kakung pêparab Sang Hyang Tunggal, krama oleh putri jin. Sang
Hyang Tunggal pêputra Sang Hyang Guru, kabeh mau turune Sang
Hyang Nurcahya, kang padha didhahar woh wit kayu Budi. Sang Hyang
Guru kagungan pangraos yen kuwasane padha karo Gusti Allah, mula
banjur iyasa kadhaton ana pucaking Mahameru, sarta ngakoni yen
purwaning dumadi mêtune asal saka budi hawa nêpsu. Aran Dewa
ngaku misesani mujudake sipat roh, agamane Buddha budi, mangeran
digdayane sarta ngaku Gusti Allah. Sêdya kang mangkono mau iya
diideni dening Kang Maha Kuwasa, sarta kalilan nimbangi jasane Kang
Maha Kuwasa. Dewa iku wêrdine ana loro têgêse: budi hawa, sarta: wadi
dawa, mulane agamane Buddha. Sêbutan Dewi: têgêse: dening wadining
wadon iku bisa ngêtokake êndhas bocah.

Darmagandhul didhawuhi nimbang mungguh kang bênêr kang êndi,
mangan woh wit kayu Kawruh, apa wit kayu Budi, apa woh wit Kuldi?

Saka panimbange Darmagandhul, kabeh iku iya bênêr, sênêngan
salah siji êndi kang disênêngi, diantêpi salah siji aja nganti luput. Yen
kang dipangan woh wit kayu Budi, agamane Buddha budi, panyêbute
marang Dewa; manawa mangan woh wit kawruh, pênyêbute marang
Kangjêng Nabi ‘Isa, agamane srani, yen sênêng mangan woh wit kayu
Kuldi, agamane Islam, sambate marang nabi panutan; iya iku Gusti
Kangjêng Nabi Rasul; dene yen dhêmên Godhong Kawruh Godhong Budi,
panêmbahe marang Pikkong, sarta manut sarake Sisingbing lan Sicim;
salah sijine aja nganti luput. Yen bisa woh-wohan warna têlu iku mau
iya dipangan kabeh, yen wong ora mangan salah sijine woh mau,
mêsthine banjur dadi wong bodho, uripe kaya watu ora duwe
kêkarêpan lan ora mangrêti marang ala bêcik. Dene mungguh bêcike
wong urip iku mung kudu manut marang apa alame bae, dadi ora aran
siya-siya marang uripe, yen Kalifah dhahar woh Budi, iya melu mangan
woh Budi, yen Kalifah dhahar woh kawruh, iya melu mangan woh
kawruh, yen kalifah dhahar woh Kuldi, iya melu mangan woh Kuldi.
Dene prakara bênêr utawa lupute, uki Kalifah kang bakal tanggung.
Sarehne diênut wong akeh, dadi Panutan kudu kang bênêr, amarga
wong dadi Panutan iku saupama têtuwuhan minangka wite. Yen wong
ora gêlêm manut marang kang bênêre kudu diênut, iku kaya dene iwak
kang mêtu saka ing banyu. Saupama woh ora gêlêm nempel wit, mêsthi
dadi glundhungan kang tanpa dunung. Awit saka iku, mulane wong iku
kudu ngelingi marang agamane kang nurunake, amarga sanadyan
saupama ana salahe, Gusti Allah mêsthi paring pangapura.
Darmagandhul matur nyuwun têrange agama Rasul lan liya-liyane,
mungguh kang dadi bedane apa?

Kiyai Kalamwadi banjur nêrangake beda-bedane, yen saka dhawuhe
kang Maha Kuwasa, manusa didhawuhi muja marang agamane. Nanging
banjur akeh kang kliru muja marang barang kang katon, kaya ta
kêris, tumbak, utawa liya-liyane barang. Kang kaya mangkono mau
ngrusakake agama, amarga banjur mangeran marang wujud, satêmah
lali marang Pangerane, amarga maro tingal marang barang rêrupan.
Wong urip iku kudu duwe gondhelan agama, amarga yen ora duwe
agama mêsthi duwe dosa, mung bae dosane mau ana kang sathithik lan
ana kang akeh. Dene kang bisa nyirnakake (nyudakake) dosa iku,
mung banyu suci, iya iku tekad suci lair batin. Kang diarani banyu
tekad suci iku kang êning, iya iku minangka aduse manusa, bisa
ngrêsiki lair batine. Yen wong luwih, ora ngarêp-arêp munggah
swarga, kang digoleki bisaa nikmat mulya punjula saka sapadhane, aja
nganti nêmu sangsara, bisaa duwe jênêng kang bêcik, sinêbut kang
utama, bisaa nikmat badan lan atine, mulya kaya maune, kaya nalika
isih ana ing alam samar, ora duwe susah lan prihatin. Lawang swarga
iku prêlu dirêsiki, dirêngga ing tekad kang utama, supaya aja
ngrêribêdi ana ing donyane, bisaa slamêt lair batine. Kang diarani
lawang swarga lan lawang nêraka iku, pancadan kang tumuju marang
kabêgjan utawa kacilakan. Yen bêcik narik raharja, yen ala ngundhuh
cilaka, mula pangucap kang ala, mêsthi mlêbu yomani. Yen bêcik, bisa
tampa ganjaran.

Darmagandhul matur maneh, nyuwun têrange, manusa ing dunya
wujude mung lanang lan wadon, dadine kok banjur warna-warna, ana
Jawa, ‘Arab, Walanda lan Cina. Dene sastrane kok uga beda-beda. Iku
maune kêpriye, dalah têgêse sarta cacahing aksarane kok uga beda-
beda. Geneya kok ora nganggo aksara warna siji bae?

Kyai Kalamwadi banjur nêrangake, yen kabeh-kabeh mau wis dadi
karsane Kang Maha Kuwasa. Mula aksarane digawe beda-beda, supaya
para kawulane padha mangan woh wit kayu Budi lan woh wit kayu
Kawruh, amarga manusa diparingi wahyu kaelingan, bisa mêthik woh
Kawruh lan woh Budi, pamêthike sapira sagaduke. Gusti Allah uga iyasa
sastra, nanging sastrane nglimputi ing jêro, lan manut wujud, iya iku
kang diarani sastra urip, manusa ora bisa anggayuh, sanadyan para
Auliya sarta para Nabi ênggone nggayuh iya mung sagaduke. Woh wit
Kawruh lan woh wit Budi ditandhani nganggo sipat wujud, dicorek ana
ing dluwang, nganggo mangsi supaya wong bisa wêruh, mula jênênge
dalwang, têgêse mêtu wangune, mangsi têgêse mangsit, dadi yen
dalwang ditrapi mangsi, mêsthi banjur mêtu wangune, mangsit mangan
kawruh, mula jênêng kalam, amarga kawruhe anggawa alam. Sastra
warna-warna paringe kang Maha-Kuwasa, iku wajib dipangan, supaya
sugih pangrêten lan kaelingan, mung wong kang ora ngrêti sastra
paringe Gusti Allah, mêsthi ora mangêrti marang wangsit. Auliya Gong
Cu kumênthus niru sastra tulisan paringe Gusti allah, nanging
panggawene ora bisa, sastrane unine kurang, dadi pelon, para Auliya
panggawene sastra dipathoki cacahe, mung aksara Cina kang akeh
bangêt cacahe, nanging unine pelo, amarga Auliya kang nganggit
kêsusu mangan woh Kawruh, ing mangka iya kudu mangan woh wit
kayu Budi. Auliya mau lali yen tinitah dadi manusa. Ewadene mêksa
nganggo kuwasane Kang Maha Kuwasa, anggayuh kang dudu wajibe,
kêsusu tampa panglulu nganggit sastra kang nganti tanpa etungan
cacahe, jênênge sastra godhong. Godhonge wit Budi lan wit Kawruh,
dipêthik saka sathithik, ditata dikumpulake, banjur dianggit kanggo
sastra, mulane aksarane nganti ewon. Auliya Cina kêsiku, amarga arêp
gawe sastra urip kaya yasane Gusti Allah. Auliya Jawa ênggone mangan
woh wit kayu Budi nganti warêg, mula ênggone nganggit aksara iya
dipathoki cacahe. Auliya Arab ênggone mangan woh wit kayu Kuldi
akeh bangêt. Dene ênggone nganggit aksara iya dipathoki cacahe.
Nanging yen sastra yasane Gusti Allah, dadine saka sabda, wujude dadi
dhewe, mulane unine iya cêtha, sastrane ora ana kang padha.

Darmagandhul banjur didhawuhi nimbang, mungguh anggitane para
Auliya kabeh mau kang mratandhani asor luhuring budine kang êndi?

Saka panimbange Darmagandhul, kabeh mau iya bênêr, nanging
anggêr mêtu saka budi. Dene kang gawe aksara mung sathithik,
nanging wis bisa nyukupi, iku mratandhani yen luwih pintêr tinimbang
karo liya-liyane.

Kiyai Kalamwadi ngandika: “Yen manusa arêp wêruh sastrane Gusti
Allah, tulisan mau ora kêna ditonton nganggo mripat lair – kudu
ditonton nganggo mripat batin. Yen mangkono iya bisa katon, Gusti
Allah iku mung sawiji, nanging Dzate nyarambahi sakabehing wujud.
Yen ndêlêng kudu nganggo ati kang bêning, ora kêna kacampuran
pikiran kang warna-warna, sarta kudu kang mêlêng ênggone mawas,
supaya ora bisa kliru karo kanyatane”.

Kiyai Kalamwadi lênggah diadhêp garwane aran Endhang Prêjiwati.
Darmagandhul sarta para cantrik iya padha marak. Kiyai Kalamwadi
paring piwulang marang garwane, dadi nêtêpi jênênge priya kudu
mulang muruk marang rabine. Dene kang diwulangake, bab kawruh
kasunyatan sarta kawruh kang kanggo yen wis tumêka ing pati, ing
wong sêsomahan iku. Kang wadon diupamakake omah, sanadyan
kahanane wis sarwa bêcik. Nanging sabên dinane isih kudu dipiyara
lan didandani. Saka pangandikane Kiayi Kalamwadi, wong iku yen
dipitakoni, satêmêne ragane wis bisa mangsuli, sabab ing kono wis ana
pangandikane Gusti Allah paring piwulang, nanging ora mêtu ing lesan,
mung paring sasmita kang wis ditulis ana saranduning badan sakojur.

Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Sarehne aku iku wong cubluk, dadi
ora bisa aweh piwulang kang endah, aku mung arêp pitakon marang
ragamu, amarga ragamu iku wis bisa sumaur dhewe”.

Banjure pangandika kiyai Kalamwadi kaya ing ngisor iki. Tanganmu
kiwa iku wis anggawa têgês dhewe, lan wis dadi piwulang kang bêcik
lan nyata, kang anuduhake yen ragamu iku wujude kiwa, mung hawa
kang katon. Têmbung ki: iku têgêse iki, wa: têgêse wêwadhah, ragamu
iku di’ibaratake prau, prau dadi ‘ibarate wong wadon, wong têgêse
ngêlowong, wadon têgêse mung dadi wadhah, dene isine mung têlung
prakara, iya iku: “kar-ri-cis”. Yen prau wis isi têlung prakara iku,
wong wadon wis kêcukup butuhe, dadi ora goreh atine. Dene têgêse
kar-ri-cis iku mangkene.

1. Kar, têgêse dakar, iya iku yen wong lanang wis bisa nêtêpi
lanange, mêsthi wong wadon atine marêm, wusanane dadi nêmu
slamêt ênggone jêjêdhowan.

2. Ri, têgêse pari, iya iku kang minangka pangane wong wadon, yen
wong lanang wis bisa nyukupi pangane, mêsthi wong wadon bisa
têntrêm ora goreh.

3. Cis, têgêse picis, utawa dhuwit, ya iku yen wong lanang wis bisa
aweh dhuwit kang nyukupi, mêsthi wong wadon bisa têntrêm,
tak baleni maneh, cis têgêse bisa goreh atine.

Kosok baline yen wong lanang ora bisa aweh momotan têlung
prakara mau, wong wadon bisa goreh atine.
Tangan têngên têgêse etungên panggawemu, sabên dina sudiya,
sanggup dadi kongkonan, wong wadon wis dadi wajibe ngrewangi kang
lanang anggone golek sandhang pangan.

Bau têgêse kanthi, gênahe wong wadon iku dadi kanthine wong
lanang, tumrap nindakake samubarang kang prêlu.

Sikut têgêse singkurên sakehing panggawe kang luput.
Ugêl-ugêl têgêse sanadyan tukar padu, nanging yen isih padha
trêsnane iya ora bisa pêdhot.
Epek-epek têgêse ngêpek-ngêpek jênênge kang lanang, awit wong
wadon iku yen wis laki, jênênge banjur melu jênênge kang lanang. Iya
iku kang diarani warangka manjing curiga, warangkane wanita,
curigane jênênge wong lanang.

Rajah (ing epek-epek) têgêse wong wadon iku panganggêpe marang
guru-lakine dikaya dene panganggêpe marang raja.

Driji têgêse drêjêg utawa pagêr, iya iku idêrana jiwamu nganggo
pagêr kautaman, wanita iku kudu andarbeni ambêk kang utama, dene
driji kabeh mau ana têgêse dhewe-dhewe.

Jêmpol têgêse êmpol, yen wanita dikarsakake dening priyane, iku
kang gampang gêtas rênyah kaya dene êmpoling klapa.

Driji panuduh têgêse wanita nglakonana apa sapituduhe kang priya.

Driji panunggul, têgêse wanita wajib ngunggulake marang priyane,
supaya nyupangati bêcik.

Driji manis, têgêse wanita kudu duwe pasêmon utawa polatan kang
manis, wicarane kudu kang manis lan prasaja.

Jênthik, têgêse wong wadon iku panguwasane mung sapara limane
wong lanang, mula kudu sêtya tuhu marang priyane.

Kuku têgêse ênggone rumêksa marang wadi, paribasane aja nganti
kêndho tapihe.

Mungguh pikikuhe wong jêjodhowan iku, wanita kudu sêtya marang
lakine sarta nglakoni patang prakara, iya iku: pawon, paturon,
pangrêksa, apa dene kudu nyingkiri padudon.

Wong jêjodhowan yen wis nêtêpi kaya piwulang iki, mêsthi bisa
slamêt sarta akeh têntrême.

Kiyai Kalamwadi banjur paring pangandika maneh, dene kang
dipangandikakake bab pikukuhe wong jêjodhowan. Saka pangandikane
kiyai Kalamwadi, wong jêjodhowan iku pikukuhe kudu duwe ati eling,
aja nganti tumindak kang ora bênêr. Mungguh pikukuhe wong laki-rabi
iku, dudu dunya lan dudu rupa, pikukuhe mung ati eling. Wong
jêjodhowan, yen gampang luwih gampang, nanging yen angel, angele
ngluwihi. Wong jêjodhowan itu luput pisan kêna pisan, yen wis luput,
ora kêna tinambak ing rajabrana lan rupa. Wanita kudu tansah eling
yen winêngku ing priya, yen nganti ora eling, lupute banjur ngambra-
ambra, amargi yen wanita nganti cidra, iku ugi ngilangake Pangerane
wong jêjodhowan, dene kang diarani cidra iku ora mung jina bae,
nanging samubarang kang ora prasaja iya diarani cidra, mula wanita
kudu prasaja lair batine, amarga yen ora mangkono bakal nandhang
dosa rong prakara, kang sapisan dosa marang kang lanang, kapindhone
dosa marang Gusti Allah, kang mangkono iku mêsthi ora bisa nêmu
lêlakon kang kapenak.
Mula ati, kudu tansah eling, amarga tumindaking badan mung manut
karêping ati, awit ati iku dadi ratuning badan. Wong jêjodhowan
di’ibaratake prau kang gêdhe, lakuning prau manut satang lan
kêmudhine, sanadyan satange bênêr, yen kêmudhine salah, prau ora
bêcik lakune. Wong lanang iku lakuning satang, dene kang wadon
ngêmudheni, sanadyan bêcik ênggone ngêmudheni, nanging yen kang
nyatang ora bênêr, lakune prau iya ora bisa jêjêg, sarta bisa têkan
kang disêdya, amarga kang padha nglakokake padha karêpe, dadi
têgêse, wong jêjodhowan, kudu padha karêpe, mula kudu rukun, rukun
iku gawe karaharjan sarta mahanani katêntrêman, ora ngêmungake
wong jêjodhowan kang rukun bae, kang oleh katêntrêmaning ati,
sanadyan tangga têparone iya melu têntrêm, mula wong rukun iku
bêcik bangêt.

Kowe tak-pituturi, mungguh dalane kamulyan iku ana patang
prakara:
(1) Mulya saka jênêng.
(2) Mulya saka bandha.
(3) Mulya saka sugih ‘ilmu.
(4) Mulya saka kawignyan.

Kang diarani mulya saka jênêng, iku wong kang utama, bisa oleh
kabêgjan kang gêdhe, nanging kabêgjane mau ora mung kanggo awake
dhewe, kapenake uga kanggo wong akeh liyane. Dene kang mulya saka
ing bandha, lan mulya saka ênggone sugih ‘ilmu, lan mulya saka
kapintêran, iku ana ngêndi bae, iya akeh rêgane.

Mungguh dalane kasangsaran uga ana patang prakara:

(1) Rusaking ati, manusa iku yen pikire rusak, ragane mêsthi iya
melu rusak.
(2) Rusaking raga, iya iku wong lara.
(3) Rusaking jênêng, iya iku wong mlarat.
(4) Rusaking budi, iya iku wong bodho, cupêt budine, wong
bodho lumrahe gampang nêpsune.

Kang diarani tampa kanugrahing Gusti Allah, iya iku wong kang
sêgêr kawarasan sarta kacukupan, apa dene têntrêm atine.

Wong urip kang kêpengin bisaa dadi wong utama, duweya jênêng
kang bêcik, kanggo têtuladhan marang wong kang padha ditinggal ing
têmbene”.

Ki Darmagandhul matur lang nyuwun ditêrangake bab anane wong
ing jaman kuna karo wong ing jaman saiki, iku satêmêne pintêr kang
êndi, amarga wong akeh panêmune warna-warna tumrape bab iku.

Pangandikane kiyai Kalamwadi: “Wong kuna lan wong saiki, iku
satêmêne iya padha pintêre, mung bae tumrape wong ing jaman kuna,
akeh kang durung bisa mujudake kapintêrane, mula katone banjur
kaya dene ora pintêr. Ana dene wong ing jaman saiki ênggone katon
luwih pintêr iku amarga bisa mujudake kapintêrane. Wong ing jaman
kuna kapintêrane iya wis akeh, dene kang mujudake iya iku wong ing
jaman saiki. Saupama ora ana kapintêrane wong ing jaman kuna, mêsthi
bae tumrape wong ing jaman saiki ora ana kang kanggo têtuladhan,
amarga kahanan saiki iya akeh kang nganggo kupiya kahanan ing
jaman kuna. Wong ing jaman saiki ngowahi kahanan kang wis ana, êndi
kang kurang bêcik banjur dibêcikake. Wong ing jaman saiki ora ana
kang bisa nganggit sastra, yen manusa iku rumasa pintêr, iku têgêse
ora rumasa yen kawula, mangka uripe manusa mung sadarma nglakoni,
mung sadarma nganggo raga, dene mobah mosik, wis ana kang murba.
Yen kowe arêp wêruh wong kang pintêr têmênan, dununge ana wong
wadon kang nutu sabên dina, tampahe diiseni gabah banjur diubêngake
sadhela, gabah kang ana kabur kabeh, sawise, banjur dadi beda-beda,
awujud bêras mênir sarta gabah, nuli mung kari ngupuki bae,
sabanjure dipilah-pilah. Têgêse: bêras yen arêp diolah kudu dirêsiki
dhisik, miturut kaya karêpe kang arêp olah-olah. Yen kowe bisa
mangreh marang manusa, kaya dene wong wadon kang nutu mau,
ênggone nyilah-nyilahake bêras aneng tampah, kowe pancen wong
linuwih, nanging kang mangkono mau dudu kawadjibanmu, awit iku
dadi kawajibane para Raja, kang misesa marang kawulane. Dene kowe,
mung wajib mangrêti tataning praja supaya uripmu aja kongsi dikul
dening sapadhaning manusa, uripmu dadi bisa slamêt, kowe bakal dadi
têtuwa, kêna kanggo pitakonan tumraping para mudha bab pratikêle
wong ngawula ing praja. Mula wêlingku marang kowe, kowe aja pisan-
pisan ngaku pintêr, amarga kang mangkono mau dudu wajibing manusa,
yen ngrumasani pintêr, mundhak kêsiku marang Kang Maha Kuwasa,
kaelokane Gusti Allah, ora kêna ginayuh ing manusa, ngrumasanana yen
wong urip iku mung sadarma, ana wong pintêr isih kalah pintêr karo
wong pintêr liyane, utawa uga ana wong pintêr bisa kasoran karo
wong kompra, bodho pintêring manusa iku saka karsane Kang Maha
Kuwasa, manusa anduweni apa, bisane apa, mung digadhuhi sadhela
dening Kang Maha Kuwasa, yen wis dipundhut, kabeh mau bisa ilang
sanalika, saka kalangkungane Gusti Allah, yen kabeh mau kapundhut
banjur diparingake marang wong kompra, wong kompra banjur duwe
kaluwihan kang ngungkuli kaluwihane wong pintêr. Mula wêlingku
marang kowe, ngupayaa kawruh kang nyata, iya iku kawruh kang
gandheng karo kamuksan”.

Ki Darmagandhul banjur matur maneh, nyuwun têrange bab tilase
kraton Kêdhiri, iya iku kratone Sang Prabu Jayabaya.
Kiyai Kalamwadi ngandika: “Sang Prabu Jayabaya ora jumênêng ana
ing Kêdhiri, dene kratone ana ing Daha, kaprênah sawetane kali
Brantas. Dene yen Kêdhiri prênahe ana sakuloning kali Brantas lan
sawetaning gunung Wilis, ana ing desa Klotok, ing kono iku ana bata
putih, iya iku patilasane Sri Pujaningrat. Dene yen patilasane Sri
Jayabaya ika ana ing daha, saikine jênênge desa Mênang, patilasane
kadhaton wis ora katon, amarga kurugan ing lêmah lahar saka gunung
Kêlut, patilasan-patilasan mau wis ilang kabeh, pasanggrahan Wanacatur
lan taman Bagendhawati uga wis sirna, dene pasanggrahan Sabda,
kadhatone Ratu Pagêdhongan uga wis sirna. Kang isih mung rêca
yasane Sri Jayabaya, iya iku candhi Prudhung, Têgalwangi, prênahe in
sa-lor-wetane desa Mênang, lan rêca buta wadon, iya iku rêca kang
diputung tangane dening Sunan Benang nalika lêlana mênyang Kêdhiri,
rêca mau lungguhe madhêp mangulon, ana maneh rêca jaran awak siji
êndhase loro, panggonane ana ing desa Bogêm, wêwêngkon dhistrik
Sukarêja, mula Sri Jayabaya yasa rêca, mangkene caritane, (kaya kang
kapratelakake ing ngisor ini)”.

Ing Lodhaya ana buta wadon ngunggah-unggahi Sang Prabu
Jayabaya, nanging durung nganti katur ing ngarsa Prabu, buta wadon
wis dirampog dening wadya cilik-cilik, buta wadon banjur ambruk,
nanging durung mati, barêng ditakoni, lagi waleh yen sumêdya
ngunggah-unggahi Sang Prabu. Sang Prabu banjur mriksani putri buta
mau, barêng didangu iya matur kang dadi sêdyane. Sang Prabu banjur
paring pangandika mangkene: “Buta! andadekna sumurupmu, karsaning
Dewa Kang Linuwih, aku iku dudu jodhomu, kowe dak-tuturi, besuk
sapungkurku, kulon kene bakal ana Ratu, nagarane ing Prambanan, iku
kang pinasthi dadi jodhomu, nanging kowe aja wujud mangkono,
wujuda manusa, aran Rara Jonggrang”.

Sawise dipangandikani mangkono, putri buta banjur mati. Sang
Prabu banjur paring pangandika marang para wadya, supaya desa ing
ngêndi papan matine putri buta mau dijênêngake desa Gumuruh. (11)
Ora antara suwe Sri Jayabaya banjur jasa rêca ana ing desa Bogêm.
Rêca mau wujud jaran lagaran awak siji êndhase loro, kiwa têngên
dilareni. Patihe Sang Prabu kang aran Buta Locaya sarta Senapatine
kang aran Tunggulwulung padha matur marang sang Prabu, kang
surasane nyuwun mitêrang kang dadi karsa-Nata, ênggone Sang Prabu
yasa rêca mangkono mau, apa mungguh kang dadi karsane.
Sang Prabu banjur paring pangandika, yen ênggone yasa rêca kang
mangkono itu prêlu kanggo pasêmon ing besuk, sapa kang wêruh
marang wujude rêca iku mêsthi banjur padha mangrêti kang dadi
tekade wong wadon ing jaman besuk, yen wis jaman Nusa Srênggi.
Bogêm têgêse wadhah bangsa rêtna-rêtna kang adi, têgêse wanita iku
bangsa wadhah kang winadi.
Laren (12) kang ngubêngi jaran têgêse iya sêngkêran. Dene jaran
sêngkêran iya iku ngibaratake wong wadon kang disêngkêr.
Sirah loro iku dadi pasêmone wong wadon ing jaman besuk, kang
akeh padha mangro tingal, sanadyan ora kurang ing panjagane, iya
bisa cidra, lagaran, iku têgêse tunggangan kang tanpa piranti. Ing
jaman besuk, kang kêlumrah wong arêp laki-rabi, ora nganggo idine
wong tuwane, margane saka lagaran dhisik, yen wis mathuk pikire, iya
sida diêpek rabi, nanging yen ora cocog , iya ora sida laki-rabi.

Sang Prabu ênggone yasa candhi, prêlu kanggo nyêdhiyani yen ana
wadyabala kang mati banjur diobong ana ing kono, supaya bisa sirna
mulih marang alam sêpi. Yen pinuju ngobong mayit, Sang Prabu uga
karsa rawuh ngurmati.

Kang mangkono iku wis dadi adate para raja ing jaman kuna. Mula
kang dadi panyuwunku marang Dewa, muga Sang Prabu karsa yasa
candhi kanggo pangobongan mayit, kaya adate Raja ing jaman kuna,
amarga aku iki anak dhalang, aja suwe-suwe kaya mêmêdi, duwe rupa
tanpa nyawa, bisaa mulih marang asale.

Samuksane Sang Prabu Jayabaya, Patih Buta Locaya sarta Senapati
Tunggulwulung, apa dene putrane Sang Prabu kang kêkasih Ni Mas
Ratu Pagêdhongan, kabeh banjur padha andherek muksa.

Buta Locaya banjur dadi ratuning dhêdhêmit ing Kêdhiri.
Tunggulwulung ana ing gunung Kêlut, dene Ni Mas Ratu Pagêdhongan
banjur dadi ratuning dhêdhêmit ana ing sagara kidul, asmane ratu
Anginangin.

Ana kêkasihe Sang Prabu Jayabaya, jênênge Kramatruna, nalika Sri
Jayabaya durung muksa, Kramatruna didhawuhi ana ing sêndhang
Kalasan. Sawise têlung atus taun, putrane Ratu ing Prambanan, kêkasih
Lêmumbardadu iya Sang Pujaningrat, jumênêng Nata ana ing Kêdhiri,
kadhatone ana sakuloning bangawan (3), kêdhi têgêse wong wadon
kang ora anggarap sari, dene dhiri iku têgêse anggêp, kang paring
jênêng iku Rêtna Dewi Kilisuci, dicocogake karo adate Sang Rêtna
piyambak, amarga Sang Rêtna Dewi Kilisuci iku wadat, sarta ora
anggarap sari. Dewi Kilisuci nyawabi nagarane, aja akeh gêtihe wong
kang mêtu. Mula Kêdhiri iku diarani nagara wadon, yen nglurug
pêrang akeh mênange, nanging yen dilurugi apês. Kang kêlumrah
pambêkane wanita ing Kêdhiri iku gêdhe atine, amarga kasawaban
pambêkane Sang Rêtna Dewi Kilisuci. Dene Rêtna Dewi Kilisuci iku
sadhereke sêpuh Nata ing Jênggala. Sang Rêtna mau tapa ana ing guwa
Selamangleng, sukune gunung Wilis.

WUWUHAN KATÊRANGAN.

Kanjeng Susuhunan Ampeldênta pêputra ratu Fatimah, patutan saka
Nyai Agêng Bela. Ratu Fatimah krama oleh pangeran Ibrahim, ing
Karang Kumuning Satilare Pangeran Karang Kumuning. Ratu Fatimah
banjur tapa ana ing manyura, karo Pangeran Ibrahim Ratu Fatimah
pêputra putri nama Nyai Agêng Malaka, katêmokake Raden Patah.

Raden Patah (Raden Praba), putrane Prabu Brawijaya patutan saka
putri Cêmpa kang katarimakake marang Arya Damar Adipati ing
Palembang, barêng Raden Patah wis jumênêng Nata, jêjuluk Sultan
Syah ‘Alam Akbar Siru’llah Kalifatu’lRasul Amiri’lMu’minin
Rajudi’l’Abdu’l Hamid Kak, iya Sultan Adi Surya ‘Alam ing Bintara
(Dêmak).

Putri Cêmpa nama Aranawanti (Ratu Êmas) kagarwa Prabu Brawijaya,
pêputra têlu:
1. Putri nama Rêtna Pambayun, katrimakake marang Adipati
Andayaningrat ing Pêngging, nalika jaman pambalelane nagara Bali
marang Majapahit.
2. Raden Arya Lêmbupêtêng Adipati ing Madura.
3. Isih timur rêmên marang laku tapa, nama Raden Gugur, barêng
muksa kasêbut nama Sunan Lawu.

Panênggak Putri Cêmpa nama Pismanhawanti kagarwa putrane
Jumadi’lKubra I, patutan saka ibu Sitti Fatimah Kamarumi, isih têdhake
Kangjêng Nabi Mukammad, asma Maulana Ibrahim, dêdalêm ana ing
Jeddah, banjur pindhah ing Cêmpa, dadi Imam ana ing Asmara tanah
ing Cêmpa, banjur kasêbut nama Maulana Ibrahim Asmara, iku kang
pêputra Susuhunan Ampeldênta Surabaya.
Dene putra Cêmpa kang waruju kakung, nama Awastidab, wus
manjing Islam, nyakabat marang maulana Ibrahim, jumênêng Raja
Pandhita ing Cêmpa anggênteni ingkang rama, pêputra siji kakung
kêkasih Raden Rachmat.
Kang ibu putri Cêmpa (garwa Maulana Ibrahim), pêputra Sayid ‘Ali
Rachmat, ngêjawa nama Susuhunan Katib ing Surabaya, dêdalêm ing
Ampeldênta, kasêbut Susuhunan Ampeldênta.
Cêmpa iku kutha karajan ing India buri (Indo china).
Sayid Kramat kang kasêbut ing buku iki pêparabe Susuhunan ing
Bonang (Sunan Benang).

TAMAT.

(1) Kulon kutha Majakêrta lêt +/- 10 km.
(2) Pêlabuhane saiki aran: “Haipong”.
(3) Lor Stasiyun: Surabaya kota “Sêmut”.
(4) Benang = Bonang ing Karêsidhenan Rêmbang.
(5) Tarik.
(6) Kulon kutha Kêdhiri.
(9) Akire Mênang didêgi pabrik gula arane iya pabrik Mênang,
stasiyune ing Gurah antarane Kêdhiri – Pare +/- 7 km. saka Kêdhiri.
(10) Kidul Majaagung lêt +/- 15-16 km. Saiki dicêluk desa Ngrimbi.
(11) Ing sacêlakipun pabrik Mênang, wontên dhusun nama Guruh.
1. mbok manawi ewah-ewahan saking Gumêrah-Gumuruh.
2. Gurah = gusah.
3. ngrêsiki gorokan.

(12) Laren = kalenan.
(13) Bangawan = Brantas.





Semar (Bagian 1)

26 11 2008

Semar adalah titisan Shang Hyang Bhatara Ismaya yang sebelumnya hidup di alam Sunyaruri. Turun ke dunia dan manitis di dalam diri Janggan Semarasunta seorang abdi dari Sapta Arga, mengingat bersatunya antara Bhatara Ismaya dan Janggan Semarasunta kemudian populer dengan nama Semar yang merupakan penyelenggaraan Ilahi. Maka kemunculan tokoh Semar diterjemahkan sebagai kehadiran Sang Pencipta dalam kehidupan nyata. Dengan cara yang tersamar penuh misteri.

Dari bentuknya saja tokoh ini memang sulit untuk ditebak atau tidak mudah untuk diterka. Wajahnya adalah wajah laki-laki. Namun badannya serba bulat, payudara montok seperti layaknya seorang wanita. Rambut putih dan kerut wajahnya menunjukkan bahwa ia telah berusia lanjut, namun rambutnya yang dipotong kuncung seperti anak-anak. Bibirnya berkulum senyum, namun matanya selalu mengeluarkan air mata. Ia menggunakan kain sarung bermotif kawung, memakai sabuk tampar, seperti layaknya pakaian yang digunakan oleh kebanyakan abdi. Namun bukankah ia adalah titisan dari Bhatara Ismaya seorang Dewa anak dari Shang Hyang Wasisa Pencipta Alam Semesta seperti yang telah kita lihat dalam urutan asal usul manusia sejak dari Shang Hyang Tunggal?

Dengan bentuk dan gambaran yang demikian, dimaksudkan bahwa Semar selain sebagai sosok yang syarat misteri, Ia juga sebagai simbol kesempurnaan hidup. Di dalam Semar terdapat karakter wanita , karakter laki-laki, karakter anak-anak dan karakter orang dewasa atau orang tua. Ekspresi gembira dan ekspresi sedih bercampur menjadi satu. Kesempurnaan tokoh Semar menjadi lengkap ditambah dengan jimat Mustika Manik Astagina, pemberian Shang Hyang Wasisa atau Shang Hyang Tunggal , yang disimpan dikuncungnya. Jimat tersebut mempunyai delapan daya yaitu: terhindar dari lapar, ngantuk, asmara, sedih, capek, sakit panas, dan dingin. Delapan kasiat dari jimat Mustika Manik Astagina tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa, walaupun Semar hidup didalam alam kodrad, Ia berada diatas kodrad itu sendiri. Ia adalah simbul misteri kehidupan, sekaligus juga dari kehidupan itu sendiri.

Jika kita memahami hidup adalah merupakan anugerah dari Shang Maha Hidup, maka Semar merupakan anugerah Shang Maha Hidup yang hidup dalam kehidupan nyata. Tokoh yang diikuti Semar adalah gambaran yang riil, bahwa sang tokoh tersebut senantiasa menjaga, mencintai, dan menghidupi hidup itu sendiri, yaitu hidup yang berasal dari Sang Maha Hidup. Jika hidup itu dijaga, dipelihara, dicintai maka hidup itu akan berkembang mencapai puncak dan menyatu kepada Sang Sumber Hidup, manunggaling kawulo kalawan Gusti

Pada upaya bersatunya kawulo lan Gusti inilah, Semar dan perananannya menjadi penting. Karena di dalam makna yang disimbolkan dan yang terkandung dalam tokoh Semar, orang akan mampu mengembangkan hidupnya hingga mencapai titik kesempurnaan, dan menyatu dengan Tuhan atau Shang Hyang Tunggal.

Selain sebagai simbol sebuah proses kehidupan yang akhirnya dapat membawa kehidupan seseorang kembali dan bersatu kepada Sang Sumber Hidup, Semar menjadi tanda sebuah rahmat Ilahi (Wahyu) kepada titahnya. Ini disimbolkan dengan kepanjangan dari nama Semar, yaitu Badranaya. Badra artinya Rembulan atau suatu keberuntungan yang baik. Sedangkan Naya artinya: adalah perilaku kebijaksanaan. Badranaya artinya : di dalam perilaku kebijaksanaan yang baik, tersimpan sebuah keberuntungan yang baik. Bagai orang kejatuhan rembulan atau mendapat wahyu.

Namun ada pula yang mengartikan Badra sebagai Bebadra yaitu membangun sebuah sarana dari dasarnya, serta Naya dari Nayaka yaitu utusan dalam hal Tata Susila. Jika digabungkan mempunyai makna “Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Tuhan demi kesejahteraan manusia.”

Dalam lakon wayang, yang bercerita tentang Wahyu, tokoh Semar Badranaya menjadi rebutan para Raja dan Ksatria. Karena dapat dipastikan dengan memiliki Semar Badranaya, maka Wahyu akan berada dipihaknya.

Dalam hal ini sangatlah menarik, karena ada dua sudut pandang yang berbeda. Ketika para Raja, Ksatria, dan para pendeta memperebutkan Semar Badranaya dalam usahanya mendapatkan Wahyu. Sudut pandang pertama, mendudukkan Semar Badranaya sebagai saran fisik untuk sebuah target. Mereka menyakini bahwa dengan memboyong Semar Badranaya, Wahyu akan mengikutnya sehingga dengan sendirinya Sang Wahyu akan didapat. Sudut pandang ini kebanyakan dilakukan oleh kelompok Kurawa atau tokoh-tokoh dari sebrang, atau juga tokoh-tokoh lain yang menginginkan jalan pintas, mencari enaknya sendiri. Yang penting mendapat Wahyu, tanpa harus menjalani lelaku yang rumit dan berat.

Sudut pandang yang kedua adalah mereka yang mendudukkan Semar Badranaya sebagai sarana batin untuk sebuah proses. Konskwensinya mereka mau membuka hati agar Semar Badranaya masuk dan tinggal menyertai dalam kehidupanya. Sehingga dapat berproses bersama meraih Wahyu. Pandangan ini adalah kelompok dari keturunan Sapta Arga. Dari kedua sudut pandang inilah dibangun konflik, dalam usahanya memperebutkan Wahyu. Dan tentu saja berakhir dengan kemenangan kelompok Sapta Arga. Tetapi kita yang notabenya adalah penganut aliran dari Sapta Arga justru merasa kurang yakin dan ragu. Kalaupun kita telah menyakini benar-benar tentang itu, mengapa prinsip dan laku kita jauh dari kelompok Sapta Arga? Kita masih selalu dan selalu mencari enak dan kepenak. Sejauh mana anda mencari hal itu, tentu tak akan anda dapatkan karena itu adalah kepuasan. Dan rasa puas tidak akan pernah berhenti, selama kita memahami segala sesuatu yang masih berbentuk fisik.

Mengapa Wahyu selalu jatuh kepada keturunan Sapta Arga? Karena keturunan Sapta Arga selalu mengajarkan perilaku kebijaksanaan. Di kalangan keturunan Sapta Arga, ada sebuah warisan tradisi spiritual yang kuat dan konsisten dalam hidupnya. Tradisi itu antara lain : sikap rendah hati, suka menolong sesama., tidak serakah, melakukan tapa, mengurangi makan dan tidur, serta lelaku batin yang lainnya. Karena tradisi-tradisi itulah keturunan Sapta Arga menjadi kuat, kemudian diasuh oleh Semar Badranaya. Yang menjadi pertanyaan saya sekarang adalah : mungkinkah kita bisa mewarisi tradisi itu ditengah-tengah kehidupan yang pragmatis?

Masuknya Semar Badranaya dalam setiap kehidupan, menggambarkan masuknya Sang Penyelenggara (Shang Hyang Maha Gesang) di dalam hidup itu sendiri. Maka sudah sepantasnya anugerah yang berwujud Wahyu itu akan bersemayam di dalamnya. Karena apa yang tersembunyi dibalik tokoh Semar adalah wahyu. Wahyu yang disembunyikan bagi orang-orang yang tamak dan dibuka bagi orang-orang yang hatinya merunduk dan melakukan perilaku kebijaksanaan. Seperti yang telah dilakukan oleh keturunan Sapta Arga.
Di dalam buku lain, tepatnya Filosofi Jawa saya menemukan catatan yang mengungkap Badranaya. Bebadra: “membangun sarana Dari dasar.”, Nayoko : “Utusan mangrasul, atau caroko”. Di situ disebutkan artinya: Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Tuhan demi kesejahteraan manusia semesta alam.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.