Babad Cianjur (Bahasa Indonesia)

27 04 2009

Jaka Susuru Raja Di Negeri Tanjung Singuru

Perjalanan Prabu Jaka Susuru yang membuat Kerajaan di Tanjung Singuru, yang sekarang disebut Bobojong Cisuru, di desa Sukarama Kelurahan Bojong Picung Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur.

Bekas kerajaan ini sangat makmur, dari selatan dari barat dan utara dikelilingi sungai yang di beri nama sungai Cisokan, dan di sebelah selatannya berdiri gunung, yang disebut Gunung Cibulé, dan dari sebelah timurnya dihalangi oleh benteng 5 lapis, dan jauh ke timur lagi berdiri Gunung Payung. Menurut cerita penduduk kampung Ciséro yang berada di kaki gunung tersebut, Gunung Payung termasuk keramat, malah sering digunakan sebagai tempat sembahyang hewan-hewan yang ada di situ.

Bekas Tanjung Singuru ini di bawahnya digunakan jalur untuk saluran irigasi, yang sekarang airnya digunakan untuk mengairi sawah yang jumlahnya + 8.000 hektar, itu hanya yang terdapat saluran irigasinya.
Sekarang kami ceritakan Sejarah Perjalanan Prabu Jaka Susuru, putra Prabu Siliwangi Raja di Negeri Pajajaran, yang sekarang petilasannya ada di Bogor.

Awal Mula

Sang Prabu Siliwangi ke VII Raja di Pajajaran mempunyai putra bernama Munding Mintra Kasiringan Wangi. Pada suatu waktu diadakan pertemuan yang dihadiri para Bupati, Patih, Mantri para Tumenggung. Sang Prabu Siliwangi bersabda kepada Para Bopati, sabdanya: “Bagaimana menurut kalian wahai para Bupati, Patih dan Tumenggung, berhubung kami mempunyai anak laki-laki, yaitu Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi, yang belum mempunyai istri, tapi akan kami angkat dulu sebagai Bupati!”

Jawab para Bupati dan para Tumenggung kepada Sang Prabu Siliwangi: “Itu sudah sepantasnya, asalkan tidak mengganggu pemerintahan Kangjeng Gusti, dan ditetapkan akan memerintah di mana putra Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi.” Setelah sang Prabu Siliwangi menyimak pendapat para Bupati dan Tumenggung demikian, lalu sabdanya lagi: “Jika menurut keinginan kami serta menurut Peta Pakuan Pajajaran, bakal negara itu terletak di daerah Hutan Pasagi Timur, hanya nama negaranya tergantung bagaimana nanti,”

Setelah Kangjeng Raja Siliwangi bersabda seperti itu, lalu puteranya yaitu Radén Munding Mintra Kasiringan Wangi, dipanggil, serta diperintahkan harus pergi mengembara ke daerah Hutan Pasagi Timur, mencari tempat untuk dijadikan kerajaan kecil, ditemani oleh dua Tumenggung, yaitu Dipati Tumenggung Séwana Giri, dan Dipati Tumenggung Séwana Guru, dan diberi jimat Makuta Siger Kancana juga Peta Pakuan Pajajaran atau gambar Lawé Domas Kinasihan.

Setelah bersiap-siap, lalu Munding Mintra Kasiringan Wangi beserta Tumenggung Séwana Giri Séwana Guru pergi bertiga. Sesampainya di hutan ganggong si magonggong, Radén Munding Mintra beserta dua Tumenggung beristirahat di situ, menoleh ke Tumenggung Séwana Guru dan Séwana Giri, ucapnya: “Wahai, paman Tumenggung Séwana Guru dan Séwana Giri, jangan-jangan ini lah tempat yang akan kita jadikan negara!” jawab kedua Tumenggung: “Benar Gusti, menurut paman juga jangan-jangan benar tempat ini, memang pantas seandainya di dirikan sebuah negara, karena tanahnya bagus, tanah dikelilingi sungai, mengalir ke timur, ya yang seperti ini yang disebut Galudra Ngupuk.”

Lalu Radén Munding Mintra mengeluarkan jimat Makuta Siger Kancana, serta memohon kepada Déwa Batara Sanghiang Utipati. Dikabulkan permohonannya, tiba-tiba di atas tanah itu telah berdiri sebuah bangunan kerajaan, dengan benteng 5 lapis, selapis benteng besi, selapis baja, perunggu, perak, lapis yang paling dalam terbuat dari emas. Kemudian memohon lagi kepada Déwa minta 8.000 punggawa, prajurit 80.000, dan 65 dayang yang mengurusi Keraton. Setelah lengkap isi keraton juga isi negara, kemudian Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi berdiskusi dengan Tumenggung Sewana Giri, Sewana Guru, perihal menentukan nama negara tersebut. Tapi dijawab oleh Tumenggung Sewana Guru, Sewana Giri: “Raden, masalah pemberian negara ini, jangan melancangi ayahanda Prabu, Gusti Prabu Siliwangi di Pakuan Pajajaran, lebih baik saya saja yang diutus ke Pajajaran menghadap ke Gusti.” Kemudian Raden Munding Mintra menyetujuinya. Maka Tumenggung Sewana Guru segera berangkat menghadap ke Kanjeng Prabu Siliwangi.

Tidak diceritakan perjalanannya, telah sampai di negara, lalu menghadap ke Duli Prabu Siliwangi, dan menyampaikan bahwa diperintah oleh sang putera untuk memohon pemberian nama negara baru, sedangkan semuanya telah siap, belum diberi nama.

Ucap Kanjeng Prabu Siliwangi: “Nama negara itu sepantasnya adalah Tanjung Singuru.” Lalu Tumenggung Sewana Guru pamit mundur, sesampainya di negara Tanjung Singuru, lalu ditanyai oleh Munding Mintra Kasiringan Wangi: “Bagaimana perintah Gusti Prabu Siliwangi?” Lalu dilaporkan oleh Tumenggung Sewana Guru, jika diperintahkan untuk menamakan negara ini Tanjung Singuru, juga rajanya harus berganti nama, Prabu Jaka Susuru.” Jawab Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi: “Oh, begitu. Jika sekarang negara telah bernama, dan kami telah diganti nama, namun patut disesali jika belum mempunyai permaisuri. Lalu sekarang siapa lagi yang akan membantu, selain paman dipati, sekarang saya mohon bantuannya, mencari Putri untuk dijadikan permaisuri.”

Tumenggung Sewana Guru menjawab: “Silahkan, sekarang saya mendapat berita, ada wanita di Negara Bitung Wulung, putra Tumenggung Bitung Wulung, Pangeran Jungjang Buana, nama Puteri yang satu adalah Sekar Jayanti, dan satu lagi Jayanti Kembang.” Prabu Jaka Susuru menjawab: “Oh, kalau begitu kita lamar saja semuanya, persiapkan keperluan melamar seperti adat biasanya, untuk dibawa kepada Tumenggung Bitung Wulung.” Kemudian Patih pun segera berangkat.

Sesampai di Negara Bitung Wulung, kebetulan Raja sedang di singgasana, lalu Patih menghadap, ditanyai oleh Raja: “Dari mana anda, siapa yang menyuruh dan ada perlu apa?” Tumenggung Sewana Guru menjawab: “Adapun kedatangan hamba, hamba ini adalah Patih Tanjung Singuru, hendak melamar sesuai perintah Raja. Bagaimana keadaan puteri paduka, apakah masih lajang? Seandainya masih lajang sekarang juga dipersunting.” Raja menjawab: “Betul hamba mempunyai anak, tapi oleh ini dan oleh itu juga dilamar dan tidak juga kami berikan, sekarang dipersunting oleh turunan Pakuan Pajajaran, Prabu Jaka Susuru, sedangkan hamba hanya bisa mengabulkan, dan berharap jangan diperlama, sebab puteri telah cukup umur.”

Sang Patih menjawab: “Kalau begitu terima kasih, malah sekarang juga dibawa sekalian, supaya hari ini dipersembahkan ke Prabu Jaka Susuru.”

Sang Prabu Bitung Wulung menjawab: “Ah, kalau begitu hamba akan sekalian mengantarnya sekarang.” Kemudian mereka berangkat, singkat cerita telah datang di Negara Tanjung Singuru, lalu ditanya oleh Prabu Jaka Susuru berhasil tidaknya. Lalu Patih melaporkan bahwa telah berhasil, malah dibantu, serta diantar oleh ayahandanya, juga lalu oleh ayahnya dipasrahkan kepada Prabu Jaka Susuru, ucapnya: “Sekarang hamba pasrahkan, sudah tidak menjadi beban pikiran Prabu Jaka Susuru.” Kemudian ayah sang puteri pamit mundur kembali ke negaranya di Bitung Wulung.

Diceritakan Prabu Jaka Susuru, berkumpul dengan Adipati, dan semua punggawa, berembuk akan mengadakan pesta karena telah mempunyai permaisuri namun belum dirayakan. Tidak berapa lama diadakan pesta yang ramai, tujuh hari tujuh malam.

Ditunda sebentar cerita Prabu Jaka Susuru, ada satu negara, negara Gunung Gumurh, nama Rajanya Badak Tamela Sukla Panarak Jaya. Raja tersebut tidak mempunyai istri, hanya mempunyai satu saudara perempuan bernama Ratna Kembang Tan Gumilang.

Raja sedang duduk di Paseban, mendengar kabar tentang pesta di Negara Tanjung Singuru, lalu bertanya kepada adiknya Putri Ratna Kembang: “Nyai di manakah pesta itu diadakan?”

Jawab Putri: “Itu yang sedang berpesta adalah negeri Tanjung Singuru, Rajanya sedang merayakan pernikahan dengan Puteri Sekar Jayanti dan Jayanti Kembang.”

Jawab Raja: “Oh, bukankah wanita itu idaman kakanda dari dulu, yaitu Putri Sekar Jayanti incaran kakanda. Coba Nyai tunggu sebentar, sekarang kakanda akan melihatnya.”

Jawab adiknya: “Jangan kanda, sebab dia sudah menjadi permaisuri Raja, walaupun kanda rebut juga tidak akan mampu, pasti kita celaka.”

“Ah, biar saja akan kanda rebut, tidak akan bisa dihukum, kan kanda punya kawah Domas; Prabu Jaka Susuru akan kanda jebloskan, akan kanda kelabui dengan mengatakan di kawah Domas ada intan sebesar anak lembu, supaya diambil, dan jika sudah berada di dalam kawah, pintunya akan kanda tutup.”

Lalu Raja Gunung Gumuruh berangkat, setibanya di Tanjung Singuru, mohon ijin hendak menumpang istirahat. Raja Tanjung Singuru melihatnya, lalu ditanya: “Anda berasal dari mana, serta siapa nama anda, belum pernah kami lihat, seperti yang sedang payah?”

Jawabnya: “Benar, hamba ini Raja Gunung Gumuruh, keperluan datang ke sini, hendak bakti negeri, memasrahkan diri, serta menyerahkan batu intan sebesar anak lembu, yang ada di kawah Domas. Tidak ada lagi yang pantas memilikinya selain adimas Prabu, yang berhak.”

Lalu Raja Tanjung Singuru bertanya kepada istrinya: “Bagaimana Nyai, sekarang kita memperoleh bakti berupa negara dan intan yang besar?”

Jawab sang istri: “Jangan kanda, siapa tahu itu ada maksud hendak menganiaya, menggoda dan bermaksud buruk kepada kita, serta dinda mempunyai perasaan yang ganjil, seperti akan terjadi musibah.”

Tapi Patih Tumenggun Sewana Guru berkata: “Tidak baik yang berbakti tidak kita terima, sekarang sebaiknya kita berangkat.” Kemudian berangkatlah Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru, Tumenggung Sewana Giri bersama Raja Panarak Jaya. Singkat cerita, tibalah mereka di kawah Domas.

Setibanya lalu Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru dan Sewana Giri melihat ke dalam kawah. Tidak menunggu lama lagi, oleh Raja Gunung Gumuruh mereka bertiga di tendang ke dalam kawah Domas. Setelah ketiga orang itu tersungkur, kemudian pintu di tutup dengan batu hitam oleh Raja Gunung Gumuruh. Lalu ketiga orang yang berada di dalam dasar kawah Domas itu bertapa, selama 30 tahun.

Dari situ Raja Gunung Gumuruh pergi ke negara Tanjung Singuru, dengan tujuan hendak merebut kerajaan. Setelah datang lalu ditemui oleh Putri Sekar Jayanti dan Putri Jayanti Kembang: “Kakanda Raja Gunung Gumuruh, dimana Sang Prabu Tanjung Singuru?”

Jawabnya: “Nyai, sekarang janganlah menanyakan hal Prabu Jaka Susuru, sebab kanda telah memenjarakannya, sekarang suami nyai adalah kanda seorang, dan negara ini akan dikuasai.”

Jawab Putri: “Ah entahlah, sebab hamba tidak akan berpisah dengan Prabu Jaka Susuru!”

Sang Putri pun terus dipaksa, kemudian ia pun kabur menuju ke hutan dalam keadaan hamil. Setelah usia kehamilan 9 bulan, Sang Putri melahirkan di tengah hutan, putranya lelaki semua. Yang dari Sekar Jayanti dinamakan Heulang Boengbang Legantara Lungguh Tapa Jaya Perang, sedangkan yang dari Jayanti Kembang dinamakan Kebo Keremay Sakti Pangeran Giringsing Wyang. Mereka berdua dilahirkan di hutan dan dibesarkan pula di hutan. Setelah mencapai usia 10 tahun, mereka berdua dengan ibunya masing-masing mengungsi ke Negara Tanjung Sumbara. Rajanya bernama Gajah Karumasakti, mempunyai istri dua orang, yaitu Purba Dewata dan Tarna Dewata. Setelah mereka berdua bersama ibu-ibunya tiba dan menghadap Raja Gajah Karumasakti, serta disambut baik oleh raja: “Oh, sukur kalian datang dengan selamat, kalian ini dari mana dan keturunan siapa?”

Jawab Putri: “Semoga Raja percaya, anak ini, adalah turunan dari Kangjeng Prabu Siliwangi, putra dari Prabu Jaka Susuru, sedang hamba adalah ibunya. Adapun maksud kedatangan kemari adalah hendak memohon pertolongan, untuk menyelamatkan Prabu Jaka Susuru, yang ada di dalam dasar kawah Domas, dipenjara oleh Raja Gunung Gumuruh.”

Jawab Raja: “Oh nyai, pasti akan kanda tolong. Sekarang negeri Tanjung Singuru akan saya jadikan lantaran, agar bisa bertemu dengan Raja Gunung Gumuruh, negeri itu kita serbu.”

Jawab Putri: “Baik, namun kalau berkenan, hendaklah di selamatkan dahulu yang ada di dasar kawah.”

Lalu Raja Karumasakti berangkat, dan setelah datang di Tanjung Singuru langsung menyerbu. Api berkobar-kobar membuat seisi negeri mengungsi ke utara, timur, selatan, barat, negara porak poranda.

Datanglah Raja Gunung Gumuruh dan mereka beradu mulut, masing-masing mengaku bahwa negara ini adalah miliknya. Raja Karumasakti berkata: “Ini negaraku!” Kata Raja Gumuruh: “Punyaku!”  Saling mengaku-aku, akhirnya pecahlah perang tanding antara Raja Gajah Karumasakti dengan Raja Gunung Gumuruh, ramai berkelahi adu kesaktian; dan akhirnya Raja Gunung Gumuruh kalah perang, hingga menyerah takluk kepada Raja Gajah Karumasakti. Lalu Raja Gajah Karumasakti berkata: “Sekarang kamu kalah, tapi harus mau melepaskan Prabu Jaka Susuru dari dasar kawah Domas!”

Jawabnya: “Silahkan, tapi harus bersama-sama anda, kita ke kawah.”

Lalu mereka semua berangkat, setelah sampai di kawah Domas, batu penutup pintunya digeser, dan terlihatlah ketiga sosok, Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru, Tumenggung Sewana Giri, lalu dibangunkan dan dilepaskan.

Raja Gunung Gumuruh pun menyatakan bertobat dan memohon ampunan kepada ketiganya karena telah sekian lama membuat sengsara kepada Prabu Jaka Susuru, dan menyerahkan negaranya beserta seluruh isinya, juga saudara perempuannya juga di pasrahkan kepada Prabu Jaka Susuru, supaya berkenan diperistri. Selanjutnya negara Gunung Gumuruh di bawah perintah Prabu Jaka Susuru.

Sejak itu lalu Prabu Jaka Susuru berangkat beserta saudara perempuan Raja Gunung Gumuruh, menuju ke negara Tanjung Sumbara. Jadi akhirnya Raja Prabu Jaka Susuru menetap di negara Tanjung Sumbara mempunyai tiga orang istri, dua putra, dan empat patih:

  1. Tumenggung Sewana Guru
  2. Tumenggung Sewana Giri
  3. Tumenggung Gajah Karumasakti
  4. Tumenggung Badak Tamela Sakti Paranak Jaya





Sabdopalon

27 04 2009

Welinge Sabdo Palon, ing tahun Lawang Sapto Ngesthi Aji (1879) perjuangan kita lagi teka ing tengah-tengahe. Saiki durung paja-paja pundat. Cecobaning Pangeran warna-warna, bangsa kita kudu kuat nglakoni, Jer Basuki Mawa Bea.
Sabdotomo kang ngemot jangkane Sabdo Palon mau mangkene:

SINOM

  1. Sanget-sangeting sangsara, kang tumuwuh tanah Jawi, sinengkalan taunira, Lawang Sapto Ngesthi Aji, upami nabrang kali, prapteng tengah-tengahipun, kaline banjir bandang, jerone nyilepake jalmi, kathah sirna manungsa kathah pralaya.
  2. Bebaya ingkang tumeka, watara satanah Jawi, ginawe kang paring kodrat, tan kena dipun singgahi, awit ing donya iki, ana angger-anggeripun, karsanireng Jawata kinarya, amratandani, jagad iku yekti ana kang akarya.
  3. Warna-warna kang bebaya, kang ngrusakken tanah Jawi, sagung tiyang nambutkarya, pamedal mboten nyekapi, priyayi keh kang brenti, sudagar tuna sedarum, wong glidhig ora mingsra, wong tani ora nyukupi, pametune akeh sirna aneng wana.
  4. Bumi ilang berkatira, ama kathah kang ndhatengi, dalu kathah ingkang ilang, cinolongan dening jalmi, resahnya anglangkungi, karana rebut rinebut, risak tataning jalma yen dalu grimis keh maling, lamun rina kathah tiyang ambebegal.
  5. Heru hara sakeh jalma, rebutan ngupaya bukti, tan ngetang anggering praja, tan tahan perihing ati, katungka praptaneki, pageblug ingkan linankung, wradin satanah Jawi, enjing sakit sore mati, sonten sakit enjangnya sampun pralaya.
  6. Kesandhung bae pralaya, kaselak banjur ngemasi, udan barat salah mangsa, angin geng anggegirisi, kayu gung gung brasta sami katempuh ing angin agung, kathah rebah belasah, lepen-lepen sami banjir, lamun tinon pan kadya samodra bena.
  7. Alun minggah ing daratan, karya risak tepis wiring, geter manahe pra jalma, kang dumunung kanan kering, kajeng-kajeng keh kenthir, kang tumuwuh pinggir laut, sela geng sami brasta, kabelabag katut keli, gumulundung-gumulundung suwaranira.
  8. Hardi agung-agung samya, hurubaya nggegirisi, gumleger suwaranira, lahar wutah kanan kering, amblabar angelebi, nrajang wana lan desa gung, manungsanya keh brasta kebo sapi samya gusis, sirna gempang tan wonten mangga puliha.
  9. Lindhu ping pitu sedina, karya rusaking sujalmi, sitinya samya anela, brekasakan sami ngeksi, anyarat sagung jalmi, manungsa pating galuruh, kathah kang nandang roga, warna-warna ingkang sakit, awis saras kathah kang prapteng pralaya.
  10. Miturut carita kuna, wecane jalma linuwih, kang wus kocap angeng jangka, manungsa sirna sepalih, dene kang bisa urip, yekti ana syaratipun, karya nulak bebaya, kalise bebaya yekti, netepana kang wineca para kuna.
  11. Kang kocap ning Jayabaya, manungsa urip puniki, kadya rumput aneng wana, yen wus tekan jaman akhir, kluku ginaru sami, yekti kathah ingkang lebur, lamun nedya yuwana, luput ing sakalir kalir, garu luku bisa nlesep selanira.
  12. Padha sira ngupoyoha, sarana ingkang sejati, sahadat ingkang sampurna, sampurna jatining urip, yen ora bisa oleh, nyatakna ingkang satuhu, kang nganti prapteng laya, laya sajroning ngahurip, hya iku mergane kalis bebaya.
  13. Yen sira durung uninga, takokna guru kang yekti, kang wus putus kawruh mring kasidan jati, budha budine yekti, kang kok anut rinten dalu, ing ngendi dunungira, lawan asalira nguni, yen wus laya ing ngendi iku dunungana.
  14. Padha sira ngelingana, carita ing nguni-nguni, kang wus kocap serat babad, babad nagri Majapahit, nalika duk ing nguni Brawijaya Sangaprabu, prasamya pepanggihan, kalawan jeng Sunan Kali, katiganya Sabdo Palon rencangira.
  15. Sangaprabu Brawijaya, sabdanira arum manis, nantun dhateng punakawan, Sabdo Palon paran karsi, jenengingsun puniki, wus angrasuk agama rasul, heh kakang pekenira, miluwa agama suci, luwih becik iku agama kang mulya.
  16. Sabdo Palon matur sugal, yen kawula mboten arsi, angrasuk agama Islam wit kula punika yekti, ratuning danyang Jawi, momong marang anak putu, sagunging pri prayangan, kang dumunung tanah Jawi, wus pinasthi sayekti kula pisahan.
  17. Kalawan Paduka Nata, wangsul mring kajiman mami, mung kula matur pitungkas, benjing ing sapungkur mami, yen wus prapta kang wanci, jangkep gangsal atus taun, awit dinten punika, kula gentos ing agami, agami Budi kula sebar tanah Jawa.
  18. Sinten tan purun nganggeya, yekti kula risak sami, sun ajakan putu kula, brekasakan rupi-rupi, dereng lega kang ati, yen durung alebur tumpur, kula damel pratanda, praptane tembayan mami, hardi Mrapi yen wus jeblug mili lahar.
  19. Ngidul ngilen purugira, nggandha banger ingkang warih, nggih punika wedal kula, wiwit nyebar agama Budi, netepi janji mami, anggere kodrat satuhu, karsanireng Jawata, sadaya gilir gumanti, mboten kenging alamun hingga wahana.
  20. Sabdo Palon nulya muksa, sakedap mboten kaeksi, wangsul mring jaman kajiman, langsung ngungun Sribupati, jenger tan bisa angling, kang manah langkung gegetun, kaduwung solahira, mupus karsaning Dewadi, kodrat iku sayekti tan kena owah.




Renungkan

27 04 2009

Betapa indah dunia ini jika kita bertemu dengan sesama makhlukNya, saling beramah tamah, saling menghormati, tanpa harus memandang apa suku bangsanya, apa agamanya dan apa statusnya.

Mengapa kita harus beragama, jika kita menjadi saling membenci agama atau paham yang berbeda dengan agama kita?





Bhumi Jawa (Bagian 1)

4 01 2009

Diolah dari Serat Mahaparwa tulisan Empu Satya (Mamenang – Kadiri; 851 S atau 879 C)

Pada waktu tanah Arab sedang mengalami Jaman Nabi Isa, Pulau Jawa belum bernama Jawa dan masih menjadi satu dengan Pulau Sumatera, Madura dan Bali. Sunyi sepi belum ada manusia.
Maka para dewa yang berkahyangan di puncak Gunung Tengguru (Himalaya) di tanah Hindi, datang ke Pulau Jawa. Pimpinan mereka adalah Sang Hyang Manikmaya, atau Sang Hyang Guru. Beliau menjadi raja para dewa. Maka pulau tadi dinamakan Pulau Jawa oleh Sang Hyang Manikmaya, berasal dari kata dawa. Namun waktu itu yang menyebut demikian hanyalah para dewa. Setelah 15 tahun para dewa di Pulau Jawa muksa dan kembali ke kahyangan di puncak Gunung Tengguru tanah Hindi. Pulau Jawa menjadi sepi seperti semula.
Tersebutlah ada seorang raja brahmana Hindustan bernama Prabu Isaka atau yang disebut dengan Prabu Aji Saka. Beliau adalah putra Prabu Iwasaka atau Bhatara Anggajali, putra Ramadi atau Bhatara Ramayadi, putra Sang Hyang Ramaprawa, putra Sang Hyang Hning yang bersaudara dengan Sang Hyang Tunggal.

Setelah 46 tahun Prabu Isaka memerintah, negerinya diserang dan dihancurkan musuh. Beliau turun tahta dan bersembunyi di hutan yang akhirnya bertemu dengan ayahandanya yang telah menjadi dewa yaitu Bhatara Anggajali.
Prabu Isaka diajari berbagai laku oleh ayahnya sehingga mendapat banyak kesaktian seperti para dewa. Setelah itu beliau diperintahkan untuk bertapa di sebuah pulau panjang (dawa) yang sepi dan telah diberi nama Pulau Jawa. Beliau bergegas mencarinya dan setelah sekian lama, beliau menemukan pulau yang masih sunyi, kira-kira di sebelah tenggara tanah Hindustan. Pertama kali beliau menginjakkan kaki di pesisir utara Pulau Jawa, bertepatan hari Hindu menjelang hari Buda, menjelang masa Kartika tahun Sambrama. Jaman Pancamakala mencapai 768 tahun.

Beliau mengelilingi seluruh pulau dari ujung barat laut hingga ujung tenggara, dan sangat kagum melihat panjangnya pulau, karena waktu itu Aceh hingga Bali masih utuh menjadi satu. Dalam pulau tersebut banyak tanaman jawawut, beliau berpikir memang cocok dengan nama pemberian Sang Hyang Guru. Maka Prabu Isaka juga memberi nama pulau itu Pulau Jawa, artinya pulau yang banyak jawawutnya dan juga dawa (panjang). Semua gunung, sungai dan hutan-hutan yang dilalui diberi nama oleh beliau. Sedangkan tanah yang pertama kali diinjak diberi nama Purwa Pada.

Karena mendapat bantuan dari Sang Hyang Suksma, beliau selesai mengelilingi pulau hanya dalam waktu 103 hari dan merata semuanya. Beliau memutuskan untuk bertempat di Gunung Hyang (Gunung Kendeng) di daerah Probolinggo dan Besuki. Hutannya dibabat dan didirikan rumah. Pada waktu itu hari Soma tanggal 14, masa Sitra masih tahun Sambrama. Beliau mengganti nama menjadi Empu Sangkala, dan bertapa untuk menentukan hitungan tahun. Maka pembabatan hutan Gunung Hyang dijadikan angka permulaan tahun yang dinamakan Sangkala. Bertepatan dengan masa Kartika dalam tahun Sambrama hitungan tahun matahari dan rembulan. Adapun bunyi sengkalannya sama dengan tahun kepala satu, yaitu Jebug Sawuk (Tahun 1), sebagai pedoman di kemudian hari, serta awal mula Pulau Jawa ditempati manusia.
Setiap hari beliau mengheningkan cipta, menghayati kehendak Yang Maha Kuasa. Dan pada suatu hari Empu Sangkala didatangi cahaya putih. Dalam cahaya itu terdapat putri cantik rupawan bernama Dewi Sri, memberi ajaran segala macam pengasihan olah asmaragama, asmaranala, asmaratura, asmaraturida, dan asmarandana. Empu Sangkala paham, Bhatari Sri muksa. Hari itu Empu Sangkala beri nama hari Sri.

Hari berikutnya beliau didatangi cahaya kuning, terlihat seorang raksasa di dalamnya dan mengaku bernama Sang Hyang Kala. Beliau mengajarkan olah sandi upaya panduking karti sampeka, dan meggunakan pangedepan, penglerepan serta segala sesuatunya. Setelah Empu Sangkala paham, Sang Hyang Kala muksa. Hari itu dinamakan hari Kala.
Hari berikutnya, Empu Sangkala didatangi cahaya merah. Di dalamnya adalah seorang brahmana yang ternyata Sang Hyang Brahma. Beliau mengajari Empu Sangkala segala pengetahuan, termasuk mengetahui sebelum terjadi, waspada kepada yang gaib atau yang samar. Setelah paham, Sang Hyang Brahma muksa. Hari itu dinamakan oleh Empu Sangkala menjadi hari Brahma.

Hari berikutnya, Empu Sangkala didatangi cahaya hitam yang di dalamnya seorang lelaki satria bernama Sang Hyang Wisnu. Diajarkan segala olah keperwiraan, kesaktian, dan segala ilmu jaya kawijayan. Setelah paham, lalu Sang Hyang Wisnu muksa. Hari itu dinamai hari Wisnu.
Dan hari berikutnya, Empu Sangkala didatangi cahaya hijau berwarna-warni. Tampak di dalamnya seseorang yang sedang mengawasi, ternyata Sang Hyang Guru. Beliau mengajarkan berbagai rupa olah kepandaian memanah, ilmu kesempurnaan, penitisan mati dalam hidup, dan kemuliaan asal mula semua hal. Setelah paham, Sang Hyang Guru muksa. Hari itu dinamakan oleh Empu Sangkala sebagai hari Guru.

Pada hari berikutnya, beliau melakukan sembah lima kali, satu kali sehari. Mulai pada hari Sri, beliau memuji Dewi Sri dengan menghadap ke timur. Pada hari Kala, beliau menghadap ke selatan dan memuji Bhatara Kala. Pada hari Brahma memuji Sang Hyang Brahma dengan menghadap ke barat. Hari Wisnu beliau memuji Sang Hyang Wisnu dengan menghadap ke utara, dan pada hari Guru, pemujian kepada Sang Hyang Guru dilakukan dengan menunduk ke bhumi dan mendongak ke angkasa. Demikian selamanya.

Pada suatu hari, Raja Rum di Turki yang bernama Sultan Galbah, berniat mengirimkan orang untuk mengisi pulau-pulau yang kosong. Ia mendengar kabar bahwa ada pulau bernama Jawa, yang masih sunyi. Lalu ia mengutus 20.000 keluarga lengkap dengan segala perlengkapan, untuk berangkat dengan perahu menuju Pulau Jawa.

Orang-orang ini menuju Gunung Kanda di daerah Surakarta mendekati Surabaya. Setelah sampai, mereka membabat hutan untuk pemukiman. Kedatangan orang Rum ini bertepatan tahun 437 Rum. Dua tahun kemudian, datanglah malapetaka menimpa mereka, banyak yang sakit karena tidak tahan panas, kerasukan setan, dimangsa binatang buas hingga banyak yang tewas. Jumlah mereka tinggal kurang lebih 2000 keluarga. Lama kelamaan jumlah mereka hanya tinggal 200 keluarga, lalu berkumpul di sebuah padang yang disebut Tegal Purama.

Tumpas lagi hingga tersisa 20 keluarga, akhirnya mereka memutuskan kembali mengarungi samudera menuju Rum, untuk melaporkan hal ini kepada Rajanya. Ini terjadi pada tahun 4.
Raja Rum sangat sedih mendengar laporan ini dan mengutus raja pendeta dari Israel bernama Usman Aji untuk memberi tumbal di Pulau Jawa yang sunyi. Pendeta ini berangkat membawa jimat untuk tumbal, diiringi oleh para pertapa dan orang-orang sakti menuju Jawa. Setibanya di Jawa pada tahun 5, mereka menjelajahi gunung-gunung dan hutan-hutan mencari tempat untuk menaruh tumbal. Berkat kesaktiannya, Usman Aji mengetahui bahwa di pulau itu ada orang yang sedang bertapa, ialah Empu Sangkala. Didatanginya dan setelah bertemu ia menanyai Empu Sangkala. Sang Empu menceritakan kisahnya dari awal hingga akhir, membuat Usman Aji terharu. Ia berniat untuk mengajari Sang Empu hal kesaktian yang dimilikinya dan Empu Sangkala pun menurut dan ikut mengiringi pendeta itu. Waktu itu (bersambung)








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.