Bhumi Jawa (Bagian 1)

4 01 2009

Diolah dari Serat Mahaparwa tulisan Empu Satya (Mamenang – Kadiri; 851 S atau 879 C)

Pada waktu tanah Arab sedang mengalami Jaman Nabi Isa, Pulau Jawa belum bernama Jawa dan masih menjadi satu dengan Pulau Sumatera, Madura dan Bali. Sunyi sepi belum ada manusia.
Maka para dewa yang berkahyangan di puncak Gunung Tengguru (Himalaya) di tanah Hindi, datang ke Pulau Jawa. Pimpinan mereka adalah Sang Hyang Manikmaya, atau Sang Hyang Guru. Beliau menjadi raja para dewa. Maka pulau tadi dinamakan Pulau Jawa oleh Sang Hyang Manikmaya, berasal dari kata dawa. Namun waktu itu yang menyebut demikian hanyalah para dewa. Setelah 15 tahun para dewa di Pulau Jawa muksa dan kembali ke kahyangan di puncak Gunung Tengguru tanah Hindi. Pulau Jawa menjadi sepi seperti semula.
Tersebutlah ada seorang raja brahmana Hindustan bernama Prabu Isaka atau yang disebut dengan Prabu Aji Saka. Beliau adalah putra Prabu Iwasaka atau Bhatara Anggajali, putra Ramadi atau Bhatara Ramayadi, putra Sang Hyang Ramaprawa, putra Sang Hyang Hning yang bersaudara dengan Sang Hyang Tunggal.

Setelah 46 tahun Prabu Isaka memerintah, negerinya diserang dan dihancurkan musuh. Beliau turun tahta dan bersembunyi di hutan yang akhirnya bertemu dengan ayahandanya yang telah menjadi dewa yaitu Bhatara Anggajali.
Prabu Isaka diajari berbagai laku oleh ayahnya sehingga mendapat banyak kesaktian seperti para dewa. Setelah itu beliau diperintahkan untuk bertapa di sebuah pulau panjang (dawa) yang sepi dan telah diberi nama Pulau Jawa. Beliau bergegas mencarinya dan setelah sekian lama, beliau menemukan pulau yang masih sunyi, kira-kira di sebelah tenggara tanah Hindustan. Pertama kali beliau menginjakkan kaki di pesisir utara Pulau Jawa, bertepatan hari Hindu menjelang hari Buda, menjelang masa Kartika tahun Sambrama. Jaman Pancamakala mencapai 768 tahun.

Beliau mengelilingi seluruh pulau dari ujung barat laut hingga ujung tenggara, dan sangat kagum melihat panjangnya pulau, karena waktu itu Aceh hingga Bali masih utuh menjadi satu. Dalam pulau tersebut banyak tanaman jawawut, beliau berpikir memang cocok dengan nama pemberian Sang Hyang Guru. Maka Prabu Isaka juga memberi nama pulau itu Pulau Jawa, artinya pulau yang banyak jawawutnya dan juga dawa (panjang). Semua gunung, sungai dan hutan-hutan yang dilalui diberi nama oleh beliau. Sedangkan tanah yang pertama kali diinjak diberi nama Purwa Pada.

Karena mendapat bantuan dari Sang Hyang Suksma, beliau selesai mengelilingi pulau hanya dalam waktu 103 hari dan merata semuanya. Beliau memutuskan untuk bertempat di Gunung Hyang (Gunung Kendeng) di daerah Probolinggo dan Besuki. Hutannya dibabat dan didirikan rumah. Pada waktu itu hari Soma tanggal 14, masa Sitra masih tahun Sambrama. Beliau mengganti nama menjadi Empu Sangkala, dan bertapa untuk menentukan hitungan tahun. Maka pembabatan hutan Gunung Hyang dijadikan angka permulaan tahun yang dinamakan Sangkala. Bertepatan dengan masa Kartika dalam tahun Sambrama hitungan tahun matahari dan rembulan. Adapun bunyi sengkalannya sama dengan tahun kepala satu, yaitu Jebug Sawuk (Tahun 1), sebagai pedoman di kemudian hari, serta awal mula Pulau Jawa ditempati manusia.
Setiap hari beliau mengheningkan cipta, menghayati kehendak Yang Maha Kuasa. Dan pada suatu hari Empu Sangkala didatangi cahaya putih. Dalam cahaya itu terdapat putri cantik rupawan bernama Dewi Sri, memberi ajaran segala macam pengasihan olah asmaragama, asmaranala, asmaratura, asmaraturida, dan asmarandana. Empu Sangkala paham, Bhatari Sri muksa. Hari itu Empu Sangkala beri nama hari Sri.

Hari berikutnya beliau didatangi cahaya kuning, terlihat seorang raksasa di dalamnya dan mengaku bernama Sang Hyang Kala. Beliau mengajarkan olah sandi upaya panduking karti sampeka, dan meggunakan pangedepan, penglerepan serta segala sesuatunya. Setelah Empu Sangkala paham, Sang Hyang Kala muksa. Hari itu dinamakan hari Kala.
Hari berikutnya, Empu Sangkala didatangi cahaya merah. Di dalamnya adalah seorang brahmana yang ternyata Sang Hyang Brahma. Beliau mengajari Empu Sangkala segala pengetahuan, termasuk mengetahui sebelum terjadi, waspada kepada yang gaib atau yang samar. Setelah paham, Sang Hyang Brahma muksa. Hari itu dinamakan oleh Empu Sangkala menjadi hari Brahma.

Hari berikutnya, Empu Sangkala didatangi cahaya hitam yang di dalamnya seorang lelaki satria bernama Sang Hyang Wisnu. Diajarkan segala olah keperwiraan, kesaktian, dan segala ilmu jaya kawijayan. Setelah paham, lalu Sang Hyang Wisnu muksa. Hari itu dinamai hari Wisnu.
Dan hari berikutnya, Empu Sangkala didatangi cahaya hijau berwarna-warni. Tampak di dalamnya seseorang yang sedang mengawasi, ternyata Sang Hyang Guru. Beliau mengajarkan berbagai rupa olah kepandaian memanah, ilmu kesempurnaan, penitisan mati dalam hidup, dan kemuliaan asal mula semua hal. Setelah paham, Sang Hyang Guru muksa. Hari itu dinamakan oleh Empu Sangkala sebagai hari Guru.

Pada hari berikutnya, beliau melakukan sembah lima kali, satu kali sehari. Mulai pada hari Sri, beliau memuji Dewi Sri dengan menghadap ke timur. Pada hari Kala, beliau menghadap ke selatan dan memuji Bhatara Kala. Pada hari Brahma memuji Sang Hyang Brahma dengan menghadap ke barat. Hari Wisnu beliau memuji Sang Hyang Wisnu dengan menghadap ke utara, dan pada hari Guru, pemujian kepada Sang Hyang Guru dilakukan dengan menunduk ke bhumi dan mendongak ke angkasa. Demikian selamanya.

Pada suatu hari, Raja Rum di Turki yang bernama Sultan Galbah, berniat mengirimkan orang untuk mengisi pulau-pulau yang kosong. Ia mendengar kabar bahwa ada pulau bernama Jawa, yang masih sunyi. Lalu ia mengutus 20.000 keluarga lengkap dengan segala perlengkapan, untuk berangkat dengan perahu menuju Pulau Jawa.

Orang-orang ini menuju Gunung Kanda di daerah Surakarta mendekati Surabaya. Setelah sampai, mereka membabat hutan untuk pemukiman. Kedatangan orang Rum ini bertepatan tahun 437 Rum. Dua tahun kemudian, datanglah malapetaka menimpa mereka, banyak yang sakit karena tidak tahan panas, kerasukan setan, dimangsa binatang buas hingga banyak yang tewas. Jumlah mereka tinggal kurang lebih 2000 keluarga. Lama kelamaan jumlah mereka hanya tinggal 200 keluarga, lalu berkumpul di sebuah padang yang disebut Tegal Purama.

Tumpas lagi hingga tersisa 20 keluarga, akhirnya mereka memutuskan kembali mengarungi samudera menuju Rum, untuk melaporkan hal ini kepada Rajanya. Ini terjadi pada tahun 4.
Raja Rum sangat sedih mendengar laporan ini dan mengutus raja pendeta dari Israel bernama Usman Aji untuk memberi tumbal di Pulau Jawa yang sunyi. Pendeta ini berangkat membawa jimat untuk tumbal, diiringi oleh para pertapa dan orang-orang sakti menuju Jawa. Setibanya di Jawa pada tahun 5, mereka menjelajahi gunung-gunung dan hutan-hutan mencari tempat untuk menaruh tumbal. Berkat kesaktiannya, Usman Aji mengetahui bahwa di pulau itu ada orang yang sedang bertapa, ialah Empu Sangkala. Didatanginya dan setelah bertemu ia menanyai Empu Sangkala. Sang Empu menceritakan kisahnya dari awal hingga akhir, membuat Usman Aji terharu. Ia berniat untuk mengajari Sang Empu hal kesaktian yang dimilikinya dan Empu Sangkala pun menurut dan ikut mengiringi pendeta itu. Waktu itu (bersambung)


Aksi

Information

One response

12 01 2011
Dipawirya

Bagus sekali, menambah wacana sejarah….,
Bhumi Jawa bagian 2 ko belum ada….??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: