Sejarah Madiun

28 04 2009

Sejarah Berdirinya Madiun ditinjau dari pemerintahan yang sah (sebelum pemisahan menjadi Kabupaten dan Kota Madiun), berawal pada abad ke 15, tepatnya Hari Jumat Legi tanggal 15 Suro 1487 Be atau Hari Kamis Kliwon 18 Juli 1568 (Hari Ulang Tahun Madiun). Pada saat itu Pangeran Timur dipercaya untuk menjadi Bupati atas Kabupaten Purabaya (sekarang Madiun). Beliau diberi gelar Panembahan Puroboyo dengan pusat pemerintahan di Desa Sogaten. Beliau adalah adik dari Sultan Pajang, Sultan Agung Hadiwijoyo atau lebih dikenal sebagai Joko Tingkir.

Sejak tanggal itu, secara yuridis Kabupaten Purabaya menjadi suatu wilayah pemerintahan di bawah pimpinan seorang Bupati dan berakhirlah pemerintahan pengawasan di Purabaya yang dipegang oleh Kyai Rekso Gati atas nama Demak sejak tahun 1518 – 1568. Sebelumnya Purabaya masuk dalam pengawasan Demak dikarenakan Raden Ayu Retno Lembah, puteri dari Pangeran Adipati Gugur yang berkuasa di Ngurawan – Dolopo; dinikahi Putra Mahkota Kasultanan Demak yaitu Pangeran Surya Pati Unus. Ketika itu pusat pemerintahan dipindahkan dari Ngurawan ke desa Sogaten dengan nama baru Purabaya dipimpin oleh Kyai Rekso Gati sebagai kepanjangan tangan dari pemerintahan Demak di wilayah itu.

Tahun 1575, pusat pemerintahan dipindahkan dari Sogaten ke Desa Wonorejo (sekarang Kuncen). Dan pada tahun 1586, pemerintahan Kabupaten Purabaya diserahkan oleh Pangeran Timur kepada putrinya, Raden Ayu Retno Dumilah. Beliau inilah yang menjadi legenda, wanita yang memimpin perang prajurit-prajurit Mancanegara Timur.

Melihat Kabupaten Purabaya dipimpin seorang wanita, maka Mataram berusaha untuk menaklukkan Purabaya. Namun Mataram menderita kekalahan besar, dikalahkan oleh Retno Dumilah. Perang ini terjadi 1586 – 1587. Tahun 1590, dengan Mataram kembali memasuki Purabaya dengan pura-pura menyatakan takluk. Pasukan Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya tidak pernah berhasil mengalahkan Retno Dumilah melalui perang tanding. Namun Purabaya berhasil takluk karena Retno Dumilah dipersunting oleh Sutawijaya dan diboyong ke Kraton Mataram di Plered – Jogja.

Dan sebagai peringatan atas penguasaan Mataram atas Purabaya tersebut, maka pada hari Jumat Legi tanggal 16 November 1590 nama Purabaya diganti menjadi Madiun. Hal ini yang menyebabkan Kebudayaan Madiun lebih memiliki nuansa Mataraman daripada nuansa Surabaya, namun keduanya menjadi satu.

Pada tahun 1831-1832 Madiun menjadi Kota Besar dan menjadi pusat pemerintahan yang meliputi Madiun,  Ngawi, Magetan, Ponorogo dan Pacitan. Pada masa penjajahan Belanda, Madiun juga dijadikan sebagai pusat industri gula. Hingga saat ini terdapat 6 pabrik gula. Pabrik gula tersebut terletak di daerah Rejo Agung, Kanigoro, Pagotan, Purwodadi, Soedono, dan Redjosari yang bertempat sekitar 30 km dari Kota Madiun.

Berdirinya Kota Madiun adalah berdasar pada Undang-undang Pemerintahan Hindia Belanda No. 326 pada tanggal 20 Juni 1918 tentang Kota Madiun. Namun hingga tahun 1928 tidak mempunyai walikota. Hanya diatur oleh Asisten Bupati. Keputusan No. 411 tahun 1928, Pemerintah Hindia Belanda menempatkan Mr. K.A. Schotman sebagai Walikota Madiun, dan menjabat hingga tahun 1932. Mulai tahun 1932 hingga 1967, Kota Madiun dipimpin oleh 18 orang Walikota yang belum pernah diketahui secara pasti lama masa jabatannya. Mereka adalah:

  1. Mr. K.A. Schotman
  2. Boestra
  3. Mr. Van Dijk dan Loco Burgemeester Ali Sastromidjojo
  4. Dr. Mr. R.M. Soebroto
  5. Mr. R. Soesanto Tirtiprojo
  6. Soedibjo
  7. R. Porbo Siswono
  8. Soepardi
  9. R. Mochamad (1948 dari Tentara Siliwangi)
  10. R.M. Sudiono
  11. R. Singgih
  12. R. Moentoro
  13. R. Moestadjab
  14. R. Roeslan
  15. R. Soepardi
  16. Soemadi
  17. Soebagyo
  18. Pd. R. Roekito, BA
  19. Drs. Imam Soenardji (13 November 1968 – 19 Januari 1974)
  20. Achmad Dawaki, BA (19 Januari 1974 – 19 Januari 1979)
  21. Drs. Marsoedi (20 Januari 1979 – 20 Januari 1984)
  22. Drs. Marsoedi (20 Januari 1984 – 20 Januari 1989)
  23. Drs. Masdra M. Jasin (20 Januari 1989 – 20 Januari 1994)
  24. Drs. Bambang Pamoedjo (20 Januari 1994 – 20 Januari 1999)
  25. Drs. H. Achmad Ali (29 April 1999 – 29 April 2004)
  26. Kokok Raya, SH, M.Hum (29 April 2004 – 29 April 2009)




Babad Cianjur (Bahasa Indonesia)

27 04 2009

Jaka Susuru Raja Di Negeri Tanjung Singuru

Perjalanan Prabu Jaka Susuru yang membuat Kerajaan di Tanjung Singuru, yang sekarang disebut Bobojong Cisuru, di desa Sukarama Kelurahan Bojong Picung Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur.

Bekas kerajaan ini sangat makmur, dari selatan dari barat dan utara dikelilingi sungai yang di beri nama sungai Cisokan, dan di sebelah selatannya berdiri gunung, yang disebut Gunung Cibulé, dan dari sebelah timurnya dihalangi oleh benteng 5 lapis, dan jauh ke timur lagi berdiri Gunung Payung. Menurut cerita penduduk kampung Ciséro yang berada di kaki gunung tersebut, Gunung Payung termasuk keramat, malah sering digunakan sebagai tempat sembahyang hewan-hewan yang ada di situ.

Bekas Tanjung Singuru ini di bawahnya digunakan jalur untuk saluran irigasi, yang sekarang airnya digunakan untuk mengairi sawah yang jumlahnya + 8.000 hektar, itu hanya yang terdapat saluran irigasinya.
Sekarang kami ceritakan Sejarah Perjalanan Prabu Jaka Susuru, putra Prabu Siliwangi Raja di Negeri Pajajaran, yang sekarang petilasannya ada di Bogor.

Awal Mula

Sang Prabu Siliwangi ke VII Raja di Pajajaran mempunyai putra bernama Munding Mintra Kasiringan Wangi. Pada suatu waktu diadakan pertemuan yang dihadiri para Bupati, Patih, Mantri para Tumenggung. Sang Prabu Siliwangi bersabda kepada Para Bopati, sabdanya: “Bagaimana menurut kalian wahai para Bupati, Patih dan Tumenggung, berhubung kami mempunyai anak laki-laki, yaitu Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi, yang belum mempunyai istri, tapi akan kami angkat dulu sebagai Bupati!”

Jawab para Bupati dan para Tumenggung kepada Sang Prabu Siliwangi: “Itu sudah sepantasnya, asalkan tidak mengganggu pemerintahan Kangjeng Gusti, dan ditetapkan akan memerintah di mana putra Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi.” Setelah sang Prabu Siliwangi menyimak pendapat para Bupati dan Tumenggung demikian, lalu sabdanya lagi: “Jika menurut keinginan kami serta menurut Peta Pakuan Pajajaran, bakal negara itu terletak di daerah Hutan Pasagi Timur, hanya nama negaranya tergantung bagaimana nanti,”

Setelah Kangjeng Raja Siliwangi bersabda seperti itu, lalu puteranya yaitu Radén Munding Mintra Kasiringan Wangi, dipanggil, serta diperintahkan harus pergi mengembara ke daerah Hutan Pasagi Timur, mencari tempat untuk dijadikan kerajaan kecil, ditemani oleh dua Tumenggung, yaitu Dipati Tumenggung Séwana Giri, dan Dipati Tumenggung Séwana Guru, dan diberi jimat Makuta Siger Kancana juga Peta Pakuan Pajajaran atau gambar Lawé Domas Kinasihan.

Setelah bersiap-siap, lalu Munding Mintra Kasiringan Wangi beserta Tumenggung Séwana Giri Séwana Guru pergi bertiga. Sesampainya di hutan ganggong si magonggong, Radén Munding Mintra beserta dua Tumenggung beristirahat di situ, menoleh ke Tumenggung Séwana Guru dan Séwana Giri, ucapnya: “Wahai, paman Tumenggung Séwana Guru dan Séwana Giri, jangan-jangan ini lah tempat yang akan kita jadikan negara!” jawab kedua Tumenggung: “Benar Gusti, menurut paman juga jangan-jangan benar tempat ini, memang pantas seandainya di dirikan sebuah negara, karena tanahnya bagus, tanah dikelilingi sungai, mengalir ke timur, ya yang seperti ini yang disebut Galudra Ngupuk.”

Lalu Radén Munding Mintra mengeluarkan jimat Makuta Siger Kancana, serta memohon kepada Déwa Batara Sanghiang Utipati. Dikabulkan permohonannya, tiba-tiba di atas tanah itu telah berdiri sebuah bangunan kerajaan, dengan benteng 5 lapis, selapis benteng besi, selapis baja, perunggu, perak, lapis yang paling dalam terbuat dari emas. Kemudian memohon lagi kepada Déwa minta 8.000 punggawa, prajurit 80.000, dan 65 dayang yang mengurusi Keraton. Setelah lengkap isi keraton juga isi negara, kemudian Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi berdiskusi dengan Tumenggung Sewana Giri, Sewana Guru, perihal menentukan nama negara tersebut. Tapi dijawab oleh Tumenggung Sewana Guru, Sewana Giri: “Raden, masalah pemberian negara ini, jangan melancangi ayahanda Prabu, Gusti Prabu Siliwangi di Pakuan Pajajaran, lebih baik saya saja yang diutus ke Pajajaran menghadap ke Gusti.” Kemudian Raden Munding Mintra menyetujuinya. Maka Tumenggung Sewana Guru segera berangkat menghadap ke Kanjeng Prabu Siliwangi.

Tidak diceritakan perjalanannya, telah sampai di negara, lalu menghadap ke Duli Prabu Siliwangi, dan menyampaikan bahwa diperintah oleh sang putera untuk memohon pemberian nama negara baru, sedangkan semuanya telah siap, belum diberi nama.

Ucap Kanjeng Prabu Siliwangi: “Nama negara itu sepantasnya adalah Tanjung Singuru.” Lalu Tumenggung Sewana Guru pamit mundur, sesampainya di negara Tanjung Singuru, lalu ditanyai oleh Munding Mintra Kasiringan Wangi: “Bagaimana perintah Gusti Prabu Siliwangi?” Lalu dilaporkan oleh Tumenggung Sewana Guru, jika diperintahkan untuk menamakan negara ini Tanjung Singuru, juga rajanya harus berganti nama, Prabu Jaka Susuru.” Jawab Raden Munding Mintra Kasiringan Wangi: “Oh, begitu. Jika sekarang negara telah bernama, dan kami telah diganti nama, namun patut disesali jika belum mempunyai permaisuri. Lalu sekarang siapa lagi yang akan membantu, selain paman dipati, sekarang saya mohon bantuannya, mencari Putri untuk dijadikan permaisuri.”

Tumenggung Sewana Guru menjawab: “Silahkan, sekarang saya mendapat berita, ada wanita di Negara Bitung Wulung, putra Tumenggung Bitung Wulung, Pangeran Jungjang Buana, nama Puteri yang satu adalah Sekar Jayanti, dan satu lagi Jayanti Kembang.” Prabu Jaka Susuru menjawab: “Oh, kalau begitu kita lamar saja semuanya, persiapkan keperluan melamar seperti adat biasanya, untuk dibawa kepada Tumenggung Bitung Wulung.” Kemudian Patih pun segera berangkat.

Sesampai di Negara Bitung Wulung, kebetulan Raja sedang di singgasana, lalu Patih menghadap, ditanyai oleh Raja: “Dari mana anda, siapa yang menyuruh dan ada perlu apa?” Tumenggung Sewana Guru menjawab: “Adapun kedatangan hamba, hamba ini adalah Patih Tanjung Singuru, hendak melamar sesuai perintah Raja. Bagaimana keadaan puteri paduka, apakah masih lajang? Seandainya masih lajang sekarang juga dipersunting.” Raja menjawab: “Betul hamba mempunyai anak, tapi oleh ini dan oleh itu juga dilamar dan tidak juga kami berikan, sekarang dipersunting oleh turunan Pakuan Pajajaran, Prabu Jaka Susuru, sedangkan hamba hanya bisa mengabulkan, dan berharap jangan diperlama, sebab puteri telah cukup umur.”

Sang Patih menjawab: “Kalau begitu terima kasih, malah sekarang juga dibawa sekalian, supaya hari ini dipersembahkan ke Prabu Jaka Susuru.”

Sang Prabu Bitung Wulung menjawab: “Ah, kalau begitu hamba akan sekalian mengantarnya sekarang.” Kemudian mereka berangkat, singkat cerita telah datang di Negara Tanjung Singuru, lalu ditanya oleh Prabu Jaka Susuru berhasil tidaknya. Lalu Patih melaporkan bahwa telah berhasil, malah dibantu, serta diantar oleh ayahandanya, juga lalu oleh ayahnya dipasrahkan kepada Prabu Jaka Susuru, ucapnya: “Sekarang hamba pasrahkan, sudah tidak menjadi beban pikiran Prabu Jaka Susuru.” Kemudian ayah sang puteri pamit mundur kembali ke negaranya di Bitung Wulung.

Diceritakan Prabu Jaka Susuru, berkumpul dengan Adipati, dan semua punggawa, berembuk akan mengadakan pesta karena telah mempunyai permaisuri namun belum dirayakan. Tidak berapa lama diadakan pesta yang ramai, tujuh hari tujuh malam.

Ditunda sebentar cerita Prabu Jaka Susuru, ada satu negara, negara Gunung Gumurh, nama Rajanya Badak Tamela Sukla Panarak Jaya. Raja tersebut tidak mempunyai istri, hanya mempunyai satu saudara perempuan bernama Ratna Kembang Tan Gumilang.

Raja sedang duduk di Paseban, mendengar kabar tentang pesta di Negara Tanjung Singuru, lalu bertanya kepada adiknya Putri Ratna Kembang: “Nyai di manakah pesta itu diadakan?”

Jawab Putri: “Itu yang sedang berpesta adalah negeri Tanjung Singuru, Rajanya sedang merayakan pernikahan dengan Puteri Sekar Jayanti dan Jayanti Kembang.”

Jawab Raja: “Oh, bukankah wanita itu idaman kakanda dari dulu, yaitu Putri Sekar Jayanti incaran kakanda. Coba Nyai tunggu sebentar, sekarang kakanda akan melihatnya.”

Jawab adiknya: “Jangan kanda, sebab dia sudah menjadi permaisuri Raja, walaupun kanda rebut juga tidak akan mampu, pasti kita celaka.”

“Ah, biar saja akan kanda rebut, tidak akan bisa dihukum, kan kanda punya kawah Domas; Prabu Jaka Susuru akan kanda jebloskan, akan kanda kelabui dengan mengatakan di kawah Domas ada intan sebesar anak lembu, supaya diambil, dan jika sudah berada di dalam kawah, pintunya akan kanda tutup.”

Lalu Raja Gunung Gumuruh berangkat, setibanya di Tanjung Singuru, mohon ijin hendak menumpang istirahat. Raja Tanjung Singuru melihatnya, lalu ditanya: “Anda berasal dari mana, serta siapa nama anda, belum pernah kami lihat, seperti yang sedang payah?”

Jawabnya: “Benar, hamba ini Raja Gunung Gumuruh, keperluan datang ke sini, hendak bakti negeri, memasrahkan diri, serta menyerahkan batu intan sebesar anak lembu, yang ada di kawah Domas. Tidak ada lagi yang pantas memilikinya selain adimas Prabu, yang berhak.”

Lalu Raja Tanjung Singuru bertanya kepada istrinya: “Bagaimana Nyai, sekarang kita memperoleh bakti berupa negara dan intan yang besar?”

Jawab sang istri: “Jangan kanda, siapa tahu itu ada maksud hendak menganiaya, menggoda dan bermaksud buruk kepada kita, serta dinda mempunyai perasaan yang ganjil, seperti akan terjadi musibah.”

Tapi Patih Tumenggun Sewana Guru berkata: “Tidak baik yang berbakti tidak kita terima, sekarang sebaiknya kita berangkat.” Kemudian berangkatlah Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru, Tumenggung Sewana Giri bersama Raja Panarak Jaya. Singkat cerita, tibalah mereka di kawah Domas.

Setibanya lalu Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru dan Sewana Giri melihat ke dalam kawah. Tidak menunggu lama lagi, oleh Raja Gunung Gumuruh mereka bertiga di tendang ke dalam kawah Domas. Setelah ketiga orang itu tersungkur, kemudian pintu di tutup dengan batu hitam oleh Raja Gunung Gumuruh. Lalu ketiga orang yang berada di dalam dasar kawah Domas itu bertapa, selama 30 tahun.

Dari situ Raja Gunung Gumuruh pergi ke negara Tanjung Singuru, dengan tujuan hendak merebut kerajaan. Setelah datang lalu ditemui oleh Putri Sekar Jayanti dan Putri Jayanti Kembang: “Kakanda Raja Gunung Gumuruh, dimana Sang Prabu Tanjung Singuru?”

Jawabnya: “Nyai, sekarang janganlah menanyakan hal Prabu Jaka Susuru, sebab kanda telah memenjarakannya, sekarang suami nyai adalah kanda seorang, dan negara ini akan dikuasai.”

Jawab Putri: “Ah entahlah, sebab hamba tidak akan berpisah dengan Prabu Jaka Susuru!”

Sang Putri pun terus dipaksa, kemudian ia pun kabur menuju ke hutan dalam keadaan hamil. Setelah usia kehamilan 9 bulan, Sang Putri melahirkan di tengah hutan, putranya lelaki semua. Yang dari Sekar Jayanti dinamakan Heulang Boengbang Legantara Lungguh Tapa Jaya Perang, sedangkan yang dari Jayanti Kembang dinamakan Kebo Keremay Sakti Pangeran Giringsing Wyang. Mereka berdua dilahirkan di hutan dan dibesarkan pula di hutan. Setelah mencapai usia 10 tahun, mereka berdua dengan ibunya masing-masing mengungsi ke Negara Tanjung Sumbara. Rajanya bernama Gajah Karumasakti, mempunyai istri dua orang, yaitu Purba Dewata dan Tarna Dewata. Setelah mereka berdua bersama ibu-ibunya tiba dan menghadap Raja Gajah Karumasakti, serta disambut baik oleh raja: “Oh, sukur kalian datang dengan selamat, kalian ini dari mana dan keturunan siapa?”

Jawab Putri: “Semoga Raja percaya, anak ini, adalah turunan dari Kangjeng Prabu Siliwangi, putra dari Prabu Jaka Susuru, sedang hamba adalah ibunya. Adapun maksud kedatangan kemari adalah hendak memohon pertolongan, untuk menyelamatkan Prabu Jaka Susuru, yang ada di dalam dasar kawah Domas, dipenjara oleh Raja Gunung Gumuruh.”

Jawab Raja: “Oh nyai, pasti akan kanda tolong. Sekarang negeri Tanjung Singuru akan saya jadikan lantaran, agar bisa bertemu dengan Raja Gunung Gumuruh, negeri itu kita serbu.”

Jawab Putri: “Baik, namun kalau berkenan, hendaklah di selamatkan dahulu yang ada di dasar kawah.”

Lalu Raja Karumasakti berangkat, dan setelah datang di Tanjung Singuru langsung menyerbu. Api berkobar-kobar membuat seisi negeri mengungsi ke utara, timur, selatan, barat, negara porak poranda.

Datanglah Raja Gunung Gumuruh dan mereka beradu mulut, masing-masing mengaku bahwa negara ini adalah miliknya. Raja Karumasakti berkata: “Ini negaraku!” Kata Raja Gumuruh: “Punyaku!”  Saling mengaku-aku, akhirnya pecahlah perang tanding antara Raja Gajah Karumasakti dengan Raja Gunung Gumuruh, ramai berkelahi adu kesaktian; dan akhirnya Raja Gunung Gumuruh kalah perang, hingga menyerah takluk kepada Raja Gajah Karumasakti. Lalu Raja Gajah Karumasakti berkata: “Sekarang kamu kalah, tapi harus mau melepaskan Prabu Jaka Susuru dari dasar kawah Domas!”

Jawabnya: “Silahkan, tapi harus bersama-sama anda, kita ke kawah.”

Lalu mereka semua berangkat, setelah sampai di kawah Domas, batu penutup pintunya digeser, dan terlihatlah ketiga sosok, Prabu Jaka Susuru, Tumenggung Sewana Guru, Tumenggung Sewana Giri, lalu dibangunkan dan dilepaskan.

Raja Gunung Gumuruh pun menyatakan bertobat dan memohon ampunan kepada ketiganya karena telah sekian lama membuat sengsara kepada Prabu Jaka Susuru, dan menyerahkan negaranya beserta seluruh isinya, juga saudara perempuannya juga di pasrahkan kepada Prabu Jaka Susuru, supaya berkenan diperistri. Selanjutnya negara Gunung Gumuruh di bawah perintah Prabu Jaka Susuru.

Sejak itu lalu Prabu Jaka Susuru berangkat beserta saudara perempuan Raja Gunung Gumuruh, menuju ke negara Tanjung Sumbara. Jadi akhirnya Raja Prabu Jaka Susuru menetap di negara Tanjung Sumbara mempunyai tiga orang istri, dua putra, dan empat patih:

  1. Tumenggung Sewana Guru
  2. Tumenggung Sewana Giri
  3. Tumenggung Gajah Karumasakti
  4. Tumenggung Badak Tamela Sakti Paranak Jaya





Sasmita Jangka Jayabaya (Bahasa Jawa)

27 04 2009

Ing ngisor iki kita pacak anane jaman-jaman kang dadi sasmita kang kasebut ing layang Jangka Jayabaya.

  1. Yen wong wis wani supata lan sumpah.
  2. Manungsa padha sungkan, doyanan lan saen.
  3. Adoh mring agama lan piwulang becik.
  4. Kereta mlaku tanpa kuda.
  5. Senyari bumi dipajegi, tanah Jawa kalung wesi.
  6. Ilange kabecikan, ilange sanak kadhang.
  7. Kang mlincur pada mujur, kang dora ura-ura.
  8. Akeh karya sorak-sinorak.
  9. Wong wadon mangro tingal, ora setya marang laki.
  10. Wong lanang padha lanang dhemenan.
  11. Akeh wong wadon dijamah, akeh liron bojo singa seneng.
  12. Manungsa ora betah tapa.
  13. Bocah cilik wis mangerti duwit.
  14. Lemah angker dadi tawar.
  15. Antarane bumi lan langit wis katon mingkuh.
  16. Bumi suda pemetune.
  17. Wong anggaota saya sengkut, nanging ora dadi abahan.
  18. Ratu Nangkodasalah saya rosa, wong Jawa saya rekasa.
  19. Ana udan salah mangsa.
  20. Ratu Nangkoda salah janji, apes dayane.
  21. Wong dagang keplanggrang.
  22. Manungsa padha lali, akeh barang karam.
  23. Akeh jalma adol kawruh gethok tular.
  24. Negara ora adil ukumane.
  25. Nuli ana perang gempuran, saka kidul, wetan lan kulon.
  26. Nangkoda ngantepi jurit, tapis gempur.
  27. Ana raja jinunjung wong rucah, bupatine pedharakan, patihe botoh gedhe.
  28. Pepati tanpa aji, saka kobongan lan mati kabingungan.
  29. Ana perang ing jero kurungan.
  30. Era-eru wong Jawa kari separo, Cina Landa kari sajodho.
  31. Bupati dadi wong cilik, wong cilik dadi priyayi.
  32. Akeh omah dhuwur kuda, wong padha mangan wong.
  33. Padha bingung adheping wong.
  34. Begjane sing eling, cilakaning sing lali.
  35. Wong nganggur jinagur, wong ladhak kecandhak, wong wani pada mati, wong kendel kecekel, wong kekel dipetel, kang temen padha lumuh, kang balilu, diulu, wong pinter diinger-inger, wong bodho dikono-kono, kang ngalah ngrayah, dene wong tani nemu mangsan, wong sugih dadi nista, donya dadi memala, wong buruh angluh, kang pasrah kalumah-lumah, kang setiyar bubar, kang nrima nemu sengsara, kang dora muksa, sapa kang ngrasa kawula antuk arta lan pangapura.
  36. Pitik angrem ing pikulan.
  37. Mas picis padha larut, ora weruh parane.
  38. Akeh wong mendem donya, rebut unggul angangsa-angsa.
  39. Nuli ana ratu sikep bala, negara sigar semangka, sibeg kemaronan, akeh wong nanjung suwita, wong dora tinarima, mlincur, timah ngakune selaka, mas dianggep busuk, wong cilik atur bekti ratune dinar tembaga semune.
  40. Wong sugih dadi jirih, wong wedi dadi priyayi, wong dosa ura-ura wareg kadonyan, wong bingungan padha liwung, wong lara ora oleh tamba, wong medhit kejepit, kang aburuh angluh, nulung kepenthung, kathah wong sasar lan samar, ora pracaya mring ukuman kodrat, wong becik kathithik, wong ala ketara.
  41. Ana ratu loro ngrerepa, negara dadi siji, dipilih endi kang isih utama.
  42. Lanang kumpul lanang, wadon kumpul wadon, rebut ijir luru sandang pangan.
  43. Kathah lumuh bebojoan, wong jejodhoan anjaluk pisah.
  44. Katon donya padha muspra, lara mulya tambel jiwa.
  45. Wong kaya gabah den interi, agama ora kacarita, tatakrama dadi ubra, kabeh padha ngawula hardaning napsu.
  46. Katon wong tutuh tinutuh, medar ngelmu gethok tular. Kang panas kabrangas, kang kemlungkung merkungkung, kang wanter kesander, kang cilik di-itik-itik, kang gedhe di ece, adol gawe lumuh gewe, kang sedih saya perih, kang numpuk kejupuk, kang kesrakat, luru butuh padha angluh, kang sregep kerungkep, kang mincul kepacul, kang edan dadi bandhan, kang ngece kerante, kang nyorok, kang ngangsa-angsa keprawasa, kang pasrah kacegah, kang kumaki ciri, kang ngemut mumet.
  47. Ratu Nangkoda ngambali jurit, muksa sirna gempur tanoa abahan.
  48. Tumuli Allah nitahake Ratu Adil.





Sabdopalon

27 04 2009

Welinge Sabdo Palon, ing tahun Lawang Sapto Ngesthi Aji (1879) perjuangan kita lagi teka ing tengah-tengahe. Saiki durung paja-paja pundat. Cecobaning Pangeran warna-warna, bangsa kita kudu kuat nglakoni, Jer Basuki Mawa Bea.
Sabdotomo kang ngemot jangkane Sabdo Palon mau mangkene:

SINOM

  1. Sanget-sangeting sangsara, kang tumuwuh tanah Jawi, sinengkalan taunira, Lawang Sapto Ngesthi Aji, upami nabrang kali, prapteng tengah-tengahipun, kaline banjir bandang, jerone nyilepake jalmi, kathah sirna manungsa kathah pralaya.
  2. Bebaya ingkang tumeka, watara satanah Jawi, ginawe kang paring kodrat, tan kena dipun singgahi, awit ing donya iki, ana angger-anggeripun, karsanireng Jawata kinarya, amratandani, jagad iku yekti ana kang akarya.
  3. Warna-warna kang bebaya, kang ngrusakken tanah Jawi, sagung tiyang nambutkarya, pamedal mboten nyekapi, priyayi keh kang brenti, sudagar tuna sedarum, wong glidhig ora mingsra, wong tani ora nyukupi, pametune akeh sirna aneng wana.
  4. Bumi ilang berkatira, ama kathah kang ndhatengi, dalu kathah ingkang ilang, cinolongan dening jalmi, resahnya anglangkungi, karana rebut rinebut, risak tataning jalma yen dalu grimis keh maling, lamun rina kathah tiyang ambebegal.
  5. Heru hara sakeh jalma, rebutan ngupaya bukti, tan ngetang anggering praja, tan tahan perihing ati, katungka praptaneki, pageblug ingkan linankung, wradin satanah Jawi, enjing sakit sore mati, sonten sakit enjangnya sampun pralaya.
  6. Kesandhung bae pralaya, kaselak banjur ngemasi, udan barat salah mangsa, angin geng anggegirisi, kayu gung gung brasta sami katempuh ing angin agung, kathah rebah belasah, lepen-lepen sami banjir, lamun tinon pan kadya samodra bena.
  7. Alun minggah ing daratan, karya risak tepis wiring, geter manahe pra jalma, kang dumunung kanan kering, kajeng-kajeng keh kenthir, kang tumuwuh pinggir laut, sela geng sami brasta, kabelabag katut keli, gumulundung-gumulundung suwaranira.
  8. Hardi agung-agung samya, hurubaya nggegirisi, gumleger suwaranira, lahar wutah kanan kering, amblabar angelebi, nrajang wana lan desa gung, manungsanya keh brasta kebo sapi samya gusis, sirna gempang tan wonten mangga puliha.
  9. Lindhu ping pitu sedina, karya rusaking sujalmi, sitinya samya anela, brekasakan sami ngeksi, anyarat sagung jalmi, manungsa pating galuruh, kathah kang nandang roga, warna-warna ingkang sakit, awis saras kathah kang prapteng pralaya.
  10. Miturut carita kuna, wecane jalma linuwih, kang wus kocap angeng jangka, manungsa sirna sepalih, dene kang bisa urip, yekti ana syaratipun, karya nulak bebaya, kalise bebaya yekti, netepana kang wineca para kuna.
  11. Kang kocap ning Jayabaya, manungsa urip puniki, kadya rumput aneng wana, yen wus tekan jaman akhir, kluku ginaru sami, yekti kathah ingkang lebur, lamun nedya yuwana, luput ing sakalir kalir, garu luku bisa nlesep selanira.
  12. Padha sira ngupoyoha, sarana ingkang sejati, sahadat ingkang sampurna, sampurna jatining urip, yen ora bisa oleh, nyatakna ingkang satuhu, kang nganti prapteng laya, laya sajroning ngahurip, hya iku mergane kalis bebaya.
  13. Yen sira durung uninga, takokna guru kang yekti, kang wus putus kawruh mring kasidan jati, budha budine yekti, kang kok anut rinten dalu, ing ngendi dunungira, lawan asalira nguni, yen wus laya ing ngendi iku dunungana.
  14. Padha sira ngelingana, carita ing nguni-nguni, kang wus kocap serat babad, babad nagri Majapahit, nalika duk ing nguni Brawijaya Sangaprabu, prasamya pepanggihan, kalawan jeng Sunan Kali, katiganya Sabdo Palon rencangira.
  15. Sangaprabu Brawijaya, sabdanira arum manis, nantun dhateng punakawan, Sabdo Palon paran karsi, jenengingsun puniki, wus angrasuk agama rasul, heh kakang pekenira, miluwa agama suci, luwih becik iku agama kang mulya.
  16. Sabdo Palon matur sugal, yen kawula mboten arsi, angrasuk agama Islam wit kula punika yekti, ratuning danyang Jawi, momong marang anak putu, sagunging pri prayangan, kang dumunung tanah Jawi, wus pinasthi sayekti kula pisahan.
  17. Kalawan Paduka Nata, wangsul mring kajiman mami, mung kula matur pitungkas, benjing ing sapungkur mami, yen wus prapta kang wanci, jangkep gangsal atus taun, awit dinten punika, kula gentos ing agami, agami Budi kula sebar tanah Jawa.
  18. Sinten tan purun nganggeya, yekti kula risak sami, sun ajakan putu kula, brekasakan rupi-rupi, dereng lega kang ati, yen durung alebur tumpur, kula damel pratanda, praptane tembayan mami, hardi Mrapi yen wus jeblug mili lahar.
  19. Ngidul ngilen purugira, nggandha banger ingkang warih, nggih punika wedal kula, wiwit nyebar agama Budi, netepi janji mami, anggere kodrat satuhu, karsanireng Jawata, sadaya gilir gumanti, mboten kenging alamun hingga wahana.
  20. Sabdo Palon nulya muksa, sakedap mboten kaeksi, wangsul mring jaman kajiman, langsung ngungun Sribupati, jenger tan bisa angling, kang manah langkung gegetun, kaduwung solahira, mupus karsaning Dewadi, kodrat iku sayekti tan kena owah.




Kebahagiaan Manusia

27 04 2009

Kebahagiaan bagi manusia itu ada tujuh jenis, yaitu:
Kasuran, artinya kesaktian. Tujuannya agar dihargai. Asal mula kesaktian karena mengurangi makan.maka ia akan menjadi kuat dan sentausa. Namun kelemahannya adalah jika berbuat sewenang-wenang dan aniaya.

Kagunan, artinya kepandaian. Tujuannya agar terpandang. Asal mula kepandaian adalah dari pengabdian dan ketekunan. Namun kelemahannya jika ia mengeluh dan malas.

Kabegjan, artinya kekayaan. Tujuannya agar disayang. Asal mulanya dari banyaknya karib kerabat. Terlaksana bila sabar, menerima, bersahaja dan hati-hati. Namun kelemahannya apabila dia boros dan royal.

Kabrayan, artinya banyak anak cucu. Tujuannya agar dimuliakan. Pangkalnya dari belas kasih. Terlaksananya dari perkataan yang manis dan terjadi dari nasehat dan petuah-petuah. Akan tetapi yang menjadi halangannya adalah suka marah dan iri dengki.

Kasinggihan, artinya keluhuran. Tujuannya supaya dihormati. Berpangkal dari derita dan nestapa, terlaksana dari sikap berbakti, dan terjadinya karena tingkah sopan santun. Akan tetapi yang menjadi penghalangnya adalah sikap angkara murka.

Kayuswan, artinya panjang umur. Tujuannya supaya terpercaya. Pangkalnya dari budi luhur, terlaksana dengan manunggalnya rasa, terlaksana karena kesetiaan. Akan tetapi penghalangnya adalah dusta dan bohong.

Kawidagdan, artinya keselamatan. Tujuanya supaya selamat sejahtera. Berpangkal dari kesucian, terlaksananya dari mengurangi minum. Terjadinya dari sikap rendah hati. Tapi penghalangnya adalah jika berperilaku jahat.





Renungkan

27 04 2009

Betapa indah dunia ini jika kita bertemu dengan sesama makhlukNya, saling beramah tamah, saling menghormati, tanpa harus memandang apa suku bangsanya, apa agamanya dan apa statusnya.

Mengapa kita harus beragama, jika kita menjadi saling membenci agama atau paham yang berbeda dengan agama kita?





Diothak-athik Mathuk

1 04 2009

(Wecane R. Ng. Ranggawarsita)

Dek taun Masehi 1908, Ki Cekel isih bocah wajah demolan. Yen mapan turu isih dikeloni embahne wedok. Sajrone kelon mau embahne karo ndongeng warna-warna, nyritakake kautaman lan lelabuhane para luluhur ing jaman kuna, kayata: Raden Panji Inakartapati, Jaka Kutuk, Timun Emas, lan sapiturute. Terkadang sok diselani kekidungan utawa uran-uran, olehe nembangake nganjut-anjut bisa gawe turune bocah.

Ana uran-uran sji sing terus bisa cumantel dadi apalane Cekel, mbokmenawa marga uran-uran mau ngemot crita bab lalakone kewan. Dasar tembunge dandang gula, dilagokake turu lare, wah ta rasane kok kaya ndudut ati. Apalane mengkene:

  1. Tikus piti bisa nata baris
  2. Walang kecek sing minangka kopral
  3. Kodok ijo saresane
  4. Yuyu kapitanipun
  5. Nunggang kreta ngideri loji
  6. Jangkrik upa tetegar
  7. Kemangga kang nuntun
  8. Kadal, Bunglon tuk antukan
  9. Anggang-anggang angrebut negara Bali
  10. Kungkang, Bangkong tabuhan

Embahne lanang yaiku R. Dm. Pancapramana, paring katrangan yen uran-uran mau anggitane Kyai Pujangga Ranggawarsita, kajaba kanggo ndolani bocah iya ngemot surasa sing jero. Uran-uran mau kanggo pralambang bakal jumedule Ratu Adil, kang bakal dadi pangayomane wong-wong ing Nuswantara, mulihake panguwasa kaya jaman Majapahit.

Katrangan kaya mengkono mau ora bisa klebu ing pikirane Cekel, nanging dumadakan bapakne Cekel pitakon sajak migatekake banget, clatune: “Bapak, rawuhipun Ratu Adil punika punapa taksih dangu?”

Embahne: “Ing besuk taun Candrasengkala: Saeka Kapti Tumuju Sawiji, tegese taun Jawa 1881. Sengkalan iku iya anggitan Ranggawarsita.”

Bapakne: “Manawi mekaten kula mboten saged menangi.”

Embahne: “Aku ora ndisiki kodrating Pangeran, kira-kira putuku Cekel sing bisa menangi. Dak kukudang putuku Cekel ing besuk mantep setya ngayom marang Ratu Adil, supaya ginanjar slamet rahayu ing sapanduwure.”

Bapakne Cekel banjur ngelus-elus gundule anake, sajak krasa marem atine. Embahne katon resep nyawang putune, unli nerusake critane: “Ing besuk ana perang gede, sarta in Surakarta katut keseret ing perang. Kuta Solo dadi karang abang, pasar Kembang dadi pasar tangis, Nglaweyan banjir getih. Sing bisa tutulung Ratu Adil.”

Bapakne: “Ingkang wajah pun Cekel mugi kaparingan pangestu wilujeng.”

Embahne: “Tapaku cikben diunduh putuku, mung welingku dimantep pangidepe marang Ratu Adil. Sing prelu dieling-eling, ing besuk yen wis ana gaga tuwuh papringan sarta ana patih wuda, ing kono jumedule Ratu Adil. Ratu nangkoda diendih ing Ratu Kuning, suwene saumur jagung.”

Saben tahun angkaning tahun mundak siji, umure Cekel iya mundak setahun-setahun. Sateruse ngancik umur diwasa, omah-omah, duwe anak, banjur duwe putu. Ki Cekel menangi perang gede rambah kaping pindo. Perang donya kang kapisan ing tahun 1914 – 1918, ing Nuswantara ora ana owah-owahan sing wigati, tegese isih tetep dadi nagara jajahan.

Perang donya kang kapindo ing tahun 1939 – 1945, tanah Nuswantara genti dijajah negara Jepang (Ratu Kuning), lawase telu setengah tahun, ora saumur jagung telu setengah sasi. Nuswantara diresmikake aran Indonesia. Ing tanggal kaping 17 Agustus 1945 wong Indonesia ngedegake nagara Indonesia MARDIKA adedasar Pancasila, satemah banjur perang nglawan prajurit Jepang, Inggris sarta Walanda.

Nalika kuta Solo diebroki prajurit Walanda, yaiku wiwit tanggal 21 Desember 1948, Ki Cekel rada kisruh pikirane. Apa ngeeli marang kahanan yaiku abot marang tangising anak putu lan wedi ancaman bayonet, apa abot marang welinge embahne sing wis sumare?

Ki Cekel enggal mbukak catetan, buku kawak sing wis lutu wareg tangan. Catetan mau panggawene dek tahun M 1915 nurun layang wecane Kyai Pujangga Ranggawarsita, kagungane R. Tumenggung Martanagara ing Boyolali. Weca mau ana 6 pada gede, tembange sinom (taruna utawa lambange para muda): Kang jumeneng ping dwi welas, ilanging Gupermen Wlandi, sayuk sagung pra kawula, saiyeg saeka kapti, tumuju ing sawiji ( 1881), angadep satriya luhur, tan ngidep raja brana, mung nagri ingkang den pundi, kirdyating: tyas woring cipta ngesti janma (1881). Terange candrasengkala: Tyas (ati) = 1, Cipta (kekarepan) = 8, Ngesti = 8, Janma = 1. Eka = 1, Kapti (karep) = 8, tumuju (obahing karep) = 8, sawiji = 1.

Dadi tetela ing tahun Jawa angka 1881 panguwasane Ratu Walanda mengku tanah Indonesia wis cutel. Sanadyan ing weektu iku prajurit Walanda bisa ngebroki kuta-kuta ing Surakarta karo sawenang-wenang, iya mung dadi pecut tumrap para taruna sing saya gumregut olehe mangsah yuda.

Nalika samana sing jumeneng in Surakarta Sinuhun Paku Buwana XII temenan, dadi cocog karo unining yaiku Ripublik Indonesia. Sanadyan pasar Kembang sida dadi pasar tangis, lan nglaweyan sida banjir getih, Ki Cekel meksa ora ngedap. Ora mandeg tumolih.

Pasar Kembang kelakon dadi pasar pembelehan temenan, wong-wong kampung tuwa-anom lanang-wadon pada dibelehi tanpa taha.

Nglaweyan banjir getih, tegese: duwit kretas nyelawe rupiyah, pulase abang getih.

Ing batin Ki Cekel pitakon: “Hla Ratu Adil iku sapa?” Pitakon mau enggal diwangsuli dewe: “Ora liya ya Bung Karno!”

Ing layang Jangka Jayabaya nyebutake: Ratu Adil iku pralambange pudak sinumpet, kesampar kesandung ora ana sing weruh. Pancen ya nyata: Bung Karno kena diupamakake kembang pudak utawa kembang pandan sing nyata arum ngambar gandane, nanging terus disumpet ana ing pakunjaran Sukamiskin. Kesampar kesandung ora dinyana yen calon Kepala Nagara R. I.

Duk timure babaran ardi Srandil, tegese: Gunung Srandil iku ana guwane panggonan tapa. Iku nyanepakake dek Bung Karno mati-raga ana ing pakunjaran Sukamiskin.

Kutane alas Ketangga, kedatone sonya-reka utawa sonya-ruri, tegese: wiwit R. I. Ngadeg pusere pemerintah manggon ing tangga, yaiku wong Walanda ngarani Betawi nanging wong Indonesia ngarani Jakarta. Ing sadurunge iku Bung Karno ngedaton ing sonya-reka, tegese ngedegake peprentahan sarana sisideman (Ondergrondshe Politik).

Balane klabang lan kalajengking yaiku para gerilya sing gegamane bambu runcing.

Ratu Adil iku tedake Nabi Rasul, ya wis nyata yen Bung Karno iku ngrasuk agama Rasul (Islam).

Ki Cekel banjur genti ngotak-atik ngethukake tembung-tembung sing dicritakake embahne sing wis sumare:

Ratu Nangkoda diendih Ratu Kuning, sing dadi pratanda yen wis ana patih wuda, sarta ana gaga tuwuh ing papringan. Terange mengkene: nalika tekane wadya-bala Jepang, patih Surakarta asmane Jayanagara, yen ditulis aksara Jawa tiba nglegena kabeh, ora nganggo sandangan. Dek semana sing jumeneng ratu Sinuhun Paku Buwana XI, yen ditulis nganggo angka Jawa yaiku sewelas, iku mbarengi Gupernur Ori, jenenge pring. Sarehne gupernur iku kuwasane tiba ing sanduwuring ratu, ya dianjingake panggonan utawa papringan.

Ki Cekel genti ngotak-atik uran-uran dolanane dek isih bocah, yaiku apalan Tikus piti, iya weca Ranggawarsitan. Weca mau digathukake karo kedadeyan ing sajrone perang Kamardikan 1945 – 1949.

Pada lingsa angka: 1. dijarwani: tikus piti dadi sanepane para taruna (pemuda-pemudi) sing pada mangun yuda perang KAMARDIKAN. Kabeh dumadi saka rakyat golongan tani, kriya, buruh, kusir andong, tukang becak lan sapiturute. Apa sababe dene kewan cilik tur tikus piti utawa tikus sawah sing dipilih kanggo umpama? Iku saka panemune Ki Cekel: perange para taruna mau sing mbandani para sadulur tani, dadi iya ngetek-entekake pari. Sajrone perang gerilya sing ndelikake lan ngopeni uga rakyat tani.

Pada lingsa angka: 2. walang kecek dadi prelambange rakyat sing pada wasis ing rembug. Ing sajrone repolusi iku sing sapa pinter omong lan sesorah ana ing parepatan lan ing radio, mesthi dipilih dadi pengarep (kopral). Mulane milih walang sing digawe sanepa, jalaran walang iku bisa mabur mrana-mrene klebu kewan iber-iber. Iku ngumpamakakeyen pamilihe panuntun mau ora nganggo ditimbang dhisik bab ala becike watake, sanadyan wong ngungsi waton sugih omong lan sugih sanggup iya kepilih dadi panuntun.

Pada lingsa angka: 3. Kodok ijo dadi pepindane para rakyat sing wis duwe warna utawa pulas, tegese wis bisa maca lan nulis, duwe ijazah utawa layang tanda saka salah sawijining partai-partai. Iku sing akeh banjur pada oleh pangkat sing duwur.

Pada lingsa angka: 4. Yuyu katut kepilih dadi kapitan utawa tetuwa, iku dadi sanepa tumrap sawenehing panuntun sing dadi tukang catut. Bisa nyapit ngiwa nengen. Mula milih yuyu sing digawe upama, jalaran yuyu iku bisa urip banyu loro, ing banyu lan ing daratan. Karepe: tukang golek slamet, bisa mrana bisa mrene terus oleh kauntungan.

Pada lingsa angka: 5. wis cetha lan ora prelu dijarwani. Pancen ing sajrone repolusi iku, wong-wong sing pada nyekel panguwasa bisa nguwasani loji lan tutunggangan warna-warna. Jalaran saka iku si yuyu tukang catut iya bisa milu nempil panguwasa mau sarana topeng perjuangan.

Pada lingsa angka: 6. jangkrik upa dadi sanepane para bebadan perlengkapan (Juru Gedhong), kuwasa nindakake Raja Pundut marang sapa-sapa. Ngupa boga tegese golek pangan. Jangkrik upa kanggo pasemon patrape angupa-upa utawa golek-golek, kanggo sanguning perang. Tunggangane motor grobag (tetegar), bisa tekan ngendi-endi manut sing dikarepake.

Pada lingsa angka: 7. kemangga dipirid saka tembung sumangga. Sapa-sapa sing ditekani jangkrik upa mesthi mangsuli: mangga mawon. Nuli dieterke menjang panggonan pasimpenan, ing lemari, tenong, lumbung lan sapiturute.

Pada lingsa angka: 8. kadal bunglon tuk-antukan, dijarwani: kadal bangsane kewan sing urip cedhak banyu, pantes dadi bau-sukune si yuyu. Dene bunglon iku kewan sing bisa molah-malih, dadi gegambaraning wong-wong sing padha dadi mata-mata mungsuh. Gawene antuk-antukan karo si kadal, tegese padha sekuton rembug ajak-ajakan laku cidra. Cidra marang Ratu Adil lan Nagara R.I.

Pada lingsa angka: 9. anggang-anggang iku kewan ing banyu, nanging sing dijupuk mung jenenge, yaiku anggang-anggang tegese padha karo ukur-ukur, utawa alon-alon. Aja mung disranani perang thok, kudu dirangkepi rembug pedamen sing juwet. Sarta kudu dielingi yen ratu Nangkoda iku klebu bangsa sing juwet rerembugan lan tlaten perang suwe, kayata: perang karo Untung Surapati, perang karo Adipati Jangrana, perang karo Pangeran Dipanegara lan sapiturute.

Pada lingsa angka: 10. kungkang lan bangkong kanggo gegambarane para sudagar gedhe, saben ana perang mesthi oleh kauntungan saka anggone padha among dagang. Mulane tansah tetabuhan.

Kaya mengkono pangothak-athike Ki Cekel olehe nggothak-gathukake weca warisane Kyai Pujangga Ranggawarsita, dikeplokake karo pengalamane ing sajrone perang Kamardikan tahun 1945 – 1949.

Bener utawa luput disumanggakake marang para maos.